
Setelah teman-temannya pergi, Abid mengambil laptopnya lalu membawa ke ruang keluarga.
Yang bisa Abid lakukan saat ini adalah melacak keberadaan Heon.
Setengah jam lebih ia berkutat di depan laptopnya, ia tidak menemukan apapun. Ini pertama kalinya ia gagal melacak seseorang.
"Kak Abid"
"Hm?" Abid melihat ke Balqis.
"Emmm"
"Kenapa? Duduk sini jangan berdiri" Balqis masih tetap diam. Abid menarik tangannya. Balqis malah terjatuh dipangkuan Abid.
"K- kak Abid.."
"Hm? Kenapaa? Lo mau bilang apa?" tanya Abid berbisik. Tangan Abid melingkar di pinggang Balqis. Abid seperti memeluk Balqis dari belakang.
"Kak.. geli tau" Abid tertawa.
"Balqis mo turun dari sini"
"Nggak usah. Gini aja, sebentar" Balqis diam.
"Lo mau ngomong apa? Kok gugup?"
"Balqis mau tanya sesuatu"
"Tanya lah" suruh Abid sambil sedikit mengendus-endus.
'bisa bikin beneran gue kalau gini' batin Abid. Abid tak fokus dengan pertanyaan Balqis.
"Kakk!!"
"Hm hmm? Apaa apaa?" tanya Abid.
"Kakak gak dengerin??" tanya Balqis menatap mata Abid.
"Emang udah nanya?"
"Isss udahlah" jawab Balqis kesal.
"Yaudah ulangin. Nanya apa"
"Kakak, terpaksa gak sama pernikahan ini?"
Abid diam sejenak. "Nggak"
"Kenapa??" Balqis masih menatap mata Abid. Bukannya menjawab. Mata Abid malah berfokus pada bibir Balqis.
Tanpa sadar, Abid mendekatkan bibirnya dengan bibir Balqis.
Ddrrrt... Drtttt...
Ponsel Abid berbunyi, merusak suasana. Balqis langsung mengalihkan pandangannya. "Kak lepas" pinta Balqis.
Abid pun melepas lingkaran tangannya. Balqis langsung berlari menuju kamar sambil memegangi pipinya yang merah.
Abid tertawa melihat kelakuan Balqis. Setelah melihat Balqis menutup pintu kamar, Abid meraih ponselnya.
"Lah anjirr alarm apaan jam segini?!"
⚛
15.51
Anggota Black Blood –kecuali Abid– yang pergi pun kembali ke apartemen Abid.
"Bidd"
Abid menoleh ke mereka. "Oh udah balik?"
"Dih, lo kenapaa?"
"Bid, lo gak mabuk lagi kan?" tanya Jefri.
"Nggak papa dan nggak. Kalian nemuin apa?" tanya Abid.
"Di jalan, lebih tepatnya jalan waktu dia balik dari rumah lo. Dia dijegat sama Jordan, digebukin terus dibawa ntah kemana. Gue ngeliat itu dari cctv" kata Tio.
"Sedangkan di apartemen, gue sama Jefri gak nemuin dia. Bajunya masih utuh di tempat. Waktu gue geledah lemarinya, gue nemuin ini" Rangga menunjukkan ponsel Heon yang mati.
"Pantesan gue lacak gak bisa!"
"Coba idupin" suruh Eldi. Rangga menghidupkan ponselnya. Ada tiga email muncul bersamaan.
Video pertama, video waktu Heon dipaksa untuk ngebunuh Jefri. Video kedua, video interaksi Tama dengan anggotanya yang menjebak Abid di desa.
"Dugaan gue bener!! Bajingann satu itu penyebabnya" Abid menunjuk anggota Tama.
"Sabar, bid"
Abid menghela nafas. Mereka membuka video terakhir.
"Bid, Rangga, Tio, Jefri, Eldi, gue minta maaf udah jadi penghianat untuk kedua kalinya. Gue gak ada maksud buat ngelakuin hal ini, gue gak ada niat untuk ngebunuh Jefri. Penembak amatiran di pertengkaran itu gue. Gue sengaja ngelakuin itu biar gak ngelukain siapapun. Gue malu sama diri gue sendiri. Gue gak enak sama kalian yang masih nerima gue yang berdosa ini. Gak perlu cari gue ya. Gue berterima kasih karena bisa kembali ke Black Blood meski hanya sebentar. Oh iya, dua video sebelum ini bisa dijadiin sebagai alat bantu kalian masukin Tama sama Jordan ke penjara. Btw, gue minta satu permohon bolehkan? Simple kok. Kalau misalnya gue gak ada nanti, tolong jagain nyokap gue. Dia di Malaysia"
Isi video terakhir yang menyentuh hati mereka.
