A B I D

A B I D
– Betamu



"Oke, siapp"


"Mandi sana, biar gue yang beresin dapur"


"Tebalek kak, kakak gih yang mandi. Balqis yang beresin dapur"


"Gue aja"


"Balqis aja"


"Ngebantah sama suami?" Balqis menunduk.


"Mandi duluan" Balqis mengangguk lalu pergi.


"Gosa di tekuk mukanya, dah jelek makin jelekkk" teriak Abid. Balqis menatap Abid jengkel lalu masuk ke kamarnya.


Sedangkan Abid cengengesan sambil membereskan sisa-sisa masakan mereka yang berantakan di dapur.


Setelah selesai, Abid langsung mandi di kamarnya.


Hanya butuh waktu dua puluh menit, Abid sudah keluar kamar dengan setelan casual. Abid pakai baju putih polos dipadukan jaket denim lalu memakai celana jeans hitam ditambah sepatu sneakers.


Abid menuju kamar sebelah.


Tok tok tok..


"Balqis"


Tok tok tok..


"Balqiss"


Tidak mendengar jawaban, Abid membuka pintu kemudian masuk ke kamar Balqis.


Abid tidak menemukan Balqis di kamarnya, Abid mengelilingi kamar Balqis.


"Balqiss"


"Balqis di dapur kak, kenapa sih manggil mulu??" tanya Balqis datang dari belakang.


Abid mendekati Balqis lalu menokok pelan jidatnya. "Kalau dipanggil cepet nyaut nya, panik tau gak?"


"Iya, iya maap" Balqis cengengesan.


"Udah siap?" Balqis mengangguk. Abid menggandeng tangan Balqis lalu mengajaknya keluar apartemen.


Abid dan Balqis pun pergi menuju rumah Abay. Mereka berkali-kali berhenti mencari pesanan adek Abid tercinta.


Kembar D itu kalau gak dituruti kemauannya gak bakal mau ngomong sama Abid.


Itu sih ya Abid bodo amat, tapi bukan cuma gak mau ngomong sama Abid mereka bedua juga gak bakal makan seharian. Karena ulah mereka berdua, Abid harus dimarahi seharian full sama ayah dan bundanya.


"Kak beli apa lagii?" tanya Balqis.


"Nyari lighstick Avengers dimana?" tanya Abid sambil fokus mengemudi. Dia sudah keliling toko mainan tapi belum ketemu.


"Beli online aja deh kak sarannya Balqis. Nanti kalau kita muter-muter terus, keliling toko nggak jumpa jumpa, yang ada kemaleman sampe rumah ayah"


"Iya juga sih" Abid merogoh kantongnya mencari ponselnya.


Setelah ketemu, Abid memberikan iPhone 11 pro max nya pada Balqis. "Cariin"


'subhanallah, potato ku bersembunyi melihat ini' batin Balqis.


"Pin nya apa kak?" tanya Balqis.


"Tanggal sama bulan pernikahan kita"


'aaaaa.. kak Abid sweet gak ketulungan. pin nya aja tanggal pernikahan. aku fikir dia bakal lupa sama tanggal itu' ujar Balqis dalam hati.


"Kak ini nemu"


"Langsung beli"


Balqis pun mengikuti perkataan Abid. "Kak Abid sering belanja online ya?"


"Nggak"


"Itu kemaren ada buat beliin jaket untuk Heon sama nyokapnya"


"Kak Abid baik banget, sumpah gak boong. Kenapa kakak bisa sebaik ini sih??"


"Karna muka ganteng gue jadi jelek kalau dibuat jahat"


"Balqis gak nyangka jawabannya gitu" Abid cengengesan.


"Lo mau jelajahi hp gue?"


"Boleh?" tanya Balqis.


"Silahkan"


"Nggak ah, gak sopan"


"Yakin? Ntar nyesel"


"Buka gak ya? Balqis bingung"


"Buka aja daripada penasaran"


"Beneran gapapa ni?"


"Gapapa"


Satu-satunya aplikasi yang dituju Balqis adalah WhatsApp. Banyak yang chat Abid ternyata. Mata Balqis tertuju pada satu chat, chat teratas.


+621376xxxx


Abid ganteng pacar aku.. ketemu yuk.


"Hng... kak, ini siapa?" Balqis menunjukkan chatnya.


"Gak tau, liat coba profilnya" suruh Abid. Balqis membukanya lalu menunjukkan pada Abid.


"Oh itu, Silvia. Yang kemaren itu" Balqis berohria.


Ting...


+625214xxxx


Bid, ketemu yuk, aku rindu. Rindu banget sampe susah nafas.


Balqis tersenyum miring. "Kenapa?" tanya Abid. Balqis menunjukkan chat itu.


"Siapa itu?"


Balqis mengecek profilnya, "Kak Shelia"


"Terus, lo kenapa senyum?"


"Rada lucu aja, rindu sampe susah nafas kan gimana gitu" Abid cengengesan.


"Bales coba"


"Bales apa, kak?" tanya Balqis.


"Masih hidup gak? Susah nafas kan tandanya mau mati"


"Astaghfirullah kak Abid jahat kali!!" Abid dan Balqis tertawa.


☆☆


"Ya Allah, bunda seneng bangett akhirnya kamu datang, nakk" Bunda Abid langsung memeluk Abid.


"Baik baik aja kok"


"Maaf ya bun, Abid baru bisa main kesini"


"Gak masalah, bunda mah tau ayahmu itu serem makanya kamu gak mau kesini" ujar Bunda nya.


