A B I D

A B I D
– Eldi sadboyyy



"WHATT?!"


"Seriusss, Yoo??" Tanya Jefri terkejut.


"Iyaa, Meiga calon istri guee."


"Wahhh! Lu ngerahasiain dari kita, Yo? Tega amat luuu," Eldi mendramatisir suasana.


"Kenapa lu rahaisain?? Lu malu punya dia?" Balqis langsung memukul tangan Abid.


"Bukan apa-apa, sayang. Kalau iya biar aku gebukin dia sekarang!"


"Ckk, bukan gituu bambang surajii. Tadinya gue mau ngasih tau tu malem inii, sekaliann ngajakin kalian nginep di villa bokap. Tapi karena Abid cedera, gue batalinnn."


"Terus apa tadi? Malu? Gila lu?!"


Tio berdiri lalu menghampiri Meiga, "yakali gue malu punya calon istri secantik ini, semultitalenta ini, sesabar inii, dan sebaik ini. Yang ada gue beruntunggg bangett ketemu sama diaaa." Jawab Tio.


Dari nada bicaranya terbukti kalau ia sangat-sangat mencintai Meiga.


"Berapa lama lu kenal? Kenapa baru ngasih tau?" Tanya Rangga curiga.


"Setaun, hehe."


Bugh!


"Astaghfirullah, Bid. Sakittt!" Abid melempar bantal.


"Ya lu ngajak baku hantam anying! Gue kira lu jomblooo!"


"Parah si Tio. Gue tikung ya, bro?" Tanya Eldi sambil tersenyum devil.


"Lu mau tikung gue? Mau gue hantam lu? Baku tumbuk tujuh hari tujuh malem sanggup gue!"


"Serem lekk, mundur lah gue." Mereka terkekeh.


"Mas, Mei pulang yaa." Bisik Meiga.


"Ehh, ngapain pulang? Sini ajaa. Pulang bareng sama Tio nantii." Bujuk Fany.


"Iyaa, sini ajaa." Di sahuti Balqis.


"Umur berapa, Yo?" Tanya Fany.


"Sebaya Balqis."


"Yess, Balqis ketemu temen seumurann!" Abid langsung menatapnya heran.


"Seneng banget keknya."


"Yajelass!" Balqis cengengesan.


"Kenalinn, aku Balqis." Balqis melambaikan tangan dari tempat duduknya.


"Aku Meiga Annisyaa Zahra." Meiga tersenyum senang, ia pikir mereka akan galak.


Tapi ternyata sangat-sangat friendly.


"Oiya ada Zahra nya ya nama kamu." Kata Tio.


"Apalaaahh, cemana nanti ijab kabul." Ledek Abid.


"Bacot!"


Meiga mencubitnya karena mengucapkan satu kata barusan.


"Iya maaf sayang, keceplosan. Aku kenalin mereka ke kamu satu satu, ya."


"Itu yang kumisan namanya Eldi, yang alisnya kepotong di tengah Jefri, yang lagi ngunyah itu Rangga, yang lagi main game Heon–"


"Woii! Push rank duluan diaaa!" Protes Abid kesal.


"Ya maapp, nanggung!" Heon cengengesan.


"Kalau yang teriak tadi Abid, dia yang sakit. Bukan aku," Meiga mengangguk paham.


"Haloo, calon bini Tioo!" Sapa mereka kompak.


"Haii kakak-kakak."


"Yo, u nggak ngenalin aku?" Fany sinis.


"Ah iya, itu Fany pacarnya Rangga. Kalau Balqis, istrinya Abid." Meiga tersenyum sambil sedikit melambaikan tangannya.


"Calon istri lu atau udah jadi istri lu?" Tanya Heon curiga.


"Calon, cokk." Heon berohria.


"Besok resepsi barengan, ayo!" Ajak Abid.


"Nahh, pinter. Lebih murahhh," sahut Rangga.


"Lu pada enakk, punya cewek! Gue sama Jefriii apa kabar?!"


"Gue nunggu Devi, lu apa kabar?" Tanya Jefri.


"Dih gila, serius lu nunggu Devi?"


"Yakali bongak." Jefri menjawab dengan santai.


"Gue Avi aja dehh."


"Yakin, El? Di smekdon teruss u ntarr!" Kata Fany meledek.


"Bener-bener. Nanti jadi suami takut istrii," Ledek Abid.


"Astaghfirullah!!"


"Yaudahh, karena gue baik ya, El. Gue bantu cariin di aplikasi cari jodohh." Abid mengambil ponselnya.


