
"Assalamu'alaikum, ABID KAMBEK! "
"Waalaikumsalam, abanggggg"
Devi langsung berlari menuju Abid, Abid menangkap lalu menggendong Devi.
"Sakit apa??" Tidak menjawab pertanyaan Abid, Devi malah menyembunyikan wajahnya di leher Abid.
Balqis yang di belakang memegang keningnya, "panas".
"Avi Devi demam, gara gara mandi hujan" ujar bunda Abid.
"Betingkahnyaa, masih kecil ujan ujanan"
"Is, kan pengen ngerasain air hujan bangg" sahut Avi.
"Apa rasanya?"
"Asin"
Abid terkekeh, "ngacoo banget".
Abid membawa Devi duduk di sofa, Balqis mengikutinya. Hati Balqis adem melihat cara Abid memperlakukan adiknya.
Di balik sikap sikap buruk Abid, ia adalah orang yang penyayang.
"Abid, titip Avi Devi ya. Bunda mau keluar bentar"
"Macem sama siapa aja nitip-nitip. Mau Abid anterinn??"
"Sama supir aja, kalau kamu anterin yang jaga siapa?" Abid mengangguk paham.
"Yaudah, bunda pergi duluu" Mereka menyalami tangan bunda Abid.
Bunda Abid pun pergi. Abid melihat kedua adiknya, Avi yang tidur santai di sofa, sedangkan Devi masih bersandar pada Abid.
"Avi, Devi udah makann?"
Mereka menggeleng, "Devi mau disuapin kakak cantik" pinta Devi.
"Loh, kan udah gedee. Makan sendirii" suruh Abid.
"Is abanggg"
"Ayok kakak suapin, mau makan apa Devi?"
"Balqiss"
"Apaan sii bang? Nyuapin makan doangg"
"Ayo Devi, ke dapur" Devi turun dari pangkuan Abid lalu menggenggam tangan Balqis menuju dapur.
"Avi mau makan apaa??"
"Avi makan kalau abang beliin ps"
"Ps???"
"Hehe, ps Avi rusak bangg. Beliin lagii dong"
"Minta ayah atau bunda" suruh Abid.
"Bunda gak mau ngasihh, ayah jugaa"
"Beliin dong banggg, daripada Avi minta beliin smartphone"
"Nanti kalau sembuh abang beliin"
Avi bangun dari tidurnya, "Avi udah sembuh".
"Astaghfirullah, gercep banget kalau ps yaa??"
"Gini lo bang, ps itu umpama obat bagi Avi. Jad--"
"Gak usah nyocot, cepet besiap kalau mau beli"
Avi salto lalu lari ke kamarnya. Abid hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah adik tomboynya itu.
Ia pergi ke dapur mengambil minum, tapi berpas-pasan dengan Balqis. Mereka bertatapan, "kak Balqiss ayoo".
Balqis tersadar, ia bergeser kesamping kemudian melewati Abid. Abid berjalan mundur, ia mengecup pipi Balqis lalu kembali ke dapur.
"Kak Balqis pipinya kenapa merahh?" tanya Devi.
"Hah? Merahh??" Balqis memegangi pipinya.
"Oh ini make up" Devi yang polos menganggukkan kepalanya.
Di dapur, Abid tertawa mendengar jawaban Balqis. Ia kembali ke ruang keluarga sambil membawa minuman botol di tangannya.
"Abang ayooo" Avi keluar dengan semangat.
"Avi mau kemanaa?" tanya Devi.
"Mau beli ps"
"Loh tapi kamu sakit" ujar Balqis.
"Abang tuhh gimana coba, Avi sakit di ajakin keluar"
'Ni anak pms apa gimana sih, ngamuk mulu"
"Yaudah kalau gitu, ayo ikutt" ajak Abid.
"Ayoooo!!" Devi ke kamarnya mengambil celana panjang sekaligus menyisir rambutnya.
"Mau ikut nggak? Ngamuk mulu" goda Abid.
"Diem!!"
Savage! Abid auto diem.
"Kakak ipar mu serem kan, vi" bisik Abid pada Avi.
"Abang sih, gak kasih jatah. Ngamuk mulu kann"
Abid menatap tajam Avi, "heh!! Tau darimana jatah jatahhh?!"