"Bunda gak usah gibahin ayahh" teriak ayahnya dari ruang keluarga. Abid tertawa kecil mendengar teriakan ayahnya.


"Eh, mantu bunda cantik kalii" Balqis cengengesan.


"Bunda bisa aja"


"Ayo masuk" mereka bertiga pun masuk menuju ruang keluarga. Abid langsung duduk di sebelah ayahnya mengambil cemilan dari tangan ayahnya.


"Istighfar Abay, anakmu emang gitu modelnya" Abid tertawa. Bunda dan Balqis juga tertawa melihatnya.


"Oh iya bund, ini tadi buatan Balqis. Yaa.. maklumi kalau ada kurangnya" ujar Balqis sambil memberikan kotak berisi donat.


"Enak aja buatan lo, buatan gue juga tuh" kata Abid.


"Emang kamu bisa buat donat?" tanya Abay.


"Apa sih yang Abid gak bisa, yah?"


"Kak Abid gak buat deng yah, kak Abid cuma bantu doa sama ngerusuhin Balqis"


"Kejujuran mu patut diacungi jempol" cibir Abid. Mereka kembali tertawa.


"Mana kembar?"


"Masih les" jawab Bunda nya.


"Les mulu, gak bosen apa mereka"


"Mereka berdua gak kayak kamu ya, Bid. Bunda inget tuh dulu, kamu disuruh les malah tidur terus" Abid tertawa mengingatnya.


"Belajar di sekolah udah lama bunda, ngapain acara-acara les segala"


"Ayah mah gak yakin kamu belajar di sekolah" sahut Ayahnya.


"Jadi Abid ngapain yah? Dagang cilok?"


"Dagang cendol"


"Astaghfirullah ayah.... kok tauu?"


"Lah beneran? Semoga kamu betah sama manusia satu ini ya, Balqis"


"Anak ganteng emang gitu, Bid. Sabar ya" Abid bicara pada dirinya sendiri


"Hahaha"


"Oh ya Abid, ada hal penting yang mau ayah bicarakan. Kita ke ruangan ayah ya" Abid hanya mengangguk.


Ayahnya duluan pergi ke ruang kerja. Sedangkan Abid, dia mengambil satu donat dan memakannya dua kali suap. "Disini aja, ngobrol sama Bunda" Balqis mengangguk.


"Bun, Abid ke ruangan ayah dulu" Pamit Abid setelah minum. Bunda nya juga mengangguk. Abid pun pergi ke ruangan ayahnya.


Setelah menaiki tangga rumahnya, Abid tiba di ruangan kerja Abay. Abid pun masuk.


"Ada apa, yah?" Abay memberikan beberapa dokumen penting pada Abid.


"Eidi Ailectro, pindah tangan"


"Ayah kasih ke kamu, biar kamu bisa hidupi keluarga mu. Jaga baik-baik, kelola baik-baik. Kamu pasti ngerti, gimana susahnya ayah urus Eidi dari nol"


"Ayah... serius?" Abay mengangguk.


"Makasih banyak yah, makasihh"


"Meskipun Eidi udah pindah tangan, ayah juga bakal bantu kamu kalau kamu kesusahan"


Abid tersenyum. "Makasih ayahhh"


◍◍


"Jadi, Bid?"


"Jadi apa, yah?" tanya Abid. Mereka sudah berkumpul kembali di ruang keluarga.


"Lupa kamu? Kemaren kan ayah tawarin untuk tinggal dirumah ini"


"Oh itu, Abid belum tanya Balqis" Abid cengengesan.


"Lo mau kita tinggal disini?" tanya Abid pada Balqis.


"Mau kok kak, Balqis ikut kemanapun kakak pergi" Abid tersenyum.


"Jadi?"


"Abid tetep di apartemen yah"


"Loh kenapa?" tanya Bunda nya.


"Abid gak mau nyusahin ayah bunda lagi. Abid mau mandiri, sama Balqis" Balqis sedikit terkejut mendengar jawaban Abid begitupun yang lainnya.


"Yaa.. kalau itu keputusan kamu, ayah bunda cuma bisa dukung dari jauh" Abid tersenyum.


"Iyaa, bunda juga ngerti kok pengantin baru maunya beduaan terus"


"Lah bunda nyasar nya mboh nandi-nandi" Bunda dan Ayahnya tertawa.


"DEVI PULANG"


"Salam Devi, kebiasaan banget sih" cibir Avi.


"Oh iya. Assalamu'alaikum"


"Eh ada... BANG ABIDDDDD, IS RINDU TAUU" keduanya memeluk Abid.


"Rindu juga" jawab Abid membalas pelukan adeknya.


"Manaa tebusannya?"


"Duh abang lupa"


"Ah abang, dah lah gak mau temen" keduanya langsung pergi ke kamar masing-masing. Abid hanya cengengesan melihat keduanya. Abid meletakkan pesanan mereka berdua di kamar, diatas tempat tidur.


"AABANGGG MAKAS--"


Dubrakk..


Devi terjatuh.


Abid berlari menghampiri adeknya. "Lari aja sih, kerjaannya!" protes Abid.


"Hiks hiks.. Sakitt bangg"


"Ganti baju, kita ke dokter" suruh Abid.


"Gak mau"


"Kalau gak mau, abang gak bakal kesini lagi. Gak mau ketemu kalian"


"Jahatt!! Yaudah iyaa" Devi menuju kamarnya mengganti baju.


"Kebiasaann banget, heran liatnya"


"Kayak gak tau adek kamu aja, Bid"