
08.37
Ini adalah hari sesudah hari resepsi.
Abid dan Balqis yang teramat sangat kelelahan, masih tidur di kamar hotel dengan nyenyak. Mereka saling berpelukan.
Drrttt..
Drtt...
Abid meraba kasurnya dan menemukan benda pipih itu.
π "Assalamu'alaikum, Bid!"
"Wa'alaikumsalam. Kenapa?"
π "Lu baru bangun ya anjj? Suara lu berdemek banget."
"Ck, bacot bah. Ada apa??"
π "Anu.."
π "Rangga masuk kantor polisi."
"HAHH?!"
Abid langsung bangun dari tidurnya. Balqis yang terkejut pun ikut membuka mata.
"Masalah apaaa?!!"
π "Emm itu, ah lu datang aja dulu deh. Agak susah jelasin di telepon."
"Heon, jelasin!"
π "Gue Eldi, tololl!"
Abid mengeceknya.
'Oh iya, Eldi.'
π "Ntar jelasinnys di kantor polisi, Bid. Lu bisa bantu bentar kan yee?"
Abid menghela nafas.
π "Bantuin atuh lah, masa lu jenguk anak mulu. Kasian anak lu ntar kobam."
"Udah lama nggak ya sialandd. Sharelock bae dah buruan! Gue tunggu tiga detik."
Eldi mematikan panggilannya dan langsung mengirim alamat. Abid masih memperhatikan alamat itu.
"Meresahkan."
"Kenapaa, bang?"
Abid menoleh, "loh sayang kebangun? Kegedean ya suaraku? Maaf yaa, maaf babyyy." Kata Abid sambil mengelus perut Balqis yang mulai membesar.
"Iyyaa, gapapaa ayahh."
Balqis menirukan suara anak kecil.
Abid tersenyum lalu mengecup pipi Balqis.
"Itu tadi siapa? Ada apaa?"
"Eldi nelepon, Rangga masuk kantor polisi katanya." Abid beranjak dari kasur dan menuju kamar mandi hotel.
Balqis sendiri duduk di kasur dan memandangi Abid yang bulak-balik ke kamar mandi. Niat Abid mau mandi, tapi ada aja yang ketinggalan jadinya bulak-balik.
"Kamu disini ya. Aku keluar bentar doang kok," kata Abid usai mandi. Sekarang dirinya sedang menata rambut di depan kaca.
"Hah gimana? Aku di tinggal sendirian disini?"
"Iya, bentar doang sayang. Kamu lanjut istirahat ajaa."
Balqis menatap jengkel Abid.
"Aku mau ikut!"
"Jangan yaa, jangan. Kamu disini, istirahat."
"Aku mau ikut, abang!"
Abid mendekati Balqis.
"Gak aku bolehin, aku gak mau kamu kecapean."
"Tapi mau ikutt. Masa Balqis di hotel sendirian? Takut!!"
"Takut apa hm? Masih pagi, sayangg."
Balqis mempout bibirnya.
"Ikutt," rengek Balqis manja.
"Bentar doang, masa kamu aku ajak ke kantor polisi? Sini aja ya, nanti ku minta Kak Putri temenin kamu."
"Gak mau juga, aku tu mau ikut kamu."
Seberapa lama Abid memikirkannya pun terlihat tidak bagus jika mengajak Balqis ke kantor polisi.
Abid berdiri dari duduknya.
"Kamu disini aja, udah jangan bantah."
Melihat Abid beranjak pergi, Balqis langsung menarik tangannya. Wajah mereka jadi dekat karena tarikan Abid.
Balqis memulai ciumannya.
Mengesampingkan gengsi demi ikut ke kantor polisi.
Wkwkwkwkwkwkwkwkw.
Abid yang benar-benar terbawa suasana jadi mendominasi ciumannya. Abid melepas sebentar kemudian menciumnya kembali.
Capek duduk, perlahan Balqis merebahkan tubuhnya. Abid pun menindih Balqis sekarang.
Otak saya liar banget si ah!
