
"Abang, itu tuh..."
"Apa hm? Alesan apa lagi ibu negara?"
"Itu k--"
Drrttt.. Drrttt..
Abid berhenti mendorong trolly lalu merogoh saku mencari ponsel.
"Apalagi ni anak?"
"Siapaa?"
"Eldi."
π "Assalamu'alaikum, bid. Maapkeun kamii"
"Kenapa? Masuk polisi kalian?"
π "Nggak oonn"
"Jadi apaa?? Cepatt!!"
π "Silvia hilang"
"HAHH??!"
π "Suer gak bohong, bukan prank, gak ada kamera. Sumpah!!"
"Ck, kenapa bisa ilang?!"
π "Tadi kan setelah lu pergi, beberapa menit kemudian lu suruh lepas biar dia bisa pergi sesuai tujuan nya. Terus tu, gue sama Heon ngikutin dia."
π "Sekali lagi maaf, karena kelalaian kami bedua Silvia ngilang gak tau kemana, pas di check di rumahnya juga gak ada"
Abid menghela nafas, "dia nyari tiket, maybe. Coba lu pada check ke bandara, cari mereka. Mencar ya, gue nyusul"
π "Oke oke, assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
Abid mempercepat langkah nya memilih jajanan dan minuman.
"Ada apa, bang??"
"Silvia ngilang"
"Serius??"
Ting.. Ting...
Balqis membuka ponselnya.
+625671xxxx
Foto
+625671xxxx
Gak nyangka ya sedeket itu, mau gue viralin?
Seketika Balqis diam di tempat dengan ekspresi was-was, ia langsung mengedarkan pandangannya mencari orang ini.
"Kenapa??"
Balqis langsung menunjukkan isi chatnya. Abid mengusap rambutnya kasar.
"Main-main pula la sama gue"
"Tambahannya nanti, kita bayar duluan" Abid menarik tangan Balqis sekaligus mendorong troli dengan satu tangannya.
Mereka pun tiba di kasir, "kamu ke mobil duluan. Kunci mobilnya." Abid memberikan kunci itu.
Sambil menutupi muka, Balqis pergi menuju mobil Abid. Abid yang tidak sabar dengan antrian terpaksa menyerobot dengan sogokan uang. Abid rugi~
"Mbak, cepet. Waktu saya gak banyak!" desak Abid kesal. Pasalnya mbak supermarket sengaja berlama-lama untuk memuaskan matanya melihat Abid.
Abid sendiri merasa gelisah, matanya terus menuju mobilnya.
"Woii!!" Mbaknya tersadar. Secepatnya ia menyelesaikan hitungan belanjaan Abid.
"Ini mas, silahkan datang kemb--" Belum siap mbak nya bicara, Abid sudah melarikan diri menuju mobilnya di karenakan ada orang asing berpakaian serba hitam.
Dengan sigap Abid menghajar mereka, memukul dan menendangnya sampai mereka tepar.
"Komplotan siapa lu?!"
Mereka tidak menjawab, Abid melihat baju couple nya mereka. Tapi Abid sama sekali tidak mengenalinya.
Dengan sangat terpaksa, Abid menginjak dadanya pelan. "Lu siapaa?!"
"G-gua anggota Fero, ditugaskan orang bayaran b-buat bunuh istri lu"
"Anjjjing!!! Siapa yang nyuruh lu?!"
Pria itu diam, terpaksa lagi Abid menekan injakan kakinya. "Uhuk.. Uhukk, Silvia"
Abid menendang pria itu lalu masuk ke mobilnya, secepat mungkin menjauh dari sana.
"Bang, jangan laju-lajuu. Balqis masih mau hiduppp"
"Ya ini demi hidup kamu jugaaa"
Tiba-tiba Abid membelokkan mobil menuju gang sempit. "Abang, astaghfirullah.."
"Sssttt, kalau berlanjut bisa bahaya"
Lagi lagi dengan gerakan mendadak, Abid mengerem mobilnya. Ia langsung menoleh ke belakang mengambil laptop dan juga makanan ringan yang di beli tadi.
"Itu tadi aku beli yogurt juga buat kamu, ada coklat sama banyak jajan. Kamu enjoy aja dan jangan ganggu konsentrasi ku, oke?" Balqis mengangguk paham.
Abid membuka laptop nya, ia bertujuan melacak lokasi orang yang mengechat Balqis. Abid yakin itu juga Silvia.
