A B I D

A B I D
– Tiati ajalaa



"Mbakk Gea, ini kamarnya yaa. Mbak bersih-bersih dulu, kamar mandinya di dalam kok."


"Ahh iya. Makasih ya, mbak." Balqis mengangguk sambil tersenyum.


"Yaudah kalau gitu saya tinggal dulu ya, Mbak. Mau samperin Abid."


"Iya, Mbak."


Balqis tersenyum lalu pergi ke kamar mereka di lantai atas.


"Assalamu'alaikum, abanng."


"Wa'alaikumsalam."


"Keliatan badmood banget ishh."


Abid menatap Balqis sekilas lalu kembali fokus pada ponselnya.


"Abaaang."


"Hmm?"


"Kenapa kamu tuu?" Tanya Balqis sambil menghampiri Abid ke kasur.


"Kita bisa aja ngasih uang, ay. Kenapa harus mempekerjakan diaa?"


"Ya karena dia butuh pekerjaan. Lagian kemaren kemaren kan abang bilang mau cari asisten rumah tangga, udah dapet tuh."


"Iyyya tapi aku maunya yang ibu-ibuu. Yang punya suamii, gak kek diaa."


"Bukannya yang masih muda bisa lebih gesit kerjanya?" Abid menatap Balqis sekilas.


"Namanya aja gak ada unsur desa-desanya."


"Emang harus ada unsur desanya? Geanadesa gituu?"


"Nggak gitu! Hihh, makin parah aja yaa. Ngelawan suami teross, dosa tauuu?!" Balqis menunduk.


Benar kata Abid, ia makin melawan. Ini jelas jauh dari yang diajarkan mamanya.


"Maaaafff." Abid berdehem.


"Udah gak usah melas gitu mukanyaa."


Abid menatap Balqis, "kamu gak takut dia godain suami kamu?"


"Y-yaa takutt, tapi kan gak boleh nethingan sama orangg. Kalaupun di goda dan abang setia, abang gak bakal tergodaaa. Abang nolak karena takut tergoda?"


"Nggak gitu jugaa."


"Yaudah ish, biarin ajaa. Balqis mah yakin abang gak bakal oleng. Kan cantikan Balqis," Balqis tersenyum menggoda.


"Hiih, pedeannn!"


"Kan nular dari abangg," jawab Balqis sedikit tertawa.


Abid ikut tertawa melihatnya.


"Tidur ayoo."


"Tumbenn ngajakin tidur siangg, kenapaa?"


"Ya gapapaa. Bisa aja nanti malem aku ajak kamu begadangkann, start jamm delapan sampe jam lima pagi."


"Dihh, nyiksa apa gimana bapak?" Abid tertawa, ia melihat ponselnya.


"Abang dari tadi liatin hp ngapain sii?"


"Main gamee."


Balqis mengintip.


Game offline ternyata. Game balap motor.


"Gameee terosss." Balqis beranjak pergi.


"Mo kemana sayangg?"


"Ambil makanaann." Abid mengantongi ponselnya lalu mengikuti Balqis.


"Ada makanan apaan?"


"Kagak ada apa-apa." Abid tertawa.


"Kenapa gak beli tadi?"


"Lupaa."


"Jadi mo ngapainn?"


"Balqis mo buatt... emmm, salad buah aja dehh. Abang mauu?"


"Mauuu."


"Kongsi aja, Balqis cuma mau dikit kok."


"Iyaa iyaa, terserah kamu sayangg."


Balqis mulai bekerja sama dengan alat dan bahan di dapur. Sedangkan Abid? Apalagi kerjaannya kalau bukan rusuh?


Ketika Balqis sibuk, Abid pun sibuk. Bedanya, Abid sedang sibuk mencari posisi yang enak untuk meletakkan dagunya.


Ia sedang memeluk Balqis dari belakang.


"Bangg, kita gak berdua doang disiniii!"


"Yaa terusss?? Kita kan udah sahh jugaa, siapa mo larang?"


Abid emang gituu, kagak mauu dilarang kalau lagi manja-manjaan.


"Awas duluuuu! Balqis tusuk ni pake pisoo!"


"Wih galak." Ledek Abid sambil tertawa kecil.


"Abaangg, awass ishh."


"Abang duduk disitu ajaaa."


"Bangggg. Ya Allah, malah pura-pura tidurrr."


"Abaaaangg, Balqis marah ni yaa!"


