A B I D

A B I D
– Ngamokkk



"Wahh, headshot!"


Abid berjalan santai ke arah mereka berdua. Ia mengambil tas nya lalu berdiri di depan Balqis yang menghadap Candra.


"Sorry gak sengaja"


Candra mendekat, ia menarik kerah baju Abid.


"Gue tau lu sengaja! Maksud lu apaa hah?!"


Abid tersenyum miring, ia gantian menarik kerah baju Candra. "Lu juga. Maksud lu apa jelek-jelekin gue di depan..."


Abid hampir kelepasan, jika bajunya tidak di tarik Balqis. Mungkin Abid sudah mengatakan bahwa Balqis istrinya.


"Di depan apa? Hah?! Balqis pacar luu?!!"


"Iya!"


Candra tertawa remeh.


"Bacot lu bajingann!!"


Bugh!!


"Kakk Abid" Balqis membantu Abid berdiri.


Abid memegangi sudut bibirnya yang sedikit terluka. Tangannya terayun ingin memukul Candra, lagi lagi Balqis menahannya.


"Lu gak laku sampe ngambil cewek gua?"


Bugh!!


Candra memukul Abid lagi.


Abid kembali berdiri, ia membalasnya dengan tertawa sinis. "Beneran gak laku yaa??"


Bugh!!!


Bugh!!


Rangga yang geram melihat Abid di pukuli datang dan langsung memukul Candra.


Spontan, Abid berdiri menarik Rangga.


"Lu kagak usah ngikut anjiir"


"Lu begoo apa tololl hah?! Di pukul bukannya bales malah pasrah. Bibir lu udah berdarah!!"


"Sstt sst, ajak Balqis pergi"


Rangga enggan mengikuti perintah Abid, ketika Abid menatapnya tajam Rangga langsung menurut dan membawa pergi Balqis.


Belum sempat Abid mengatakan apa-apa, Candra sudah memukulnya lagi.


"Tiga, tujuh..."


Melihat Abid benar-benar pasrah, Candra berhenti memukulnya.


Abid tersenyum smirk lalu berdiri, "tujuh kali pukulan. Berarti tujuh kali lipat pembalasan"


Ketika Abid ingin memukul Candra, pak Dayat datang membawa ikat pinggang di tangannya.


"Masih pagi buta kalian udah berantam, waras tidakk?!! Ikut sayaaa ke ruangan!!!"


▫▫▪▪▪▫▫


"Siapa yang salah disini???"


Abid diam. Tangannya meraih gunting yang ada di meja pak Dayat.


"Pak, kalau gunting ini nembus perut bapak gimana?"


"Ahh, tangan saya gatal mau ninju orang. Bapak mau bantu saya?? Jadi sasaran"


Pak Dayat dan Candra terpaku. Apa yang salah dengan otak Abid?


"Bid, kamu... kenapa??"


"Saya emosi pak"


"Ada masalah apa kalian ini??" Bu Jihan tiba-tiba muncul dari pintu samping.


"Astaga, Abid.. kamu kenapaa??"


Abid diam tak menjawab.


"Kalian berantem karena satu wanita??"


"Ya nggaklah, buk!! Saya di fitnah sama anak kesayangannya ibu!!" ujar Candra sambil menunjuk Abid.


"Tebalik bajingan"


"Abid!! Kamu mengumpat??!"


"Biasanya juga gitu. Percepat aja lah bu, pak. Apa hukuman sayaa! Kelamaan disini gunting bisa nyasar ke perut pak Dayat" Mereka semua terpaku.


Bruk!!


Abid adalah top bandit di sekolahnya. Ia baru saja menggebrak meja di depan guru bk dan kepala sekolah.


Waww, Abid memang goblokk:)


"Kelamaaan" protes Abid kesal.


"Eh... ehm.. kamu jadi asisten bu Nova seminggu!!"


"Bu Nova siapaa?"


Tok tok..


"Masuk!"


"Saya Nova"


"Ahh, nona Nova"


"Saya mau hukuman yang lain" pinta Abid.


"Kenapa? Bukannya lebih mudah menjadi asisten bu Nova?"


"Saya pelajar bukan pembantu"


"Seribu putaran lari lapangan seharian"


"Fine" Abid beranjak keluar dari ruangan pak Dayat.


Ia berhenti di depan pintu. "Saya mati, anda tanggung jawab" Abid pun benar-benar keluar dari ruangan pak Dayat.


"Pak Dayat, seribu kebanyakan. Seratus sajaa" ujar Nova.


"Dua ratus"


"Kenapa jadi negosiasi?!" tanya Bu Jihan ngegas.


Dia keluar menyusul Abid, "Abid lima puluh putaran sajaa!!"


Abid tidak memperdulikannya, ia menuju kelas mengganti baju.


Di jalan, Abid di cegat Balqis. Balqis menariknya menuju uks. Ia membersihkan darah dan mengobati luka Abid.


"Balqis minta maaf"


Abid bertanya-tanya, "untuk??"


"Harusnya tadi Balqis biarin abang mukul kak Candra. Eh nggak, kalau abang mukul nanti bisa mati kan bahaya. Balqis gak mau sendiri"


"Eh tapi, Balqis gak suka liat abang bedarah-darah kek ginii.."


Abid tersenyum melihat raut muka khawatir Balqis. Ia menghentikan tangan Balqis.


Abid mendekat ingin mencium Balqis.


Tiba-tiba...


Balqis terlebih dahulu mengecup bibir Abid.


"Dah diem, biar Balqis obatin" Abid tersenyum lalu membiarkan Balqis mengobatinya.


"Abang dapat hukuman??"


