A B I D

A B I D
– Ulah anggota Tama



"Gimana?" tanya Tama saat melihat Jordan tiba di base.


"Heon ngacauin semua rencana, Tam. Dia ngabisin peluru tanpa nembak siapapun"


"Lo gak bawa pistol??" tanya Tama.


"Heon yang pegang dua-duanya. Dia juga ngabisin peluru di pistol gue. Gue rasa, dia sengaja"


"Terus dimana Heon?!"


"Gue gak tau"


"Gimana sih lo?! Gak becus banget!!" Tama hampir murka.


"Gue minta maaf soal itu"


"Tapi, salah satu anggota kita yang tau Heon sengaja ngelakuin hal itu mukul Abid pake balok kayu. Dia bawa Abid yang pingsan ke satu rumah sepi di desa yang ada di luar kota"


"Buat apa anjyng?! Gak gunaaa!!!"


"Dengerin dulu, jangan di potong"


"Gue tanya dia ngapain ngelakuin hal itu. Dan dia bilang, dia mau bikin Abid di grebek warga. Di rumah sepi itu, dia bikin Abid sama cewek yang namanya Balqis itu tidur bareng dalam keadaan gak pake baju. Terus, sepuluh menit setelahnya. Dia ngelapor ke warga. Dia pura pura gak tau kalau itu terjadi karena ulahnya" jelas Jordan.


"Oke bagus! Itu mending dari pada nggak apapun. Dan sekarang, DIMANA HEON?!"


〰〰〰〰〰


"Pak sumpah demi apapun saya nggak ngelakuin hal bodoh kayak gini. Saya juga gak tau kenapa saya disini"


Abid masih menyelamatkan masa depannya dan juga Balqis. Dia di grebek warga karena tidur tanpa busana di suatu rumah yang ada di desa.


"Halah gak usah ngelak lagi!! Kalau emang ngelakuin ya jujur aja!!" salah satu anak muda di sana mengompor-ngompori warga.


Sedari tadi Abid merasakan, kalau dialah penyebab hal ini terjadi karena dirinya yang selalu menyulut emosi warga.


"Emang anak muda jaman sekarang sangat mengecewakan!!" ujar bapak-bapak yang udah tua.


Abid mengusap kasar wajahnya.


Dia tak masalah jika hanya dirinya, namun ini dengan Balqis. Gadis lugu yang tak tau apa apaaa!


Abid menyesal kenal dengan Balqis. Abid tak tega jika Balqis menjadi korban akibat ulahnya.


"Udahh dinikahin ajaa!!"


"Hah?! Pak jangan main main! Nikah itu hal yang sakral!" ujar Abid.


"Daripada kalian meresahkan! Lebih baik dinikahkan!!!"


"Permisi pak, ada apa ini?"


"Ayah?"


"P-papa"


"Kalian berdua??" tanya Abay dan Erwin kompak.


"Ini anak bapakk??" Abay dan Erwin mengangguk.


"Ada apa ya pak?"


"Ini pak, mereka berdua ada di dalam kamar tanpa busana"


"HAH?!"


Abay menghampiri Abid.


Plak!!


Plak!!


Plak!!


Tiga tamparan dari Abay mendarat di pipi Abid.


"Ayah nggak pernah ngajarin kamu bertingkah kurang ajar sama perempuan! Apa yang kamu lakukan Abid?!!"


"De- dengerin Abid yah.. Ini salah paham. Abid.. Abid sama Balqis gak ngapa-ngapain. Abid gak tau tempat ini. Abid juga gak tau kenapa ab--"


Plak!!


"Jangan bicara apapun kamu! Ayah gak bakal percaya lagi sama kamu!!"


"Bay.. dengerin dulu penjelasan Abid. Kita butuh penjelasan biar semuanya gak semakin runyam" ujar Erwin sambil memeluk anaknya yang sudah memakai baju setelah di grebek.


"Pa.. Om.. Balqis sama kak Abid gak ngelakuin apapun"


"Tadi.. tadi.. kak Abid di serang waktu mau pulang ke rumah. Balqis yang sama kak Abid cuma di dalem mobil dan gak mau ngeliat pertengkaran. Ti-tiba tiba ada yang bekap Balqis. Pas bangun, Balqis dan kak Abid dikamar ini berduaan. Balqis gak tau kenapa bisa disini berdua sama kak Abid" jelas Balqis.


"Sama sama tukang boong kaliann huu... Lebih baik di nikahin aja pak!!" anak muda yang tadi masih mengompor-ngompori.


"Gue curiga sama lo. Lo yang dari tadi ngompor-ngomporin warga. Lo pelakunya kan?! Lo anak buah Jordan?!" Abid menarik kerah baju anak muda ini.


"Lah gue? Gak malu? Udah salah, malah nyalahin orang"


Abid ingin memukulnya namun tangan ayahnya menarik tangan Abid. Lalu Abid di tampar lagi.


Pipi Abid memerah menerima lima tamparan dari ayahnya.


"Kamu bikin ayah dan om Erwin malu!!"


"Gak ada pilihan lain, kamu dinikahin sama Balqis sekarang juga!!!"


