
Liburan berakhir.
Sabtu sore, Black blood bersama kelima tuan putri mereka kembali ke kota asal.
"Bid capekk laperr" keluh Eldi.
Sekarang mereka tidak berada di rumah atau di apartemen masing-masing, melainkan berada di basecamp black blood.
"Bikin makanan dah noh" suruh Abid.
"Ngomongin makanan, gue jadi laper. Pengen makan nasi goreng yang waktu itu dimasak Balqis" ujar Heon.
"Aiss, enak banget itu. Nambah laper gueee" keluh Tio.
"Bikin sendiri biar kenyang" jawab Abid.
"Ash... Come on bid, peka dong" keluh Jefri.
"Apa?"
"Telepon Balqis say 'Balqis gue rindu lu, bisa ke basecamp masakin makanan?'." ujar Rangga.
"Kagak usah ngaco, dia juga capek kali" jawab Abid.
"Pesen makanan online aja, gue cari yang sama"
"Sama dengan rasa berbeda gak enak bid. Cari yang lain aja" suruh Heon.
"Bawel!! Mau apa lu pada?" tanya Abid.
"Emm.. gue ayam bakar" ujar Tio.
"Samain" Eldi dan Jefri bersamaan.
"Guee.. Nasi crispy"
"Nggak usah ngacoo" Rangga tertawa.
"Gue apa aja deh"
"Oke gue pesenin nasi basi" ujar Abid.
"Ya nggak gitu juga begoo" balas Heon kesal. Abid tertawa.
Drrrtt... Drrtt...
Abid mengambil ponselnya.
π "Halo.. apa kabar? Gimana liburannya? Nikmat?"
"Siapa? Ini siapa?" tanya Abid.
Teman-temannya pun bertanya-tanya. Abid mengangkat bahunya sedetik.
Abid melihat ke layar ponselnya, itu nomor asing. Namun, suaranya sangat tidak asing.
π "Lo lupa gue?"
π "Serius lupa?"
π "Wahaa.. jadi lo kira semuanya udah selesai?"
"Lo siapa? Lo siapa baj*ngan?!!" Abid sedikit berteriak.
Penelepon di seberang tertawa.
π "Kenali suara gue.. lo lupa suara gue?"
"Abiyyu?"
π "Hahahaha.. dengerin baik-baik"
π "βΉKak Abid tolong, kak.. tolong BalqisβΊ"
"Ba- Balqis"
π "Satu lagi nih"
π "βΉBid kamu dimana? Bidd tolong.. Abiyyu gilaa bidd gilaa!!!βΊ"
π "Gila? Gila?? Gue gila? Hahh?!"
π "Aaaakhh"
"Abiyyu..!!"
"Satu tetes darah keluar dari tubuh Fany dan Balqis.... Lo mati di tangan gue"
"HAHH?!" Black blood terkejut.
π "Hahahahah.. gue gak takut Abid"
"Lo dimana BAJIINGAN DIMANAAA?!" Emosi Abid membuncah.
π "Gak sabar ya? Gue kasih petunjuk deh"
π "Bangunan..... tua...." telepon mati.
"Dimana? Dimana? Abiyyu BAJIINGAN!!!" Abid melempar ponselnya.
"Kenapaa? Ada apaa bidd?!" tanya Jefri panik. Dia mendekat ke Abid menenangkan emosi Abid.
"Laptop.. laptop gue mana?" Abid langsung mengambil laptopnya dan memainkan jarinya diatas keyboard. Abid melacak keberadaan Abiyyu.
"Bidd, kenapaa? Ada apa? Bilang dulu sama kita?! Lo gak bisaa bertindak sendirian!! Lo lupa ada kita? Hah?!" tanya Heon.
"Balqis.. Fany.. mereka berdua di sandra.."
"Sama Abiyyu"
"APA?!"
Rangga menggeser Abid. Dia menggantikan Abid melacak posisi Abiyyu, Fany dan Balqis.
"Dimana mereka dimana?" tanya Eldi.
"Abiyyu cuma kasih petunjuk bangunan tua"
"Tempat??" tanya Tio.
"Dia gak kasih tau"
"Aahhh bajingannnn bangsattt!!!" Abid meremas rambutnya.
"Tenang bid tenang"
"Gak bisa!! Gue gak bis--"
"Nemu! Bangunan tua.. jalan xsg" Abid meraih kunci motornya lalu keluar basecamp.
"Ahhh.. gue belum makan lagi" keluh Tio.
"Aishh.. gak bisa apa mereka tenang sedikit!" Eldi gantian mengeluh.
"Baru balik udah gelut" sahut Jefri.
"Udah ayok" ajak Heon.
Mereka pun bergerak menuju lokasi.
- -
"Kamu memang orang licik!! Gila!! Gak tau terimakasih!! Dasar orang tololl!!!" bentak Fany.
"Apa?? Ulangi!" Fany diam menatapnya tajam.
"ULANGI!!" bentak Abiyyu.
"Dasar pria GILA!!"
"APAA? Gila? Lo bilang gue gilaa? Lo mau tau seberapa gilanya gue? HAH?!" Abiyyu menarik baju Fany dan merengkuh tubuhnya.
Balqis memilih menutup mata tidak ingin melihat kejadian buruk itu. Sambil menutup mata, dia memikirkan bagaimana caranya agar bisa kabur dari tempat laknat ini.