"Dari temennn"
"Astaghfirullah.. kok bisa-bisanya kamu dapet temen gak beres, sama kayak temen abanggg"
"Devi laporin bang Jefriii kapokk" Abid menyipitkan matanya sambil menatap sinis Devi.
"Jadi gak? Ayoo" Mereka pergi menuju mobil Abid.
Abid berjalan terakhir karena dia yang akan mengunci pintu rumah.
Setelah selesai, ia masuk ke mobil. "Pake sabuk pengaman nyaa"
"Udahhh"
"Bacaa doaa" Avi Devi berdoa dalam hati, begitupun dengan Abid dan Balqis.
Setelah selesai, Abid diam. "Bang, gak jalan??"
"Oh iya lupa"
"Beuhhh gak jelas betulll ahh!!" Abid cengengesan. Ia menghidupkan mobilnya.
"Itu di tengah ada plastik isinya jajan, abang kalian lupa kasih tuh" ujar Balqis sembari menatap si kembar.
Mereka berdua mengambil jajanan itu lalu memakannya dengan santai.
"Coklat ini.. ingetin Devi sama bang Jefrii"
Abid mengerutkan alisnya, ia menoleh ke kaca melihat ekspresi Devi yang sok serius.
"Gak pernah ingat abang lagi ya??"
"Dihh, macem abang inget kami aja. Abang kan ingetnya bikin dede bayii" sahut Avi.
"Astaghfirullah, siapa yang ngajarin kamu Davinaaa Adaraa Althaff?!"
"Kan abang yang ngajarin" Abid langsung terdiam.
'Kapan gue ngajarin adek gue perihal giniaann?!' batin Abid bertanya-tanya.
Balqis dan Devi tertawa melihat Abid yang kicep mendengar jawaban Avi.
"Tulah betingkahh, adek masi kecil jadi gak poloskan otaknya" Bisik Balqis.
"Aku gak pernah ngajarin, ay. Sumpah"
"Halah ngelesss"
"Percaya gak kamuuu? Kalau gak percaya cium dulu"
"Widihh, mencari kesempatan dalam kesempitaann"
▪▪▪
"Senang kali tu muka dapet ps baruu" sindir Abid. Avi cengengesan.
"Creepy liat kamu gitu, dek" Avi tertawa.
"Abangg, Devi juga mauu"
"Mau ps?"
"Mau mainn Timezone!" Abid tersenyum.
"Masih sakit, udah pada betingkah. Masuk, ayo ke mall" Dengan semangat mereka kembali masuk ke mobil.
"Abanggg, Abid mana??" tanya Avi ketika mobil mereka sudah setengah perjalanan.
"Ha? Maksudnya gimane, buk?" tanya Abid gantian.
"Ituloh, kucing imutt yang di pasar malam waktutuuu"
Abid dan Balqis berusaha mengingat.
"Ohhhh!! Bang yang ituuuu, kan masih di salonnnnnn. Jemput yaaa" pinta Balqis antusias.
"Nggak"
"Bang, gak usah pelit deh!" protes Balqis, ekspresi mukanya berubah sembilan puluh derajat.
"Pelit darimana?"
"Ya makanyaa jemputtt kucinggnyaaaa"
"Bang Abid pelit betul laa, abang tau gak kucing itu hewan kesayangan nabii" omel Avi.
"Iyaa iya di jemput, ntar siap dari mall. Kalau sekarang bisa mati dia karna linglung"
"Yesh!!! Avi, Devi ingatkan!" Mereka berdua mengangguk.
"Jangan sampee lupaaa" Abid berdehem.
"Bang"
"Hmm??"
"Jangan lupa ambil kucing" ujar Devi.
"Hmm"
"Abangg"
"Hm??"
"Jangan lupa ambil Abid" Abid langsung menatap kesal Avi yang tertawa.
"Lagi sakit juga, bisa-bisanya tetep doyan bacottt" Avi terkekeh diikuti yang lain.
Tak lama kemudian mereka tiba di mall. Sambil menggandeng tangan Avi, Abid berjalan santai layaknya model papan tulis eh maksudnya papan atas:v
"Loh bid?" Abid menoleh.
