A B I D

A B I D
– Kamar mandi



Abid sendirian di kelasnya, semua anggota tim Black blood sedang di kantin menikmati makan siang.


Abid yang di kelas hanya diam, kedua kakinya diatas meja kepalanya di sandarkan dan matanya terpejam. Di telinganya, Abid memakai headset punya Rangga.


"Abidd" Silvia datang mencabut headset dari telinga Abid.


"Gue males bicara sekarang, pergi!" Abid ingin memasukkan headset nya kembali, namun ditahan Silvia.


"Kamu belum makan, kan? Makan dulu ya aku suapin"


"Pergi gue bilang pergi"


"Satu suapan aja deh.. ya?"


"Aku buat sendiri tau, di kantin"


"Gue cuma mau ketenangan, lu gak bisa pergi? HAH?!" Silvia terdiam.


Bruk..


Rangga dan yang lain kembali ke kelas. "Kenapa, bid?"


"Lu kenapa teriak?"


Abid menunjuk Silvia, "Suruh pergi. Tolong, gue pusing banget liat dia"


"Tap--"


"Sil, pergi. Suasana hati gue lagi gak baik sekarang, bisa aja gue bentak lu atau mungkin nendang lu keluar. Selagi gue baik, pergi sekarang" ujar Rangga.


"Tap--"


"PERGI ANJINGG" dengan mukanya yang cemberut, Silvia pergi dari kelas Abid.


"Masih pusing?" tanya Jefri cemas.


"Gak juga" jawab Abid sambil menutup matanya.


"Kak Abid..."


Abid membuka matanya perlahan lalu menutupnya kembali. "Gue gapapa, balik ke kelas lu sana" suara Abid melembut.


"K-kakak belum makan"


"Gue gak laper"


"Walaupun gak laper, kakak harus tetep makan. Dua suap juga gak masalah yang penting perut kakak terisi, makan yaa"


"Nggak"


"Kakak... mau makan apa?? Balqis buatin"


"Nggak ada"


"Kak.. makan yaa, plisss"


Abid menghela nafas lalu berdiri sambil memegang tasnya. "Izinkan sama guru, gue pulang" Black blood mengangguk.


"Gue mau... ikan Nila sambal buatan lo" Abid langsung keluar dari kelasnya meninggalkan mereka.


"Ikan Nila? Ikan Nila sambal? Ah.. oke oke"


"Kakak kakak, Balqis pergi dulu" Lagi-lagi Black Blood mengangguk.


Balqis pergi menuju kelasnya.


"Gue pengen jadi Abid. Pengen banget. Dia beruntung bisa dapat wanita sebaik dan sepengertian Balqis"


"Gue juga pengen siih"


"Btw, lu pada tau gak si?" tanya Heon.


"Apa?" tanya mereka kompak.


"Abid buat perjanjian gila bareng Balqis. Gue liat kemaren di kamarnya"


"Perjanjian?"


"Perjanjian nikah setahun"


"Serius luu?!" tanya Jefri terkejut.


Heon mengangguk, "Ada sepuluh perjanjian. Tapi gue lupa apa aja isinya. Yang jelas, pernikahan mereka cuma setahun"


"Bukannya Abid cinta sama Balqis? Kenapa.. harus ada perjanjian?" tanya Tio.


"Gue bisa nebak sih" semua menatap Rangga.


"Itu karena musuh kita"


"Lu pada tau sendiri Abid gimana. Dia, gak mau orang terdekatnya tergores sedikit pun. Gue yakin karena itu!"


▪▪▪▪


Srett...


Plakk!!


"Ahhh"


"Woi jaallang!! Lu pelet apa Abid, HAH?!"


"Pelet apa sih kak?!"


"Gak usah sok lugu deh lu bangsatt. Gue liat sendiri tadi Abid lembut banget ngomong sama lu! Lu pelet apa dia, HAH?!"


"Pelet apa sih? Ngarang banget! Balqis gak pernah melet manusia! Pelet cuma buat ikan kalau kakak gak tau"


Plak!!


Plak!!


Balqis memegang kedua pipinya, terasa... sangat perih.


"Gue peringatkan sama lu, jangan deket-deket sama Abid! Abid punya gue!!"


"Punya kakak? Atas dasar apa kakak meng-klaim hal itu?!"


"Atas dasar cinta!"


"Cinta sepihak?"


"Lancang banget sih lu?!"


"Balqis bicara sesuai kenyataan"


Brukk..


Silvia mendorong Balqis lalu menendangnya terus menerus.


Silvia menjambak Balqis lalu menamparnya satu kali.


"Lu itu gak pantes deket sama Abid! Gak sama sekali!"


"Peringatan terakhir dari gue! Jangan deketin Abid, kalau lo gak mau mati!"


Silvia berbalik.


"Jangan sakiti Balqis, kalau lo gak mau mati!" Tio berada tepat di depan pintu sambil melipat tangannya di dada.


Dia sudah menonton dramanya sejak Balqis mengatakan Cinta sepihak, begoonya, Tio hanya diam seperti menonton pertunjukan saat Balqis di pukul dan di tendang.


"Ti-tio?"


"Mau gue kasih ke Abid, bukti disini" Tio mengangkat ponselnya. Itu bohong, dia tidak merekam apapun dari tadi.


Silvia gelagapan, "Ba-balqis gue minta maaf"


"G-gue khilaf"


Tio tertawa receh lalu mendekat ke Silvia, "Khilaf khilaf otak kau khilaf!"


Tio menendang Silvia sampai dia terjatuh di sudut kamar mandi. "Gue tanya deh sama lo"


"Emang lu pantes deket sama Abid, HAH?!" Silvia diam.


"JAWAB BABII!" Kaki Tio berayun ingin menendang Silvia.


