A B I D

A B I D
– Perselisihan kecil



Pagi yang cerah bagi sepasang pasutri yang makin hari makin mabok cinta.


Sebenernya gak cerah-cerah amat sih.


Agak suram kek masa lalu. Xixi, bercandaa:^


Pagi ini, Abid sedang rebahan sembari memeluk Balqis.


"Bangun gihhh, jangan pelukan muluu! Abang mau kerja atau kuliah?"


"Kerja dongg. Kuliahnya kan homeschooling."


"Benerann? Udah gak di bolehin keluar berarti akunya?"


Abid menggeleng. "Emang mah keluar kemana? Mau ngapain, hm??"


"Yaa, gak adaa. Gak kemana-mana. Tapi kan, bosen atuh di rumah ajaa." Keluh Balqis.


"Gak bosen, kan ada akuu."


"Hiihhhh! Abang ke kantor mulu, yaa!"


Abid cengengesan. "Jadi maunya gimana? Aku tu takut aja kamu di jahatin. Belum lagi nanti kalau ketemu sama Rey."


"Ouuuu, menghindari Rey?"


"Iyaa. Menghindari rasa cintanya ke kamu."


"Ceilahh. Kan rasa cintanya Balqis juga cuma untuk abangg."


"Bullshit."


"Dihh jahat bener sihh!!!"


Abid tertawa.


"Rasa cinta kamu emang cuma untuk aku, tapi rasa cinta orang gak bisa kita atur. Aku takut ntar kalau Rey obsesi dia ngelakuin hal yang nggak-nggak ke kamu ataupun baby kita. Orang yang obsesi apapun bisa di lakuin. So, aku gak mau ambil resiko."


"Iya-iyaaa. Terserah abang deh gimanaa. Yang penting kulkas gak kosong, makanan tetap banyak, WiFi tetap jalan."


Cup!


"Kalau itu mah aman, sayangg."


"Yaudah awas dulu. Balqis mo buat sarapann." Balqis menggeserkan tangan Abid dari perutnya.


"Aku mau sarapan kamu aja."


"Ishh ishh. Bukannya abang bilang mau meeting?"


"Iya mau meeting, tapikan bisa ditunda demi sarapan."


"Ngacoo. Yang ada sampe siang gak berangkat kerja." Abid cengengesan.


"Geserr buruan. Ntar pulangnya gapapa deh, pulangnyaa."


"Jam makan siang aja gimana? Nanti kamu susul ke kantor."


"Ih gak mau."


"Aaaa sayangg."


"Pulang atau nggak sama sekali??"


"Oke oke, pulanggnyaaa."


"Nah gitu dong. Awas!"


Abid pun bergeser ke samping dan kembali memejamkan matanya.


"Jangan tidur lagiiii!"


"Iyaaa sayang, iyaaa. Ini gak tidur kokk, cuma mejemin mata."


"Lama-lama tidurr."


◒◒◒


09.39, di kantor Abid.


Tok tok!


"Assalamu'alaikum, woiii."


Abid menoleh ke arah pintu. Teman-temannya datang untuk merusuh.


"Wa'alaikumsalam. Paan sii? Gue lagi kerja," protes Abid.


"Alah siaaa, Bid, julid sekali muke lu! Lanjut nanti aja kerjaannyaa, ayok main dulu." Abid menatap Rangga dan yang lain.


"Main apa??"


"Game, ps dan sodaranya. Udah lama nggak mabar, lama gak ngumpul. Gini-gini gue rindu kita ngumpul bareng." Keluh Tio sok dramatis.


"Heleh heleh!" Abid mematikan komputernya. "Jangan disini lah kalau gitu, pindah aja ke markas gimana?"


"Kuy. Sekalian beli cemilan gitu kek," pinta Eldi.


"Ntar gue yang beli."


Jefri menawarkan diri.


"Nah good. Kuy go to markas."


Mereka pergi bersama menuju markas. Tidak jauh, dua puluh menit perjalanan mereka pun tiba.


"Kok berdebu bangett njemm?!" Tanya Eldi heran.


"Gak ada yang main kesini, gimana gak berdebu."