"Seribu putaran lari"


"Hahh?? Serius?? Demi apaa?? Gak gak!! Itu penyiksaan namanyaaa!! Abang aja gak salahh"


"Ya mau gimana lagi?"


"Abang, bolos yok"


Abid tertawa ngakak, "ada angin ribut apa kamu tiba-tiba ngajakin bolos?"


"Hisss, daripada abang lari seribu putaran. Banyak tauuuu, lima putaran aja berattt"


"Lebih berat lagi kalau kamu sama Candra dekat" Balqis terdiam.


"Kamu mau abang kasih tanda??"


"Tanda apa??"


"Di leher"


"Maksudnya....?" Abid mengangguk.


"Jangan ngada ngadaa abaaangg!!"


▫▫▫▪▫▫▫


"Bid, lu di skors??" tanya Rangga sambil menghampiri Abid yang sedang lesehan di rerumputan. Ia baru saja menyelesaikan seratus satu putaran.


"Kagak, belum. Bodo amat"


"Sumpah ya, kenapa gak adil gini sih??!"


"Lu mukul juga kagak anjinggg!! Kesel banget guee"


Abid tersenyum smirk, matanya menoleh ke arah Candra yang sedang bermain basket.


"Dia naik daun lagi tuh" cibir Eldi.


"Matematika, kimia, fisika, biologi dan pelajaran lainnya, gue lebih unggul daripada Candra. Basket, futsal, sepak bola, tenis meja, bulutangkis, gue juga lebih unggul daripada Candra."


"Gue gak iri sama sekali apalagi soal popularitas, gue gak peduli untuk hal gak penting kayak gitu."


"Yang gue peduliin adalah... ketika orang terdekat gue atau orang yang gue sayang diganggu... gue gak bisa diem aja kalau hal itu terjadi" Abid berdiri dia melempar botol bekas minumnya kearah Candra.


Lagi-lagi mengenai kepala Candra.


"Lu cari ributtt lagii??" tanya Heon.


"Bid.."


"Sst.. Gue nunggu kalimat, 'kamu di skors'." Dengan senyum smirk nya Abid mendekati Candra.


"Lu masih punya utang. Pukulan lu tujuh kali, balasan tujuh kali lipat. Empat puluh sembilan pukulan, kuat??"


Bugh!


Bugh!!


Bugh!!!


"Bid.. anjirrr, saiko ni anakk" Jefri menarik Abid menjauh dari lapangan basket.


"Aaah, awaass"


"Hee si bundaa, lu belom pemanasan. Pemanasan dulu hayukk" ajak Tio yang ikut menarik Abid.


Mereka menggeret Abid sampai ke kantin.


"Saya ramal kamu lapar, tunggu sebentar" Heon pergi membelikan nasi goreng untuk Abid.


"Saya ramal kamu haus, tunggu sebentar" Rangga ikutan pergi membelikan jus tomat untuk Abid.


"Gue ramal lu saiko, saiko kan lu? Jujur!!" tebak Eldi ngegas.


Abid diam sambil mengatur nafasnya. "Lu pada ngapa stress si?? Gue belum balas dendam anjingg"


"Fiks, Abid saiko!! Sikopat betull"


"Nasi gorengnya mas, dimakan dulu"


"Jus tomatnya mas, sebelum gelut harus butuh persiapan"


Abid menunduk, ia mendongak dengan mukanya menahan tawa.


"Sianjingg ini kenapa lagi?"


"Dahlah sikopat, gila pula. Untung ganteng" ujar Eldi.


"Diemm" Mereka langsung terdiam.


Abid mengambil nasi goreng dan memakannya sampai habis. Begitupun dengan jus tomatnya.


"Gue jadi takut deket Abid"


"Ahh kenyang, makasi makan gratisnya. Gue mau lari lagi"


Pletakk!!


Pletak!!


"Kenapa ganteng ganteng stress ni anaaakkk?!!" Abid terkekeh. Ia bersandar santai.


"Efek kurang jatah inii"


"Abiddd" Fany datang bersamaan dengan Balqis.


"Abang, abang luka lagii??" Abid menggeleng santai.


"Balqis, dia lu kasih makan apa?? Kenapa jadi mereng otaknya??" tanya Tio. Balqis yang kebingungan hanya diam.


"Pliss ges, lu pada kea gak tau gue aja. Gue ga bisa lah liat..."


"Hampir ceplos lagi"


"You know lah, pokoknya gue gak bisa diem aja. Berkali-kali mata gue liat, panas bro!! Dia pake jelek-jelekin gueee. Kalau sekedar deket mah fine fine ajaa, toh juga doi gak bisa berpaling dari gue."


"Kenapa jadi kepedeann??!" tanya Fany kesal.


"Nyatanya gitu, yakan sayang?"


Pletaak!!


"Ini area sekolah tololll"


Semua makhluk di kantin melihat ke arah mereka, beberapa terfokus menatap Balqis.


"Serius ini? Balqis? Sama kak Abid?? Demi apaa??"


"Gue iri gue bilang."


"Udah jelas sii, gak mungkin juga kak Abid milih kentang kea gue. Pasti milih yang cantik, pintar, goodlooking, good attitude macam Balqis lah"


"Cantikan gue daripada Balqis!!"


"Gak gak, kak Abid gak cocok sama Balqis cocokan sama gue!! Valid no debat"


Abid memejamkan mata, Balqis yang di cibir telinga Abid yang panas. Ia membuka matanya menatap Balqis.


Dalam situasi itu juga Balqis tetap tenang bahkan menyuruh Abid untuk tidak merespon.


Abid tidak tahan lagiii....


Bruk!!!


"Lu pada diiamm atau gue banting satu-satu?!!"