"Setidaknya gue lebih pantes"


Tio tertawa receh lalu menendang kuat Silvia. "Lu lebih gak pantesss"


"Kenapa?"


"Nanti kakak kena masalah"


"Sempat-sempatnya lu mikir itu. Bodo amat kena masalah, gue udah biasa"


"Kak kak kak, jangann tendang lagi.. yaa?"


Tio menghela nafas. "Dia nendang lu, tampar lu, jambak lu, terus gue harus b aja? Jadi baik gak terlalu bagus!" omel Tio.


"Lu gak bisa jahat, biar gue yang gantiin"


"Eyyh goblokk, lawan lu betina" Eldi menyahuti dari belakang.


"Gak perduli"


"Ck, emosi lu yo. Kagak usah betingkah, itu betina. Kalau cowok mah gak masalahhh!" Eldi menahan kaki Tio.


"Balqis, pergi. Lu udah ditunggu keanya"


"Kak.."


"Jangan bilang kak Abid ya"


"Sana pergi" usir Eldi.


Balqis berkaca terlebih dahulu lalu keluar kamar mandi.


"Berapa kali? Berapa kali lu bully Balqis, hem?"


"Lu mau jadi miskin?"


"G-gue khilaf"


"Cih.. bacot!!"


"Udah tahann" balas Eldi.


"Inget ya, lu ngulah lagi gue gak tinggal diam!!"


"Ayok" Eldi menarik kerah baju Tio.


"Gue belum selseee, belum nendang lagi haaa"


"Betingkahh kali! Dahla ayok" Mereka berdua menghilang dari toilet.


"Huh.. Balqis balqis.. lu cari ribut ya sama gue? Tunggu pembalasan guee!"


⚛⚛⚛


Abid berada di kamarnya, rebahan di balik selimut.


Tok tok tok..


"Kak..." Balqis bolos karena suaminya. Dia sudah tiba di rumah setengah jam yang lalu.


"Masuk" jawab Abid pelan.


Balqis membuka pintu lalu masuk ke kamar Abid. "Nih, udah jadi. Makan ya"


"Ntaran, letak aja di meja"


"Sekarang dong.. Balqis suapin ya?" Abid mengangguk lemah.


"Duduk lah" Balqis menuntun Abid duduk di tempat tidurnya, setelah itu Balqis duduk di depan Abid.


Abid makan dengan matanya yang tertutup. "Kakak masih pusing"


"Sedikit"


"Minum, minum" pinta Abid.


"Kok pedesss sihh??" tanya Abid setelah minum.


"Pedes?" Balqis menyicip masakannya. "Nggak tuh"


"Itu pedesss, dahlah gak mau" Abid merebahkan tubuhnya lagi.


"Yah.. kak masih satu suap. Balqis capek tau buatnya"


"Itu pedes"


"Yaudah deh, Balqis bikinin bubur ya" Abid tidak menjawab.


Saat ingin pergi, Abid menahan tangan Balqis. "Gue gak laper, temenin gue aja. Disini"


"Tapi kamu belum makan sama sekali loh, sayang" Abid diam.


"Kakak mau buah nggak? Balqis beliin tuh, salad buah"


"Ambillah"


"Sebentar, lepas sebentar yaa" Abid menghela nafas lalu melepasnya.


Balqis kembali lagi membawa salad buah, "Nihh"


Abid mengangakan mulutnya, kode minta di suapin. Balqis pun menyuapi Abid. "Makanyaa, jangan semua diurusinn, kalau gak bisa ya jangan di paksain! Liat sekarang, jadi sakitt kann" omel Balqis.


Abid diam menikmati saladnya, "Kakak minum obat, ya?"


"Nggak usahh, tidur aja sembuh gue"


"Minum obat dulu"


"Nggak"


"Kak--"


"Doryy" Abid menatap Balqis dengan puppy eyes nya.


"Yaudah iya nggak dehh"


Abid diam sambil mengunyah buahnya, dia memandangi Balqis terus-menerus. "Coba sini deket" pinta Abid.


"Apa? Kenapa?"


"Deket aja" Balqis mendekatkan wajahnya ke Abid.


"Ini bibir kenapa? Kamu di bully? Sama Silvia?!"


"Nggak kak, sariawan ini tuh"


"Nggak usah bohong"


Abid bangkit dari rebahannya, dia mengecek seluruh tubuh Balqis. Balqis pintar menutupinya, namun dia ceroboh menutupi luka di sudut bibirnya akibat tamparan Silvia.


"Balqis gapapa kak, sumpah"


"Terus itu bibir kenapa?!"


"Tadi kegigit"


"Siapa yang gigit?"


"Balqis sendiri, tadi pas makan yang keras-keras. Ga sengaja kegigit"


"Jujur loh!"


"Iyaa jujur bangett"


Abid menghela nafas lalu kembali merebahkan tubuhnya, ia juga memejamkan matanya sambil menggenggam erat tangan Balqis.


Abid mengelusnya dengan perlahan dan penuh kasih sayang. Sedangkan Balqis, dia hanya menatap Abid.


"Kalau ada apa-apa bilang, aku suamimu" Balqis berdehem.


"Kalau ada yang ganggu bilang, aku suamimu" Balqis berdehem lagi sambil mengusap rambut Abid.


"Kalau ada sesuatu bilang, aku istrimu" Abid membuka matanya, dia melihat Balqis tersenyum lebar.


Abid bergeser ke samping. "Ikut tidur disini"


Balqis tersenyum, gemas melihat Abid yang manja. Dia pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Abid.


Abid langsung merapat ke Balqis, memeluk erat Balqis masih dengan menutup mata.


"Cepet sembuh ya, sayang" bisik Balqis sambil mengelus punggung Abid.


"Jangan kemana-mana, tetap di sampingku"