"Beberes lah ayok," ajak Abid. Mereka pun mulai bergerak merapikan markas.


Terakhir kali ntah siapa yang kemari, dengan santainya ia memberantakin seluruh ruangan tanpa di rapikan kembali. Sepertinya itu Jefri yang sedang prustasi dengan tugas kuliah.


"Rang, bantu guee lap kaca depan."


Rangga mengikuti Abid keluar, keduanya mengelap kaca dengan bersih. Setelah di lap, Rangga mengambil sapu untuk menyapu halaman. Abid bagian bakar sampah.


"Bid, lu mau es boba atau es yang lain?"


"Karep. Mo beli?"


Tio mengangguk.


"Pake duit siapa? Kalau gak ada pake duit gue," tawar Abid.


"Gue ada kok, sanss."


Tio pun pergi meninggalkan markas.


"Gue kagak di tanya ni njemm?" Tanya Rangga heran.


"Tio udah tau lu mau apa, makanya gak di tanya."


"Bener sih. Btw, ini udah. Ayok masuk."


Abid dan Rangga masuk.


"Wahaaa, kinclong banget lantainya."


"Oh ya jelas, yang ngepel Heon. Janda desa!"


Mereka tertawa ngakak.


"Heon janda."


"Nggak fakkk, jangan maen-maenn!!" Gelak tawa semakin kencang. Kocak Heon mah.


"WOIII COKK!"


Mereka tersentak kaget mendengar teriakan Eldi. Secara bersamaan, mereka berlari ke sumber suara.


"Kenapa lu?" Tanya Abid.


"Itu ularr njirrr, bunuh cepettt!"


Mereka mencari, ternyata berada di bawah meja.


"Bid, bunuhh!"


"Gak bisa njingg, bini gue hamill!"


Jefri pun mengambil parang dan mencoba membunuhnya. Dalam sekali bacokan, kepala ular langsung terpisah. Bukan maenn tenaganya. Keramik pun retak dibuat Jefri.


"Jadi cowok tu harus LAKIKK, El." Omel Jefri.


"Gue janda."


"Ternyata temen gue banyakan janda."


Mereka terkekeh lagi.


"Lu ngapain di belakang??"


"Nyari makanan, ternyata gak ada. Yang ada ular melingkar di atas meja."


"Gue geli banget liat ular. Dih, please, merinding." Keluh Heon menggilo.


"Lu geli gak, Bidd?"


"Kagak. B aja sii. Kalau bini gue kagak hamil tadi udah gue bunuh." Jawab Abid sambil berjalan kembali ke tempat semula.


"Wissss, beda emangg calon ayah mah."


"Jujur yee, dia yang mau jadi bapak gue yang gak sabarr." Kata Eldi antusias.


"True sih, gue juga gak sabar! Cewek atau cowok kira-kira, Bid?"


"Cewekk sih, keknya."


"Moga aja dah cewek, ntar cantik kek si Heon janda desa."


"Badjingan. Kok gua mulu njem?!"


Mereka terkekeh.


"Vibes nya Abid sekarang beda banget asliii. Aura papa mudanya beuh gitu." Abid tertawa mendengarnya.


"Emang apa bedanya?"


"Ah beda pokoknya! Kemarin-kemarin masih keliatan bocil sii. Tapi sekarang udah beda banget," jawab Heon.


"Bener benerr!"


"Ya masa gue bocil mulu? Kan gak lucu."


"Alah taiii! Btw, gimana rasanya, Bid?"


"Gak usah mikir yang nggak-nggak lu nya! Pasti bakal baik-baik ajaa."


Abid tersenyum tipis, "semoga aja."


"Ah, liat Abid jadi pengen nikaaahhh!" Rengek Rangga.


"Lu mending ada Fany njjemmm, lah guaa? Sama angin??" Mereka tertawa ngakak.


"Cari, begoo!"


"Gak deh, gue belum kaya. Ntar kalau kaya kan bisa dapat banyak bini."


"Sok banget!" Cibir Jefri.


"Iri lu?!"


"Dih, najis!"


Eldi menatap sinis Jefri.


"Gue tau gue ganteng, gak usah lu tatap begitu." Kata Jefri mengpede.


