
"Sayangg.. happy birthday" Balqis membuka matanya perlahan.
Yang ia lihat pertama kali adalah suaminya yang sedang memakai peci, sarung dan juga baju koko sambil memegang kue. Penerangan berasal dari lilin nya.
"Wahh.. kue darimanaaa?? Abangg, ini masih jam lima pagiii tauu"
"Rahasia dong dari manaaa, baangunn buruann" Abid berkacak pinggang setelah meletakkan kue nya di atas meja.
Balqis pun bangun dari tidurnya lalu berjalan menuju kamar mandi, "abang kok inget?"
"Pertanyaan bodoh macam apa itu maymunahh?!" Balqis keluar kamar mandi sambil cengengesan.
"Ayoo potong kueeee"
"Sholat dulu sayaangg, berdoa duluu, bersyukur masih di kasih umurrr"
"Hihiii, padahal imam nya udah siap yaa" Abid tersenyum.
"Cepet wudhu" Balqis masuk lagi ke kamar mandi untuk wudhu. Setelah itu mereka berdua pun sholat subuh berjamaah.
Seusai sholat dan berdoa, seperti biasa Balqis mengecup punggung tangan Abid. Sedangkan Abid mengecup kening istrinya.
Balqis melipat mukenah dan sajadah yang mereka pakai.
"Abang gak mau ganti baju??"
"Nggak, aku ganteng banget kalau pake baju putih."
Balqis tertawa, "emangg ganteng! Makinn histeris tuhh anak SMA kalau ngeliat abang begini"
Abid melihat ke Balqis, "itu sebabnya aku gak mau bawa sarung ke sekolah. Damage nya nanti bikin pingsan"
"Narsiss bangett" Mereka berdua tertawa.
Abid keluar kamar menuju dapur, Balqis mengejar nya lalu memeluk Abid.
"Makasihh banyaaaakk, untuk semuaa. Balqis sayaaaaaangg banget sama abangg. Jangan tinggalin Balqis yaaaa" Abid tersenyum, tangan Abid mengelus tangan Balqis yang berada di pinggang nya.
Abid berbalik, ia memeluk erat Balqis. "Aku juga sayang banget sama kamu. Jangan suka bandell ya kalau di bilangin, jangan suka genittt, jangan suka liatin Kai Kai ituu"
Balqis tertawa di pelukan Abid, "love youu abangg"
Abid melepas pelukan, "tumben bilang love you, butuh duit berapa?"
"Diiiihh"
Cupp!
"Ayo makann kuee" Abid menggendong Balqis, membawanya ke dapur.
"Deket punn, ngapain di gendong?!"
"Biarrr gak capekk kamunyaa" bisik Abid.
"Lilin nya yang tadii cuma hiasann, gak perlu diidupin terus ditiup yaa!" Balqis mengangguk sambil tersenyum.
Balqis pun mulai memotong kue nya lalu menyuapkan kue pada Abid.
"Em.. enakkk, gak sia-sia aku buat"
"Haha, ya kaliii abangg buatt kuenya"
"Lohh kok gak percayaaa?!" Balqis cengengesan, Abid gantian menyuapi Balqis.
"Seriusan ini abang yang bikinn??" Abid mengangguk.
"Buat sama mama"
"Aaaa sweetttt bangettt"
Balqis mendekatkan mukanya lalu mengecup bibir Abid, "maaciiiii banyakkk kang ojek" Abid tertawa kecil sambil mengangguk.
"Mau kado apaaa?"
"Terserah"
"Kalau kado nya dede bayi gimanaa?"
"Dihh ngacooo" Abid tersenyum misterius.
"Abang mesum banget ishh, ampunnn"
"Hahaha.. btw tar kalau kamu mau traktir temen temen bilang akuu"
"Kenapa gitu??"
"Biar nanti aku transferr."
❃❃
Ini seminggu setelah ujian, yang artinya masa ujian telah berakhir. Meskipun begitu mereka tetap sekolah, termasuk Abid dan teman-temannya.
"Balqisss happy birthday!!"
"Uwaahhh kak Rangga sama yang lain kok tauuu?!"
"Apa yang gak kami tauu, sinii potong kueee!" ajak Eldi. Balqis pun mendekat dengan ekspresi gembira nya. Abid yang di samping ikut tersenyum melihat Balqis tersenyum.
Balqis memotong kue nya lalu memberikan pada mereka. Mereka juga bergantian menyuapi Balqis.
