
11.11
Angka yang tertera di jam tangan digital milik Abid.
"Dari tadi pagiii, sampe mau jam makan siang gak balik balik tu anakk. Ngapain cobaa di ruangan Ajo lama lamaa." Omel Abid kesal sambil memakai jasnya.
Abid keluar ruangan dan menuju ruangan Ajo. Ia melihat Balqis dan Ajo sedang memakai hena sembari bercanda ria.
Jujur, Abid cemburu melihatnya. Bagaimanapun jugaa, Ajo itu berbatangg!
"Betah banget disini, yaa?" Tanya Abid kesal.
Balqis dan Ajo menoleh, "ouuu, Pak Bosss. Mau pakai hena juga gak, Pak Boss?"
"Nggak, makasih. Balqis, balik ke ruangan saya."
"Nanti yaa? Yaaaa??"
Abid menatapnya dingin. "Balik!"
"Iya iyaaa."
"Jenggg, nanti aku datang lagi, yaa."
"Iyaa, santuy aja, jengg. Eike tunggu kokk." Jawab Ajo.
"Gak gak. Gak ada kemari lagi. Ajo, kamu disini kerja, bukan main."
"Iyee taulahh. Pak Boss cemburu yaa kalau buk boss sama eike?"
"Jangan ngada-ngada! Balqis, cepat!!"
Sambil tertawa, Balqis menghampiri Abid.
"Byeee, Jeng Ajoo!"
"Mbyee!"
Balqis dan Abid pergi meninggalkan ruangan Ajo.
"Ngapain aja sih disana? Betah banget gak balik balikk."
"Gosip dongg sama Ajoo. Kenapa sii? Balqis diruangan abang juga kan bikin susah abangg."
Abid menatap sinis Balqis karena perkataanya itu.
"Apa matanya?? Balqis benerr!! Tadi ajaa abang gak mau pangku Balqis."
Oh ayolah, ekspresi Balqis saat ini membuat Abid gemas se-gemas-gemasnyaaa!
"Bukan gak mau–" Abid langsung melotot melihat Balqis.
"Kamu pangku-pangkuan sama Ajo??"
"Yaa nggaklahh. Bisa di gosipin ntarrr sama karyawan abangg." Abid bernafas lega.
"Jangan deket-deket Ajo."
"Kenapaa emangg? Ajo asik tauu, bisa diajak gibahh."
"Gimanapun juga Ajo itu cowok! Dia berbatang!"
"Iya tauu, siapa juga yang bilang dia berlub–"
"Astaghfirullaahhh! Gara-gara abang sihh!" Omel Balqis.
"Ya Allah, kamu kenapa sensitif bangett? Pms??" Balqis menggeleng.
Tiba-tiba ia teringat, kapan terakhir dirinya pms??
Ia melihat kearah perutnya, 'ngga ngga. Ahh! Mau periksa takutnya kecewa!' batin Balqis sambil geleng-geleng kepala.
"Kenapa?" Tanya Abid.
"Gapapaaa." Abid yang sudah duduk di kursinya menarik Balqis agar kembali duduk di pangkuannya. Balqis manut, tidak memberontak.
"Kamu beli hena tadi?"
"Nggak. Ajo yang bawa. Abang tau nggak isi tas Ajo apaa?" Abid menggeleng.
"Emang apa isinya?"
"Ada banyaakkk!! Ajo bawaa hena, bawa maskerr wajah yang kek kertas ituu, apa ya namanya Balqis lupa. Pokoknya ituu! Terus di tas Ajo juga ada rokok."
"Ajo merokok?"
"Iyaa. Tapi tadi pas dia merokok Balqis marah karena Balqis gak suka baunya."
"Ajo matiin rokoknya??" Balqis mengangguk.
"Baguslahh. Kalau misal orang yang bersangkutan gak mau berhenti merokok, kamu aja yang menjauh. Pahamm?" Balqis mengangguk lagi.
"Teruss?"
"Terus apaaa? Abang ngapain panggil Balqiss?"
"Lah, gak boleh manggil istri sendiri?"
"Ya gak gitu sii. Tapi kan tadi abang yang kesell karena Balqis ikut."
"Nggaklahh. Mana ada kesell. Keselnya tu karena kamu sama Ajo lengket banget kea cicak sama dinding. Padahal baru kenall!"
"Hmm. Mungkin karena seprekuensii?"
"Gatau lah udah. Gak usah bahas Ajo. Kamu laper gakk??" Balqis mengangguk antusias.
"Balqis pengeennn apa yaa??"
"Mau apa, hmm?" Tanya Abid sambil menelusuri leher Balqis.