Sebisa, semampu, dan sesabar mungkin Abid mengotak-atik laptopnya.
Drrrtt... Drrttt..
"Sayang, tolong ambilkan" Balqis mengambil ponsel dari saku celana Abid, "siapa?"
"Kak Jefri"
Balqis mengangkatkan panggilannya
"Assalamu'alaikum, Abid disini!!"
π "Dimana jay?? Gue sama yang lain nyari semua bandara gak nemu juga."
π "Rangga ngecheck latar belakang dia, nemu rumah bibi sama pamannya. Dia juga gak ada disana"
π "Kita harus gimana??" -- Rangga.
"Pertama-tama dan yang paling utama, jangan ganggu gue"
"Kedua, jangan ganggu gue"
"Yang ketiga, jangan ganggu gue."
"Gue lagi ngelacak dia"
π "Bisa?????"
"Hmm! Balqis dapat chat aneh, dan tadi waktu gue di depan supermarket anggota Fero nyerang dadakan. Katany---"
π "Lo baik baik aja jay??"
π "Lo gak kenapa kenapaaa kannn???"
"Ck, gue gapapa."
π "Terus gimana??"
"Gue tanya, dia suruhan Silvia. Gue yakin seribu persen, Silvia ngulah"
"Oh ya Rangga, bantu gue. Gue share nanti"
π "Oke"
Abid menyuruh Balqis mematikannya secara sepihak.
Balqis yang sebenarnya gugup dan takut berusaha untuk santai dan rileks dengan muka Abid dan gerak-gerik Abid.
'That's so creepy' batinnya.
Drrttt.. Drttt..
"Ayah, bang"
"Angkatkan, loudspeaker sekalian"
Balqis menuruti Abid.
π "Assalamu'alaikum, Abid. Kamu dimana?? Bantu ayahh"
Abid menghentikan gerakan tangannya.
"Waalaikumsalam, ada apa ayahhh?"
π "Avi Devi ngilang"
"Ngilang?! Di London?!"
"Tapi tadi papa Erwin bilang..."
π "Mereka ayah suruh balik duluan"
"Gimana sih maksudnya, ayah?! Avi Devi masih kecil gitu kenapa dibiarin pulang sendirii?!"
π "Avi Devi di bawa Abiyyu, barusan ayah liat cctv"
Abid mengusap kasar wajahnya, dia mengumpat di dalam hati. Benar-benar umpatan yang luar biasa.
"Terus Abid gimana? Harus terbang ke London?!"
π "Ayah juga gak tauu, bunda kamu nangis terus ini!!"
Abid menghela nafas panjang.
"Nanti Abid urus"
Lagi, Abid menyuruh Balqis mematikan panggilannya sepihak. Abid menggeserkan laptopnya lalu mengambil ponsel.
π "Assalamu'alaikum, kenapa bid?"
"Rang, lu sama anak anak dimana?"
π "Markas"
"Carikan adek gua bisa kagak?"
π "Maksudnya?"
"Adek gua ngilang sat, gatau ah. Gue bolos mau happy happy malah jadi ngenes gini"
π "Itulah gue aja stress. Adek lu dimana emang? Nggak, maksud gue ngilang dimana?"
"London"
π "Lu gilaaaaa!! Dah diem, lu stress fiks, beli obat sana!! CEPATT BELI!!"
Abid tidak bisa berkutik lagi setelah Rangga mematikan teleponnya.
"Mau mati aja dah gua"
"Ehhh jangan dong, bang!!"
Abid menoleh, "kenapa?"
"Kan kita belum ehem"
"Hehh! Siapa yang ngajarin?!"
"Em.. itu, dunia oren"
Abid terdiam, "kirain manusia. Kalau manusia aku traktir makan"
"Astaghfirullah! Ini bahas apa sih?!"
βββββ
20.45
"Ahhh capek!" Abid merebahkan tubuhnya diatas kasur tercinta. Ia baru pulang dan baru selesai mandi.
Masalah clear, Avi Devi ditemukan dalam keadaan baik-baik saja di tangan Firman, papa Fani. Firman menyelamatkannya dari sandraan Silvia.
Sedangkan Silvia di masukkan penjara dengan kasus pembunuhan berencana. Anggota fero saksinya dan kejadian waktu camping sebagai bukti, Silvia berhasil terkurung di balik jeruji besi.
