A B I D

A B I D
– Maaf, Bid.



"Bang Abid bangun" Devi teriak di depan pintu kamar Abid. Sepertinya, tenaga nya untuk mengomel sudah kembali.


"Bang abiddd!!! Bangg!!!! Nanti Devi sama yang lain telattt"


"Woii abang kebo!!! Bangun woi, laperrr" Davina ikut berteriak.


"Sumpah bang Abid tidur ngalahin kebo lamanya" ujar Davina kesal.


"Belum bangun?" tanya Balqis menghampiri mereka. Mereka berdua menggeleng.


Balqis meraih gagang pintu, lalu membukanya. Abid masih tertidur pulas. Mereka berempat masuk ke kamar Abid.


"Bang. Bangun dong"


"Abang"


"Kak Abid"


"Bang Abid!!" Davina menggoyangkan tubuh Abid.


"Kok panas kak?" tanya Avi setelah memegang tangan Abid.


"Panas?" Davina mengangguk. Balqis memegang dahi Abid. Dan benar saja, badan Abid panas.


"Yah.. gara gara Devi bang Abid ketularan"


"Devi jangan nyalahin diri sendiri ya. Gak baik" Devina mengangguk.


Mendengar suara, Abid mengerjapkan matanya.


"Kalian ngapain?" tanya Abid dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Bangunin bang Abid. Tapikan bang Abid sakit, lanjut tidur aja" suruh Davina.


"Sakit? Abang gak sakit" ujar Abid.


"Kakak sakit, badan kakak panas. Kakak gak usah sekolah ya" pinta Balqis.


"Badan gue kalau pagi emang gini"


"Jam berapa sekarang?"


"Jam enam"


"Pada keluar, biar abang mandi"


"Tapi bang. Abang kan sakitt, abang gak usah sekolah ya. Devi yang jagain"


"Abang baik-baik aja sayang"


"Dah, pada keluar sana" suruh Abid.


"Kakak gak apa apa beneran?" Abid mengangguk.


"Gue sehat sentosa" jawab Abid.


"Yaudah, buruan ya. Davina laper" Abid cengengesan.


"Sebentar kok, lima belas menit" Mereka berempat pun keluar.


Setelah mereka menutup pintu, Abid langsung memegangi kepalanya yang sakit. Abid benar-benar demam. Namun dia tidak ingin bolos, demi menjaga semua orang yang memercayainya.


»»——⍟——««


07.00


Abid dan Balqis tiba di halaman sekolah.


"Kakak beneran gak apa apa?" tanya Balqis.


"Terhitung seratus kali lo nanya kayak gitu ke gue. Gue gapapa, gue baik-baik aja" Abid menjawab sambil senyum menatap Balqis.


"Mending lo keluar sekarang, mumpung sepi"


"Yaudah, Balqis duluan ya" Abid mengangguk.


Balqis ingin membuka pintu mobil, namun tangannya yang satu lagi ditahan Abid. "Lo belum ada uang jajan kan?"


"Tunggu bentar" Abid mengambil dompetnya lalu mengeluarkan selembar lima puluh ribu.


"Kebanyakan kak. Balqis nggak mau terima" tolak Balqis.


"Kalau lo tolak, lo makan siang pake apa?" tanya Abid.


"Em.."


"Jangan bilang ngutang"


"Udah mending, lo ambil ini"


"Dua puluh ribu atau sepuluh ribu aja gitu kak? Ada gak?"


'ni anak emang bener-bener. dia emang hemat atau gak enak sama gue sih?' tanya Abid sambil mencari uang dua puluh ribu di dompetnya.


"Nih ada satu"


"Nah, ini lebih dari cukup. Makasih kak"


"Besok Balqis balikin"


"Gak usah dibalikin. Dah buruan sono"


"Assalamu'alaikum kak Abid"


"Waalaikumsalam.."


'sayang'


Balqis keluar dari mobil ayahnya Abid. Abid yang masih di dalam mobil meletakkan kepalanya di setir. Tangannya merambat mencari obat sakit kepala. Setelah menemukannya, Abid meminum obat itu tanpa bantuan air putih.


Abid pun keluar dari mobil tepat saat bel sekolah berbunyi.


"Bid, lo sakit?" tanya Eldi.


"Kagak" Abid langsung meletakkan kakinya di meja.


"Serius deh. Lo pucat banget woi!" sahut Rangga.


"Ini bukan pucat. Gue emang putih"


"Tapi beda bid, sumpah deh. Beda" kata Jefri.


"Lo sakitkan?" tanya Tio.


"Kagak astagfirullah"


"Udah diem dah lu pada"


"Uks yok bid" ajak Heon.


"Gue gak sakit. Sumpah" Jefri meletakkan tangannya di dahi Abid seperti yang Balqis lakukan.


"Panas anjirr"


"Fiks lo sakit. Mau digotong atau jalan sendiri?"


"Gak usah lebay. Bu bacot udah masuk tuh" mereka berbalik dan melihat wali kelas mereka baru saja masuk. Dengan sangat terpaksa mereka kembali ke tempat duduk masing-masing.


𓆧𓆧


Heon pergi ke toilet menyuruh mereka pergi duluan ke parkiran. Tujuannya ke toilet ingin menelepon Tama, menanyakan mengapa Tama memintanya membunuh Jefri?