"Emang bisa marah? Kamu marah mah jadi kayak kuciingg mau tawuran."


"Ishh. Anak siapa si ini?"


"Anaknya Ayah Abay dan Bunda Desty."


"Rawrrr, udah ketebak ini mah."


"Apaan?"


"Gapapaa. Duduk disitu cepett, nanti Balqis kasih oreo."


"Okee." Abid menuju meja makan.


"Iming-iming oreo langsung mauuu." Gumam Balqis sambil geleng kepala.


Balqis memberikan Abid oreo. Abid memakannya seperti anak kecil, bener-bener bikin gemess!


"Di putar, di jilatt, di makan."


"Di celupin dulu baru di makann."


"Mo di celupin kemana? Aer putihh?"


"Abang mo Balqis bikinin apa?"


"Es teh panas."


"Teh eh atau teh panassss?!"


"Es teh panas."


"Karepmu wae lah, mas." Abid tertawa karena Balqis kesal.


Balqis menoleh keluar dapur, terlihat disana ada Gea yang sedang melihat sekelilingnya.


"Mbak Gea cari apa?" Tanya Balqis dari dapur.


"Hah? Oh inii, nyari dapur buat minumm. Saya baru sadar dapurnya disini," jawabnya cengengesan.


"Ooo, ini dapurnya mbak hehe. Kalau mau minum silahkan, ambil air mineralnya di kulkas yang gak dingin di dalam rak."


Gea mendekat dan mengambil yang dari kulkas.


"Mbak bikin apa?" Tanya Gea.


"Salad buahh, mbak." Gea berohria lalu duduk di depan Abid yang sedang makan oreo.


"Sayangg, aku ke kamar ya. Nanti bawa ke kamar jugaa jangan di abisin sendirii."


"Nanti besemuttt makan di kamarrr."


"Gak pernah ada semut di kamar."


"Masa iya?"


"Iyalahh. Buktinya aku manis gini gak dikerubungi semut."


"Iyainnn, sayang, iyainnn." Abid cengengesan. Ia berdiri, mengecup pipi Balqis lalu pergi ke kamar.


"Maaf ya mbak Gea, emang suka gituu dia. Gak tau tempat," kata Balqis.


"Iya gapapa kok."


"Udah berapa lama nikah muda?"


"Udah lumayan lama, mbak. Mbak sendirin udah punya pasangan kah?"


"Abis di selingkuhin saya."


"Kenapa?"


"Karena jelek."


Balqis yang selesai dengan saladnya menatap Gea.


"Mbak cantik lohh, jelek darimanaanya?"


"Saya mah jelek. Gak ada cowok yang lirik saya, bahkan suaminya mbak juga gak lirik saya tadi hehe."


"Haha, Abid mah emang gak pernah lirik cewek yang gak di kenal, mbakk. Emang dia cuek banget sama cewek lain." Gea berohria.


"Saya ke kamar dulu ya, mbak. Abid udah nunggu," Gea mengangguk. Balqis pergi meninggalkannya sendiri di dapur.


"Irii pula aku jadinya."


❃❃❃


19.23


"Abaangg." Abid melihat Balqis yang ada di sebelahnya.


"Laper?"


"Iyaa."


"Ayo makan diluarr." Ajak Abid.


Balqis belum sempat masak karena Abid mengurungnya di kamar. Hanya mengurung.


"Balqis diajak pergi sama Meiga sama Kak Fany."


"Kemana? Bertiga doang?" Balqis mengangguk.


"Terus aku? Aku disini sendiri gitu?"


"Kan ada mbak G–"


"Gak usah ngadi-ngadi. Aku ikut."


"Ehh, bangg. Cewek semua tauuu! Mau nemenin kak Fany sama Mei ke salon. Terus belanja jugaaa. Kalau kamu ikut ntar gak sabarr nunggunyaa."


"Yaudah yaudahh. Aku kerumah bunda aja nantii," Balqis tersenyum.


Cup!


"Balqis mo siap-siap dulu." Abid geleng-geleng melihat tingkahnya.


"Naik apa, sayangg??"


Beberapa menit kemudian Balqis keluar dari walk in closet. Balqis mengenakan rok dan sweater.


Abid mengajaknya keluar kamar.


"Nanti abang makan gimana?"


"Gampang. Sebelum kerumah bunda ntar mampir dulu. Kamu bilangin tuh art nya," Balqis menuju kamar Gea dan memberi tau kemana ia dan Abid akan pergi.


