A B I D

A B I D
– Antar pulang



"Kak Balqis?"


"Kak Balqis kenapaa?" Tiga anak perempuan itupun menghampiri Abid dan yang lain.


"Eh kalian udah bangun?" tanya Abid. Mereka mengangguk.


"Kak Balqis kenapa bang? Abang apain kak Balqis?!" tanya Devi.


"Kak Fany juga kenapaa? Bang abiddd mereka berdua kenapaa?!" Avi gantian bertanya.


Abid menghela nafas. Balqis berdiri menghampiri ketiga anak perempuan itu.


"Kakak gak apa-apa. Kakak baik-baik aja" ujar Balqis.


"Nggak.. kak Balqis gak baik-baik aja. Kak Fany juga" sahut Avi.


"Kak Balqis sama kak Fany tadi cuma kecapekan.. gak usah khawatir ya"


"Kalian bertiga bangun kenapa? Laper?" mereka mengangguk.


"Mau makan apa?" tanya Balqis.


"Em.. Nasi Goreng spesial" jawab ketiganya kompak.


"Yaudah kalau gitu, tunggu disini ya" mereka mengangguk. Balqis pergi menuju dapur. Abid pun mengejarnya.


"Istirahat. Gak usah masak"


"Tapi kak.. mereka--"


"Nanti gue delivery makanan. Sekarang lo istirahat"


"Kak Abid.."


"Lo mau liat gue dimarahin ayah gue karena lu bedua sakit? Atau lo mau liat gue dibunuh ayah karena gak bisa jagain lo sama Fany?" tanya Abid. Balqis menunduk.


"Jangan bebal. Ayok istirahat" Balqis tidak bergerak.


Lagi.


Abid menghela nafas.


"Oke kalau lo gak mau cara bagus. Gue pake cara lain" Abid mengangkat Balqis lalu menggendongnya seperti membawa karung beras.


"Kak abidd.. kakk!! Kak Abid!!!! Aaaaaaishh!!! Kakkk..." Abid tersenyum miring.


"Iya Balqis istirahat.. turun ya turun pliss.. malu diliatin" keluh Balqis.


"Jangan berisik"


"Bang abiddd.. abang mau apain kak Balqis?!!!" tanya Devi ngegas.


"Sstt.. kak Balqis mu sakit. Jangan ganggu" jawab Abid. Abid melanjutkan perjalanannya menuju kamar tamu.


Abid meletakkan Balqis perlahan di tempat tidur. "Jangan keluar kalau belom istirahat!"


Balqis menatapnya. "Kenapa? Laper?"


Balqis diam. Abid mengambil ponselnya memesan makanan untuknya dan seluruh penghuni di rumah Althaf.


"Udah di pesen makanan. Ntar gue anter ke kamar lo" ujar Abid.


Balqis masih menatapnya. "Apa lagi? Butuh apa?"


"Mau mandi? Mau dimandiin??"


"Kak Abid mesum banget!!! Sana sanaaaa" Balqis mendorong Abid.


"Loh kan cuma tanya"


"Pertanyaan macam apa itu?!!" Abid tertawa.


"Jadi mau apa?"


"Kakak keluar dong. Gimana Balqis istirahat kalau kakak masih disini"


"Oh gitu"


"Istirahat loh ya"


"Iyaaa kak abiddd bawell"


"Istirahat" Abid berjalan mundur.


"Iyaaaa.. awas nabrak kak"


"Istirahat"


Balqis cengengesan. "Iya kak iyaa"


Abid tersenyum lalu keluar dari kamar Balqis.




Abid kembali ke lantai dasar.



"Bang Abid.. gimana??" tanya Avi.



"Gimana apanya sayang?" tanya Abid.



"Njirr sayang?? Langka anjimmmm" ledek Eldi. Abid memutar kepalanya, tatapan tajamnya keluar sambil melihat Eldi. Eldi pura-pura tidak tahu.



"Laper bang.."



"Abang udah pesan makanan online. Kalian tunggu di kamar nanti abang panggil oke?" Mereka bertiga mengangguk.



"Yaudah sana main di kamar"



"Jangan lupa mandii!!"



"Iyee bang iyee" jawab Avi. Mereka pergi kembali ke kamar.



"Lo kenapa fan?" tanya Abid panik melihat Fany juga gemetaran.