"Geli gue dengernya!" Jefri cengengesan.


"Pemikiran cowok gitu banget, ya? Kalau kaya banyak bini. Lu tau, kalau cewek kaya dia gak perlu lakik," ujar Abid.


"Hahayy, betol!"


"ASSALAMU'ALAIKUM, PAAK, MINTA SUMBANGANN!"


Mereka menoleh ke arah pintu.


Ternyata Tio.


"Wa'alaikumsalam."


"Minta ongkir bilang lu!"


Tio tertawa kecil.


"Payah bawanya ni, berterimakasih lah kepada saya selaku pria tampan."


"Sok tampan, dih! Kok bisaa Meiga mau sama lu!" Cibir Eldi syirik.


"Ah, berisik kali lu jones."


"Fakyuuuu."


◒◒◒


Karena keasikan main bersama temannya, Abid baru pulang kerumah sore hari. Dan lagi-lagi, Abid membawa pekerjaannya ke rumah.


"Dari mana aja?" Tanya Balqis menginterogasi.


"Markas. Main sama yang lain," jawab Abid jujur. Dirinya baru saja masuk ke kamar.


"Di situ doang?"


Abid mengangguk.


"Siapa aja?"


"Ya mereka-merekalah, siapa lagi?"


"Jam berapa perginya?"


"Masih pagi pokoknya. Emang kenapa, hm? Kamu ke kantor?"


"Iyaa! Balqis nganter makan siang, lagipula kan abang juga minta Balqis ke kantor tadi pagi!"


Abid menatap Balqis yang sedang kesal, "kok tumben mau? Terus kenapa gak telepon?"


"Hp kamu gak bisa di hubungin!"


Abid mengambil ponselnya dari saku.


Ternyata benar, banyak panggilan masuk dari Balqis. Tadi Abid tidak mendengarnya.


Abid pun menghampiri Balqis yang di kasur.


"Maaf atuh, sayang. Gak kedengeran akunya, tadi hp aku di meja sedangkan aku lagi main ps bareng yang lain." Ujar Abid sambil mencoba mengecup pipi Balqis. Tapi sayangnya Balqis terus menghindar.


"Kok ngehindar mulu sii?" Tanya Abid.


"Maless!"


"Aku minta maaff, sayang. Maafin aku, okee?"


Balqis diam.


"Jangan marah lagi dong, yaa?"


Balqis tetap diam.


"Sayaangg. Mikir apaa kamu? Kamu mikir aku sama wanita lain?"


"IYA!"


Abid terkejut mendengarnya.


"Mana mungkin aku cari wanita lain, wanita ku aja lagi hamil anakku." Balqis diam lagi.


"Aku gak suka dikacangin, kamu kalau mau protes ya protes. Tapi tolong, jangan diemin aku."


Balqis menatap Abid.


Hanya menatap.


"Kamu mikirin apa?" Tanya Abid.


"Aku tu cuma takut ajaa, gimana nanti aku lahiran kalau kamu di telepon aja susah."


Abid menatap serius Balqis. "Sayang, cuma sekali aku susah dihubungi, dan itu cuma tadi. Biasanya juga gak pernah, kan? Kamu telepon, aku selalu angkat cepat. Jangan mikir yang nggak-nggak gituu. Aku gak suka!"


"Kamu kenapa jadi bentak akuu?" Tanya Balqis dengan mata yang berkaca-kaca.


"Astaghfirullahalazim, sayang. Aku gak bentak kamuu, gak ada bentak kamu."


"Tadi kamu bentak akuu. Lagian aku cuma nyampein yang ada di pikiran aku tadii."


"Tapi sama aja kamu ngeraguin akuu," jawab Abid sedikit meninggikan suara.


"Kamu kenapa jadi emosi?!! Udah aku bilang, aku cuma nyampein yang ada di pikiran aku tadi."


Abid memejamkan mata beberapa detik, setelahnya ia membuka kembali dan turun dari kasur. "Aku cuma sekali doang telat angkat telepon, kamu malah mikir yang nggak-nggak."


"Terserah kamu aja sekarang, aku mau mandi terus lanjutin kerjaan." Abid masuk ke kamar mandi meninggalkan Balqis.


