A B I D

A B I D
– Babymoon?



"Van, gimana rasanya? Pas SMA kan lu demen banget sama kak Jefri."


"Diemmm, ga usah sebar aib!!"


Balqis tertawa.


"Oh jadi dulu Vane suka sama Jefri?" tanya Eldi tiba-tiba muncul.


"Kak, lu ghoib banget sumpah."


"Gak usah alihkan topik, jawab pertanyaan gue buru," ujar Eldi sambil duduk di sampingnya Vane.


"Iyyaa iyya. Dulu gue demen banget sama kak Jefry. Pliss lu jangan cepuinn," Vane menatap Eldi penuh harap.


"Santai ajaa, gue bukan tukang cepu kok."


"Ehh, kok pada disini? Ayok makan!" ajak Ezhar atas suruhan Abid.


"Ahh, licik lu beduaa! Gue, Fany sama Meiga bantu bakar ayam eh lu bedua malah enak di sini," Sesill merengut kesal.


"Lah gue di situ kan kena usirr tadii," jawab Balqis ikutan kesal.


"Ya lu di maklumi deh karena bawa dede gemoyy. Lah si manusia pribumi satu ini kan tidak membawa dede gemoy," jawab Sesill sembari menunjuk Vane.


"Gue bawa dede gemoy kok. Sabar ya nakk, onty mu memang jahat," kata Vane sambil mengelus perutnya.


"Anjirr? Beneran??" tanya Ezhar terkejut.


"Iyaa."


"Pantesan lu bunciitt, Vanee. Anaknya siapaa?" tanya Rangga heboh. Fokus perhatian ke arah Vane sekarang.


"Gak tau."


"Anaknya bram pasti," sahut Abid menyusul.


"Bram saha?"


"Brame-rame."


"Hahahaa."


"Eh nggakk wehh, ngacoo bangett. Perut gue tu isinya makanan sisa," jawab Vane ketus.


"Bukannya lemak?"


"Kampret lu, kak!!"


Mereka tertawa ngakak.


"Udah-udah. Ayok makan," ajak Abid.


Secara bersamaan mereka menuju belakang villa karena menu makan malam hari ini adalah ayam panggang.


Saat semuanya berjalan sendirian, Abid dan Balqis masih berdiam diri di tempat. "Abang kenapa gak jalan?"


"Kamu kenapa gak jalan?" tanya Abid gantian.


"Mager hehe. Balqis minta tolong bolekann? Bawa sini aja nasi sama lauknya biar Balqis makan disini."


Abid menggelengkan kepala. "Udah lama gak makan bareng anak-anak kan? Ayok aku gendong biar kita makan bareng aja disana."


"Ndak usaahh. Nanti abang encok la gendong Balqis mulu."


"Aku nggak setua itu. Ayok," Abid pun mulai menggendong Balqis perlahan-lahan. "Pasti Balqis berat banget," gumam Balqis.


"Emang."


"Ihh jahattt! Turunin Balqiss sekaranggg!!!" Abid tertawa. "Bunda mu memang sensi mulu ya, dek." Balqis merengut mendengar perkataan Abid.


"Gak usah manyun-manyunn gituu, ku serbu nanti kamu," kata Abid setelah menurunkan Balqis. Ia sudah berkumpul dengan yang lain.


"Ngerii-ngerii. Abid ganass banget emang yee," ledek Tio. Abid tertawa pelan.


"Ini kenapa gue selalu bayangin Abid lagi di ranjang yaa," kata Heon tiba-tiba. "Gue juga jadi penasaran. Pengen nyoba," sahut Eldi dengan tatapan polosnya.


"Kau cowokk jirr. Jangan sampe ku ruqiyah betulan kau!" Eldi cengengesan.


"Biasanya Abid tahan berapa ronde, Balqis?"


Pletak!


Abid menepuk kuat paha Tio.


"Pertanyaan lu yang waras dikit kek, Yoo. Ini kenapa temen gue gak ada yang beres sihh?!"


"Kan lu juga ga beres."


Abid auto menatap datar Sesill.


"Laki bini sama ajaa!"


"Ye kan sehati," jawab Heon bangga.


"Emang kita kenal?" Mereka terkekeh-kekeh mendengar pertanyaan Sesill yang sinis dan menusuk itu.


Memang hubungan yang paling susah akur adalah hubungannya Sesill dan Heon. Hubungan mereka jugalah yang paling susah untuk berpisah.


"Udah lahh. Lama amat ini mo makann, capek gue nunggunya," keluh Sesill.


"Yaudah ayok makan." Mereka pun mulai makan malam bersama-sama.


"Btw, kita besok mau kemana lagi?" tanya Tio usai makan.


"Terserah lu pada mo kemana. Gue sama Balqis besok terbang ke Bali," jawab Abid.


"Lah besok??"


"Iya besok. Kenapa?"


"Anjirr lu, Bid! Kok dadakan bangett su! Kan kemaren kami bilang mo ikutt," protes Eldi.


"Halaahhh! Kek punya uang aja lu pada mau ikut."