〰〰〰〰〰


Abid POV


Gue maunya nikah karena sesuai rencana. Nikah karena saling cinta. Bukan nikah karena tragedi buruk kayak gini.


Gue bersumpah.


Gue bakal bikin Jordan sama Tama menyesal!!


Gue yakin seratus persen ini ulah mereka.


"Saya terima nikah dan kawinnya Balqis Chaira Al-Husna binti Erwin Al-Fajri dengan mas kawin tersebut tunai!!"


"Bagaimana para saksi? Sah?"


"Sah!!"


Penghulu bacain doa, yang gak gue tau doa apa.


Balqis, gue minta maaf. Karena gue, lo jadi korban.


Sejam kemudian, Abid sama Balqis ke villa yang ada disini. Villa bokapnya Balqis.


Abid bingung harus gimana? Abid harus sedih atau senang sekarang?


"Balik ke kota. Jangan tinggal lagi dirumah!" kata Abay.


"Bay.."


"Maksud ku, dia kan punya istri sekarang. Dia juga punya apartemen. Lebih baik aku pisah rumah dengannya daripada harus darah tinggi terus menerus"


Abid menunduk. Dadanya terasa sesak mendengar Abay yang mengusirnya secara halus.


'Gue anak sma yang cuma kerja sebagai kang ojoll. Mau gue kasih makan apa Balqis? Batu?' batin Abid.


"Yaudah kalau ayah usir Abid. Gimanapun Abid ngomong, ayah gak bakal percaya kan? Abid pergi dulu"


Abid salam ke ayah, bunda, juga ke bokap nyokap Balqis. Balqis ikutin Abid. Abid dan Balqis balik ke kota naik bus.


Sampe disana mungkin jam tujuh malem.


Masih di villa..


"Kau kenapa begitu kasar sama anakmu? Gak ada kasih kesempatan untuk jelasin semuanya? Kau bahkan menampar nya di depan umum tadi" protes Erwin.


"Aku malu. Aku malu samamu. Aku gak pernah menyangka kalau Abid berkelakuan rendah seperti itu"


Erwin menghela nafas. "Abid gak mungkin ngelakuin hal bodoh kayak gitu bay. Aku yakin, aku percaya Abid pasti di fitnah"


"Aku makin gak enak sama mu. Kau bahkan membela Abid yang bersalah"


"Abid belum tentu bersalah" jawab Erwin.


"Aku minta maaf win"


"Tak masalah. Aku bersyukur punya mantu seperti Abid. Dia pintar, aku yakin dia bisa menggantikan ku saat aku pergi nanti"


"Pergi? Pergi kemana maksudmu??"


⚛⚛⚛


"Jadi gimana?" tanya Jordan pada anak buahnya.


"Orang tuanya yang disana marah besar bos"


"Orang tuanya? Lo tau orang tuanya disana?" tanya Tama.


"Awalnya gak tau bos, bener-bener gak tau. Ya pas keributan tadi, orang tuanya datang. Orang tua si cewek juga ada disana"


"Kebetulan yang luar biasa. Terus gimana?" tanya Jordan.


"Abid ditampar lima kali di depan umum bos. Dan tamparan nya bener-bener keras banget sampe pipinya si Abid merah banget"


"Serius lo? Ahh.. pasti enak bisa liat Abid di tabokin gitu" ujar Tama sambil senyum lebar.


"Dia tau lo anggota Tama?"


"Sempat curiga tadi sempat mau ninju juga, tapi bokapnya langsung tarik tangannya mendaratkan tamparan ke lima"


Di basecamp Black Blood. Semua berkumpul kecuali Heon dan Abid. Mereka masih menunggu kepulangan sang ketua.


Ting tong..


"Itu bukan Abid" ujar Tio.


"Jelas bukan Abid. Abid tau password basecamp, ngapain juga mencet bell" sahut Eldi.


"Cek dulu. Sana liat el" suruh Jefri.


"Cek yo"


"Cek ngga"


"Oper teross" Eldi dan Tio tertawa.


"Yoda gue yang buka" Rangga menuju pintu.


Clik..


"Siapa??" Rangga menunduk membersihkan bajunya yang kotor.


"Ada Abid?" Rangga langsung mendongak setelah mendengar suara ini.


"Eh, Fany"


"Hai, Rangga"


"Hahaha formal banget"


"Hehe, Abid disini gakk??"


"Nah itu dia, kita dari tadi nungguin Abid. Dia kagak balik-balik"


"Seriusan?" Rangga mengangguk.


"Emang kenapa?"


"Si kembar cariin mulu"


"WOI SIAPA SURUH MASUK KEK" teriak Tio.


Rangga mendecih. "Masuk dulu Fan" ajak Rangga.


"Nggak mau ah. Serem, kan cowok semua"


"Yaelah, kayak gak tau kita aja. Mana mungkin macem-macem"


"Iya sih. Tapi Fany mau balik aja, nemenin ketiga bocil"


"Oh iya deh. Perlu gue anter?"


"Fany bawa mobil"


"Mm.. Yaudah tihati" Fany mengangguk.


"Bye" Rangga membalas lambaian tangan Fany.


"Besok sekolah ya" Fany mengangguk lalu benar-benar pergi.


"Pantesan lama, ternyata Fany"


"Ah bacot lo samsudin"