Balqis sendiri menatap kesal Abid.


"Annoying banget siii!" Kata Balqis kesal.


Di kamar mandi, Abid memikirkan semua perkataan Balqis di bawah aliran shower. Di satu sisi, Abid tau kalau Balqis khawatir. Tapi di sisi lain, Abid merasa Balqis ngeraguin kesiagaan dirinyaa.


"Ah dahlah, ntar minta maaf jugaa dia. Gak selamanya saya ngalah terus," gumam Abid. Ia melanjutkan mandi.


Usai mandi, Abid ke walk in closet lalu melewati Balqis yang di kamar untuk menuju ruangan kerja.


Balqis sendiri diam, tidak perduli dengan Abid. Dirinya sedang menonton drakor romantis, Abid benar-benar dicuekin.


Sebenarnya, Balqis tidak sepenuhnya menonton drakor itu. Dia sedang berpikir keras, apakah dirinya keterlaluan dengan dugaannya?


Balqis menggelengkan kepala, ia berpikir dirinya tidak salah. Balqis kembali menoleh ke televisi. Dan itu bertepatan dengan adegan ciuman.


Balqis menelan ludah melihat adegan yang lama kelamaan makin intim.


Balqis mengambil remote dan menyetopnya sebentar. Karena hal itu, Balqis kembali memikirkan Abid.


"Kalau dipikir-pikir, Bang Abid pasti pengen main juga kek dulu makanya tadi dia bolos ke kantor. Dulu dia sering main, tapi sekarang waktunya cuma buat aku."


"Ah, Balqis bodoh! Harusnya lebih perhatiann bukannya cari masalah!" Balqis mengusap kasar wajahnya lalu keluar dari kamar.


Balqis turun ke bawah, ia minum air putih sekalian membuatkan minuman panas untuk Abid. Setelah itu, Balqis pergi ke ruangan kerja Abid.


"Abaanggg," panggil Balqis.


Abid berdehem tanpa menoleh.


Balqis meletakkan minuman panasnya di meja yang lain, tangannya menarik kursi Abid lalu Balqis duduk di paha Abid dengan posisi menghadap Abid.


"Kenapa??" Tanya Abid datar.


"Maafin Balqis yang kekanak-kanakan, harusnya Balqis ngerti kalau abang pengen main jugaa." Kata Balqis sambil memeluk Abid.


"Maafin Balqis juga udah su'udzon ke abang tadi. Balqis cuma takut, udahh gitu ajaa."


Abid membalas pelukan Balqis. "Aku udah maafin, tapi kamu gak boleh gitu lagi kedepannya yaa." Balqis mengangguk, ia melepas pelukan.


"Abang lemburr?" Abid mengangguk, "tadi gak jadi kerja karena di jemput main." Balqis berohria juga menganggukkan kepalanya.


"Kamu kenapa natap gitu?" Tanya Abid heran, pelukan mereka sudah lepas.


Balqis menjawab dengan gelengan kepala. Perlahan tapi pasti, Balqis malah menggoyangkan tubuhnya.


Hal itu sangat berpengaruh bagi Abid.


"Sayaangg." Balqis berhenti, ia cengengesan.


"Kenapa suka banget gitu sih?"


"Tak tauu."


Abid menggelengkan kepala, "ges—"


Perkataan Abid terhenti karena Balqis menarik tengkuknya dan mencium Abid duluan. Cukup mengejutkan bagi Abid, tapi Abid menikmatinya sekarang.


Dua menit kemudian, Balqis melepasnya.


"Kamu tu bangunin macan yang lagi tidurr." Kata Abid dengan suara super berat. Balqis malah tertawa.


"Pengen?"


Balqis diam.


"Euuumm," Abid menatap laptop kemudian menghentikan pekerjaannya.


"Loh, kok gak jadi lembur sihh??"


Abid tertawa kecil, ia menggendong Balqis dan mengajaknya ke kamar. "Ini kan juga lembur," jawab Abid sembari meletakkan Balqis di kasur.


"Tunggu tungguuu, abang mau ngapain?"


"Jenguk baby. Pagi tadi juga kamu bilang boleh pulangnya, kan?"


"Tapi—"