"Aaaaa bang jepriiiiii" Jefri tersenyum, ia menyamakan tingginya dengan Devi. Devi mendekat kemudian memeluk Jefri.
"Badan Devi panas"
"Devi demamm, hehe"
"Tapi ini malah ke sinii"
"Refreshing, abang disini sama siapa??"
"Sama keponakan sama kakaknya abang. Mau ikut barengg?" Devi mengangguk. Jefri menarik tangan Devi menuju kakaknya.
"Pengen nendang takut dosaa" cibir Abid.
"Avi ikut sama bang Jefri dulu gih"
"Ahh okee, abang mau kemanaa?"
"Abang disanaa, mau cari setelan jas" Avi mengangguk paham lalu berlari mengikuti Jefri dan Devi.
Balqis beranjak ikut dengan Avi juga, namun Abid menahan tangannya.
"Mau kemana, sayangg?" tanya Abid dengan deep voice nya.
"G-gak kemana-mana. Itu suara kak Abid ngapa jadi gituuuu?!"
"Gak tau, ayo pilihin bajuu" Abid memegang tangan Balqis, Balqis menggenggam tangan Abid.
"Abang pake pink ganteng tauu"
"Jangan merusak image aku, ay" Balqis cengengesan.
"Ini atau ini?"
"Gak ada bedanyaaa abangg, sama sama item inii gimana bisa milih?!" Abid tampak berfikir.
"Oke, beli dua-dua"
Balqis terpelongo melihatnya, Abid menarik tangan Balqis menuju arah dress.
"Duh, aku bayangin kamu pake gaun pengantin byy"
"Pake gaun pengantin apa pas siap jadi pengantin??"
Abid mendekat, "dua-duanya" Balqis kegelian sambil terkekeh pelan.
"Kamu mau beli apa? Ambillah"
"Nggak ahh, gak mauuuk" Abid mendekat lagi.
Cup~
"Setiap bilang gak mau aku cium" Balqis menyipitkan mata sambil menatap kesal Abid.
Dia pun memilih pakaian.
"Byyy, gak mau pake inii?" bisik Abid sambil menunjuk lingerie.
"Minta di gaplok!!" Abid terkekeh, Balqis lanjut memilih bajunya.
Setelah selesai memilih dan membayar, Abid yang membawakan belanjaan mereka.
Bruk...
Abid menghela nafas panjang ketika orang yang menabraknya terjatuh.
"Lu marah ke gue, gue bisa lebih marah. Jalan pake kaki, liat pake mata!!" Abid melanjutkan perjalanan.
"Ehh tungguu" Abid berbalik.
Ia gagal cool ketika matanya menemukan sesuatu yang 'woww' banget dari wanita itu.
"Ehemm!!" Abid tersadar mendengar kode Balqis.
"Ada apaa?"
"Aku minta maaff udah nabrak, tadi gak sengaja"
"Oke dimaafkann!"
"Saya duluan" Wanita itu pergi. Abid terus mengamatinya dengan serius.
"Terus kan aja terus!! Liat aja tu cewek cakep" Abid tertawa.
"Bunda cemburu??"
"Bodo!!"
"Gemesin banget ih kalau cemburu gituu, cute bangett"
"Dih, apaan sihh?!"
"Subhanallah, istriku imut bangett"
"Modusss buaya bangetttt!! Dasar jelalatan"
"Nggak jelalatan sayang, cuma penasaran aja gitu. Kok gede banget kea balonnn"
"Astaghfirullah abaangg!!" Abid terkekeh.
"Seksian kamu kok, serius" bisik Abid.
"Kenapaa otak abangg isinya kemesumaaan semuaaaa?!"
"Hehee"
"By the way, kamu mau punya anak berapa sayang??" Balqis menatap sinis sekilas, ia tidak menjawab pertanyaan Abid.
"Aku mau enam aja, tapi sekali lahir kembar gitu. Kan jadinya dua belas. Terus tu, bentuk tim sepak bola. Althaf soccer team, wahh briliant!! Cerdas banget lu Abid!!"
"Cerdas darimanaaa?! Mau punya anak banyak bikin sama kucing sanaa, sekali lahiran kan bisa empat ekorr!!"
"Ya kalii sama kucing, byy"