"Kok gue mendadak cengeng?" tanya Eldi.
"Lo emang cengeng kok, El" ledek Tio.
"Bangsul" Tio tertawa.
"Apapun kondisinya Black Blood gak bisa serius" cibir Rangga. Mereka tertawa.
"Jadi sekarang Heon dimanaa?" tanya Abid.
Ting tong...
"Gue aja yang buka" Abid melangkahkan kakinya menuju pintu depan apartemen.
"Mas ada delivery makanan" suara ini.... Abid mengenalnya.
Abid menarik orang ini masuk ke apartemennya. "Siapa, Bid?" tanya Jefri.
Abid melepas paksa topi mas kurir ini. "Heon??"
"G-gue minta maaf" Abid mengambil makanan yang dibawa Heon menyampakkannya pada Rangga. Abid membuka paksa baju Heon.
"Bid, gue harap lo masih normal" ujar Jefri karena heran dengan tingkah Abid.
"Gue emang normal, suka ngaceng kok kalau ketemu cewek seksi" ceplos Abid.
"Gada otaknya emang" Abid dengan muka fokusnya sedikit tertawa.
Baju kurir Heon terbuka, Abid memutar badan Heon yang polos tanpa baju. "Aman kok"
"Lo gak apa-apa kan?" tanya mereka kompak.
Mata Heon berkaca-kaca. "Kalian kenapa baik banget sihh" Heon hampir menangis.
"Gak usah cengeng!" Abid beralih ke makanan yang dibawa Heon.
"Sumpah. Gue beruntung banget ketemu orang sebaik kalian. Gue jahat, tapi kalian tetep terima gue. Gue makin gak enak sama kalian"
"Enak juga ini makanan. Kebetulan gue laper" kata Abid.
"Eh ajg, orang lagi serius dia malah riview makanan" Abid tertawa.
"Nanti ke kantor polisi. Kita laporkan semuanya. Semua kejahatan Tama"
"Dan lo, yon"
"Lo kita sidang!!"
・ᴗ・
"Moga aja bisa ngilang satuuu musuh" kata Rangga.
"Aamiin"
"Lo pada mau kemana lagi?" tanya Abid.
"Balik"
"Ke apartemen gue?"
Mereka menggeleng. "Ke rumah sendiri"
"Lo yon??"
"Pulang dari sini, gue mau ke Malaysia. Samperin nyokap"
"Kurang dana gak?" tanya Abid.
"Nggak kok, Bid. Gak usah repot-repot" jawab Heon. Abid tetap mengambil dompetnya mengeluarkan lima ratus ribu untuk Heon.
"Salam dari kita buat nyokap lo"
"Astgaaa, Bid. Gue gak mau terimaa" tolak Heon. Yang lain mengikuti Abid mengeluarkan dompet.
"Ini dari gue, meskipun gak sebanyak Abid. Semoga cukup" kata Jefri menutup pemberian mereka.
"Gosah repot-repot lah kaliann. Gue gak enakkk"
"Gak enak mulu, dienakin aja kenapaa!" kata Rangga. Mereka tertawa.
"Gue duluan ya. Balqis sendiri di apartemen"
"Cieee cieeee bang Abid pelhatiann" ledek Eldi.
"Kampret lo, El"
"Hahahaha"
"Yaudah gue duluan"
"Tihati!!" Abid membalasnya dengan mengangkat jempol.
⛱⛱
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
"Loh om tante"
"Om? Tante?"
"Eh maksudnya papa mama" Abid cengengesan lalu menyalami mertuanya.
"Darimana, Bid?"
"Itu ada urusan pa. Papa mama udah lama?" tanya Abid.
"Belom lama, baru tujuh menit yang lalu"
"Kok gak bilang ada papa?" tanya Abid berbisik.
"Hp kakak aja ketinggalan" jawab Balqis. Abid merogoh sakunya.
"Oiya" Abid cengengesan.
"Ini mama papa mau minum apa?"
"Nggak usahh, papa mama cuma bentar. Ada urusan jadi gabisa lama-lama" Abid berohria.
