
"Eldi?"
"Loh, Jep? Lu ngapain disini?"
"Harusnya gue yang nanya, kenapa pagi gini lu ada di markas?"
"Nanya mulu lu bedua, yang jawab siapaaa?!" Tanya Rangga sinis, Jefri dan Eldi tertawa kecil.
"Gue sama Jefri ke markas mau ngerjain tugas kuliah. Disini kan jaringannya laju," kata Rangga. Eldi berohria.
"Lu sendiri ngapain? Dari kapan lu disini?"
"Udah dari tadi juga sih. Gue cuma pengen nginget perkumpulan black blood di tahun-tahun sebelumnya. Gue rindu bangett ngumpul. Sekarang, buat mabar onlen aja susah apalagi ngumpul."
"Mau gimana lagi? Ketua kita juga udah beristri. Sebenernya Abid tu bisa di ajak main, bisa banget. Tapi kan gak mungkin kita ajak dia main teruss, kapan waktu dia sama istrinya??"
"Bener kata Rangga. Lagi pula kemaren kita main seharian aja udah syukur alhamdulillah bangett. Abid tu super sibuk, dia ada tugas perusahaannya, tugas kuliahnya, tugas jadi suami juga. Ya kali kita ajak main mulu," sahuf Jefri.
"Iyaa, gue tu tau ituu. Makanya gue diem aja gak speak up di depan Abid. Gue kesini ya buat nginget-nginget ajaa. Gue juga kangen serang-menyerang, tinju-meninju."
"Buat ulah aja yukk? Kita bertiga. Eumm, gue cari komplotan geng abistu kita usik."
Rangga dan ide-ide gilanya mulai bersatu.
"Gue sih ayok-ayok ajaa. Tapi ntar kalau misalnya Abid marah gimana? Abid yang kena imbasnya, Abid juga yang nyelesain ntar," ujar Jefri.
"Kalau gitu, jangan sampe Abid tau. Ntar kita yang urus semuanya."
"Mau ngusik siapa njemm?" Tanya Eldi.
"Gue denger-denger, Lion King come back. Tapi pemimpinnya beda," jawab Rangga.
"Sabi lahhh."
"Btw, gue laper. Kerumah Abid yok!" Ajak Jefri.
"Kenapa ke rumah Abid njemm?"
"Karena sudah pasti ada makanannn."
"DIH GRATISANN, HUU GAK MODAL. Tapi gue juga mau sih, kuy lah."
"El, gelut yuk njg!"
◒◒◒
Abid baru membuka mata tepat di jam sembilan pagi. Ia menoleh ke samping, terlihat Balqis masih tertidur nyenyak.
Tidak ingin menganggu tidur Balqis, Abid langsung saja turun dari kasur dan masuk ke kamar mandi untuk mandi lagi.
Hari ini Abid memutuskan untuk kerja di rumah agar bisa sekalian kuliah. Selama ini Abid cuma mengerjakan tugas tanpa di beri materi.
Namun karena IQ yang tinggi, Abid bisa cepat mengerti tugas yang di berikan.
Abid selesai mandi, ia menuju walk in closet, memakai baju lalu menuju ruangan kerja yang sekaligus ruangan belajar.
Abid mulai daring.
Abid belajar memahami setiap tugas-tugasnya.
Sudah sejam berlalu, Abid masih sibuk mengerjakan tugas. Tapi tiba-tiba perutnya bunyi minta diisi.
Isi makan bukan bayi.
Abid pun meletakkan bolpoin, kembali ke kamar memandangi Balqis kemudian menuju ke dapur.
"Mbak Balqis mana, pak?" Tanya Gea yang muncul.
"Tidur."
"Tumben belum bangun, biasanya udah keliling rumah buat nyari keringat."
Abid tidak merespon, dirinya berfikir akan masak apa pagi ini? Memikirkannya lebih susah dari pada memikirkan tugas matematika.
"Pak? Mbak Balqis di kamarnya, kan?"
Abid menghela nafas. "Tolong tutup mulutmu, saya tidak suka orang yang banyak bicara." Gea auto terdiam.
Abid tidak memperdulikannya lalu berjalan menuju kulkas. Abid mengambil bahan makanan.
Setelah Abid rasa semua sudah berkumpul, ia mengenakan apron dan mulai mengiris bawang dan teman-temannya.
Gea masih diam di sana sembari memandangi Abid.
Abid tidak tau hal itu, Abid sibuk membuat sarapan untuknya dan Balqis.
Tanpa Gea dan Abid sadari, Balqis muncul sambil menyelimuti tubuhnya. Balqis tu pake baju, karena kedinginan dia bawa selimut.
"Eummhh," suara Balqis ketika berhasil memeluk Abid dari belakang secara diam-diam.
Abid menghentikan gerakan tangannya.
