
Abid baru tiba di tempat gym yang jauh dari jangkauan teman-temannya.
"Dah lama gak liat lu nge-gym"
Abid menoleh, "Abiyyu?"
"Apa kabar?"
Abid berdecih, "Basa-basi banget"
"Lagi galau??"
Abid diam sambil mengganti bajunya.
"Gue nanya, jawab kek"
"Bukan urusan lu" Abiyyu gantian terdiam.
Abid mulai berlari di atas treadmill. "Apa kabar mereka?" tanya Abiyyu.
"Mereka siapa?"
"Ayah, bunda, Devi, Avi"
"Baik-baik aja"
"Anak buah utusan lu kenapa gak pernah sekolah lagi?" tanya Abid.
"Semacam hiatus sementara, ntar juga balik"
"Sama Shelia juga?"
"Lu masih demen sama Shelia?" Abid menggeleng.
"Yakin"
"Seribu persen yakin, taruhan juga gue berani"
"Tetep gak yakin gue"
Abid turun dari treadmill. "Ayo baku hantam lah"
Abiyyu tertawa lalu ikut turun dari treadmill. "Next time deh, gue sibuk ada urusan"
"Gue duluan" Abiyyu mengacak rambut Abid lalu pergi.
"Lah, kenapa jadi kea cewek gue rambutnya di acak-acak?!"
Abid menggelengkan kepala, ia kembali naik ke treadmill. Berlari dengan pikiran yang menggumpal di otaknya.
"Kenapa harus bohong?! Gue udah minta jujur kemaren, emang susah ya jujur?"
"Dia anggep gue apa sih? Anggep suami cuma karena kasihan gue sakit"
"Yah.. bid, lu cuma di kasihani"
"Apa gue harus cerai sekarang?"
▪▪▪
20.15, di apartemen Abid.
Ting tong..
Secepat mungkin Balqis menuju pintu, dia berharap itu Abid.
"Kak Ab-- ehh kak Rangga"
Harapannya pupus, semangatnya hilang. Bukan Abid yang dia lihat, melainkan Rangga dan anggota Black blood lainnya.
"Kita bawain makanan buat lu" Jefri menyodorkan makanan yang ia beli di McD tadi.
"Masuk kak"
"Kita semua cowok, lu gak takut??"
Sebenarnya Balqis sedikit was-was. Takut akan terjadi sesuatu, namun Balqis yakin teman-teman Abid tak akan berbuat hal yang aneh.
"Balqis yakin, kakak-kakak gak bakal ngelakuin hal diluar nalar"
Mereka pun masuk.
"Abid belum balik??" tanya Heon sambil membuka cemilan yang mereka beli di supermarket. Balqis menggeleng sebagai jawaban pertanyaan Rangga.
"Hishh, kemana si tu anak?! Di telepon juga gak diangkat. Di lacak gabisa!" keluh Eldi.
"Merasa bersalah gue, karena gue Abid hilang"
"Lu udah ketularan Abid, ha? Ini bukan salah lu, Tio!!" Tio menghela nafas.
"Kak Jefri bener kok, kak. Kak Tio gak salah, cepat atau lambat kak Abid pasti tau tentang ini" jawab Balqis menunduk.
"Abid pasti balik kok, sabar ya" Balqis mengangguk sambil menunduk.
"Yon, ini yang lu bilang??" Rangga keluar dari kamar Abid, ia membawa selembar kertas.
Heon mengangguk, "Wah.... gila sih ini"
"Bacain" suruh Jefri. Rangga kebingungan saat ingin membacanya.
"Rang, lu udah kelas tiga SMA, kenapa kea anak kelas tiga Esde?!"
"Tulisan Abid.. bikin gue buta hurup" Rangga memberikan kertasnya pada Jefri.
"Ini mah tulisan dokter melebihi dokter" sahut Jefri.
"Gue cuma tau tulisan setaun" kata Rangga.
"Makanya itu gue cuma bilang setaun" balas Heon.
"Wah.. wahh, tulisann gue insecure melihat ini" ujar Eldi.