"Kenapa diam? HAH?! Bicaralah!! NGOMONG!!!" bentak Abiyyu.
"Aaa~"
"Harus kah.. gue cium lo dulu baru mau ngomong ya?" tanya Abiyyu.
"Kau benar benar bajingann gillaa!!" Abiyyu melempar Fany. Fany meringis kesakitan.
Abiyyu menghampiri Balqis, dia jongkok di depan Balqis. "Lu cantik Balqis.. kenapa harus sama Abid? Hm?"
"Lepas" lirih Balqis.
"LEPASSSSSKANN" bentak Balqis.
"Hahaha.. gue suka cewek pemberontak" Abiyyu berdiri dan melepas baju kaosnya
Kemudian mendekat lagi pada Balqis.
"Lu can---"
Bugh...
Bugh..
Abid datang langsung menendang kepala Abiyyu setelah itu menendang tubuhnya.
Abiyyu terguling-guling kebelakang.
Rangga mendekat pada Fany, sedangkan Abid mendekat pada Balqis. "Lo gak apa apa? Lo di apain hm?" Balqis diam.
"Jawab Balqis jawab! Lo diapain sama diaa?"
"Ng- nggak kak.. Balqis gak di apa-apain" jawab Balqis.
"Abidd belakang lo" Abid memutar kakinya menjegal kaki anak buah Abiyyu. Anak buah Abiyyu pun terjatuh sambil memegang pisaunya.
"Tio, pake sarung tangan lo ambil barang berbahayanya" Tio merampas pisau dari anak buah Abiyyu.
Dia juga mengambil beberapa alat yang dipakai anak buah lainnya sebelum masuk di satu ruangan yang mereka pijak sekarang.
Abid berbalik menatap Abiyyu.
"Nggak nyangka. Lo cupu banget sampe jadiin orang gak bersalah sebagai sandra" ledek Abid.
"Diam!!"
"Sadar kalau lemah ya?"
"DIAM!!!"
"HAHAHAHA" Abid tertawa keras.
"Ini kesekian kalinya lo celakain orang terdekat gue.. sekali lagi lo lakuin hal yang sama.. gue gak bakal ampunin lo"
Abiyyu tertawa renyah lalu berdiri. "Gertak doang??"
"Terserah lo.. tapi ingat satu hal. Seorang Abid, gak akan pernah menarik ucapan yang pernah dia katakan"
"Bacott" Abiyyu maju.
"Balqis tutup mata" Abid menendang dada Abiyyu, Abiyyu terjatuh lagi.
"Lo lemah Abiyyu lemah! LEMAH!!! Jangan sok keras lah ya jadi orang. Sok-sokan sandra orang, lo berantem aja gak bisa" Abiyyu diam sambil memegangi dadanya.
Abid mendekat, " Jangan cari ribut sama gua, jangan cari masalah sama gua.. gua masih baik hati untuk tidak menghancurkan masa depan lo"
"Lain kali, sebelum bertindak.. dahulukan berfikir"
Bugh..
Bogeman Abid mengakhiri celotehannya. Abiyyu pingsan.
Abid kembali menghampiri Balqis dan Fany.
"Lo baik baik aja?" tanya Abid pada Fany.
"I'm fine. Kamu datang tepat waktu. Thank you"
"Jangan bilang thank you! Gue gak enak, ini terjadi karena gue. Karena gue.. Lo bedua dalam bahaya"
"Jangan salahin diri kamu" Abid menunduk.
Dua detik kemudian Abid mendongak menatap Balqis yang gemetaran.
"Balqis?"
"Balqis??"
"Em??" Balqis melihat Abid dengan mata sayup.
"Anter balik bid!!"
"Lo pada susul. Kerumah gue, ni anak masih dirumah gue" mereka mengangguk.
Abid pun menggendong Balqis dan membawanya keluar gedung.
- -
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa di sandra sama Abi?" tanya Jefri.
"Abiyyu jangan Abi. Lu panggil Abi berasa kayak Abiyyu itu bapak lo" ujar Eldi.
"Abiy deh udah sah deal" ujar Tio.
"Lu ngapa pada bahas nama Abiyyu sih?" tanya Rangga yang menenangkan Fany.
"Khilaf bang" jawab mereka berdua.
"Lu bedua cocoknya jadi adek kakak. Punya gelar twins bacot" cibir Jefri.
"Terimakasih gelarnya yang mulia" kata Eldi dan Tio.
"Ngelawak ya pak?" tanya Heon. Mereka tertawa, termasuk Abid yang disebelah Balqis.
Abid melihat ke sebelahnya. "Lo haus? Mau minum? Laper gak?" tanya Abid. Balqis tidak menjawab.
Abid membukakan tutup botol minuman chocolate untuk Balqis. Balqis menerimanya dan minum perlahan. Setelah itu, Abid mengambilnya dan diletakkan kembali di meja.
Abid menggenggam tangan Balqis yang masih sedikit gemeteran. "Gak usah ngomong apapun kalau lo belum tenang" ujar Abid sambil mengelus punggung tangan Balqis.
"Ba- Balqis takut..."
"Semua baik-baik aja sekarang, tenang ya" Abid menarik kepala Balqis lalu menyandarkannya di dadanya. Abid juga mengelus pelan rambut Balqis.
'fix bid, lu jatuh cinta... sama Balqis!' batin teman-temannya.