"Papa mau berterima kasih karena kamu mau terima Balqis yang bawel nya naudzubillah. Papa harap kamu jagain dia, seperti papa jaga dia. Papa harap kamu selalu bersabar hadapin Balqis. Papa mohon, jaga Balqis baik-baik"
Abid tersenyum kaku, "Abid bakal jagain Balqis semampu dan sebisa Abid"
"Abid bingung, kenapa papa gak marah sama Abid. Padahal Abid udah bikin papa malu"
"Papa percaya, kamu gak bakal ngelakuin hal rendah kayak gitu. Jadi kamu gak usah merasa bersalah ya. Jangan terlalu pikirin ayah kamu yang marah semalam, beliau cuma kesal karena kerjaannya" Abid tersenyum sekilas, Abid bersyukur mertuanya pengertian.
"Yaudah, papa mama mau pulang"
"Eh.. cepet banget pa"
"Next time papa main lagi"
"Nanti Abid sama Balqis yang main ke rumah" ujar Abid. Balqis dan Abid menyalami Erwin dan Elsa.
"Hati hati pa.. maa" Balqis melambaikan tangannya di depan pintu apartemen. Erwin dan Elsa hanya tersenyum.
"Udah mau maghrib, masuk" ajak Abid, mereka berdua pun masuk kembali.
Abid langsung ke kamarnya untuk mandi. Setelah selesai dia keluar memanggil Balqis. "Kenapa kak?"
"Sholat?" Balqis mengangguk.
"Ayok sholat berjamaah. Di kamar gue" ajak Abid, setelah itu dia kembali ke kamarnya.
"Calm down Balqis. Ini bukan pertama kalinya"
Balqis mengambil mukenah lalu masuk ke kamar Abid. Mereka pun sholat berjamaah untuk yang kesekian kalinya namun pertama kalinya sejak mereka sudah sah menjadi suami istri.
Sehabis sholat, Balqis menyalami tangan Abid. "Balqis ke kamar dulu ya kak" Abid mengangguk, Balqis pun pergi.
"Huh.. gugup, guguppp bangettt. Mana Kak Abid makin gantenggg!! Astaghfirullah!! Oke tenang Balqis. Tenangkan jiwa raga mu" Balqis menarik nafasnya lalu membuangnya perlahan.
Balqis keluar dari kamar menuju dapur. Dia ingin memasak makan malam.
"Indomie aja" Abid muncul.
"Astaghfirullah, ngagetin aja. Kakak mau indomie? Kan gabaik kak"
"Sesekali"
"Pake telor yaa" Abid mengacak rambut Balqis lalu pergi ke ruang keluarga.
Sepuluh menit kemudian, Balqis memanggil Abid untuk makan. Mereka makan dengan tenang.
"Besok, sarapan di sekolah aja. Gak usah masak" ujar Abid setelah selesai makan. Balqis mengangguk.
"Kak" langkah kaki Abid terhenti.
"Balqis mau bilang satu hal sama kakak" Abid menatap Balqis seolah-olah bertanya apa yang mau dikatakan Balqis padanya.
"Rasa sayang Balqis, rasa cinta Balqis ke kak Abid... itu besar"
Abid mengingat ini. Ini perkataannya saat mabuk kemarin. Balqis yang gugup langsung beranjak dari tempat duduknya. Saat bersampingan dengan Abid, Abid menahan tangannya.
Balqis berhenti, dia menunduk. Abid tersenyum melihat pipi Balqis yang memerah. Rasa hatinya berbunga-bunga mendengar ucapan Balqis. Abid yakin, dia sudah jatuh cinta pada Balqis.
"Ke- kenapa kak?"
Abid tidak menjawab, dia menarik Balqis lalu mendudukkannya ke meja.
Balqis masih menunduk, Abid mengangkat pelan dagu Balqis, mata Balqis masih tetap kebawah.
"Tatap mata gue" pinta Abid.
Dengan ragu-ragu Balqis menatap mata Abid. "Lo pasti tau gimana perasaan gue kan"
Balqis tersenyum canggung. "Ka- kakak ingat?"
Abid tersenyum miring. Tanpa aba-aba Abid menempelkan bibirnya pada bibir Balqis.
_____________________________
Woi ah elah, akuu baperr sendiri ngetik ginian ಥ‿ಥ
Lebih rame dari sebelumnya aku bonusss 🥰