"Apa isinya ini? Abid pasti pernah bacain" tanya Jefri pada Balqis.
"Balqis gak terlalu inget. Pas liat itu, Balqis teringat kalau Balqis udah ngelanggar satu perjanjian"
"Nomor?"
"Poin ketujuh, cerita kalau ada masalah. Dan Balqis, gak cerita sama kak Abid tentang masalah itu"
"Lagian, lu kenapa minta di rahasiain?" tanya Eldi.
"Karena Balqis gak mau kak Abid marah, Balqis cuma pengen liat kak Abid senyum, kak Abid ketawa, kak Abid bahagia. Bukan kak Abid marah"
"Lu anggep Balqis apa?"
"Gimana Jep gimana?" tanya Tio bingung.
"Maksud gue, anggep Abid apa? Astaghfirullah keseleo" mereka tertawa.
"Balqis anggep kak Abid... suami Balqis, pria hebat setelah papa"
Ting.. Tong...
"Balqis bukain pintu dulu, kak" mereka mengangguk.
Balqis pergi menuju pintu depan.
"Kak Fany?"
"Abid mana, cis? Kamu di sini sama siapa?" Belum sempat Balqis menjawab, Fany langsung menyelonong masuk.
"Loh Fany?"
"Eh kalian??"
"Lu kemana aja dah? Gak pernah keliatan??" tanya Eldi.
"Aku ada urusan, ikut papa kemaren" Mereka berohria.
"Abid kemanaa?"
"Ilang"
"Seriussss??" tanya Fany terkejut. Mereka mengangguk.
"Ilang kemanaa? Kok bisa?"
"Ntahlah, mungkin dia kecewa karena Balqis sembunyikan masalahnya" jawab Rangga.
"Gimana gimana?" tanya Fany bingung.
"Balqis di bully Silvia kemaren, Balqis sembunyikan itu dari Abid" jelas Tio.
"Di bully? Lagii??"
"Lagi?" Beo Jefri.
"Jadi ini yang keberapa... Balqis?" tanya Jefri sinis.
"Kedua" jawab Balqis pelan.
Mereka menghela nafas serentak.
"Lu kenapa kesini langsung tanyain Abid?" tanya Eldi pada Fany mengalihkan topik.
"Mau demo rencananya, Devi tadi cerita kalau Abid pulang kerumah tapi ekspresinya gak biasa. Terus tu, Abid sensian. Devi takut liatnya"
"Abid pulang berarti tadi??" tanya Heon.
"Dia pulang, motor gue diantar Rian dari rumah bokapnya. Makanya gue ga bisa lacak apapun"
"Lacak sama motor lu berhubungan?" tanya Eldi.
"Motor gue udah gue rombak kemaren jadi kalau ilang gue bisa lacak, eh dia malah ganti motor. Makanya ga bisa lacak, gituuu"
Eldi berohria, "Pengen di bogem?!" Eldi cengengesan.
"Jadi gimana dong?? Besok Abid gak ikut camping??" tanya Fany.
"Ah iya camping!!"
"Lu ikut, Balqis?"
"Balqis gak tau kak, bingung"
"Kalian?" Fany menanyakan anggota black blood.
"Kita ngikutin gimana Balqis, kalau Balqis ikut, mau nggak mau kami ikut" jawab Jefri.
"Fany ikut?" tanya Rangga mendekat ke Fany.
"Rencananya mau ikut, makanya merengek sama papa minta pulang"
"Alasan lain karena rindu gue kan?" goda Rangga.
"Ahh, Rangga meresahkan"
๑๑๑
06.21
"Kak Abid ayo angkat, pliss" Balqis sudah mengeluarkan air matanya di pagi hari.
Mimpi buruknya lah yang membuatnya menangis. Balqis memimpikan Abid terjatuh dari motornya.
"Balqis kenapa?"
"Eh kak Fany udah bangun. Balqis berisik ya? Maaf kak"
"Nggak, emang udah seharusnya bangun jam segini. Kamu kenapa nangis?"
