
21.41
"Bid, gue capek"
"Istirahat kalau gitu. Eh iyaaa, kita lupa gak bawa air tadi"
"Gue juga gak terlalu haus" Bohong itu mah! Jefri hanya tidak ingin menyusahkan Abid.
"Kira-kira kita ketemu jam berapa ya?" Abid tidak menjawab.
"Lo kenapa, bid?"
"Gue khawatir kondisi Balqis, dia takut gelap"
"Lo udah hafal tentang dia ternyata" Abid hanya tersenyum paksa.
"Udah empat bulan kan kalian nikah?" Abid mengangguk.
"Gue gak siap kehilangan dia"
"Terus, gimana untuk perjanjian lo? Kita tau lo punya perjanjian, ntah apa yang ngerasuki lo sampe buat perjanjian bodoh kayak gitu"
"Gue cuma gak mau dia tersiksa, masih Silvia aja udah kayak gini. Gimana kalau sama musuh?!"
Jefri mengangguk santai. "Kami jaga dia aja gak bisa"
"Aishh, mulai lagi lu"
"Masih ngerasa gak enak aja, bid. Sumpah kali ini gue bener-bener gak enak. Lo kasih amanah ke gue, tapi gue malah--"
"Ah udahlah jep, biar gue aja yang ngerasa gak enakan. Nggak enakan itu berat, lo gak bakal kuat. Biar gue aja"
"Lo siapanya Dilan?"
"Adeknya" Mereka terkekeh.
"Ayok lanjut, bid"
"Lo udah gapapa?" Jefri mengangguk. Mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Mereka tiba di pertigaan. "Mencar, lo berani sendiri kan jep?"
"Tapi.."
"Gue bukannya ngusir atau apa, tapi kalau lo udah capek balik ke tenda gapapa"
"Nggak bukan ituu"
"Jadi??"
"Gue takut hantu" Abis tergolak mendengarnya.
"Baca basmalah, gue yakin mereka gak ganggu"
"Lo sendiri itu gapapa?" Abid mengangguk.
"Gue gapapa, yaudah gue ke kanan lo ke kiri ya"
Mereka berdua melanjutkan pencarian.
Drrrtt.. Drrrt...
"Halo, assalamu'alaikum. Apa lagi buk?"
π "Kamu dimana? Di tenda gak ada, bahkan adek kelas kamu bilang kamu belum balik ke tenda"
"Keliling bentar buk"
π "Sebentar, bid"
π "Iya kenapa? Ada apa?"
π "APA?! BALQIS HILANG?!"
π "Abid!! Kamu kenapa gak bilangg?!"
"Biar saya dan teman saya saja yang cari, ibu suruh anggota ibu cari Silvia karena dia dalangnya"
Abid langsung mematikan panggilannya. Abid berkeliling, terus berjalan.
Tunggu... sepertinya Abid kesasar dia melewati jalan ini tadi dan baliknya ke tempat yang sama?
"Astaghfirullah" Abid mengusap wajahnya.
Berasa tak berguna karena dia berkeliling di tempat yang sama selama tiga jam.
Ya! Tiga jam setelah telponan tadi. Abid ngeblank, Abid gak fokus, Abid juga kelelahan.
Jam di tangannya menunjukkan pukul dua belas malam. Lebih tepatnya hampir jam satu.
Abid berhenti, dia duduk di bawah pohon. Samar-samar Abid mendengar suara wanita yang menangis.
Tidak bisa di pungkiri, Abid sedikit ketakutan sekarang. Abid mendekat ke asal suara, mencari dimana suara orang itu menangis.
Abid menemukannya. Wanita yang sesenggukan dengan rambut yang berantakan.
"P-permisi"
Abid keringat dingin, apa dia benar-benar jumpa hantu?
Wanita ini memutar balik kepalanya.
"Balqis??"
"Kak Abid?" Abid memeluk Balqis, Balqis kembali menangis.
"K-kak Abid.. d-dingin"
Abid melepas jas nya lalu memakaikan ke tubuh Balqis. Balqis mendekatkan tubuhnya ke Abid, dia memeluk Abid.
"Maaf ya, sayang. Maaf aku telat"
Balqis mengangguk lemah, Abid merasakan itu di dadanya. "G-gapapa"
Sepuluh menit mereka diam, Abid merasa aneh karena Balqis tidak bergerak ataupun bersuara sedikitpun.
Abid melepas pelukannya, melihat muka Balqis. Ia sangat pucat.
"Sayang? Sayang??"
"K-kak d-dingin"
"D-dingin b-banget"
"Kita harus keluar dari sini" Abid menggendong Balqis.
Abid terus berjalan, ia berusaha sekuat jiwa raganya agar bisa keluar dari hutan.
Namun kenyataannya.. mereka tersesat.
Abid berhenti sebentar, di tempat awal ia mendengar tangisan Balqis. Abid mengambil ponsel ingin menelepon teman-temannya.