"Sepele banget dia. Kami punya uang, Bid, sumpah dah. Bayarin makan lu di Bali juga cukupp," sahut Tio sombong.


"Yakin?"


"Iyaaa!!" jawab mereka kompak.


"Yaudah kalau mau ikut bayarin gue makan," tantang Abid dengan senyum misteriusnya.


"Deal! Yang penting gue ikut."


"Okeyy, deal."


"Mei boleh ikut kan, mas?"


Tio menatap Meiga.


"Emang kamu dibolehin?"


"Ndak tau, hehe. Mas minta izin lah biar bolehh. Mei pengen ikut tauu," ujar Meiga merayu.


"Yaud—"


"Gak jadi deh, mas. Mei ndak bawa baju banyak," kata Meiga beralih ke makanan ringan.


"Masalah baju nanti bisa mas beliin. Kamunya jadi mau ikut apa nggak?" tanya Tio menatap calon istrinya itu.


"Beneran mo dibeliin?"


"Iya, sayaang."


Meiga tersenyum senang. "Mei ikutt!" Tio ikut tersenyum melihat senyum Meiga, "yaudah, nanti mas minta izin."


"HUHHH~ sabar, Eldi, sabarr!! Semua temen lu tu emang gak ada yang pengertian jadi sabarrr!" Mereka tertawa melihat ekspresinya Eldi. Terlihat begitu mengenaskan.


"Gue ikut yaa. Nanti gue di bayarin Heon," ujar Sesill mengalihkan topik. "Ra ndue duit aku cokk!" keluh Heon.


"Dihh pelit banget! Gitu aja langsung ngeluh gak punya duit," cibir Sesill.


"Punya punyaaa, gue punya uang. Mo di beliin apa si kamu, hm??" tanya Heon langsung sok sweet.


"Tadi katanya gak punya duitt," kata Sesill ragu.


"Punyaaa, tapi nanti gue jual ginjal dulu." Mereka terkekeh lagi.


"Couple yang ini emang beda. Demeenn gelutt!"


"Prinsip mereka, no gelut no life."


Sesill dan Heon cengengesan. "Tapi jujur, gue sayang banget sama Heon."


"Ya jelas sayanglahh, minta tas hermes aja gue beliin."


"Ckk. Gue bilang sayang betul malah ga percaya!!"


"Iya sayang iya, aku percaya."


"Basi!"


"Gue aniaya ntar lu ye!!" Abid dan yang lain tertawa sembari menggelengkan kepalanya.


"Nggak, kak. Gue belum tentu di izinin bokap nyokap."


"Ntar gue yang izinin, mau?" tawar Jefri menatap Vane.


"Nggak dehh. Ntar gue bakal ngerepotin jadinya," jawab Vane dengan senyuman tipis.


"Gak bakal repotin. Lu ikut aja, kalau lu gak ikut ntar malah susah," paksa Jefri.


"Susah gimana?"


"Yaaaa susahhh. Susah nahan rindunya."


"Alaaah ssiaaa, Jepppp!!! Masuk komplotan buaya kan lu?!" Jefri cengengesan mendengar perkataan Rangga.


"Kak Fany ikut gak sih?"


"Ikut dongg! Yakali calon bini gue gak ikut." Rangga yang menjawab. "Pede amat calon bini. Maju selangkah juga enggak," cibir Abid.


"Abid pematah semangat memang ya!!" Abid malah tersenyum smirk. Niatnya buat bangkitkan semangat kok, wkakwkk.


"Gue ikut juga ya?"


Rangga auto menatap sinis Ezhar.


"Pasti lu mau deketin Fany."


"Su'udzon mulu lu, anjirrr. Udah gue bilang, gue sama Fany temenan."


"Bac—"


"Sssttt... nanti aja lu sambung berantemnya. Kasian ini bumil gue terngantuk-ngantuk," kata Abid mengelus pipi Balqis.


"Mau lu bawa ke kamar kan?" Abid mengangguk. Ketika tangannya hendak menggendong Balqis, Balqis malah terbangun.


"Abang mo ngapain?"


"Gendong kamu. Mau bawa ke kamarr," jawab Abid mengelus pipinya.


"Balqis ketiduran yaa?" Abid mengangguk lagi. "Tidur di kamar aja ayok," tawar Abid sambil merentangkan tangannya.


"Balqis jalan sendiri aja dehh." Balqis mencoba berdiri lalu berjalan masuk ke villa, Abid membantunya perlahan.


"Bid, lu balik nggak?"


"Belum tau. Tapi ntar kalau dalam waktu sepuluh menit gue belum balik, berarti gak balik. Lu pada beresin ya ntar."


"Amaann! Good night, Balqis." Balqis tersenyum kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kamar.


Abid greget!


Ia langsung menggendong Balqis.


"Iss. Nanti makin kecil abang kalau gendongin Balqis terus," keluh Balqis setelah di atas kasur.


"Nggak bakal. Gendong kamu sama aja simulasi gendong anak kita." Balqis tertawa kecil.