"Udah bangun?" Abid tanda dengan tangan Balqis, maka dari itu dirinya gak kaget.
"Kamu kenapa bangun duluan terus kenapa gak bangunin akuu?"
"Aku gak mau ganggu kamu, sayang. Pasti kecapean kan?" Balqis tidak menjawab, ia malah mengeratkan pelukan.
"Sayangg, dingin."
Balqis merengek.
"Mau keringetan lagi??"
"Ishh, nggak gitu jugaaa!"
Abid tertawa.
"Lepas dulu bentar biar aku selesaikan masakannya."
Balqis melepaskannya tapi dia berdiri di belakang Abid masih berbalut selimut.
Abid menuangkan makanan yang ia buat ke piring lalu meletakkannya ke meja makan.
"Anda ngapain disitu?" Tanya Abid pada Gea.
"Hah? Oh itu, pak, mau ngambil minum."
"Yaudah ambil." Gea pun mengambil sebotol air putih di kulkas kemudian pergi dari sana.
"Heumm," Balqis kembali memeluk Abid.
"Kamuu itu punyaku ya! Jangan macem-macem," ancam Balqis.
"Macem-macem gimana sih, sayang? Gak bakal macem-macem aku tuu," jawab Abid sambil mengelus tangan Balqis.
"Kali ajaa mau macem-macem."
Abid menarik tangan Balqis agar melepasnya kemudian Abid berbalik. "Gak bakal," Abid memeluk Balqis lagi.
Cup!
Balqis mengecup leher Abid, gak nyampe dia kalau mau ngecup jidat.
"Kok kamu yang macem-macem nih nampaknyaa," Balqis tertawa.
"Gak nyampe mau ke jidattt, disitu ajaa Balqis jinjit." Abid ikut tertawa mendengarnya.
"Masih kedinginan kamu??"
Balqis mengangguk.
Abid sedikit berjongkok, tangannya saling menggenggam lalu menggendong Balqis dari bawah.
"Mau keringetan lagi gak?"
"Hisshh, gak ada capeknya kamu?!"
"Nggak dong, yakali capek."
Balqis menyipitkan mata.
"Gamaukk ih!!!"
"Gak mau nolak maksudnya." Abid langsung mencium bibir Balqis dan Balqis membalas ciuman Abid.
Di saat keduanya sedang menikmati...
"WOHOII, ASSALAMU'ALAIKUM. ANAK GANT— astaghfirullahalazim, Eldi gak liat Ya Allah. Maap, Bid, gak sengaja." Kata Eldi membalikkan badan.
Abid melepas ciuman, menurunkan Balqis lalu menatap temannya. "Masuk tu mencet bel, gblokk. Kampret lu ah!" Eldi cengengesan.
"Salah lu juga anjemm! Ngapain lu patnam-patnam di dapurrr?! Biar kek di pilm-pilm?"
"Biar keren!"
Mereka malah tertawa mendengarnya.
"Eh eh eh, lu beneran main di dapur njirr?" Tanya Rangga kepo.
"Kenapa memangnya??"
Eldi ikutan kepo.
"Liat leher Abid sama Balqis dah."
Jefri dan Eldi melihat bersamaan. Balqis yang tersadar langsung menarik selimutnya hingga terlilit ke leher lalu menutupi leher Abid juga.
Abid tertawa melihat kelakuan sang istri.
"Wahh, gak nyangka gue. Balqis agresif juga rupanya," goda Jefri. Balqis salah tingkah, ia tidak bisa melawan.
"Btw, gimana, Balqis?"
"Apanya njem?!"
Rangga yang nanya karena kebingungan.
"Ituuuu, gimana Abid? Hot gak? Kalau kurang hot, sama gue aja sini."
Abid menatap Eldi sinis, yang di tatap malah menatap 'itu' nya dan 'itu' Abid secara bergantian.
"Punya gue lebih gede sih keknya, sama gue aja deh, Balqis."
"Gue gebukin sampe mati ntar lu!" Abid langsung membalas ucapannya. "Lebih gedean gue dari lu!"
"Ngeriii, ngeriiiii. Nyatanya lebih gedean gue sih,"
"Sianjim, gak usah sok gede. Lebih gede punya bapak guee," sahut Rangga.
"Dih anjirr, tau dari mana lu?"
Rangga malah cengengesan.
"Gue rasa, Rangga demen ngintip bapaknya mandi."
"NGGAK GITU, TOLOLLLL."
"Wahh, pembahasan apa ini?!"
◒◒◒
"Kerjaan lu tiap malem apa, Bid?"
"Kerjaan gue? Jenguk anak sih."
"Ah goblokk!"
"Kasian anak lu, Bid, lu jenguk mulu." Omel Rangga sok iye.
"Gak begooo gue, Rang. Kagak tiap malem lah gue jenguk," jawab Abid sensi.
"Jadii? Tiap jam."