Malah di bayangin _β
Di tengah menikmati..
Drrtt! Drrtt!
Ponsel Abid berdering.
Abid berhenti lalu mengambil ponselnya.
π "Masih lama?"
"BESIBUK LU SETAN!"
π "Yah ngamuk, jadi takut. HAHAHAH!"
Eldi mematikan panggilannya.
Abid pun berdiri dan kembali ke meja rias untuk mengambil jam.
"Balqis di biarin aja gini?"
"Nanti kita lanjut ya, sayang."
Abid mendekat, mengecup kening Balqis lalu pergi.
"Di sini aja, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Balqis pelan.
Dirinya mencoba duduk dan menatap kepergian Abid.
"Bodo amat dah! Balqis gak bakal mau ntar malem!!"
βββ
Abid berhasil membebaskan Rangga, tentunya dengan bantuan money. Money memang sangat-sangat membantu dalam hal apapun.
Saat ini Abid sedang berada di dalam mobilnya sendiri, sedang berjalan menuju rumahnya. Gak perlu jemput Balqis karena Balqis pulang sendirian.
Oiya, Rangga dan yang lain mengikuti Abid.
"Ngambek pasti bini gue."
"Bujukin pake apa lagi?? Balqis moodyan banget pulaa semenjak hamil, di sogok cokelat juga gak mempan keknya."
Abid bermonolog.
"Mikir Abid, mikirr! Balqis pengen apa kemaren-kemarenn?!" Abid memegangi kepalanya.
"Ahh! Balqis gak pengen apa-apaaa."
"Dahla, bismillah aja gak ngamuk."
Abid menancap gas mobilnya padahal sedikit lagi sampe dia malah tancap gas.
Karena kurang fokus, jadinya kebablasan. Abid pun mutar balik lalu masuk ke halaman rumahnya.
Mobil Tio juga begitu.
"Assalamu'alaikum, Balβ ini kenapa beserak bangett?" Tanya Abid heran.
Abid jadi overthinking, ia berlari menuju kamar tapi kembali berbalik ketika mendengar suara tawa dari dapur.
Abid menuju dapur.
"Balqis."
"Ehh, abang udah pulang."
Abid agak terkejut karena Vane, Sesill, Meiga dan Fany ada di sana. Balqis gak bilang mereka akan datang.
"U dari mana, Bid?" Tanya Fany.
Abid diam, ia berbalik menghampiri Rangga.
"Bid, lu ngambek??"
"Ke dapur sono lu pada."
Mereka berjalan menuju dapur.
"LOH RANGGA? MUKA KAMU KENAPAA?!"
"Mas Tio kenapaa?"
"Heon? Lu tawuran?"
Seketika para pria itu berlari kembali ke ruang keluarga.
"Kampret lu, Bid. Bisa mampuss gue kalau gini," keluh Rangga. Abid tersenyum smirk, "siap-siap aja."
"Abid jabingan."
"Woii, jawab! Lu tawuran?!" Tanya Sesill sinis menuju ke Heon.
"Nggak kok, nggakk."
"Jadi ngapain? Bongak pasti! Mas Tio berantem kannn?!"
"Ndak og, dek. Ini make up doang, akting."
Meiga menghampiri Tio. Ia mengambil tissue lalu mengelap lukanya.
"Make up dari mana?! Jelas-jelas ini darah!" Tio pun senyum-senyum menggoda biar gak di marahin.
"Balqis, ada P3K?"
Tanpa berkata, Balqis menunjukkan letaknya.
Meiga mengambil kotak itu lalu mulai mengobati Tio.
"Njenengan niku betingkah banget lho!"
"Awhh... alon-alon toh, dek. Loro!"
"Mesakno, mampusss."
Tio terdiam.
Calon istrinya emang segalak itu kalau lagi galak.
"Jangan melotot. Nanti matanya kabur, Sil." Heon makin pengen ketawa setelah mendengar perkataan Eldi.
"Diem lu!"
Oke, udah gawat.
"Siapa suruh lu berantem hah?!"
