A B I D

A B I D
– Sampe



Balqis berada di kantin bersama ketiga temannya. Disaat teman-temannya bercanda tawa, Balqis hanya diam memikirkan bagaimana Abid nanti disana?


Balqis memilih mengambil ponselnya mengechat Abid.


Balqis


Kak??


Balqis melihat last seen Abid yang tadinya 01.00 menjadi Online.


Kak Abid:")


Hm?


Balqis


Udah berangkat??


Kak Abid:")


Udah. Kenapa? Ada yang ganggu?


Balqis


Nggak kok kak


Kak Abid:")


Rindu?


Balqis


Emang Balqis boleh rindu kakak?


Kak Abid:")


Apa yang gak boleh buat kamu?


Balqis


Hilih


Balqis


Cepet pulanggg yaa


Kak Abid:")


Gue seminggu disana. Ada utusan gue yang bakal antar jemput lu, yang jagain lu, dan disamping lu.


Kak Abid:")


Jadi, gak usah bohong kalau emang lu diganggu!


Balqis


Balqis gak diganggu kok kak, suer


Kak Abid:")


Baguslah


Kak Abid:")


Maaf tadi gak sempet pamit, buru-buru mau ketemu ayah


Balqis


Gapapa, Balqis ngerti kok kak :)


Balqis


Kalau udah sampe kabarin yaa


Kak Abid:")


Iya nanti dikabari. Jangan bandell


Balqis


Kalau bandel?


Kak Abid:")


Gue hukum


Balqis cengengesan membaca chatnya. Tanpa dia sadari, ketiga temannya sedang memperhatikan.


"Lu... kenapa? Chatan sama doi yaa sampe senyum-senyum sendiri?" tanya Ayu.


"Hah? Enggak kok" Balqis langsung mengantongi ponselnya.


"Seriuss? Bohong lu" sahut Vane.


"Serius Vane, bukan sama doi. Aku gak punya doi"


"Yain deh yainn"


Balqis bernafas lega. 'Selamat lagi'


▪▪


"Chatan sama siapa?"


"Balqis?" Abid mengangguk.


"Gue masih heran sih sama lo. Kenapa lo malah izinin tuh pensiunan Lion king jagain Balqis. Kalau dia drama gimana? Kalau dia yang nyakitin bini lu gimana?" tanya Rangga ngegas.


"Lu tau sendiri gue orangnya susah percayaann. Selain dia, gue minta bodyguard bokap buat jagain Balqis sama semuanya"


"Kalaupun tu orang sakitin Balqis, gue yang bakal bunuh pake tangan gue sendiri"


Flashback ⏳


Tiga puluh menit yang laluu...


Di rumah Althaf, Abid dan keempat temannya sedang menunggu helikopter di depan rumah.


Tiba-tiba saja, seorang pria datang.


"B-bang"


Semua mendongak, melepaskan pandangan dari ponsel.


"Kenapa?" tanya Jefri. Dia menunduk.


"G-gue mau ketemu bang Abid" Mereka menatap Abid. Abid maju menghampiri pria ini.


"Gue Abid, angkat kepala lo"


Pria itu mengangkat kepalanya perlahan. "Mau apa?"


"G-gue mantan anggota Lion king. Y-yang berantem kemaren"


"Terus?"


"G-gue butuh kerjaan bang buat hidup"


Abid teringat kalau orang orang terdekatnya yang lain belum ada utusan untuk menjaga.


Black blood membelalakkan matanya. Tak menyangka Abid benar-benar ingin menolong musuhnya. "Bid, lo beneran mau bantu?"


Abid berbalik menatap Tio. "Why not?"


"Aish, Bid. Jangan begoo dong pliss"


"Siapa juga yang begoo" jawab Abid acuh.


"Lo mau gak?"


"Kerja apa bang?"


"Gampang. Jagain aja bini gue yang disekolah"


"Lo pasti tau yang mana bini gue"


"Komisinya, satu hari dua ratus ribu"


"Bid.. sumpah ya, lo gila banget! Kalau dia yang macem-macem gimanaa?!" Rangga memberontak.


"Ck. Gak boleh su'udzon"


"Bid, mana ada manusia yang berubah dalam satu malam" Eldi sok bijak.


"Gue tau. Tapi, sebagai sesama manusia harus tolong menolong. Dia perlu duit buat makan. Masalah dia khianatin gue belakangan" jawab Abid.


'karepmu bid. nanti giliran kejadian aneh-aneh lu nangis kejer nyalahin diri, emang gajelas' batin keempat temannya.


"Jadi lo mau gak?" Pria ini mengangguk antusias.


