A B I D

A B I D
– Kucing



"Gimana, dok?"


"Cuma keseleo aja kok, Bid. Gak ada yang serius" Abid bernafas lega.


"Lain kali hati-hati ya, Devi" Devi hanya mengangguk.


"Saya tinggal dulu, Bid" Abid tersenyum. Dokter itu pergi, dalam lubuk hatinya dia terpukau dengan senyuman Abid yang indah bagaikan candu.


"Besok-besok gak usah lari lari, ngerti?!"


Balqis mencubit tangan Abid. Abid menatapnya heran. "Devi udah nunduk gitu tetep aja dimarahin" ujar Balqis berbisik.


"Ya abisnya dia.."


"Iya gak gitu juga kak Abid, gimana sih?"


"Devi jangan nunduk gitu ya, maapin nih kak Abid nya lagi sensitif. Bawaanya pengen ngamuk, kak Abid gak minum obat tadi" Abid langsung menatap sinis Balqis.


Balqis tidak sadar di tatap, dia hanya melihat ke arah Devi yang tetap menunduk. "Devi jangan nunduk dong, jadi ke pasar malam gak nih?"


Devi mendongak lalu menunduk lagi. "Bang Abid aja lagi marah"


Balqis melihat ke Abid, memberi kode.


Abid menghela nafas lalu maju mendekati Devi. "Janji sama abang, hati-hati kedepannya. Gak usah lari-larian, oke?" Devi mengangguk.


"Angkat kepalanya, jadi ke pasar malam gak?" Devi mengangguk antusias.


"Okee, kalau gitu kita jemput Avi dulu ya"


Abid membayar administrasi lalu kembali ke rumah menjemput Avi.


Setelah berpamitan, mereka pergi menuju pasar malam.


"Bang"


Abid berdehem. "Lighstick Avi manaaa?"


"Di toko gak ada, udah di pesen online sama kak Balqis. Nanti kalau datang abang kasih"


"Jangan lupa loh!!"


"Iyaa Avi sayangnya abangg"


"Devi?"


"Devi gak sayang abang, sayang kak Balqis aja!" Abid tertawa.


"Eh Devi, kamu gapapa kan?" tanya Avi.


"Gapapa kok"


"Bagus deh, kalau kenapa kenapa nanti yang gelut sama aku siapa?"


▫▫▫


"Bang, minta duit beli es krim"


"Bang, Avi mau beli harum manis"


"Terus abang dibelah dua gitu? Yang mana yang mo dibeli?"


"Es krim" "Harum manis"


"Ya toyba" mereka berdua cengengesan, Balqis tertawa.


"Kakak temenin Avi, Balqis temenin Devi"


"Sebelum beli itu kita makan berat dulu" ajak Abid.


"Makan berat apa, bang? Truk gandeng gitu dimakan? Atau buldoser?"


"Avi pinter jangan dipaok-paokin ya sayang"


Ketiga wanitanya Abid itu tertawa.


"Jadi mau apa? Ada pecel lele, ada sate, ada juga mie ayam dan bakso. Kalian mau yang mana?"


"Pecel lele" "Bakso" "Sate"


Ketiganya jawab dengan jawaban berbeda-beda.


"Satu ajaa munaroh munaroh kuu"


"Sate"


"Oke fiks, sate"


"Eh tunggu dong" mereka menatap Avi.


"Bang Abid tanya kita maunya apakan? Nah kita tanya balik nih, abang maunya apa?"


"Apapun abang mau yang penting kalian makan"


"Ahhh sosweet nya abang akyuuu"


Abid tertawa. "Lebay"


"Dah yok"


Mereka berempat pergi menuju tukang jual sate. Abid memesan sate, juga memesan es jeruk untuk minum.


Mereka duduk di tempat yang sudah disediakan. Mereka berbincang sesekali tertawa.


Di sela-sela pembicaraan, ponsel Abid berbunyi. Panggilan dari Rangga.


"Halo, Assalamu'alaikum. Ade ape?"


📞 "Waalaikumsalam, cuma muk bilang, Jisoo Blackpink cantik"


"Gabut sekali kamu njae" Rangga tertawa.


📞 "Si Tama sama Jordan udah ketangkep"


"Serius??"


📞 "Iyee, lu dimanaa? Pesta ayok!!!"


"Gue lagi nyenengin adek"


"Lo pada dimana?"


📞 "Di basecamp sih ini, nungguin lo"


"Yaudah sekitar sejam gue sampe disana"


📞 "Aenjeaye, kelamaaann taiii"


Abid langsung mematikan teleponnya ketika sate pesanan mereka datang. "Dari siapa kak?"


"Rangga. Mau party, musuh ilang satu" jawab Abid.


"Terus ini mereka gimana? Balqis?"


"Ya gak gimana-gimana. Lo mau ikut party?"