"Ohhh iya ini kado dari akuu, kamu buka nya di rumah aja yaa" Fany memberikan hadiahnya pada Balqis.
"Maacii banyakk kak Fanyy" ujar Balqis sambil memeluk Fany.
"Sama-sama"
"Kado dari kami ntarr yaa, balik dari sekolahh" ujar Tio mewakili.
"Kakak-kakak ngasih kado jugaa?"
"Oh yaa jelasss! Btw, orang kaya itu ngasih apaa?" tanya Jefri sambil melirik Abid sekilas.
"Gak ngasih apa-apa" jawab Balqis berbisik.
"Pelitttt yaa" Balqis mengangguk.
"Kamprett" Mereka terkekeh.
"Nihh, abang kasih hadiah kamu disini" Abid memberikan kotak kecilll pada Balqis.
"Kecil banget, ngasih apaan dah luu?" tanya Eldi.
"Kunci mobil gak nii?!"
"Buka aja biar gak pada penasaran" suruh Abid.
Balqis pun membukanya perlahan-lahan.
"Waaahhh, ini bukannya kalung yang mahal ituu?" tanya Rangga antusias.
Abid mengangkat alisnya mengiyakan, ia terlihat santai sambil meminum jus tomat favoritnya.
"Cakep banget coyyy"
"Ini satu lagi amplop isinya apaan?" tanya Heon.
"Coba buka" pinta Tio.
Balqis pun membukanya, "tiket pesawat ke London? Seriously?!!"
Abid mengangguk, "buseeeettt. Papa royal."
"Cocok jadi sugar daddy nih, mau belok gak bid?" tanya Jefri.
"Si anjj" Jefri cengengesan.
Abid menatap Balqis yang menatapnya, "kenapa sayang?"
"Gede bangettt hadiahnyaaa" jawab Balqis dengan mata berkaca-kaca.
Abid malah tertawa, ia memeluk Balqis. "Everything for you baby" Balqis melepas pelukannya.
"Apaan sampe nangis ihh" ledek Abid sambil mengusap air mata Balqis.
"Terharuuuu hihii" Abid mengambil kalungnya lalu memakaikan pada Balqis.
"Sukaa?" Balqis mengangguk.
"Maaciiiii banyaaakkk" Abid mengecup keningnya kemudian mengelus rambutnya.
"Kamu seneng, aku seneng"
"Aaaaa gue baperrrr" Eldi kumat.
"Gue baper bener, serius ga boong!" sahut Jefri.
"Gue jadi takut lu pada belookk" keluh Heon.
"Keknya udah belok. Lu nyari sugar baby gak? Gue maju nih" kata Eldi antusias, Abid malah tertawa menanggapinya.
"Kak Abid bener-benerr luarr biasa!!"
"Tiket ke London woii, di bday Balqis doang!"
"Pengen masuk tengah"
"Harga diri kamu hilang jubaedah??"
Abid dan Balqis tersenyum smirk mendengarnya.
"Eh bid, lu ke London nya hari iniii?"
"Iyaa, ntar malem."
"Widiii yang bener aje luu?? Berapa lamaa??? Kagak ikut prom??"
Abid menggeleng, "kagak berminat ke prom gue."
"Issh, ini Balqis baru siap ujian juga anyingg. Belum terima raport"
"Gak ada masalah, gue udah ijinn sama bu Jihan."
"Terus diijininn?" tanya Balqis, Abid mengangguk.
"Wah.. enakk sekali dirinya gaiss."
❃❃
Jam pulang sekolah..
"Sayangg, aku masih ada satu hadiah buat kamu."
"Wihh bangg, banyak bangett tau!"
"Ini permanen hadiahnya"
"Penasaran gakk?" Balqis mengangguk. Abid pun melajukan mobilnya ke tempat yang di maksud.
Hanya butuh waktu dua puluh lima menit, mereka tiba.
"Ini rumah siapaa?" tanya Balqis keheranan. Abid menurunkannya tepat di depan rumah yang lumayan mewah.
"Rumah kita"
"H-hahhh? Seriuss??" Abid mengangguk sambil menunjukkan kuncinya.
"Selamat datang tuan Abid" satpam datang.
"Hehe,makasih sambutannya pakk"
"Silahkan masuk tuan nona" Balqis yang masih gak percaya hanya menatap Abid heran.