"Hati nurani gue menginginkan berantem. Lu gak bakal ngerti, babyy."
"Baby baby. Gak usah sok maniss, najis gue dengernya." Heon mengelus dada.
"Btw luka lu dikit, Yon. Mau gue tambah gak?" Tanya Sesill menantang.
"Lu tambah gimanaa?"
"Nendang muka lu misalnya."
Heon nyengir, ia berdiri dan menghampiri Sesill.
"Gak pengertian banget lu Juminten, kek Meiga gitu loh langsung di obatin. Kalau gak di obatin juga gapapa, gantinya pelukan aja ya."
Heon langsung memeluk Sesill.
Kesempatan!
Sesill malah mencubit perut Heon.
Heon yang di cubit kuat pun kesakitan, ia melepas pelukan lalu pura-pura pingsan.
"Gak usah sok akting samsudin!"
Heon terbangun dengan senyuman, "udah lah. Jangan ngomel dulu, di depan orang rame nii."
"Justru itu seru!"
"Gue udah bilang berapa kali sama lu jangan berantem kan? Gue gak mau punya lakik demen gelut, tapi lu malah berantem mulu. Putus aja kita ya?"
"Putus putus pala lu petak. Ogah! Enak banget lu minta putus."
"Kerjaan lu gelut mulu setan!"
"Baru ini gelut lagi, astaghfirullahalazim."
"Alah, dah la. Males gue!"
"Ckk! Gak gak, gue gak mau putus. Gue beliin tas hermes sama jam yang mahal itu ntar, tapi lu nya jangan pergi."
Sesill berhenti, ia menarik P3K dari Meiga kemudian mendekati dan mengobati Heon.
"Jadi pengen smackdown lu deh, Sil."
Mereka yang jadi penonton tertawa. Sesill gak matre kok, kalau udah di tawarin begitu siapa si yang gak mau?
Pindah haluan ke Rangga.
Si penyebab masalah itu sedang menatap pacarnya dengan tatapan membujuk. Tapi yang di tatap malah asik ghibah.
"Fan, Rangga liatin lu tau."
Abid memancingnya.
Fany menoleh, "dia siapa?"
"HAHAHAA, KENA MENTALL SI RANGGA."
"Sakitt tapi tak berdarah."
"Lebay."
Fany mengambil tissue kemudian mengelap darahnya Rangga. Fany mengobati dengan ikhlas, santai, tanpa ngomel-ngomel.
Bukan gak sayang, Fany tu tau gimana sifatnya Rangga. Hobinya Rangga kan bikin ulah, jadi Fany biasa aja lah. Tapi tetap aja Fany khawatir jika wajah Rangga bonyok begini.
"Tio sama Meiga, Heon sama Sesill, Rangga sama Fany, Abid sama Balqis, masa gue sama lu Jep?"
Eldi menatap melas Jefri.
"Gilaa! Ogah ahh, waras guee tu masih waras!"
Eldi mengelus dadanya, "gue juga waras njirrr."
Abid diam memperhatikan Jefri dan Eldi, kemudian menoleh ke arah Vane.
"Vane, obatin Jefri. Jidatnya tu berdarah gara-gara tawuran," suruh Abid.
Vane terkejut mendengarnya.
"Guee, kak??"
"Iya lu. Udah buruan obatin sono," Vane gugup. Mana kuat dekati Jefri yang gantengnya macem Jepri NCT.
Jaehyun maksudnya.
Jefri sendiri diam, ia mendongak menatap Vane yang masih ragu-ragu.
"Sini, obatin gue."
Vane rasanya mo pingsan.
Agak lebay memang.
Namun nyatanya dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia begitu mengagumi Jefri yang menawan. Tak banyak yang tau, mungkin cuma dirinya dan Tuhan yang tau.
"G-gapapa nih kak?"
Jefri berdiri lalu menarik tangan Vane pelan.
Tepat ketika Jefri duduk, Vane juga duduk. Tapi bukan duduk di sofa melainkan duduk di PAHANYA JEFRI.