"Syok"



"Syok?" tanya Abid lagi.



"Em.. aku cuma syok. Kaget. Bener-bener terkejut liat perubahannya Abiyyu"



"Dia kayak monster bid. Sumpah serem banget"



"Untung banget kalian tepat waktu.. kalau nggak. Ah~ gak kebayang" celoteh Fany.



"Jadi sebenarnya kenapa lo bedua bisa kena sandera?" tanya Heon.



"Jadi tadi tu aku sama Balqis gak langsung pulang kerumah, kita ke supermarket"



"Kan udah dibilang langsung balik, kenapa gak balik?!" tanya Abid.



"Iya tau salah. Maapp, kita juga gak tau kalau bakal di sandera" ujar Fany.



"Terus gimana?" tanya Rangga.



"Itu pas masih jalan mau ke supermarket, ada orang di depan pake baju item. Aku sama Balqis jalan mundur-mundur ehhh dari belakang langsung di bekap"



"Abistu gatau apa-apa udah di gedung tua itu"



"Lo pada kagak di apa-apain kan?" tanya Jefri.



"Nggak, Alhamdulillah. Cuma tadi itu sebelum kalian datang serem"



"Serem kenapa?" tanya Tio.



"Ck. Malah tanya, lu kagak liat tadi kondisi Abiyyu? Gak pake baju dia, mau deketin Balqis lagi" jawab Abid.



"Jadi lo cemburu?" ledek Eldi.



"Nggak usah ngaco" mereka tertawa.



"Abid cemburu uy cemburu aww" ledek Heon.



"Kamprett"



"Baperan ah baperan.. Abid baperann" ledek Rangga.



"Tobat kalian tobaatt, kualat sama gue ntar"



"Yakali"



"Hahahaha"



\-.-.-



"Bid laper" keluh Eldi.



"Lu udah cem babiy ya?? Baru makan dua belas menit yang lalu begooo" ledek Jefri.



"Dia lupa noh abis makan" sahut Heon.



"Parasit dia tu, jadi gak usah heran" balas Tio.



"Solimi sekali kalian!!" Rangga dan Abid tertawa.



"Lo nya juga sumpah ya.. gue aja masih kenyang ni. Lah lu..?" kata Rangga.



"Perut karet mah gitu. Karetnya, karet ban" kata Tio.



"Ahahahaha"



"Beda orang bos. Lo ya lo, gue ya gue" ujar Eldi dengan bangganya.



"Iyain El iyain" jawab mereka serentak.



"Lo kalau laper masak sendiri noh. Ada Indomie" suruh Abid.



"Bedosa kali ngasih tamu Indomie" kata Eldi.



"Emang lo tamu??" tanya Abid. Eldi menatapnya datar.



"Lagian El, mending Indomie dari pada nasi basi. Lo pilih yang mana?" sahut Heon.



"Bedosa kali!! Ternistakan emang gue disini" keluh Eldi lagi.



Black blood pun tertawa.



"Gue baru kepikiran sekarang. Kenapa kita gak ledakin tu gudang tua sekalian sama Abiyyu nya?" ujar Abid.



"Nggak enak ntar gak punya musuh lek" jawab Rangga.




"Ustadz Eldi mode on"



"Peci mana peci?"



"Hahahaha"



Ting tong..


Ting tong..



"Ganggu aja ah. Siapa sih? Jangan bilang Shelia lagi" kata Rangga kesal.



"Otak lo Shelia mulu! Heran gue" cibir Heon.



"Muak banget anjim sumpah. Kalau emang Shelia langsung gue tendang sampe Amerika"



"Tes" suruh mereka kompak.



"Oke gue yang buka pintu" Rangga pergi menuju pintu utama untuk melihat siapa tamu yang datang.



"Eh nak Rangga disini"



Tebakan Rangga salah, bukan Shelia melainkan kedua orang tua Abid.



"Om tante" Rangga menyalami tangan ayah dan bunda Abid.



"Lagi pada ngumpul ya?" tanya ayahnya Abid setelah masuk.



"Loh ayah?" Abid menghampiri sang ayah juga mengalami tangannya.



"Bid kita balik dulu ya"



"Eh kok balik?" Tanya Abay.



"Udah kelamaan disini om. Takut Abid nya naksir" jawab Jefri.



