
"Gue mau ngadain meeting" ujar Abid setelah mereka tertawa tadi.
"Meeting apa? Terus Jefri ga ikut?"
"Gue dengerin kok" suara Jefri keluar dari handphone cadangan Abid.
Hening sejenak.
"Gue tadi ke tkp" Abid membuka perdiskusian.
"Sendirian? Gilak bukannya ngajak!!" protes Rangga.
"Tau tuh kebiasaan banget gerak sendiri" sahut Tio.
"Gue cuma survei doang. Dan tadi ada keanehan"
"Apa?" tanya Jefri.
"Darah. Di lokasi tkp gak ada darah"
"Lo bener ga tempatnya?" tanya Eldi.
"Bener lah"
"Terus kok ga ada darah disanaa?" tanya Tio.
"Ya gue gak tau makanya gue bilang keanehan!"
"Baju serba hitam dan bercak darah yang tiba tiba menghilang" kata Tio.
"Jadi mistis banget si anjirrr" ujar Eldi ketakutan.
"Menurut gue, gak usah dikaitkan sama yang nggak-nggak. Gue yakin seribu persen itu ulahnya Jordan" jawab Rangga.
"Cctv disana gak ada, Bid?" tanya Jefri.
"Gadak"
"Whaaa, ini misterius"
"Menurut insting gue sih yaaa, Abid itu..."
"Bid, Heon sadar!" teriak Jefri menotong ucapan Rangga.
"Kami otw!"
✿✿
"Maapp, guys. Gue kira tadi dia sadar, ternyata tangannya cuma reflek"
"Kampret banget Jefriiii pengen gue banting sumpahh" Jefri cuma cengengesan dengan wajah tanpa dosa.
"Gosa cengengesan lu, jadi makin pengen nabok" sahut Tio.
"Ya maapp deh, bener bener maap. Maap paling serius" kata Jefri.
"Dahlah, Jefri over excited ngeliat tangan Heon gerak" sahut Abid melerai mereka.
"Bid, gue sayang sama lu. Lop lop sekebon!"
"Najiss" jawab Abid. Jefri tertawa disusul yang lainnya.
Abid langsung mengalihkan pandangannya ke Heon yang masih tidur.
Matanya yang tajam melihat Heon yang sedang mengerjapkan matanya.
"Heon!!" Abid langsung menghampiri Heon.
"A-abid" Abid memeluk Heon sepuluh detik lalu melepasnya lagi.
"Ahhh syukurlah lu udah sadar"
"L-lu pada kok disini?" tanya Heon.
"Kita khawatir sama lu, kita ga mau lu kenapa kenapa" jawab Rangga kalem.
"Heon sadar dia kalem, coba dari tadi. Persis kek betina lagi pms" cibir Eldi.
"Gak usah gibahh!!" Mereka terkekeh.
"Mama gue? Mama gue mana?" tanya Heon.
"Di kamar sebelah"
"Udah siuman?" tanya Heon lagi. Abid menggeleng pelan.
"Lu kenapa bisa gini?"
Jefri langsung mencubit tangan Eldi. "Apa salah gue astaga"
"Dia baru siuman jangan nanya yang ngga-ngga lu" protes Jefri dengan berbisik.
"Oiya maap"
Mereka melihat Heon cengengesan. "Gue bakal jelasin nanti, gue mau ketemu nyokap dulu" pinta Heon.
"Ayo, gue bantu" Heon dan Abid pergi ke kamar sebelah bertepatan dengan dokter masuk yang tergesa-gesa.
"Ada apa dok??" tanya Heon.
"Kondisi pasien melemah" jawab sang dokter dengan logat melayunya.
"Jangan ma, jangan. Heon mohon, jangan pergi sekarang" rengek Heon.
"Yon, yon, biar dokter ngelakuin tugasnya dulu"
"Mereka pasti berusaha yang terbaik buat nyokap lo. Kita keluar dulu" ajak Abid. Tapi Heon memberontak, dia tidak ingin pergi.
"Yonn"
"Nyokap gue bid, nyokap guee!!"
"Gue tauuu itu! Ayo keluar dulu, biar dokter ngelakuin tugasnya"
Titttt.....
"Pasien sudah meninggoy"
Heon langsung berlari menuju brangkar mamanya. "Ma, jangan tinggalin Heon. Maa, pliss maaa, mamaaa!!"
"Mamaaaa!! Hiks hiks"
Abid menahan air matanya untuk tidak keluar ketika melihat Heon yang rapuh.
Abid keluar kamar masuk ke kamar sebelah. "Nyokap Heon.... udah pergi"
"Jangan becanda lu munaroh"
"Bisa cek sendiri"
Jefri, Rangga, Eldi dan Tio pergi menuju kamar sebelah. Mereka mendekati Heon yang menangis memeluk mamanya.
"Maafin Heon ma, karna Heon mama meninggal gak aesthetic"
"Gue gak sanggup, gue mau keluar" Eldi ingin pergi, namun tiba-tiba Tio menahan tangannya.