Setelah itu Balqis menghampiri Abid yang berada di depan pintu.


"Inget suami, jangan macem-macem!" Balqis mengangguk.


Abid meraih dompet lalu memberikan salah kredit card miliknya.


"Pake ini kalau mau beli apapunn. Jangan ragu-ragu, pake aja." Balqis mengangguk.


Tin! Tin!


Mobil Fany muncul.


Balqis mengecup pipi Abid, "maacciii abangg. Balqis pergi dulu, yaa. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Melihat Balqis sudah pergi, Abid masuk ke garasi. Tiba-tiba ia teringat pintu kamarnya, ruangan kerja dan ruangan gamenya belum di kunci. Abid masuk lagi.


"Gak jadi pergi mas nya?"


"Jadi. Jangan pernah masuk tiga kamar ini." Abid langsung pergi lagi setelah membawa kunci dan kunci cadangannya. Meskipun pakai sidik jari, kunci cadangan juga bisa membuka nya.


"Coldman, yaa."


Di tempat lain, Abid sedang mengendarai motornya menuju ke restoran Jepang. Setibanya disana, ia memesan makanan kemudian memakannya dengan santai.


Setelah membayar, Abid keluar lalu kembali mengenakan helmnya lalu pergi menuju rumah sang ayah.


Hanya perlu waktu beberapa menit bagi Abid untuk tiba disana. Jika Abid bersatu dengan motor motornya, dahlah, ia jadi setan berdamage.


"Assalamu'alaikum!!"


"Wa'alaikumsalam. Gak terima tamu, maaf!"


"Ingin rasanya menyemekdon pala nya Abiyyu." Abiyyu tertawa.


"Ayah bunda manaa?"


"Noh makann," Abid menoleh ke meja makan. Mereka semua makan termasuk si kembar.


"Lu gak makan?"


"Gue udah buncit anjritt, ntar makin buncit mampuss guee." Abid terkekeh membayangkannya.


Ia duduk di sebelah Abiyyu.


"Tumben sendiri lu?"


"Balqis lagi sama Fany sama Meiga juga."


"Meiga siapa?"


"Calon bini Tio." Abiyyu mengangguk paham.


"Gue tikung boleh gak kira-kira?"


"Nikung Tio?"


"Nggaklah. Nikung Mei, Tio kan ganteng."


"AYAAAAHHHHH, ABIYYU BELOK BENERAAAANNN!!"


"Astaghfirullah. Kamu datang-datang kenapa teriak si, Abidd?" Tanya bundanya.


"Abiyyu belok, bundd. Masak iyaa dia suka sama Tio."


"Jadi ini alasannyaa, kenapa selama ini Mas Abiy jomblo? Belum ketemu pria yang pass?" Tanya Avi.


Abiyyu mengelus dada, "gilaa pada ye. Abid kok di percayaa."


"Jujur, Biy. Ayah takut ini kamu beneran belok. Ayah jodohkan aja ya kamu, biar adem?"


"Eiii? Apaan?"


"Bagus jodohin aja deh, Yah. Takutnya beneran belokk, masa iya imam nikahin imam kan gak lucuu." Sahut Devi.


"Lurus yok mas Biy. Bisa yok bisaa, Bismillahirrahmanirrahim Asyhaduuuu..."


"Astaghfirullahalazim astaghfirullah."


Abiyyu menatap sinis Abid yang terkekeh.


"Abiyyu bercanda doangg, beneran. Mana ada Abiyyu belokk," Kata Abiyyu meyakinkan.


"Tapi ayah gak yakin sekarang, biy, kamu gak kunjung cari pacar. Ayah jodohin aja ya? Ta'aruf, abistu nikah."


"Wahh, mantap!"


"Kamu juga mau?" Tanya Avi pada Devi.


"Mauuu."


"Yaudah sana sama mas Abiyy."


"HEH MENGADI-NGADI!" Abid larang garis keras.


"Kenapaa, Bid?" Tanya Bundanya.


"Kan ada Jefri, lebih ganteng. Abiyyu terlalu tua!"


"Adek sialan!" Abid nyengir menunjukkan wajah tanpa dosa.


"Yaudah ya, Biy. Besok ayah jodohin, ayah atur pertemuan sama temen ayah."


"Abiyyu normal ayahh. Gak percaya yasudahlahh," Abiyyu pergi ke kamar.