"Isshhh, jangan pake hape abanglah! Nanti abang yang chatan sama dia, terusss nantii dia ngiranya abangg."


"Cieeeeee cemburuuuu." Ledek mereka kompak lalu tertawa karena melihat muka Balqis yang memerah.


"Ambilin hape nya Eldi kalau gituu." Balqis bergerak langsung merampas ponsel Eldi di tangannya.


"Ahli merampas dia!!" Balqis cengengesan.


"Ell, lu tu kalau gak pake kumis ganteng sumpah!" Ujar Tio.


"Gue emang ganteng anying, lu pada aja yang butakkk!"


"Syaland. Minta digebukin diaa," Rangga kesal. Mereka tertawa lagi.


"Liat si Abid, berusaha banget dia. Demi lu, Ell." Kata Jefri sok sedih.


"Tapi gue curigaaa. Jangan-jangan dia sering pake apk ituu. Tiati deh lu, Balqisss."


"Nak laknat! Malah nyulut api."


"Baku hantam tujuh hari tujuh malam lah yok!!" Eldi cengengesan.


"Gue juga curigaa, jangan jangan lu emang demen sama Balqis." Sahut Rangga.


Abid langsung menatapnya intens, "gila kali lu? Cari mati dong guee. Jelek jelek gini juga kagak mau jadi pebinorr guee!"


"Tapi kak Eldi ganteng tauu," sahut Meiga. Tio menatap Meiga sinis.


"Mei sama gue aja yuk, gak usah sama Tio. Dia pelitt," bujuk Eldi.


"Anak ngen—"


"Istighfar braderr! Sucikan mulut mu," Jefri memotong ucapannya.


"Astaghfirullah~"


"Btw, Kak Tio jomblo kan ya? Mau Mei comblangin? Ada temen namanya Nandaa."


"Nanda? Lu mo jodohin gue ke sesama cowok?"


"Nanda juga ada yang cewek peakk!" Rangga kesal part dua. Eldi cengengesan.


"Cantik, baik, agamis jugaa. Dia gak mau pacaran, maunya langsung di lamar ke abahnya."


"Oke, besok gue lamar." Abid yang menyahuti.


"Istri kedua, Bid?" Tanya Heon, Abid mengangguk.


"Macem-macem Balqis pukulll pake piring!!"


Abid tertawa, "nggak kok sayang. Cuma bercanda doangg."


"Gue jadi lu sih gak yakin, Balqis. Pasti beneran tuhh, ntar dia minta alamat nya si Nanda sama Meiga terus di lamar ke rumahnya. Di madu deh lu!!"


"Ni anak nyulut api terus, beneran ngajak berantem?!" Abid esmoni.


"Gue rasa, efek dia terlalu joness. Jomblo yang terlalu ngenes, jadinya begini." Sahut Rangga.


"Mending gue deh jombloo, setidaknya dosa gue gak numpuk banget. Daripada lu pada pacaran, kebanyakan dosaa!"


Jlebb.


Yang pacaran terdiam.


"Hahahaa, kena mental semuaa." Ledek Abid.


"Lu kagak?" Tanya Eldi.


"Ya kagaklahhh, gue udah sah woi! Saaahhh!!" Abid menunjukkan cincinnya dan cincin Balqis.


"Iya pulak. Kasian ya mereka, kena mentall."


Mereka menatap Eldi.


"Tujuh hari tujuh malem juga gak cukup keknya buat gebukin dia!!"


❃❃❃


04.40


"Abangg, bangunn. Sholat subuh, yukk!" Abid terbangun.


"Sholat berdua aja? Merekaa?"


"Sekalian ajaa dahh. Ruangan VIP abang kan gedee," Abid mengangguk setuju.


Ia mengambil sendok kemudian melemparkannya ke meja, ternyata berbelok mengenai kepala Rangga.


"Astaghfirullah, apalagi ini?!" Ia membuka mata, Abid sedang tertawa puas.


"Bid, ah!"


"Bangunin yang lain, ayo sholat!"


"Sholat di mushola aja gak? Emang muat kalau disini?"


"Muat. Tapi kalau mau di mushola ya terserah, bangunin dulu yang lainn." Titah Abid. Rangga membangunkan yang lain.


Mereka terbangun lalu meregangkan otot.


"Di suruh pulang gak mauu lu pada, encok kann!"


"Nggak juga sih, Bid. Enak gue rebahan di lantai," jawab Heon teramat sangat jujur.


"Bangun deh lu padaa, bentar lagi adzan subuh. Ayo sholat!" Ajak Abid.


