
"Aaaahh!"
Jika kalian mengira teman-teman Davina yang terluka, kalian salah besar! Abid lah yang terluka.
Abid baru saja tertusuk pisau tepat di perut sebelah kanan. Davina yang melihat itu mengangakan mulutnya karena terkejut.
"Abang...."
"Avi awas!!"
Ia tersadarr lalu menendangi dan menjambak temannya. Alhasil ia bisa menghampiri Abid yang sedang mencoba bertahan.
"Abang.. abang..."
"A-abang gapapa, su-susul kak Balqis di mobil dan p-panggil yang lainn."
"Terus abang??"
"Abang di-disini. Abang g-gak bisa biarin orang yang s-sakitin adek abang."
"Abangg, ishh!! Nanti aja, yaa? Abang luka sekarangg!!"
"Ng-nggak Avi."
Bugh!!
Rangga dan yang lain tiba-tiba muncul.
"K-kalian?"
"Gue, Jefri, sama Eldi yang urus ini. Mending lu ke RS sekarang!"
"Tap–"
"Gak usah banyak tapi, ayo!" Heon membantu Abid keluar dari restoran. Darah bercucuran mengotori lantai.
"A-abang.. bang Abiddd?"
"Tio lu duduk depan aja, biar Balqis sama Davina di belakang!" Titah Heon, Tio pun berpindah ke depan.
Heon berada di kursi kemudi, ia melajukan mobil selaju-lajunya menuju rumah sakit terdekat.
"L-lu pada kok bisa disini sih?!"
"Balqis yang telepon. Untung kami lagi di daerah siniii," Jawab Tio.
"Bertahan, Bid. Jangan sampe lu tidur lagi dalam jangka waktu panjang!" Abid diam, setidaknya mencegah darah agar tidak banyak bercucuran.
"Abang.."
Abid tersenyum melihat Balqis di sebelahnya, "s-suamimu kuat kok sayang. G-gak bakal terjadi apa-apa. J-jangan nangisss."
Balqis menghapus air matanya, "abang jangan banyak bicara yaaa. Biar darahnya gak keluar terusss!" Abid mengangguk.
Mereka tiba di rumah sakit terdekat. Tio keluar mengambil brangkar, Abid di naikkan kesitu kemudian di bawa masuk.
Yang lain di suruh tunggu di luar.
"Aaahh! Harusnya tadi bang Abid gak usah datangg."
"Kalau Abid gak datang dan lu yang kena, dia bisa merasa bersalah karena gagal jadi abang yang baik." Sahut Tio.
Davina menunduk mendengar jawaban Tio.
"Apa yang terjadi, Avi??"
"Tadi Avi lagi main sama temen-temen yang tadii, tapi Avi gak tau kalau di ajaknya cuma untuk bayarin. Avi gak bawa uang jadinya di kasarin sama merekaa."
"Terus tadi kok bang Abid bisa tau?"
"Tadinya mau minta uang ke bang Abid, tapi pas lagi teleponan temen Avi malah punya niat jahatt. Avi gak tau kalau bang Abid lagi di daerah siniii."
Mereka menghela nafas, "kenapa si tu anak selalu bahaya nyawanyaaa?!"
❃❃
"Untungnya abang gak kenapa-kenapaaaa, Balqis takut bangett abang kenapa-kenapaaaa!" Abid tersenyum senang mendengarnya.
"Kan tadi udah aku bilang, suamimu ini kuatt. Gak bakal terjadi apa-apaa."
"Yain!"
"Mana yang lain?? Avi gimana?"
"Yang lain pulang, nanti malem balik lagii. Avi? Avi di rumah ayahh, dia juga pulang."
"Jadi kamu nunggu aku bangun sendirian?" Balqis mengangguk.
"Makin cintaa aku sama kamuu!"
"Kalau cinta jangan sampe berdarah-darah kayak tadiii! Balqis tu takutt abang pergii lagi."
Abid mengelus punggung tangan Balqis lalu mmengecupnya.
"Insya Allah."
"Luka nya nggak parah kan?" Balqis menggeleng.
"Kata dokter nggak. Huhh, kemaren kena tembak perut kirii sekarang ketusuk perut kanann. Kasian mereka berdua punya majikan jahat yang gak sayang tubuh."
Abid tertawa, "nggak gitu by. Aku sayang tubuh kok, sayang kamu jugaaa."
"Gausah ngaluss." Abid cengengesan.
"Ayah.. keknya kita datang di time yang gak tepat terus."
"Bener biyy, mereka romantisan lagii."
"Keknya gak ada tempat yang gak di buat romantis."
"Luar biasa sekaliii, gibahin orang tepat didepannyaaa." Mereka terkekeh.
"Gimana kabar? Kok bisa ketusuk sih kamu??"
"Tanya sama Avi noh, mo nyelamatin Avi tadinya. Ehhh malah temennya Avi gercep banget langsung nusukk."
"Untung aja gak dalem, Bid!" Sahut Bundanya, Abid membalas dengan senyuman.