"Gue tau, lu gak sanggup nahan tawa. Gue juga kok"
"Bangsttt lu pada"
"Salahin yang ngetik, kenapa jadi gini!"
Astaghfirullah maapin akuwww sahabadd --- Authorr.
Skip yaaa~
▪▪▪
Mereka baru kembali dari pemakaman. Mama Heon dikuburkan di pemakaman Malaysia, tepat disebelah neneknya.
"Gue gak laper" jawab Heon.
"Ah gimana sih lu? Makan dulu kek, nyokap lo pasti gak mau lo sakit. Ayo makan" ajak Eldi.
Heon tetap diam.
"Jep, beliin gue nasi kucing. Di Malaysia ada nasi kucing gak si?" tanya Abid.
"Kerasukan apa lo mau nasi kucing? Ngidam lu pasti?" goda Rangga.
"Ngaco banget. Kalaupun hamil pasti Balqis yang ngidam bukan gue"
"Eh bisa juga lu tau! Setau gue bisa gitu" jawab Tio.
"Gosa ngadi-ngadi kamu! Balqis aja gak gue apa-apain"
"Yakin, Bid?"
"Yakin seratus persen lah, kalo gue boong jemur di gantungan"
"Kebalek ga siihh?? Gantung di jemuran harusnya!"
"Sama aja kan?" tanya Abid.
"Mampuss lah, ribut sama lo ampe besok juga belom tentu selse" Abid cengengesan.
Tok tok tok..
"Assalamu'alaikum"
"Kalian, makan dulu ya" tante Sitijah ternyata.
"Aduh ngerepotin tante"
"Nggak kok" jawab Sitijah tersenyum.
"Assalamu'alaikum" Sesill masuk membawa kotak makanan.
"Bidadari gue datang" bisik Eldi.
"Halu"
"Bukannya jawab salam" protes Abid.
"Oh iya, waalaikumsalam"
Sesill pun masuk dengan sopan.
"Heon, ini buat kamu. Makan ya"
"Makasih, tapi gue gak laper"
"Sedikit aja ya, plis. Aku mohon"
"Y-yaudah sini"
"Aku suapin"
Sesill membuka kotak makanan nya lalu menyuapi Heon.
"Menyayat hati, gue bujuk sampe aegyo-nya gue ala idol Korea keluar dia tetep gamau. Giliran Sesill?!" mereka tertawa.
"Lo mending deh bid, gue udah potek kedua kalinya. Dahla nceng, gak mo pacaran. Gada jodohnya"
Mereka kembali terkekeh mendengar perkataan Eldi.
"Kamu beruntung ya Heon, punya temen pengertian kayak mereka. Mereka jauh-jauh dari Indonesia terbang ke Malaysia demi kamu" Sesill berbicara pada Heon.
Black Blood langsung melihat ke Sesill.
"Mereka disini hibur kamu, mereka nunggu kamu dengan tulus dan mereka yang selalu jagain kamu. Salut sama ke-solidaritas-an kalian"
"Black Blood bukan cuma ganteng, tapi setia"
"Cewek yang bisa deket anggota black blood, termasuk kategori cewek yang super beruntung"
"Pedean amat lu pada. Cewek deket lo aja kabur semua" sahut Rangga.
"Rangga ********"
"Hahahahha!"
Drtttt.. Drtttt...
Abid mengangkat telepon nya.
"Halo, assalamu'alaikum sayang"
"Bucin dah bucin, tutup telinga kalian" ujar Eldi. Abid cengengesan.
📞 "Waalaikumsalam abang"
"Loh, Devi? Abang kira kak Balqis"
📞 "Pinjem hape kak Balqis doang bang"
"Kenapa telepon?"
📞 "Mau oleh-oleh donggg"
"Abang kesini gak untuk tamasyaa, devi!"
📞 "Is pelit. Bang Jefrii bang Jefrii"
"Adek gue manggil luu" Abid memberikan ponselnya pada Jefri sambil di loudspeaker.
"Ini bang Jefri, kenapa Devi?"
📞 "Abang baik gak?"
"Tergantung, kenapa?"
📞 "Gapapa nanya aja"
Abid menganga mendengar kegajelasan adeknya.
📞 "Devi suka sama bang Jefri. Besok kalo gede Devi mau sama bang Jefri"
"Buset adek gueee"
Di dalam ruangan Heon pada tertawa, termasuk Heon Sesill dan Sitijah.
"Heh kamu bocil gak usah mikir gituan. Abang ga bakal restuin kamu sama bang Jefri"
📞 "Ih kenapaa?"
"Yakali besok kamu pacaran sama om-om bujang lapuk"
"Abid bajing" Abid tertawa.
"Lu becarut, adek gue denger tanggung jawab" kata Abid masih sambil tertawa.
"Devi devii, bang Eldi juga setuju sama bang Abid. Jangan sama bang Jefri. Pas kamu gede bang Jefrinya kadaluarsa" sahut Eldi.
"Kenapa temen gue gini semua modelnya ya Allah"
"Hwahahhahaahah"
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
ni bonussnyaa, maap telat banget dan maap kalo gaje part yang ini:")