
"Kak Abid gak jadi party?" tanya Balqis saat mereka berdua di kamar Abid.
"Bentar lagi" jawab Abid yang sedang rebahan di kasur tercintanya.
"Nanti ditungguin"
"Tinggal jawab lagi reunian sama kasur"
Balqis tertawa. "Pande banget ngeles nyaa"
Abid cengengesan sambil menatap Balqis yang tertawa.
'cantik.. banget'
Drrtt.. Drtttt
"Ganggu aja" gumam Abid sambil merogoh ponsel di saku celananya. Abid hanya menatap nama penelepon lalu meletakkan ponselnya di kasur.
"Kok gak diangkat kak?" Balqis menatapnya heran.
"Paling juga mau ngegas"
"Emang siapa?"
"Eldi" Abid pun menggeser tombol berwarna hijau.
π "ASSALAMU'ALAIKUM, LAMA KALI KAUU WOI AH"
"Waalaikumsalam. Gak bisa sante lu, El?"
π "Apa?? Santet?"
"Iya!! Lu mau gua santet?"
Abid mendengar Eldi tertawa.
π "Buruan kesini kamprett. Lama banget lu"
"Yayaya"
π "Cepat"
"Yayaya"
π "Lama gua bom apart lu!"
"Yayaya"
π "Ahnnjing"
Abid gantian tertawa. "Ini gue berangkat"
Abid langsung mematikan ponselnya. Dia membuka lemari baju, mengambil kaos hitam polos dan jaket berlambang tetesan darah hitam.
Jaket khas Black Blood.
Jaket itu dan beberapa pakaian Abid tertinggal disini kemarin.
"Kak Abid ganti baju jangan disini!!"
"Jadi dimana lagi kalau nggak disini??"
"Gausah malu malu deh, mo liat kan?" goda Abid.
"Kak Abid kepentok dinding bagian mana sih?" tanya Balqis sambil bersembunyi dibalik selimut.
Abid mengganti bajunya sambil tertawa.
Tak butuh waktu lama, Abid sudah berganti baju dan tampak lebih tampan dari sebelumnya. "Engap nggak tuh? Gue dah siap"
Balqis keluar dari persembunyiannya lalu bernafas lega. Balqis melihat Abid menata rambutnya. "Gak usah sok ganteng"
Abid tertawa lalu mendekat. "Kenapa? Takut gue selingkuh ya?"
"Nggak"
"Yakin nih?"
"Iyalah"
"Yaudah gue mau telepon Shelia deh"
"Macem macem lah, tidur diluar kakak nanti"
"Cemburu yaa?? Cemburu kalau suami gantengmu ini selingkuh"
"Ngarang" Abid terkekeh melihat pipi merah Balqis.
Abid makin dekat lalu mengecup pipi Balqis. "Diusahakan"
"Apaaan diusahakann?!" tanya Balqis. Abid tertawa lagi.
"Kakkkk ish"
"Apaa hmm?"
"Diusahakan apanyaa??"
"Diusahakan apapun" Balqis memanyunkan bibirnya.
"Kode mau kiss?"
"Nggakkk!"
"Eh kamu punya utang loh"
'ademm banget denger kak Abid aku-kamuan'
"Utang apa?" tanya Balqis pelan.
Abid menepuk pipinya. "Gak acik noleh noleh ya!" Abid mengangguk.
Cup~
Balqis mengecup pipi Abid.
Cup~
Abid membalasnya di bibir Balqis.
"Gue pergi dulu, Assalamu'alaikum"
"Udah kesekian kali, kenapa tetep deg-degan sih??"
βͺβͺβͺ
"Asikkk awhh.. bisa kompak gini, samaan pake jaket" ujar Tio saat melihat Abid tiba di markas.
"Ikatan batin yang kuatt" jawab Abid.
"Lo lama kali supardin!" protes Rangga.
"Rangga, mengerti lah. Abid kan harus pamit baik-baik sama istri. Cipika-cipiki dulu, nina bobo-in dulu, baru pergi. Ya kan, Bid?" ledek Eldi.