Tapi ternyata tempat ia berdiri sekarang tidak ada sinyal sama sekali.
"K-kak i-ini d-d-dingin b-banget"
Abid kembali memeluk Balqis dengan erat, "Maafin aku sayang, karena aku kamu jadi gini. Maaf"
"B-Balqis g-gak suka k-kalau k-kakak s-salahin d-diri s-s-sendiri"
"K-kita pasti b-bisa keluar, B-Balqis yakin"
"Kamu jatoh di mana??"
"Ta-tadi Balqis tergelincir dari atas"
"Berarti kita naik ke atas" Abid menggendong Balqis lagi.
Sekuat tenaganya, ia naik ke atas sambil menggendong Balqis. "K-kak, Balqis bisa j-jalan s-sendiri kok"
"Ssstt, gue bisa gendong lu sampe atas. Gue gak mau lu makin luka nantinya"
Usaha Abid naik ke atas membuahkan hasil. Ia bernafas lega karena bisa naik sambil membawa Balqis.
"Kak, k-kakak pasti capek. Kita istirahat d-dulu aja ya"
"Kamu udah kedinginann, tangan kamu aja dingin banget ini"
"B-Balqis tau kak, tapi Balqis g-gak mau k-kakak kenapa kenapa"
"Kita i-istirahat dulu. S-sampe besok matahari terbit"
Abid terpaksa menghentikan langkah kakinya, ia menyandarkan Balqis di pohon besar. Abid duduk di sebelahnya.
Melihat Balqis yang masih kedinginan, Abid menariknya untuk berdiri. Abid gantian bersandar lalu menarik tangan Balqis untuk duduk di pangkuannya.
Balqis di pangkuan Abid dengan posisi miring, kepalanya sebelah kanan menempel di dada Abid.
"Kamu istirahat ya"
ββ
09.37, minggu pagi.
"Abid udah balik??"
"Loh jepp?? Lo sendiri? Abid manaaa??" Jefri terkejut.
"Abid belum balik??"
"Kita dari tadi nunggu lu sama Abid. Kita juga kaget, kok lu sendirii?? Kemana Abid??" tanya Heon.
Jefri menjatuhkan tubuhnya ke rerumputan, "Aaaaghh!! Harusnya gak usah mencar tadii"
"Mencar maksudnya?"
"Di pertigaan, Abid minta mencar. Gue ke kiri dia ke kanan, gue rasa dia kesesatt"
"Oh my god"
"Abid udah balik??" Bu Jihan menghampiri mereka.
"Abid kesesat, buk"
"Hahh?!! Kok bisaa?"
Rangga menghela nafas panjang. "Sesuai jadwal kan buk, seharusnya kita pulang jam sembilan? Jadi lebih baik ibu pulang sama yang lain. Saya dan teman-teman saya yang akan mencari Abid juga Balqis"
"Tapi--"
"Buk, jangan bikin kami tambah pusing"
"Baiklah baiklah, saya akan bubarkan semua tim dan semua tenda"
"Tim kami suruh ikut ibu aja, tapi tendanya jangan di buka. Kami juga minta kotak P3K untuk jaga-jaga kalau ada yang cedera"
Bu Jihan mengangguk lalu pergi meninggalkan mereka.
"Gue mau telpon Abid" ujar Tio.
"Gue rasa percuma, disana gak ada sinyal"
Tio tetap mencoba menelepon Abid, Eldi juga ikut menghubungi Abid.
"Ranggaa" Fany menghampiri mereka.
"Kamu balik ya, bareng rombongan" Fany menggeleng.
"Aku gak mau pulang sebelum liat Abid dan Balqis"
Rangga menghela nafas. "Kamu baik-baik aja kan? Ada yang luka??" Rangga menggeleng.
Fany memeluk Rangga. "Syukurlah, jangan sampe kenapa-napa ya!" Rangga mengangguk sambil membalas pelukan Fany.
"Asuuu asuu, mataku ternodaii"
"Makanya cepet gebet Sisi"
"Bacot gue tabok lo, el" Eldi tertawa.
"Kita cari lagi??"
"Tunggu anak camping pergi aja gak?"
"Yaudah manut"
Kriukk kriuk..
Suara perut Tio menggema.
"Laper pak?"
"Gue belum makan dari semalam" Tio cengengesan.
"Lah iya, dari sore kita gak ada makann"
"Kenapa gak makannn?? Yaudah sini bentarr ya, Fany buatin makanan"
"Buat aku aja sayang, mereka gak usah nanti kamu kecapekan" suruh Rangga.
"Rangga minta disembelih emang" Mereka terkekeh.
"Fany masakin buat semua ya" Fany pergi.
"Calon istri gue noh" puji Rangga.
"Gue tikung di sepertiga malam" sahut Jefri.
"Jep, gue tabok lu ya pake sepatu"
Jefri tertawa ngakak, "Gue sama adek nya Abid aja deh"
"Jefri pedo ternyata"
"Hahahah"