"Balqis cewek sendiri, gak mo ah. Takut"


"Bang Abid mau kemanaaa?"


"Iye, abang mo mana??"


"Gak ke mana-mana. Abis ini apalagi?" tanya Abid sambil menghabiskan satenya.


"Pulang"


"Yaudah abisin makanannya"


"Abang jangan lupa, harum manisnya"


"Es krim Devi juga!"


"Udah coklat es krim lagi, kasian gigimu dekk"


▪▪▪


Mereka bertiga selesai makan sate lalu menuju mobil untuk kembali ke rumah. Saat melewati tukang jual es kepal, Balqis melihat kucing kecil yang berlindung.


Balqis menarik tangan Abid. Abid langsung menatapnya sekaligus menarik tangan adeknya untuk berhenti. Balqis menunjuk ke arah kucing itu lalu menghampirinya.


"Ih kak.. kasian banget kucing nyaa" ujar Avi.


"Kasian kan?" Avi dan Devi mengangguk.


"Kak pelihara dong, yaaa" pinta Balqis.


"Nggak! Kucingnya kotor itu" tolak Abid.


"Ya kan bisa dibersihin kak"


"Nggak. Adopsi aja nanti kalau emang mau"


"Kak Abid, plis yaaa"


"Bang Abid gak berperasaan ih" ledek Devi.


"Ini tu bulunya bagus kak, liat kayak macan"


"Nanti kita adopsi kucing anggora atau nggak kucing persia yang bulunya kayak buaya. Taro itu" suruh Abid.


"Sejak kapan buaya punya bulu??" tanya Balqis.


"Buaya darat kan bebulu" Balqis menatap Abid sinis. Abid hanya cengengesan.


"Kak, pliss yaaa"


"Kotor, sayangg"


"Dibersihinnn"


Abid jongkok menyetarakan tinggi Balqis. "Kalau gue izinin, apa hadiahnya?"


"Kakak boleh main game seharian"


"Apaan, nggak!"


"Lah jadi apaaa?" Abid menepuk-nepuk pipinya.


"Kak Abid, tempat umum! Ini ada Devi Avi jugaaa" bisik Balqis.


"Nggak mau? Yaudah"


"Dirumah deh dirumah, janji"


Abid pura-pura berfikir. "Oke, tapi kucingnya di bawa dulu ke salon nya kucing"


"Salon kucing apa namanya?"


"Ngga tau juga" Balqis cengengesan.


"Yaudah, pokoknya dititipin disitu, dibersihin dulu sampe bersih baru bawa balik"


"Okee" Dengan semangat Balqis menggendong kucing barunya. Mereka kembali berjalan.


"Kak Balqis. Nama kucingnya siapaa?" tanya Devi.


"Ngga tau" jawab Balqis.


"Avi punya ide. Kasih aja namanya Abid"


"Vi, kamu mau abang jitak kepalanya??"


♠︎♠︎♠︎


"Assalamu'alaikum"


Abid dan ketiga wanitanya tiba dirumah setelah menitipkan kucing di tempat penitipan.


"Waalaikumsalam"


"Ya Allah Abid!! Kamu ini, kasian Devi dong. Udah kamu beliin coklat sepuluh, dibeliin es krim lagi. Nanti kalau dia sakit gigi gimanaa?" protes bundanya.


"Siamah iyeu ummah, Devi nya yang mau. Bukan Abid yang ngasih. Macem Abid baik aja ngasih begituan tanpa di minta"


"Iya juga, sedikit aneh kamu jadi pekaan"


"Kan emang, emak debes banget" Balqis dan yang lain tertawa.


"Balqis disini dulu ya bun, Abid mau keluar"


"Mau kemanaa?" tanya Ayahnya.


"Keluar yah, nanti Abid jemput Balqis nya"


"Tidur sini aja malam ini"


"Lah ntar baju sekolahnya? Kan kagak bawa baju yah"


"Yaaaa balik lah ambil baju"


"Ribet atuh"


"Daripada kamu keluar tengah malem lagi ha. Kamu kalau keluar bilangnya aja bentar, sampe subuh juga belum tentu balik"


"Beda bunda, sekarang Abid dah tobat"


"Ayah tandai, awas aja kamu balik sebelum jam dua belas"


"Kalau jam segitu... yaa Abid belum tentu bisa balik"


"Tu kan, bener bener kamu ya. Anak nakal!" Abid cengengesan.


"Ayah kayak gak pernah muda deh" ledek Abid.


"Ayah muda gak kayak kamu. Ayah malem kayak gini bantu kakek kamu nyari ikan di laut!"


"Mulai lah cerita orang tua yang merasa paling sengsara di dunia"


"Abid bedosanyaaa"


Abid berlutut sambil cengengesan. "Ampun, yang mulia"