"Abang temenin Balqis bobo yaa???" Abid tersenyum. Dirinya membuka jam tangan, mengganti baju lalu menghampiri Balqis.


"Iyaa, aku temenin kok."


Balqis tersenyum senang.


Abid mengecup perut Balqis dan mengecup pipi Balqis. "Good night babyy, good night bundaa."


Kembali ke teman-teman Abid tadi. Mereka masih lanjut berbincang-bincang dengan topik yang beranekaragam. Walaupun gak bermutu.


"Kalau dilihat-lihat, Balqis tu penyabar banget yakan. Dia masih aja mau bertahan sama Abid setelah ujan badai angin ribut menerpa."


"Gue kalau jadi Balqis juga bertahan, selagi ujan badainya bukan soal perselingkuhan," sahut Sesill.


"Emang kalau soal perselingkuhan kenapa?" tanya Rangga menatap serius Sesill.


"Karena menurut guee.. sekalinya tu cowok selingkuh dia pasti bakal ngulangin lagi."


"Gak semua cowok begitu. Ada juga yang tobat," kata Eldi ikut bicara.


"Iyaa tau. Tapikan populasi cowok begitu cuma sedikittt, kebanyakan bakal ngulangin lagii. Di ruqyah dulu mereka mah baru bisa beneran tobat."


"Ada benernya juga. Btw, lu pasti berpengalaman dibidang perselingkuhan kan?" tanya Tio meledek.


"Kagaakk. Gue cuma tau karena dulu gue dapat cowok yang kek begitu," jawab Sesill santai.


"Tukang selingkuh?"


"Yoii."


"Heon?"


"Yaa jelas bukann! Heon tu cowok paling the best sejagat Indonesia Raya menurut gue. Dia emang suka ngamuk, tapi dia ga pernah ngamuk ke gue. Dia selalu bisa menghargai wanita. Udah gitu, Heon tu ganteng, wangi, keren..."


"Udah, sayang. Cukup. Kamu mau beli apalagi, hm?"


"Kamprettt! Orang mujii dia, dia malah gituu," protes Sesill kesal.


"Iya tau lah kamu muji aku, tapi pasti ada niat tersembunyinya." Sesil cengengesan. "Mau beli tas Gucci, bole??"


"Nah kan bener."


"Pacar kurang ajar memang."


◒◒◒


Abid dan Balqis beneran pergi ke Bali di keesokan harinya. Sore ini mereka berdua baru saja tiba di hotel. Oiya teman-teman Abid masih belum ikut mereka bakal nyusul katanya.


"Akhirnyaaaa, kita bisa berduaann!" pekik Abid girang.


"Emang mo ngapain sii?"


"Mo ngapain? Ehm... ngapain kira-kira?"


"Jalan-jalan aja dehh, yaa! Masa di Bali cuma di kamar doang." Abid menghela nafas panjang, "iya deh iyaaa. Tapi sekarang istirahat dulu," pinta Abid.


Balqis mengangguk. "Eh btw, ntar urusan kantor abang gimana ya?"


"Aku bisa handle dari sini."


"Ohh gitu. Yaudah, Balqis mau bobo." Balqis merebahkan tubuhnya di kasur. Abid menyusulnya ke atas kasur.


Dengan tingkah jahilnya, Abid menarik ke atas baju Balqis. Menampakkan perut Balqis yang membesar. Abid mengelus perut itu dan sesekali menciumnya.


"Dedee.. bilang sama bunda dong, ayah lagi pengen."


"Apasih abang? Ngaco dehh!" Abid cemberut mendengar jawaban Balqis. Melihat hal itu, Balqis malah tertawa.


"Jangan sekarangg," kata Balqis sembari mengelus rambut Abid.


"Jadi kapan?"


"Ntarr."


"Ntar kapan?"


"Yaa ntarr. Ntar malemm!" Abid auto senyum sumringah.


"Tapi boong."


"Ah ilah, yaaaangg."


Balqis tertawa lagi.


"Btw kamu inget gak, yang pas kita olimpiade matematika di Bali jugaa?" tanya Abid mengalihkan topik.


"Ingat dong, ingat bangett. Itu adalah saat dimana seorang Abid bertemu dengan mantannya."


"Apasii, saayang? Kenapa jadi nginget mantan?!"


"Karena di Bali tu vibesnya inget mantan," jawab Balqis santai.


"Kamu jangan mulai dehh, nanti kita berantemm."


"Abang aja tuh sensiian. Masa aku ngomong gitu doang abang udah ngamuk. Belum move on yaaaa?"


Abid mengghela nafas panjang.


"Tidur aja deh yok, gak mau ribut akunya."


"Tuhkan.. pasti beneran belum move on!"


"Balqis? Udah."


"Hahaha! Gamon gamonn, Abid gamon!!"


"Astaghfirullah... ku makan nanti kamu, bener deh."


...----------------...


...Haii? Aku kembali lagii....


...Masih ada yang bacaa dan nungguin Abid gak yaa?...