"Balqis mimpi buruk, kak"
Fany mendekat ke Balqis lalu memeluknya, "Tenang ya. Abid pasti baik-baik aja"
Balqis kembali menangis di pelukan Fany. "Jangan nangis, Abid gak suka liat orang nangis. Apalagi orang tersayangnya. Tenang yaa"
Drrrttt drrttt...
Fany melepas pelukan. Balqis langsung meraih ponselnya, dia kembali berharap itu Abid.
Lagi-lagi harapannya pupus, itu bukan Abid melainkan Vane.
"Assalamu'alaikum, Vane. Ada apa?"
📞 "Waalaikumsalam. Lu jadi ikut kan?? Ikut lah yaa, plisss. Biar kita punya pengalaman ginian, ikut yaa"
"Aku mungkin gak bakal ikut"
📞 "Yhahh, gimana sih lu. Kenapa gak jadi ikut?! Ayok la airaaa. Yaaa gue mohonnn"
Balqis menghela nafas.
"Gak ada salah nya kamu ikut, kalau mau ikut, ikut aja. Aku bakal di jagain kamu. Yang lain juga pasti jagain kamu" bisik Fany.
Balqis membalasnya dengan senyuman lalu memeluk Fany, "Makasih kak"
📞 "Balqiiss woii!!"
Balqis melepas pelukannya. "Iya iya aku ikutt"
📞 "Nah cakep! Gitu dong anaknya pak Erwin"
"Kebiasaan"
📞 "Hahaha, yaudah gue matiin telepon. Belum beres-beres. Jangan telat!!"
Balqis berdehem.
📞 "Oke, assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
Balqis melihat ke Fany. "Kak, kakak ikut kan?"
Fany mengangguk. "Kamu bebenah gih, aku keluar dulu bangunin human human itu" Balqis mengangguk sambil tersenyum, Fany pun keluar.
"Woi woi woi, bangun woi!!"
"Masi pagi, ngapain bangun" jawab Eldi, dia berguling ke samping.
"Bebenahhh!!! Campingg!!" Serentak, mereka bangun.
"Balqis pergi?" tanya Jefri. Fany mengangguk.
"Gue cabut, belum masukin baju" Jefri langsung beranjak diikuti yang lain.
"Hee woii, nanti sarapan dulu di sini!" Mereka mengangguk lalu pergi.
♛♛♛
Heon, Rangga, Fany, dan Balqis keluar dari mobil Abid. Sisa dari mereka membawa motor.
Mereka langsung jadi pusat perhatian, terutama Balqis.
"Gak usah dengerin gosip" Balqis mengangguk.
"Ini barang kalian, jangan sampe ketinggalan" Balqis mengambil tasnya, begitupun dengan Fany.
"Lu punya tim kan, Fan?" tanya Rangga.
"Kan tim nya belum di bentuk bambang"
"Udah he"
"Kapan?" tanya Jefri.
"Sekitar beberapa menit lagi, sampe disana baru bentuk tim"
"Diem aja deh lu diem, bikin gue emosi!!" Rangga tertawa.
"Rangga, Jefri. Abid kemana?" Pak Dayat menghampiri mereka.
"Nah itu dia pak, Abid nya ntah kemana. Udah di cari ga nemu-nemu" jawab Jefri.
"Kenapa pak?" tanya Eldi.
"Nggak apa-apa, saya gak liat Abid dari tadi" Mereka berohria.
"Yasudah, jangan kemana-mana sebentar lagi berangkat" Pak Dayat pergi.
"Abid pergi gak sih?" tanya Heon.
"Gue gak yakin dia pergi, keberadaan dia aja kita gak tau"
"Em... kak" Semua menatap Balqis.
"Balqis.. sama temen temen dulu ya"
"Jangan pisah dari temen, sebisa mungkin jangan sendirian. Paham?" Balqis mengangguk.
"Yaudah sana" Balqis pergi menjauh dari mereka.
Ketika mereka lengah, satu tangan panjang menarik Balqis menuju toilet. "Kak Silvia, Balqis gak pernah pelet kak Abid!!!"
"Buka mata lu"
Suara ini, suara yang Balqis rindukan. Ia langsung membuka matanya.
"Kak Abid!!"