"Mau mati muda emang si Eldi"
"Hahaha"
"Mo pesta dimane?" tanya Tio.
"Ke bar nya Cokky aja yok" ajak Eldi.
"Ngga ada tempat lain? Bosen gua" sahut Rangga.
"Ya mau kemana lagi gue tanya? Disitu doang yang aman" jawab Jefri.
"Yaudah disitu juga gapapa" kata Rangga.
"Eh, sebelum kesono kagak mau ngebantai? Gue ngajak ni"
"Bid? Sehat? Lo belum minum kok udah mabuk?" tanya Eldi.
"Gue gak minum anjyng, gue serius. Lion king pasti uring-uringan karna ketuanya gaada"
"Iya juga ya. Kesempatan emas ni buat bantai balik" sahut Rangga.
"Skuy lah" ajak Jefri. Mereka serentak keluar dari markas.
"Lo dirumah tadi, Bid?" tanya Tio ketika melihat Abid naik motor KLX nya. Abid hanya mengangguk.
"Damai berarti" Abid mengangguk lagi.
"Biar gak rame pada nebeng ajaa, lima orang lima motor serem"
"Oke gue sama Eldi" kata Tio.
"Upin ipin emang"
Mereka berlima pergi menuju markas lion king. Tio bersama Eldi, Rangga bersama Jefri, dan Abid sendiri.
Dengan kecepatan tinggi, mereka tiba di markas Lion king dengan jarak tempuh 15 menit.
Mereka berlima turun dari motor secara estetik wkwk:v
"Woi" teriak Rangga.
Tidak ada jawaban
"Eh kalian" serentak mereka berbalik.
Pria yang di desa waktu itu muncul, dia bersama dengan beberapa anggotanya. Keliatan kalau dia tangan kanan Jordan sekarang. Abid tertawa melihat muka pria ini.
"Lo ketawa?"
"Lucu aja liat muka lu, muka JAMET"
Black blood tertawa bersamaan. Pria ini mengode sesuatu ke belakang Black blood.
Rangga dan Tio berbalik, oh mereka udah punya persiapan ternyata.
Rangga menatap Tio, begitupun sebaliknya. Mereka berdua tersenyum miring lalu maju menghajar dua puluh empat orang anggota Lion king yang sudah bersiap.
"Rangga, Tio, butuh bantuan gak?" tanya Eldi sedikit berteriak.
"Bantu beliin gua makanan aja" jawab Tio masih sambil bertengkar.
"Otak lo isinya makanan aja" protes Rangga, Tio hanya tertawa masih dalam keadaan baku hantam.
Eldi hanya menonton Rangga dan Tio. Sedangkan Abid dan Jefri menatap sengit sebelas orang di depan mereka. Pria desa dan sepuluh anggotanya.
"Lo, gue. One by one, sisanya sama temen gue. Setuju?"
Pria desa itu tertawa.
Tiba-tiba dia bergerak menendang Abid. Abid yang tau pergerakannya hanya bergeser sedikit. Perkelahian pun mulai!
Tiga puluh lima orang anggota Lion king melawan lima orang anggota Black blood.
Sstt..
Jangan berfikir Lion king menang.
Mereka hanya menang jumlah, bukan menang skill ataupun trik.
Dalam waktu lima belas menit, semua anggota Lion king terbaring di tanah termasuk pria desa itu. Banyak darah bercucuran dari muka jametnya pria desa.
"Jangan main-main sama Black blood, Black blood bukan tandingan kalian" ujar Tio.
"Menang jumlah, kalah skill. Haha.. Gak guna" ledek Rangga.
Pria desa yang mereka gak tau namanya bangkit. Dia berbicara sambil menunjuk. "Tunggu sampe Jordan sama Tama balik, lo semua rata dibuatnya!"
Abid dan yang lain tertawa. Abid meletakkan kedua tangannya di saku, lalu maju menghampiri pria ini.
"Ayo bangun, kamu lagi halu!" Abid menendang kaki Pria desa itu, pria itu terbanting.