"Ayo masuk"
Abid menarik tangan Balqis, "abang kapan belinya? Ini seriusss dehh jangan ngadi-ngadi!"
"Teruss desain rumah yang abang buatt?"
"Ya di laptop, gak tau ntah buat rumah siapa besok. Paling di kasih ke Rangga atau yang lain" Abid membuka pintunya.
"Uwahh.. abangg. Abang bukan anak SMA pasti kann?! Mana ada anak SMA se-kaya ini!!"
"Ada sayang, aku contohnya." Abid masuk langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga.
"Waww, kerenn!!" Balqis keliling rumah nya.
"Demi apaziii twing" Abid terkekeh melihat ekspresi Balqis.
"Lohh bangg, ini barang udah disinii??"
Abid cengengesan, "iya. Pas kita sekolah aku nyuruh orang buat mindahin. Kamar kita di lantai atas"
"Ini kagak kegedean kahh??"
"Ya kagakk, kann ntar kita punya anak banyakkk"
"Hiii, itumah maunya abangg" Abid cengengesan.
Mereka berdua bersantai di ruang keluarga. Balqis tidur di paha Abid. Mereka berdua menonton drama Korea yang di sambungkan ke televisi.
Dan jelas ada cemilan karena Abid sudah membelinya untuk persediaan.
Sampai tak terasa waktunya maghrib, mereka masuk ke kamar untuk bersiap-siap pergi ke London.
Seusai sholat Abid keluar mengenakan baju kaos putih dan ditutupi kemeja dengan celana jeans hitam juga sepatu snikers.
Sedangkan Balqis, ia mengenakan sweater rajut warna coklat susu dan celana jeans hitam.
"Wiidii cakepp bener lu beduaa"
"Anjjjjyingg, lu pada kapan datenggg?!" tanya Abid terkejut.
Mereka tertawa, "beberapa menit yang lalu"
"Kita anterin ke bandara yaa" Abid mengangguk santai.
"Ahh gue jadi pengen ikut, tapi males juga naik pesawat" keluh Eldi.
"Naik sepeda aja sana lu!!"
"Yee sensi amatt kea masker" protes Eldi.
"Btw lu bedua udah mau pergi?" tanya Jefri.
"Bentar lagi maybe"
"Inii kado dari kamii berrenamm. Yakan enam? Tuwagapatmanam, oke enam"
"Gak tamat ngitung si Tio, limaaa peakkk" protes Eldi.
"Oh iya lima" Tio cengengesan.
Balqis tertawa melihatnya, "makasii banyakk kakaakk"
"Coba buka sayang, mereka ngasih apaan"
Balqis pun duduk, mereka membongkarnya bersama. Isinya adalah foto yang berada dalam bingkai.
Bukan foto cetakan tetapi seperti foto yang di buat dengan rajutan, bingkai yang di gunakan juga bukan bingkai biasa, melainkan bingkai yang juga di rajut.
Foto di dalamnya adalah foto Balqis dan Abid berduaan.
"Gak mewaah, tapi kami bikin sendiri buat lu"
"Sumpahh?" tanya Abid, mereka mengangguk.
"Cantikk bangettt kakkk, makasihh banyaakkkk" ujar Balqis penuh kegembiraan.
"Iyaa sama-sama" jawab mereka kompak.
"Ihh asli. Baguss bangett anjritt!! Kagett gue lu pada bisa bikin giniannn" puji Abid.
"Apa si yang kami gak bisa" jawab Rangga sombong.
"Dih dih, jadi songong" Rangga dan yang lain tertawa.
"Fany tadi ngasih apa, sayang?" tanya Abid.
"Kak Fany kasih jammm, bagussss bangettt."
"Suka kan?" tanya Fany.
"Sukaa bangetttt kakk hihii. Makasihhh yupp" Fany mengangguk sambil tersenyum manis.
"Udahh kelamaan ngoceh, liat jam. Ayokk ke bandaraa!"
❃❃
Mereka tiba di bandara.
"Bid, ati ati yahh. Jangan lupa bawa oleh-oleh" ujar Jefri.
"Taii"
"Oh ya bid, jangan lupa buat ponakann" sahut Fany.
"Ngawur, gue ke London liburan bukan honeymoon"
"Kali aja kan hehe"
"Mertua lu bukannya di London juga?" tanya Rangga.
Abid mengangguk.
"Berarti di sono ada sodara dong??" tanya Tio.