Abid mengulurkan tangannya dan di balas pria itu dengan kegugupan.


"Kenalan secara resmi ya. Gue Abid"


"G-gue Rian"


"Istri gue di Sma, mending lo kesana"


"Lo tadi naik apa?"


"O-ojek bang"


"Bawa motor gue. Samperin bini gue jagain, jangan sampe kenapa-kenapa" Abid memberikan kunci motor klx-nya.


"Maaf bang, gue gak bisa bawa motor klx lu" Abid menatapnya heran.


"Kenapa?"


"Kaga sampe" Keempat teman Abid menahan tawanya.


"Bentar gue ambil yang lain" Abid masuk kerumahnya.


Tinggallah Rian, dan keempat member Black blood yang lain di halaman rumah. "Lo serius mau jaga atau nggak?"


"Se-se-serius bang"


"Gue tandai lo. Kalau kenapa kenapa, muka lu babak belur atau lebih parah tulang lo patah-patah" ancam Eldi.


Rian menunduk, "G-gue bakal jagain semampu gue bang"


Abid datang. "Ngapain nunduk lagi?"


Rian menggeleng. "Gak apa-apa bang"


Abid menoleh kebelakang. "Lu pada galakin ya?"


"Lo sendiri bilang gak usah su'udzon. Tapi lo su'udzon. Mau digeplak?" tanya Jefri. Abid cengengesan.


"Kali aja"


"Oh iya nih, motor matic"


Ragu-ragu Rian mengambil kuncinya, "Makasih bang.. makasih banyak"


Abid mengangguk. "Abid susah percaya sama orang, dia percaya sama lo. Jadi jangan kecewain dia" kata Rangga.


Rian mengangguk. "Gue gak bakal kecewain bang Abid"


"Baguslah, yaudah sana" Abid menepuk pundak Rian. Rian tersenyum kecil lalu menuju motor Abid untuk menuju Sma Axen.


"Hs... gue pengen belah otaknya Abid. Isinya apa sih?" tanya Tio.


"Gue malah mau bedah hatinya. Mau colong kebaikannya biar jahat" sahut Eldi.


Abid menanggapinya dengan tertawa.


Abid mengambil ponselnya, menelpon Abay untuk meminta beberapa bodyguard. Untuk dirumah, di sekolah Devi Avi Ulfa, dan di Sma.


Tak lama seusai menelepon, helikopter pribadi ayahnya datang.


Flashback off ⌛


Satu setengah jam kemudian, helikopter mereka tiba di atap rumah sakit.


(Kea scene dots yang dijemput di atap rumah sakit itu lo ges >_<)


Abid dan gengnya turun dari helikopter lalu masuk ke rumah sakit. Tak perlu ke meja resepsionis karena Abid sudah di beri tau letak ruangan Heon.


Abid meminta kamar VIP yang bersebelahan agar tidak sulit nantinya.


Ketika Abid dan keempat temannya tiba diruangan Heon. Hanya ada seorang wanita tua yang seumuran dengan ibunya Heon, buk Sitijah.


Beliau juga berasal dari Indonesia, di Malaysia dia bekerja sebagai TKW.


"Nak... Abid ya?" Abid mengangguk.


"Gimana keadaan Heon, tante?"


"Belum siuman dari tadi"


"Nyokapnya Heon?"


"Sama juga, belum siuman"


Mereka menghela nafas.


"Ini salah gue. Kalau gue gak minta bantai balik, mungkin ini gak terjadi" keluh Abid sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Kumatkan" cibir Tio.


"Kebiasaan lo gak ilang-ilang. Selalu salahin diri sendiri" protes Jefri.


"Nyatanya iyakan?"


"Bid, ini bakal tetap terjadi karena Heon gak patuhi kemauan Tama. Jadi lo gak usah nyalahin diri sendiri! Lo salahin diri sendiri keliatan lo nyiksa diri tau nggak?" kata Rangga sambil menatap sinis Abid.


"Impasnya gini. Kalau lo salah, kita juga salah" sambung Eldi.


Abid menghela nafas. "Come on, Bid. Jangan ngebebanin diri sendiri. Lo punya kita untuk berbagi cerita ataupun berbagi masalah, lo juga punya Balqis kan kalau lo gak mau cerita sama kita. Plis, gue minta kedepannya gak ada lagi kata ini salah gue"


"Iyaa iyaa, tapi gue tetep yakin ini sal--"


Abid belum siap bicara, Tio mengalihkan pembicaraan. "Btw, ini gimana ceritanya tante?"


"Begini ceritanya...."