"Hihii geliii! Abang jangan buat itu lagiii!"
"Iya, sayangg. Jadinya mau makan apaaa?"
"Eemmm. Apa aja terserahhh!"
"Tapiii.."
"Tapi apa?" Tanya Abid lagi sambil meniup telinga Balqis. Balqis kegelian karena ulahnya, Abid pun tidak lagi meniupnya.
"Tapi apa, sayangg?"
"Tapi Balqis maunya makan disinii, gak mau makan di luarr!"
"Yakinn??" Balqis mengangguk.
"Yaudahh, nantii aku suruh Ajo beli."
"Aku ikut Ajo deh, yaa?"
"Iyaa. Tapi besoknya kamu susah jalan, mau?" Balqis menggeleng sambil cengengesan.
"Abang cemburuuu niii. Cieee," Abid geleng kepala melihat Balqis.
Balqis menyebalkan dan menggemaskan di waktu yang bersamaan.
Abid pun memilih memesan makanan dari aplikasi daripada menyuruh Ajo.
Setelah memesan, Abid menghubungi kepala tim yang tadi pagi bersama Ajo. Ia menyuruh pria itu untuk membawakan makanan itu ke ruangannya.
"Nananaaaa~" Balqis bersenandung sambil memainkan keyboard Abid.
"Kamu tu keliatan seneng banget hari ini. Kenapa cobaa? Bahagia kali ketemu sama Ajo?"
"Hiiihh, jangan ngomong gitu napasiii! Kesel Balqis dengarnya!"
"Iyaa iyaa. Kamu kenapa keliatan seneng banget hari ini?"
"Eumm, gadapapa sii. Btwwww, Balqiss ngerasain.... Abid kecil ehmm!" Abid tertawa mendengarnya.
"Kalau liat cewek sexy gitu juga gak??"
"Cewek lain tu aku skipp lahh. Kamu terpenting."
"Modus sekalii." Abid tertawa lagi.
Balqis berdiri lalu kembali ke pangkuan Abid dengan posisi menghadap Abid.
"Diemm aja, yaa. Aku mau ngurus yang tadi aku tunda." Balqis mengangguk.
Ia diam dan bersandar di dada bidang Abid. Abid membiarkannya, ia sibuk mengetik.
But, Abid sedikit terganggu sekarang. Balqis sedang bermain dengan jakunnya.
Bukan apa apaaa, tapi gerakannya... ehmm.
"Sayaaang, ngapain sih?"
"Leher cowok kok ada jakunnya sih?"
"Cewek juga punya kadang, tapi gak segede cowok keanya." Jawab Abid sambil mendekap bayi gedenya.
"Aaaaakk, ga napassss. Balqis pingsan nii!" Abid tertawa lalu melepasnya.
"Sakit gak, bang??"
"Apaa?"
"Jakunnyaa."
"Nggak, gak ada rasaa."
"Teruss.." Abid menatap mata Balqis.
"Kalau ini sakit, gakk?"
Abid mengerang karena kelakuan istrinya itu.
"J-jangan gituuu." Deep voice Abid pun keluar. Balqis cengengesan, ia diam lagi.
"Kamu jangan macem-macem dehh. Lagi pengen apa gimanaa?"
"Hiiii, mengada-adaa!"
"Jadi maksudnya goy–"
"Ssstt! Jangan berisikk!" Ntah mengapa Abid menurut.
Eem......
"BALQISSSS!" Yang di panggil terkekeh sambil jongkok dekat sofa.
Balqis over jahil!!
Tidak perlu dijelaskan sepertinya kalian tau.
"Kamuu banguninn! Tanggung jawab buruann!"
"Tidak tidaakk. Tidurin ajalah kalah udah bangun."
"Kamu yang banguninn, tanggung jawab cepatt!" Abid mendekati Balqis.
Balqis terus menjauh sambil tertawa.
"Tanggung jawab, sayaaang. Tega kamu liat aku tegang ginii?"
"Salah siapaa mesuman!"
"Salah kamuu yang banguninn!" Omel Abid, berkacak pinggang.
Tok tok!!
Abid menoleh pintu.
"Makanannya datang, pak."
"Okeeee, makasihh, mass!" Jawab Balqis bersemangat. Karyawan Abid pergi.
"Apa tadi? Mas?"
"Hmmm, massss."
"Kok jadi genit istri ku nii, siapa ngajarin??"
"Pria tua bernama Abid Hafizh Althaf."
"Pria tuaa?!"
"Ishh, Balqis capek ketawa. Dah yaa, makan duluu."
"Tidurin duluu."
"Nantiiii, nantii okee? Nantii." Abid pun membiarkan Balqis makan.