"Najis.. lu kata gue kang gay apa?!" tanya Abid sinis. Mereka tertawa sambil menyalami tangan kedua orang tua Abid.



"Pulang dulu om, tante, assalamualaikum"



"Waalaikumsalam"



Para black blood pun kembali ke rumah masing-masing.



"Ayah kapan balik? Naik apa??" tanya Abid.



"Naik pesawat pribadi om Erwin"



"Lah, dua anaknya kagak di jemput?" tanya Abid.



"Kamu anter lah nanti"



"Avi Devi mana? Baik baik aja kan?" tanya sang bunda.



"Di kamar Bun, baik baik aja. Aman"



"Ulfa sama Balqis dianter sekarang?" tanya Abid.



"Ya terserah kamu mau antar sekarang atau nanti. Menurut ayah si sekarang aja, besok kalian harus sekolah" jawab Abay.



"Yaudah, Abid anter sekarang"



Abid pergi menuju kamar tamu untuk membangunkan Balqis.



Tok tok tok..



"Iya masuk" jawab Balqis. Abid membuka pintu.



"Mau balik kerumah gak? Nyokap bokap dah pulang tu"



"Serius?? Kok gak kesini kak??" tanya Balqis.



"Kecapekan mungkin. Mau pulang gak nih?" tanya Abid lagi.



"Mau mau mau.. gak enak kalau ngerepotin kak Abid, tante sama om"



"Yaudah gue tunggu dibawah"



"10 menit" Abid langsung menutup pintu kamar dan turun.



Sembilan menit kemudian, Balqis keluar kamar membawa tas ranselnya yang sangat sangat besar.



Abid membawa tasnya menuju mobil. Sedangkan Balqis berpamitan pada orang tua Abid. Begitupun dengan Ulfa.



"Balqis sama Ulfa balik dulu ya om, tante"



"Iyaa.. sering sering kemari loh nak Balqis" ajak Bundanya.



"Hehe iya tante, insyaallah. Kalau begitu kami berdua pamit. Assalamualaikum"



"Waalaikumsalam, hati hati ya. Kalau Abid ngebut, samplok aja kepalanya"



"Solimi sama anak sendiri" cibir Abid yang di depan pintu.



🌙



"Kak Abid"



"Em? Kenapa?" tanya Abid yang fokus mengemudi.



"Makasih ya.."



"Untuk?"



"Semua"



"Makasih udah tolongin Balqis, makasih un--"



"Gak usah bilang makasih. Gue gak butuh" jawab Abid.



Balqis mengalihkan pandangannya ke luar mobil.



"Ya nggak usah manyun gitu juga mulutnyaaaa. Mau di ehem ehem?"



"Apaan sih? Ngaco aja, ada Ulfa tau!" protes Balqis. Abid melihat ke belakang melalui kaca spion mobil.



"Ulfa tidur kok. Mau gak nih"



"No no no!!" Abid cengengesan. Dia menoleh ke Balqis.



"Pake terus jam nya kecuali mau mandi. Gue bisa liat semuanya dari itu jam. Kalau lo pake mandi gue bis--"



Plak..


Balqis memukul paha Abid.



"Astaghfirullah di geplak" keluh Abid cengengesan sambil mengelus pahanya.



"Kak abidd kesambet apasih? Kejedut tembok ya? Aneh banget tau nggak"



"Nggak"



"Kak abiddd!!"



"Oyy apaa? Rindu?? Gue disini loh" tanya Abid.



"Bener ternyata, kak Abid itu over narsis!!"



"Masa iya?"



"Iyaaaaaa!!" jawab Balqis memanjangkan huruf a.



Abid tertawa.


Satu tangannya melayang lalu mendarat di kepala Balqis. Abid mengelusnya perlahan meskipun pandangan Abid tetap menuju aspal.



"Lo masuk di kehidupan gue Balqis. Hidup lo gak sedamai sebelumnya. Maaf kalau gara gara gue lo sering dalam bahaya nantinya"



"Balqis seneng kok kenal kak Abid. Kak Abid jangan terlalu sering merasa bersalah ya. Semua itu belum tentu kesalahannya kak Abid" Abid tersenyum.



Tangannya berpindah menuju tangan Balqis. Abid menggenggam tangan Balqis lalu mengelusnya.



Sadar bukan mahram, Abid melepas genggamannya. "Gue bersyukur kenal sama lo"