"Balqis, makan dulu sinii. Bunda bawain nasi gorengg."
"Malem-malemm di kasih nasi goreng." Protes Abid.
"Bunda nawarin mantu, bukan kamu!" Abid terdiam.
"Si Abid cocoknya di kasih nasi basi." Ledek Abiyyu, mereka tertawa lagi.
"Avi Devi manaa?"
"Di rumahh, Rangga sama Fany jagain."
"Wopp, berasa jagain anak tuh."
"Kamu kapan punya anak?" Abid langsung menatap datar bundanya.
"Balqis masih kuliah bunda, jangan mengada-ngada." Bundanya cengengesan.
"Keknya selalu ada insiden tusuk menusuk lah. Dua taun lalu, mas Abiy nusuk Heon."
"Ssst, diem. Itu gue masih jahat, belum dapet hidayah."
"Hidayah siapa, Biy? Pacar kamu?"
"Astaghfirullah, Bundaaaa." Mereka tertawa.
"Oiyaa kan lupa! Nih Bid, mangga buat kamuu."
"Mangga madu?"
"Nggakk."
"Oke mantapp, sinii yah." Abay memberikannya pada Abid.
Balqis yang tadinya makan langsung meletakkan makannya lalu berpindah untuk mengambil mangga.
Ia mencuci nya di kamar mandi kemudian mengupas kulitnya dan memotong-motong untuk Abid.
Abid tersenyum senang menerimanya, "thank you sayang."
"Agak meresahkan yaaa."
Abiyyu iri gaiss:v
"Makanya nikah!" Ledek Abid.
"Au tuh, udah tua ga nikah-nikah. Keburu gak lakuu," cibir Bundanya.
"Astaghfirullahalazim. Yaudah besok Abiyyu nikah."
"Emang ada ceweknya, Kak?" Tanya Balqis.
Jlebb!
"Gak adaa."
"Dia mo nikah sama bonekanya Devii," sahut Ayahnya. Mereka terkekeh geli melihat ekspresi wajah Abiyyu.
"Gak capek apa mas di tanyain, kapan nikah?"
"Kamu sendiri gak capek di tanyain, kapan punya anak?"
"Gak juga sih," jawab Abid santai.
"Astaghfirullah!!"
"Sepertinya Abiyyu kena mentall," ledek bundanya. Mereka tertawa lagi.
"Perut kamu makin gak mulus ya, Bid. Kanan bekas tembak kiri bekas pisau. Adaaaa aja!" Abid tersenyum samar.
"Takdir keknya, Yahh."
"Jangan sampe luka lagi deh, jangan cari musuh terus. Nanti kalau anak istri mu kena gimana?" Tanya Bundanya.
"Abid udah gak pernah cari musuh, tapi orang orang aja yang pengen di musuhinn."
"Sabarannn makanya." Omel Abiyyu.
"Kurang sabar apalagi aku, mas? Balqis di deketin cowok lain aja sabar akuuu."
"Loh udah tau?" Tanya Abay.
"Ngadepin itu juga kudu sabar, jangan sampe emosi kamu. Bisa jadi musuh bebuyutan!"
"Tergantung sih, Yahh."
"Tergantung apa?" Tanya Bundanya.
"Tergantung gimana kurang ajarnya dia."
❃❃❃
20.00
"Balqiss.."
Balqis yang mendengar bisikan terbangun.
"Kamu pulang aja dulu, biar aku sama yang lain jagain Abid."
"Nggak usah, Kak. Balqis disini ajaa, kalaupun Balqis pulang sepii. Malesss jadinya," jawab Balqis berbisik.
"Tapi nanti kamu encokk tidur sambil dudukkk." Tio menyahuti.
"Gapapa kak, hehe."
"Bisik-bisik apa kalian?" Perlahan Abid membuka mata.
"Ehh, udah bangun? Nih, aku sama yang lain bawain buah untuk kamu."
"Bawain salad aja gitu kekk!"
"Bid, salad kan buah jugaa." Jawab Rangga bersabar.
"Tapi gak ada yogurt nyaaa."
"Astaghfirullah, Abid. Makin tua makin ngeselin ya!" Abid cengengesan.
"Mau Balqis buatin salad?" Balqis berdiri, Abid menahan tangannya.
"Gak usah sayang, biar mereka aja yang beli."
Abid meraih dompetnya di atas nakas lalu mengambil uang seratus ribu.
"Beliin, plis. Gue kepengenn," rayu Abid.
"Iyauda dibeliin."
"Duaa ya, yang ukuran gede."
"Sisa nih uangnyaaa, mau beli apa?"
"Terserah lu padaa. Mau beli salad juga, jajan atau apa kek, terserah. Yang penting jangan beli rokok!"
"Lagian siapa si yang ngerokok?!"
"Kali aja. Siapa mau beli??"
"Gue aja sini sama Tio, lagi pengen beduaan sama ayang beb."
Tio tersenyum menatap Eldi, "ayo beb." Mereka berdua pergi.