"Sholat ke mushola?" Abid mengangguk.


"Kamu ikut gak, sayang?" Tanya Abid pada Balqis, Balqis mengangguk.


"Fany? Mei??" Mereka berdua juga mengangguk.


"Yaudah siap-siap."


"Lu bisa emang??"


"Bisa lah, santai aja." Abid bangun dari tempat tidurnya. Balqis memberikan baju kemeja dan celana, ia juga memberikan Abid sarung.


Mereka menuju mushola yang ada di RS. Beberapa menit setelah sholat, mereka kembali ke kamar.


"Ngantuk anying, sumpah."


"Push rank ayok!" Ajak Abid.


"SKUYYY!!" Semangat empat lima lah si Eldi di ajakin push rank.


Para cowok pun bermain game, sedangkan yang cewek bergabung menggosip.


"Balqis udah nikah berapa lama?"


"Udah lama bangett, sejak aku sma kelaass duaa."


"Seriuss?" Balqis mengangguk.


"Di jodohin?"


"Nggakk, dulu ada insidenn ya jadinya nikah."


"Lika liku nya panjang, Mei. Super panjang. Aku salut sih sama mereka berdua yang masih bertahan." Puji Fany.


"Mas Tio pernah cerita sih, tapi aku lupa." Meiga cengengesan.


"Kamu kapan nikahnya??" Tanya Balqis.


"Siap wisuda." Mereka berohria.


"Kak Fany kapan?"


"Masih lama, hihi."


"Kalau kata bang Abid, kak Fany masih di gantung." Ledek Balqis lalu tertawa kecil.


"Bener sihh," Fany nyengir.


"Hahaha."


"Btw, kak Balqis sama kak Abid belum di kasih momongan? Gak pernah..?"


"Nundaa hehe, kan masih kuliah jugaa. Sayang kalau cuti cuti gituu," Meiga mengangguk paham.


"Kamu gimana bisa ketemu Tio? Kok bisa jadi calon istrinya?"


"Panjang ceritanya kak."


"Ceritain gihh."


"Jadi gini ceritanyaa..."


— Flashback on


Di mall, awal pertemuan.


"Saya gak mau, pokoknya anda harus ganti rugi!!"


"Astaghfirullah, Pak. Ganti rugi apa?? Saya cuma nyenggol bahu bapak."


"Sama aja, harus ganti rugii!"


"Bapak ngada-ngada. Saya pergii," Meiga pun menjauh dari Tio.


"Heyyy, jangan kabur kamu!!"


'Wahh, kenapa sih bapak ini? Mabuk??' batin Meiga.


"Heyy, berhenti!"


"Astaghfirullah, Pak!"


"Saya cuma mau kenalan. Nama saya Tio Allevano," Tio mengulurkan tangan.


Meiga hanya menatap tangan itu lalu pergi.


"Saya minta maaaf."


"Udah saya maafin, Pak." Meiga beranjak pergi.


"Jabat tangan saya duluu."


"Bukan muhrimm!" Meiga pun benar-benar pergi.


Beberapa hari kemudian..


Tio sedang berjalan menuju kampusnya. Ia terhenti ketika melihat Meiga yang duduk sendirian di dalam kafe.


Kafe adalah tempat awal pendekatan mereka. Karena di kafe, Meiga baru berbincang dan bercanda tawa dengan Tio.


"Assalamu'alaikum." Tio masuk.


"Wa'alaikumsalam. Bapak lagii?!"


"Panggil mas atau abang aja, saya belum tua banget." Meiga tidak merespon.


"Kamu ngapain?"


"Lagi ngegambar, Pak."


"Untuk apa?"


"Tugas sekolah adek sayaa."


"Mau saya bantuu?" Meiga menoleh.


"Bapak bisa??"


"Bisa, insyaallah."


"Gambar mata sama hidung, bisa?" Tio mengangguk.


"Tolong, Pak, gambarin. Saya gak bisaa."


"Dengan satu syarat, jangan panggil saya pak."


"Iya, saya panggil mas. Tolong ya, mass." Tio tersenyum mendengarnya, ia mendekat untuk menggambarkan mata dan hidung.


"Konsepnya apaan?"


Meiga tertawa kecil.


"Ada yang lucu?"


"Ada, Pak. Saya. Sampe saat ini juga saya gak tau konsepnya apa, yang penting saya gambar dua orang. Tugas adek saya cuma ituu," Tio ikut tertawa.


"Saya kira kamu ngerti konsepnya." Meiga menggelengkan kepala.