–Tama–


📞 "Halo?"


"Satu pertanyaan. Tujuan lo nyuruh gue bunuh Jefri?"


📞 "Gue gak mau liat Abid seneng, gue suka liat dia menderita. Kehilangan satu temannya lagi, dia bakal down abis-abisan gue yakin itu"


"Apa sih salah dia ke lo sampe lo setega ini?"


📞 "Lu mau berontak? Anggota gue masih di Malaysia loh, di sekitaran nyokap lu"


Heon mematikan panggilannya.


"Gue harus gimana sekarang?!!"


"Maaf, Bid."


"Maafin gue"


✳✳


"Si Heon kemana?" tanya Abid.


"Nggak tau. Ke toilet katanya" jawab Rangga.


"Lo bawa mobil ya? Mobil bokap?" tanya Jefri.


"Iya, nggak terlalu ketara. Biar gak bahaya di Balqis nya"


"Asekk.. perhatian sekali ketua" ledek Tio.


"Eh lo tadi malem jadi ****** bid?" tanya Eldi. Abid mengulurkan kakinya menendang Eldi.


"Anjirrre" Abid tertawa. Eldi menatapnya sinis.


"Jadi ini kita nunggu apa? Heon atau Balqis?"


"Si ketua kayaknya nunggu Balqis, kalau nunggu Heon kayaknya dia lama. Dia nyuruh kita duluan tadi"


"Yaa.. kalau mau balik duluan silahkan" suruh Abid.


"Serius ni kami duluan?" Abid mengangguk.


"Yoda deh" mereka menghampiri motor masing-masing.


"Tiati lo pada" mereka mengangguk lalu pulang bersamaan.


"Abid" Abid menoleh.


"Kenapa?"


"Bisa nebeng? Aku gak bawa kendaraan. Aku bayar deh"


"Gak perlu bayar. Kalau mau ikut, masuk duluan. Gue masih nunggu orang"


"Okee" Ia masuk dan duduk di kursi sebelah pengemudi. Sedangkan Abid diluar sambil bersandar di mobilnya.


Sepuluh menit kemudian, Balqis muncul.


"Lama kali ngapain sih?" tanya Abid.


"Itu tadi rapat anak PMR kak. Maaf hehe"


"Itu di dalam ada siapa kak?" tanya Balqis.


"Shelia"


"Masuk buruan" Balqis pun masuk dan duduk di kursi belakang Abid. Abid juga masuk dan mulai mengemudi.


𓆟𓆟


Sepulang mengantar Shelia, Abid langsung kembali ke rumahnya.


"Kembar sama Ulfa kak?" tanya Balqis.


"Kan masih les"


"Oiya lupa" Balqis cengengesan.


Tiba-tiba ponsel Abid berbunyi.


📞 "Bid.. bantu kita. Kita di serang dadakan sama Jordan"


"HAH?! DIMANA?!"


📞 "Gue sharelock"


Rangga mematikan teleponnya.


"Kenapa kakk?" tanya Balqis.


"Lo nanti di dalem aja. Jangan keluar, jangan lihat. Pokoknya jangan!"


"Kakak mau berantem?" Abid mengangguk. Dia langsung tancap gas setelah di kirimkan lokasi mereka.


"Kak.. kakak kan sakit"


"Gue gak sakit"


"Bohong. Balqis jelas tau kakak sakit. Di kamar tadi, setelah kami keluar kakak pegangin kepala. Dan tadi, waktu Balqis keluar kakak minum obat. Kakak sakitt"


"Iya gue sakit. Puas?! Walaupun gue sakit, gue gak bisa biarin temen-temen gue berjuang sendirian. Gue gak mau mereka kenapa-kenapa"


"Kakak aja gak sehat, gimana mau ngelindungin orang lain?!" Abid diam.


Sampai di tempat pertempuran. Abid mengelus satu tangan Balqis. "Gue baik-baik aja. Gue bakal nyesel kalau gue gak buat apa apa nanti. Jadi, lo di sini. Tutup mata, jangan liat"


Setelahnya Abid keluar.


Abid keluar tepat ada tembakan hampir mengenai Jefri. Abid menundukkan Jefri, peluru pun nyasar ntah kemana.


Abid yang sakit ikut melawan mereka.


Balqis di dalam mobil memperhatikan, menahan dirinya untuk tidak shock. Namun gagal, dia tetap shock. Balqis pun menundukkan kepalanya.


Peluru terus di tembakkan namun selalu meleset. Abid berfikir penembak itu amatiran atau mungkin dia sengaja melakukan itu.


Tanpa Abid sadari di belakangnya ada seorang pria memegang balok kayu. Dan..


Bugh!!


Balok kayu itu di pukul kan di punggung Abid. Abid terjatuh. Teman-temannya tidak ada yang memperhatikan Abid.


Abid di geret, di masukkan ke mobilnya. Balqis yang di mobil di bekap oleh salah satu dari mereka.


Satu anggota Tama membawa mobil Abid ntah kemana arahnya.


"Itu mobil Abid. Abid manaaa?!" tanya Jefri.


"Hah? Itu Abid di dalam mobil" jawab Tio.


Hendak mengejarnya. Namun, anggota Tama lebih dulu memukul mereka dengan balok yang sama.


Mereka semua pun sudah terbaring lemah di aspal.