"Kakaknya Balqis"
"Wagylaziii, mantepp sekaliii"
"Guisee, gue nyari toilet bentarr" pamit Rangga, mereka mengangguk. Rangga pergi sendirian.
Drrttt.. Drrtt..
Abid meraih ponselnya.
📞 "Assalamu'alaikum, Abid. Kamu dimana??"
"Di bandara, kenapa yah??"
📞 "Helikopter mertua mu jatuh"
"HAHHH?! KOK BISAA?!"
📞 "Ayah juga gak tauuu, pilot nya bukan pilot yang biasa di pake Erwin"
"Jatuh dimana? Terus gimanaa?"
📞 "Ayah sharelock, kamu susul ya!"
Abay langsung mematikan panggilannya.
"Kenapa bangg?"
"Helikopter yang di pake papa jatuh" Mata Balqis langsung berkaca-kaca.
Abid memeluk Balqis, "papa mama pasti baik-baik ajaa"
Mata Abid melihat sekeliling, dan tanpa sengaja ia melihat seseorang mengarahkan senapan menuju Balqis. Saat itu juga Abid menukar posisinya.
Dor!!!
Seketika bandara ramai orang berteriak, mereka lari ketakutan.
Teman-teman Abid menoleh ke arah Abid, ternyata Abid tertembak.
"Ab--" teriakan mereka terhenti karena di bekap.
Abid yang terkena tembakan memilih diam, menahan sakit di perut sebelah kiri.
Abid melepas pelukan Balqis lalu memegang perutnya agar darah tidak terus mengucur.
"Abangg.. abaanggg!!" Balqis melihat ke arah teman-teman Abid.
Semuanya sudah tergeletak karena di bekap. Balqis bingung, ia harus apaa sekarangg?!
Tiba-tiba Balqis di todong pisau oleh salah satu diantara mereka. Abid yang melihat itu langsung berusaha untuk bertahan.
"Gue.. gue mohon.. jangan lukai cewe gue.. b-bawa gue aja.. j-jangan cewe gue!"
"Ide bagusss" Abid di geret menuju salah satu mobil.
"Abangggg, abaanggg"
"Diamlahh, lu bisa mati kalau ribut" bisik nya.
Balqis tidak perduli, ia teringat dengan latihan bela diri nya dengan Abid.
Balqis langsung menyikut perut preman tadi, ia merampas pisau lalu mencampakkan nya. Balqis menginjak perut preman itu.
"Good girl.." Balqis menoleh ke Abid.
"Abaanggg"
"J-jaga diri b-b-baik.. b-baik yaa" Abid langsung di dorong masuk ke mobil.
"Abaaaaanggg" Balqis ingin mengejarnya namun kaki Balqis di tarik.
Balqis terjatuh, preman itu menggeretnya juga.
Bugh!!
Rangga datang.
Ia memukul keras orang itu hingga pingsan, Balqis terlepas. Rangga beralih ke teman-temannya, ia membangunkan mereka.
"Agh.." Eldi memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Mana Abid??" tanya Rangga dan Jefri pada Balqis.
"B-bang Abid di bawa p-pergii" Fany yang melihat Balqis gemeteran langsung memeluknya.
"Gue bawa mereka pulang sekaligus cari jejak Abid" mereka mengangguk.
"Lu juga pada carii" Rangga dan Fany memapah Balqis lalu membawanya ke mobil.
"Rangga, kita ke rumah Abid" Rangga mengangguk, ia mulai mengemudi.
Balqis menangis, air matanya mengalir deras.
"Tenang ya Balqis, Abid dan orang tua kamu pasti ketemu" ujar Fany sambil memeluk Balqis.
"Orang tuaa? Orang tua Balqis kenapa??" tanya Rangga.
"Helikopter yang mereka pake jatuh"
Rangga berfikir keras, semuanya terjadi seperti sesuatu yang di rencanakan.
"Kenapa semuanya terjadi bersamaan kak.. hiks hiks.. Balqis kehilangan bang Abid. Kehilangan mama papa jugaaa.. Balqis gak kuattt"
"Lu kuat Balqis, lu pasti kuat. Gue sama yang lain bakal cari Abid dan juga orang tua lu. Tenang aja okey? Bertahan, gue mohon. Demi Abid!"
"Ini kejutan ulang tahun terburuk yang pernah Balqis alami!"
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Ending?
Kalau rame lanjut.