Abid merasakan hidupnya sedikit lega, seolah-olah setengah dari bebannya berkurang. Ketika Abid ingin memejamkan matanya...
Tok tok tok
Ceklek
"Abanggg, udah mandii?? Jangan tidur, makan malam duluu"
"Udah masak?" Balqis mengangguk.
"Suruh anak anak makan dulu, aku mau mandi" Balqis mengangguk lagi lalu pergi.
Pukul sembilan lewat dua belas menit, Abid keluar kamar.
"Ngapain lu di kamar mandi? Meditasi?"
"Luluran!" mereka terkekeh.
"Udah makan kan?"
"Lu makan sono, Balqis di dapur tuh"
"Oh iya bid, pinjem ps!" Abid mengangkat jempolnya lalu menuju dapur.
Makin hari makin meresahkan, itulah Abid. Ia datang ke dapur langsung mendorong pelan Balqis ke dinding, dengan santainya dia nyosor seperti biasa.
Balqis membelalakkan matanya terkejut, ia langsung mendorong Abid dengan tenaga ekstra. "Gak bisa ngertiin emang, suami lagi rindu padahal"
"Wah sekali, abang mesumnya makin parah ih, serem" Balqis pergi meninggalkan Abid.
"Heran sendiri sih, otak gue makin hari makin konslet. Perlu ke psikiater keknya"
Selesai bermonolog Abid meneguk soda, Balqis datang lagi ke dapur.
"Dicariin sama kak Jefri"
"Ngapain?"
"Nggak tau, mungkin mau bagi duid"
"Ngarang" Abid langsung menuju ruang tamu.
"Bid, kami mau pulang"
"Loh tumben cepet?"
"Kita ngerti lah, lu pasti capek butuh istirahat" sahut Heon.
"Jadi mau balik sekarang?"
"Dua detik yang lalu roh gue udah otewe kerumah" Abid cengengesan.
"Yaudah hati-hati lu pada, thanks banget ud--"
"Dua kata yang gak perlu lo ucapkan ke kita, yaitu terimakasih dan maaf. Sekian, sa pamit mo pulang" Rangga pergi disusul yang lain.
Abid menggelengkan kepalanya sambil cengengesan. Setelah semua pulang, ia kembali ke dapur untuk makan.
Abid hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk makan. Setelah selesai makan, dia mencari Balqis dan ternyata Balqis di kamarnya.
"Abang tidur sini kah??"
"Nggak, nggak tau juga sebenar nya." Abid mendekat.
Reflek, Balqis menutup laptopnya. Abid membuka kembali dan yang ia lihat adalah MV Kai.
"Emejing sekali"
Balqis cengengesan, "kan halu doang abangg. Bahan haluu"
"Besok aku ke Korea deh, debut jadi Idol terus joget kek gitu. Eh maksudnya dance kek gitu."
"Gak!! Gak boleh!! Jangaan!!" Abid menatap heran Balqis.
"Balqis aja belum liat masa orang lain duluan"
"Kan bisa liat bareng-bareng"
"Nggak!! Balqis mau liat sendiriian" Abid tersenyum smirk.
"Sekarang, baby?"
"H-hah a-apaan sih bangg?"
"Mau liat roti sobek atau..."
"Jangan racuni otak murni Balqis"
"Otak murni darimana, dunia oren mu isinya bok--"
"Ngadi-ngadiiii!!"
'Ngomong nya kenapa lancar bangetttt gilaa, untung sempat di potong ucapannya. Ish ampun aku punya suami mesum kayak bang Abid'
"Wahh, istri ku si polos yang agresif"
"Jangan sembarangan kamu samsul!!" Abid tertawa pelan, kemudian tersenyum smirk.
"Ini menyeramkan"
Abid melepas hoodienya, jangan salah fokus. Abid pakai daleman kaos kok.
Abid membanting tubuhnya ke sebelah Balqis, ia berguling sekali. Perhitungan yang tepat, ia langsung berada di atas tubuh Balqis.
"Aku gak bisa nahan kalau kamu kayak gini" Balqis terkejut.
Abid langsung mencium Balqis secara liar. Balqis diam tanpa respon. Abid tak perduli, ia makin meresahkan karena mengendus-endus di leher Balqis.
"Ini hukuman." Balqis langsung bernafas karena Abid tak lagi di atasnya.
"Aku gak ngelarang kamu suka kpop, aku tau toleransi untuk saling menghargai. Tapi tolong, jangan di depan ku. Aku cemburu"