"Ck. Lemah banget, kurang asupan ya?" ledek Eldi.
"Maklum, El. Kan gak ada yang kasih makan" sahut Jefri.
"Kasihan"
"Hahaha"
"Kalian semua, anggotanya Tama. Dengerin gua ya"
"Kelakuan kalian yang begini itu gak keren. Malah lu pada keliatan kayak SAMPAH. Beda sama tim gua yang berkelas. Jadi, lebih baik lo pada bubarin diri, cari kerja, atau sekolah. Setidaknya sisa hidup kalian digunain"
"Kalau kalian gak tau mau kerja kemana, hubungin gue. Gue siap bantu"
Abid langsung ditatap keempat temannya.
"Bid, lu gila mau bantu musuh?" tanya Rangga. Abid hanya tersenyum lalu pergi menuju motornya.
"Gue duluan"
Abid pergi.
"Gila! Dia baik banget sumpah gak boong" puji Eldi.
"Pas pembagian hati, Abid paling depan. Jadi dapet porsi baik kegedean"
βͺβͺβͺβͺβͺ
"Bid lu kagak beneran kan?? Ya kali lu bantu musuhh, Bidd" protes Rangga langsung menghampiri Abid di meja yang sudah disediakan Cokky.
"Apa salahnya bantu sesama umat, nak Rangga" jawab Abid cengengesan.
"Bid, lu jangan kebaikan dong ah!" Abid tertawa.
"Lu ngapa ketawa woi, gue serius Bid!" protes Rangga.
"Lo kenapa baik banget?" tanya Jefri.
"Karna muka ganteng gue jadi jelek kalau dibuat jahat"
"Ih anjirrr pedean" Abid tertawa.
"Itu semboyan gue"
"Bacott"
"Lu pada ribut mulu dahh, ntar ga jumpa kecariann" ujar Cokky yang dari tadi memperhatikan mereka. Black blood tertawa.
"Malah ketawa. Lo pada mo minum apa?" tanya Cokky.
"Wine"
"Vodka"
"Bir"
"Soju deh"
"Eh anjyng serius dah ah. Soju kagak ada disini" protes Cokky.
"Lah gak ada? Adanya dimana?" tanya Eldi.
"KOREA"
"Pewww.. Cokky PMS"
"Hahahaha"
"Kampret benerrr"
"Jadi mau apaa woi ah?"
"Bir aja, kadar alkoholnya rendah. Cuma empat persen, atau paling tinggi enam persen" sahut Abid.
"Jenius sekali, warbiasah!" Abid tersenyum miring.
Cokky memanggil rekannya untuk mengambilkan pesanan mereka.
Begitu pesanan datang, mereka βkecuali Abidβ langsung menuangnya ke gelas lalu menegukknya.
"Lu pada abis gelut?" tanya Cokky.
Jefri mengangguk. "Lebih tepatnya, balas dendam"
"Hobi kok gelut"
"Semboyan Black blood adalah...."
"Pantang pesta sebelum gelut"
"Goblokk emang"
Black blood tertawa.
"Gue udah pesen makanan, ntar di delip kesini"
"Bagoyyy, pengertian banget Abidd awhh"
"Najisss" Tio tertawa.
"Lo kagak nyicip lagi, Bid?" tanya Cokky.
"Kagak"
"Dia udah bebini cokk, jadi takut diomelin"
"Lo kata gue suami takut istri apa?!" Eldi tertawa.
"Beneran udah punya bini??" tanya Cokky antusias.
"Punyaa, mabuk kemaren dia baru nikah itu"
"Udah ehem ehem?" Abid menatap sinis mereka yang menatapnya seolah menunggu jawaban.
"Nggak lu nggak Eldi, otaknya nge'w' teros"
Cokky dan Eldi tertawa.
"Dijodohin apa gimana? Terus, cewek yang tidak beruntung itu siapa?"
"Tidak beruntung?" Cokky mengangguk.
"Begoo!! Jelas beruntung lah. Gue ganteng gini kayak Manu Rios"
"Mendadak mau muntah"
"Ehm.. golok mana golok?!!"