Vane makin gugup.
Yang lain menatap heran Jefri, gak biasanya manusia tampan nomor dua setelah Abid bisa akrab sama cewek.
"Nafas, Vane. Gak lucu kalau lu tiba-tiba mati."
Vane tersadar, ia berdiri dan agak menjauh.
Jahilnya Jefri! Vane di tarik lagi, jatuh lagi di pangkuan Jefri.
"Ngobatinnya gini aja, kan di jidat."
"T-tapi..."
"Buruan. Gue malah pengen nyobain bibir lu kalau lu diem aja," Vane mengedipkan mata.
Omg, jantungnya gak bakal tenang jika bisa menikah dengan Jefri.
"Tatap terosss, ni P3K nya."
Meiga selesai mengobati Tio.
Vane mengambil kotak obat, memangku kotak obat itu kemudian mulai mengobati Jefri.
Jefri diam, matanya menatap keseriusan Vane sesekali menatap bibir Vane hang menggoda. Di tambah lagi dengan leher putih mulus.
Ahh, Jefri gak tahan.
Plok!
Abid memukul bibir Jefri.
"Pelecehan goblokk!"
"S-sorry sorry."
"Curiga gue curiga, lu demen sama Vane ya? Dari dulu kah??" Tanya Eldi mendadak jadi reporter.
"Terus adeknya Abid gimana?? Wah, parah, Bid hajar!!"
Abid cuma tersenyum tipis.
"Jefri tu di selingkuhih, adek gue milih temennya dari pada Jefri."
"Anjemm, mengsedih bangett. Kasian Abang Jefrii," ledek Tio.
"Diem luu!"
Mereka tertawa.
"Gue bilang juga apa, Jef. Devi makin gede tu makin cantik, pas dia gede juga lu udah TUA. Ya jelas udah gak mau lagi lah."
"Tau gue, dahla diem lu!"
Rangga tersenyum meledek.
"Mending sekarang sekalian jelasin, lu pada kenapaa babak belur begini?" Tanya Abid tegas.
"Sebelumnya maap ye, Bid. Ini tu kita cuma lagi reunian aja sama dunia baku tumbuk, kami rindu berantem."
Abid tertawa kecil.
"Fuckk!!"
Mereka semua menatap Abid yang menuju dapur.
Abid jalan santai, mengambil satu kaleng soda dan meminumnya.
"Lu marah, Bid?" Tanya Rangga.
Abid diam, ia melihat pemandangan belakang rumah.
"Bid, lu marah? Seriusan marah?" Jefri tanya.
Tapi tetap saja Abid diam.
"Bid?"
Abid menghela nafas.
"Gue gak marah."
"Jadii apaaa?! Lu tu keliatan marah," kata Heon mellow.
Bukannya menjawab, Abid malah naik ke lantai atas dan turun sambil membawa selimut.
"Bid anjemm, lu marah??"
"Gue tu... GUE KESEL ANJJ, KENAPA GUE GAK DI AJAK?!!"
Mereka shock mendengar perkataannya.
"Kaget sumpah kaget. Demi Allah gue kaget," keluh Tio sambil mengelus dada.
Abid sendiri menatap mereka satu persatu dengan tatapan sinisnya.
"Yakali kita ngajakin lu, kalo lu mati kan kasian Balqis jadi janda."
Abid mengambil kaleng yang kosong lalu melemparkannya pada Eldi.
"Goblokk lu."
Eldi nyengir.
"Jadi lu pengen diajak? Yaudah, ayok gelut lagi."
"HEHH!"
Para pawang ngamok.
"Mampusss, pawangnya sensi."
"Diem, diem. Nanti kita nafas aja bisa salah," ujar Rangga. Mereka auto diem semua.
Wanita-wanita mereka malah tertawa melihatnya.
"Btww, Abid Balqis kok diem aja ni?"
Abid menoleh.
"Ngambek dia, gue tinggal tadi."
"Ga ah, b aja."
"Alah gayanya b aja, mereka pulang aku di diemin."