"Nggak juga anjem!"
Teman Abid tertawa melihat kesensian Abid.
"Yang hamil Balqis, yang sensi Abid."
"Suatu fakta yang membagongkan."
Abid diam tidak membalas perkataan mereka.
"Btw, Balqis, lu gak pengen apa-apa? Gue sebagai uncle yang baik budi pekerti bakal beliin yang baby mau," kata Eldi.
"Nah bener, gue juga bakal beliin yang baby mau." Sahut Rangga dan Jefri kompak.
"Alah lah, macem punya duit pula gue tengok." Mereka bertiga tertawa kecil.
"Jangan selepe anda, saya nih punya uang."
"Aamiin-in aje kali ye."
"Good! Jadi, Balqis gak pengen apa-apa?"
"Emang yakin mau ngabulin?" Tanya Balqis ragu.
"Yakin lah. Mau apa emang?"
"Balqis mah gak pengen makanan, cuma pengen babymoon terus main ke pantai."
Mereka menatap Abid.
"Pengen babymoon tuu," cibir Jefri.
"Selesai resepsi gue babymoon ke Korea."
"Seriously?" Abid mengangguk.
"Berdua doang??"
"Kak Jefri, Kak Rangga, Kak Eldi atau yang lainnya ikut juga gapapaa. Ehh, ikut aja ikuttt! Harus," jawab Balqis.
"Kenapa pula harus?" Tanya Eldi bingung.
"Ntarr kalau beduaan doang, Balqis gak diijinin keliling. Pasti di suruh diem aja di kamarrr."
Abid menatap kesal Balqis, "antisipasi yang bagus ya sayang." Balqis cengengesan.
"Kalau gitu, gue ikut! Kan kasian ntar ponakan gue mabok spe—"
"Cangkemmu ahsu. Bilang aja emang mau ikut!" Cibir Abid kesal.
Eldi nyengir. "Kali aja ada orang Korea yang kepincut ama kegantengan gue."
"Najiss."
"Eh tapi bisa aja lho, secara Eldi beda banget." Kata Rangga memberi harapan.
"Apa bedanya?"
"Kumiss. Orang Korea kan jarang bekumiss."
"Eh betul pula, mereka kumis di cukur. Si Eldi kumisnya di pelihara," sahut Jefri.
"Tapi gue gak yakin sih, paling cewek Korea ilfeel liat Eldi."
"Jancokk si Abid, setidaknya membual gitu buat gue seneng!"
"Gue mah gak kek mereka, cuma ngasih harapan gitu."
"Emang lu bakal ngasih apa dah?"
"Sarapan paling gak. Ingett e, sarapan lebih enak dari pada harapan."
"Aciakhhh."
Abid tersenyum smirk.
"Geli bangkee, udahla skip."
"Sekarang gue tanya, tujuan lu betiga ke rumah gue ngapain? Ngerusuhh?"
"Gak juga si, cuma numpang makan."
"Kan kurang ajar." Mereka bertiga malah ketawa dengan wajah sok polos.
"Eh, Bid, Balqis gak pernah keluar rumah ya?"
"Jarang."
"Seriuss? Lu ngurung dia apa gimana anjj?"
"Ya nggak ngurung jugaa, gue kasih dia keluar kok tapi ya dia jarang keluarr."
"Terus kuliah? Lu gak izinin dia kuliah ya?"
"Menghindari besarnya rasa cinta Rey."
"Anjyayy! Lu gak bosen, Balqis?" Tanya Rangga.
"Kadang bosen kadang nggak kak, hehe."
"Gue jadi lu pasti berontak pengen main bebass."
"Balqis mah nurut SUAMI nya, bukan kek lu PEMBERONTAK."
"Selo aja selo, urat lu keluar tu. Gue putusin ntar," ledek Eldi cengengesan.
"Balqis tu kalau keluar ya gue bebasin, cuma untuk kuliah gue gak izinin."
"Gak pernah olahraga? Senam bumil gitu?"
"Pernah, di ujung komplek tu ada bu ibu demen main raket sama—"
"Ya kali bini lu main raket anjj."
"Baby bilek: makkk ini aku terguncang terpental terlempar terjungkaalll tolong berhentiii!"
Abid dan yang lain malah terkekeh mendengarnya.
"Ya nggak main raket lah bini gue. Makanya kalau gue ngomong jangan dipotong goblokk, kan tadi gue mo bilang sama senam bumil!!"
"Lu nya gak bilang."
"Lu nya asal motong! Gue juga yang disalahin," omel Abid.
"Emang gue motong apa? Gue duduk anteng loh, Bid."
"Suka ati kau lah, El!"
Mereka tertawa lagi.
"Mingiming, kapan ke Korea nya??"
"Kok lu gak sabaran sii?"
"Kali aja gue nemu mbak IU."
"Keep dreaming, Jefri."