"Jangan sampe anak gua begitu besok!!" Rangga mengelus dada melihatnya, mereka pun tertawa.
"Ngomongin anakk, kapan lu nikahin Fany? Keburu di jodohin dia!"
Rangga menatap Fany, "mana ada perjodohan. Abid ngarang!"
"Ya kalau kelamaan kan bisa aja di jodohin," jawab Jefri.
"Elehhh, lagian aku masih kuliahhh. Ngapain juga nikah cepet-cepet?!"
"Nikah itu baikk, mengurangi yang namanya zina. Pacaran pegangan tangan? Dosa!"
"Udah nikah pegangan tangan? Dapet pahala."
"Songong bet emang yang udah halal!" Cibir Heon kesal, Abid cengengesan.
"Ngapain lu pada kesini? Kagak mejeng?"
"Udah tadi. Lu kenapa begooo banget coba? Udah luka gitu tadii masih aja mau ngelawan." Jefri emosiii gess:v
"You know lah, Jep. Gue gak puas kalau belum ngehajar orang sampe masuk rs."
"Ya jadinya lu masuk rs!" Kata Rangga.
"Kesalahan teknis inii. Btw yang ngapain Avi gimana??"
"Udah masuk rs." Jefri santaiii sekali menjawabnya.
"Hampir masuk akhirat gue rasa."
"Gila lu pada, ganas bangett!"
"Siapa suruh nyakitin Avi? Avi Devi tu dah macem adek kami juga," kata Heon.
"Kalau Avi Devi ada pasti jawabnya 'aaaa, jadi terharuuu'." Mereka tertawa kecil.
"Ini buahnya lu gak mau kah?" Tanya Rangga.
"Maulahhh, yakali nggakk."
"Oh iya sayang, kamu udah makan malam?" Balqis mengangguk.
"Gak percaya? Tu bekas piringnyaa."
Abid menoleh, "bawa piring?"
"Itu tadi makanan di bawain sama Devii dan dibawain piring jugaa." Abid berohria.
"Eh, Bid. Tau nggak?"
"Nggak."
"Yaudah kalau nggak tau."
"Gue smekdon pala kau nanti, Yon. Bener dah!" Heon terkekeh.
"Tau apaa?"
"Tadi si Jefri ketemuan sama Devi." Rangga yang menjawab.
"Serius? Dimanaa?"
"Dii kafe deket sekolah Devi." Gantian Heon menjawab.
"Eseeee, kak Jefri cieee." Ledek Balqis.
Jefri diem sambil memegangi tengkuknya. Abid sedang menatap sinis ke arahnya. Ia takut salah bicara, salah sedikit pun bisa-bisa gak dapat restu!!
"Okee, lulus sna."
"SNA?" Beo Fany.
"Standar nasional Abid."
"Astaghfirullah!" Abid cengengesan.
"Lu mo deket sama Devi silahkan, Jep. Tapi kalau sampe Devi nangis dan penyebabnya lu, siap-siap aja. Gebukin lu sampe berdarah-darah juga sanggup gua!"
"Aihh, ngeri jugaa." Eldi dan Tio muncul.
"Masuk tu salam, peak!!" Omel Rangga kesal.
"Salam."
"Bukan gituuuu! Wih ahh."
"Kalau bukan karena luka tusuk udah gue tendang lu, El. Sumpah!" Eldi cengengesan.
"Nih salad buahnya." Abid menerima bungkusannya. Ia mengambil satu lalu memberikan satu pada Balqis.
"Lu beli dua doang??" Eldi mengangguk.
"Lu kan tau gue sama yang lain gak demen salad buahh."
"Terus sisanya beli apa?" Tanya Abid masih membuka kotak.
"Roti bakar, bakso krispi, terus ni ada jajanan sama minuman botol jugaa."
"Cukupkan?" Tio mengangguk.
Abid berohria, ia mulai memakan saladnya. Baru satu suapan sudah berceceran. Balqis membersihkan tumpahannya di baju Abid.
Balqis mengambil alih salad di tangan Abid, "Balqis suapin aja ya. Nanti kalau tumpah teruss bisa besemutt."
"Nggak usah, kamu makan aja."
"Ish, jangan ngeyelll!"
"Yaudah iya, sayang." Balqis nyengir melihat Abid, ia mulai menyuapi Abid.
"Mereka berdua meresahkan kali lah." Tio iri:v
"Jadi pengen nikah guee." Sahut Heon.
"Masih mending lu mau nikah ada pasangan, lah guaa?!"
"Nasib lu sih, El."
"An– astaghfirullah!" Mereka tertawa.
Bruk!!
"Loh? Meiga?"
"Mas Tioo. Astaghfirullah, Mei kira mas yang kena tusukk."
"Waaaawww! Saha eta, Yo?!" Tanya Abid.
Tio bingung, haruskah ia jujur?
Semua orang menatap nya sekarang.
"Dia Meiga Annisyaa, calon istri gue."
"WHATT?!"