Mereka berbincang-bincang ria disana, sampai tiba sore hari. Tio mengantar Meiga pulang. Ia jadi bolos kuliah karena terlalu asik dengan sang masa depan.


Beberapa bulan setelah pendekatan tanpa kepastian mereka, Tio memberanikan dirinya melamar Meiga.


"Kamu punya apa untuk mempersunting anak saya?" Tanya Ayahnya Meiga.


"Saya punya Allah, Pak. Saya akan membimbing Mei untuk menuju surga-Nya. Perkara duniawi, saya sudah di kasih amanah sama papa saya untuk mengelola satu perusahaan."


Meiga nge-fly! Awalnya ia mengira akan terus di gantung Tio karena tak kunjung di beri kepastian.


"Gimana, Mei?"


"Mei.. mau yah."


Flashback off —


"Teruss yaaa tunangan, nikahnya lama lagiii. Itu singkatnya aja Mei ceritainn. Dari awal pertemuan absurd, awal pendekatan sampeee jawaban kenapa bisa jadi calon istri mas Tio."


"Oooooooo gituuu, gentle juga Tio. Gak kayak di sebelah guee," Abid menyindir Rangga.


"Sindirrr terossss."


"Ehhh?! Sejak kapann abang sama yang lain dengerinn?!"


"Dari tadii."


"Aku laper, sayang. Makan di luar, yok!"


❃❃❃


Abid menyelesaikan administrasi agar bisa pulang ke rumah, ia memilih untuk di rawat jalan.


Barang-barangnya ia letak di bagasi mobil. Abid, Balqis bersama teman-temannya pun mencari kafe untuk sarapan pagi. Mereka akan berpisah setelah sarapan pagi.


Terlalu lama mencari, Abid langsung membelokkan mobil nya ke McD.


"Bid, disini?"


"Iya, kenapa? Kan ada tu menu sarapan pagii."


"Iyasii."


"Kalian pula kelamaan milih. Dah, yok!" Mereka pun masuk bersamaan dan memesan menu sarapan pagi.


"Oiya, mas lupa tanya, kamu kok bisa ke RS tadi malem?" Tanya Tio pada Meiga.


"Tadinya kan nganter kue buatan bundaa, tapi kata mama nya mas Tio, mas di RS. Tante bilang mas di RS, ke tusuk gituuu."


"Jadii, lu langsung ke RS?" Tanya Rangga, Meiga mengangguk.


"Naik apa??" Tanya Tio lagi.


"Naik taksi online."


"Kan kamu–"


"Gapapaa kok hehee."


"Apa, Yo? Kenapa?" Tanya Eldi.


"Mei trauma sama taksi online. Dia pernah di bawa ke gudang sepi dan hampir.. gitulah."


"Nahhh, aku gak mau kamu naik taksi online lagi tu karena ituu." Omel Abid.


"Ya kan Balqis gak pernah naik taksi online lagi, abangg."


"Yainn, naik lagi aku kunci kamu di kamarrr."


"Bid, cukup Tio aja yang meresahkan karena tiba-tiba bawa calon istri. Lu jangan tambah meresahkan!" Omel Jefri kesal, Abid cengengesan.


"Btw, Ell." Eldi mendongak, dia sedang login untuk bermain game lagi.


"Lu aih.. ngegame teross." Rangga menarik ponselnya.


"Untung belum main. Kenapaa sii?"


"Lu nyari bini yang cemana?"


"Yang penting perempuan."


"Sumpah, ni anak dari tadi malem beneran minta di smekdon!" Rangga kesal part kesekian.


"Ya abisnya gue bingung. Emang kenapa nanyain gitu?" Tanya Eldi.


"Kalau lu nyari yang putih, bibirnya seksii, terus montok, tuh." Abid menunjuk menggunakan dagu.


Eldi menoleh ke arah yang di tunjuk Abid.


"Kena tusuk bisa bikin gila rupanya. Yakali gue ngawinin hewan guk guk gukkk!!"


Abid tersenyum manis, "kan gue bilang kalau. Abisnya gue sedih liat lu, di ledekin mulu sama Rangga."


"Gue diem gue kena." Rangga mengelus dada, mereka tertawa melihatnya.


"Btw, si Eldi lagi galau." Kata Heon.


"Why??"


"Kan tadi malem pass lu suruh beli salad, dia pergi sama Tio. Pergi sama ayang bebnya. Eh sekarang, ayang bebnya bawa gandengan lain, galau lah diaaa."


Abid terkekeh, "iya pulaakk. Duhh, sedboii kali Eldii."