"Yakkk, merajok gengss." Ledek Avi.


"Sedang galau dia, bukan merajok." Jawab Abid.


"Gue headshot pala lu ya, Bid!" Abid terkekeh. Abiyyu tetap melanjutkan perjalanannya menuju kamar.


"Mana Balqis?? Kenapa sendirian?" Tanya Bundanya.


"Main sama Fany, bund."


"Tumben abang kesini? Biasanya diem aja dirumah gituu."


"Tadinya ya mau gituu, tapi karena Balqis sewa asisten rumah tangga yang ketemu di jalan maleslah dirumah."


"Kok ketemu dijalan??" Tanya Abay.


"Iyaa, Abid hampir nabrak tadi." Mereka berohria.


"Baguslah ada art. Kasian mantu bunda kamu suruh kerja sendiri terus!"


"Balqis nya aja yang beball kadangg."


"Abang juga gak pekaa!" Cibir Avi.


"Sok sok ngerti peka. Abang kode aja gak paham kamu," Avi cengengesan.


"Bid biddd." Abid menoleh, Abiyyu keluar lagi sambil pamer black card.


"HEHHH, BLACK CARD?"


"Iya dongg. Hahaha, kalahh kan lu!!"


"Kw itu mah," Devina dengan muka polosnya berbicara.


"Oh kw. HAHAHAHAAAA, KW!"


"Owasuu. Punya adek kejujuran gini amat yak." Mereka terkekeh lagi.


"Eh, btw mas. Gue mo ngamuk sama lu."


"Apa tuu?"


"Lu ajarin apa Avi sampe tau kotor-kotor?!"


"Ajari apaaan? Mengadi ngadi antum."


"Jangan pura-pura gitu lu, Biy."


"Emang apaan, Bid?" Tanya Abay.


"Itu yahh, Abiyyu ajarin Avi porno-porno."


"HAH? KAGAK ADA SETANN!"


"Wahh, Biy. Mau bunda smekdon kamu?"


"Smekdon aja bundaa, Abid bantu nantiii."


"Abid syaland emang! Kagak la bundaa, mana ada Abiy ajarin Avi porno-porno."


"Kamu tau darimana emang, Bid?"


"Tadikan kerumah tu si api depii, terus api jujurr dia baca novel porno."


"Avi bang Aviii. Bukan api!" Avi protes.


"Podo ae wes." Abid nyengir.


"Sejauh manaa bacaan mu, Avi? Siapa yang ajarin?!"


"Jujurr, Vi. Bukan mas kann?"


"Ya emang bukannn mas Biuu."


"Jadi siapaa?" Tanya Abay.


"Bang Abid."


"Wtf, kok jadi abangg?!"


"Mampusss lu kan, mampusss!"


"Astaghfirullah, Abid gak ada ngajarin Avi bunddd."


"Halahhh! Mau bunda smekdon betulan kamuu?!"


❃❃❃


"Tadi ku liat kak Abid mau pergi juga, mau kemana?" Tanya Meiga ketika mereka berkeliling di mall.


"Tempat bundanya."


"Tumbenn, takut sendiri dirumah apa gimana?" Tanya Fany gantian.


"Di rumah ada art jadi bang Abid gak mau dirumah kalau cuma berduaa." Mereka berohria.


"Ketemu art dimana?"


"Di jalaann. Bang Abid hampir nabrak diaa, terus katanya dia cari kerjaa abistu Balqis tawarin jadi art lah."


"Masih muda?" Tanya Fany, Balqis mengangguk.


"Maybe sebayanya kak Fany."


"Berarti sebaya Abid juga lah," Balqis mengangguk lagi.


"Kamu gak takut emangg? Banyak loh art yang nyamar atau nggak jadi penggoda dalam rumah tangga orang."


"Abid pasti gak bakal tergoda. Dia cueeeeeekk banget soal cewekk, beberapa cewek yang akrab sama dia ya cuma karena berhubungan sama temennya. Contohnya kamu, Mei." Meiga mengangguk paham.


"Ya kalaupun ketauan ngegodaa tu aertenya, Balqis mah gak bakal diem ajaa."


"Emang mo diapain?" Tanya Meiga.


"Di matiin pelan-pelann mungkin."


Meiga shock, "waras kan kamu?"


"Iyalah." Balqis tertawa.


"Serem sumpill."


"Makanya tiati ajalaa. Jangan macem-macem sama anak didik Vincenzo."