Ia makan dengan santai sambil lesehan dekat sofa. Abid baru menyadarinya sekarang, Balqis makan lebih banyak akhir akhir ini.
Abid menghampiri Balqis.
"Mau Balqis suapin??" Abid mengangguk.
Balqis memberikan satu suapan kepada Abid.
Tapi responnya? Abid langsung lari ke kamar mandi dan memuntahkan semuanya. Termasuk makanan yang ia makan tadi pagi.
"Abangg kenapaaa?" Tanya Balqis panik.
"Gapapa kok, mual doang tadi. Kamu lanjut makan aja." Suruh Abid.
Bukannya pergi, Balqis tetap berada disana. Ia mengurut tengkuk Abid.
"Karena Balqis tadii??"
"Nggak, sayaang. Aku mual dikit doang, makan lagi aja ayoo!" Abid menggendong Balqis keluar dari kamar mandi ruangannya.
Ia menyuruh Balqis untuk kembali makan. Abid sendiri hanya menatap Balqis dari kursinya. Wangi makanan tadi membuat Abid mual.
Abid pun menyuruh satpam membeli makanan dari McD, tentunya tanpa sepengetahuan Balqis.
"Abang pucet bangett tauu. Makan, yaa?"
"Kamu aja makan. Nanti aku makan." Abid meletakkan kepalanya di meja dan menyembunyikannya di lipatan tangan.
Balqis yang tau Abid sedang tidak baik baik saja menuju kotak p3k dan mengambil minyak kayu putih.
Balqis mendekati Abid, menarik Abid untuk bersandar kembali kursi. Abid menatapnya heran.
"Kenapa?"
"Gapapaa, dah diem aja kamunya." Balqis mengoleskan minyak kayu putih di tengkuk Abid.
Abid melihat sekilas Balqis yang duduk di paha dan menghadapnya lalu menyandarkan kepala di bahu Balqis.
Balqis memeluknya, "mau pulang?"
"Hm?? Kamu abisin makan aja dulu, nanti kita pulang." Balqis mengangguk setuju, ia turun dari pangkuan Abid.
Balqis menghabiskan makanannya dengan cepat.
"Pelan-pelan ajaa udahh, keselek nanti kamunyaa." Balqis tidak mengikuti arahan Abid, ia tetap makan dengan cepat.
Setelah selesai ia membereskannya sendiri.
"Dah yok pulang!" Abid mendongak.
"Udah siapp?"
"Udahh," Balqis nyengir.
"Untungnya gak keselek kamuu." Abid mengelap sudut bibir Balqis yang celemotan dengan tissue.
Tok tok..
"Permisi, Pak. Maaf mengganggu, ini makanannya." Abid mengambilnya.
"Makasih, yaa."
"Abang ngejunk food? Gak usah ish, nanti Balqis masakin." Balqis menarik kembali makanannya lalu memberikan kepada satpamnya Abid.
"Yok pulangg."
◒◒◒
Abid menuruni tangga, ia baru bangun dari tidur siang. Setelah tiba di rumah tadi, Abid yang lemas langsung tertidur.
Dengan telaten Balqis menggantikan baju Abid tapi tidak dengan celananya.
Kini Abid melihat istrinya sedang masak di dapur. Ia datang dan langsung memeluknya dari belakang.
"Abangg? Udah bangun? Cuma sejam doang tidurnya??"
"Hmm."
"Abang sakit lohh, istirahat aja gih."
"Siapa yang sakit?? Aku? Aku gak sakitt, cuma mual doang. Itupun cuma tadi."
Balqis berbalik. "Abang mual kenapa coba? Balqis panggil dokter yaa?"
"Gak usahh, aku dah baik-baik aja kok."
"Yang benerrr?"
"Iya, sayaangg."
"Yaudah kalau gitu duduk disana. Balqis mau masak, abang harus makann siang."
"Ngga mau ahh."
Balqis menatap sinis Abid. Abid yang ditatap cengengesan lalu duduk di kursi yang tadi ditunjuk Balqis.
"Sayang, bikinkan kopi."
"Nggak! Makan duluu baru minum kopii!"
Abid menuju kulkas mencari makanan.
"Salad dari siapaaa?"
"Dari Kak Jefri. Tadi dia kemari pas abang tidur." Abid berohria.
"Ituu, parsel buah dari siapaa?"
"Itu tadi dari Ajo."
"Ajo kerumah? Tau darimana dia rumah ini??"
"Nahh itu diaa. Balqis juga gak tau darimana."
"Dia datang sama sekretaris abangg." Abid berohria lagi.
Balqis selesai memasak. Ia membuat makanan favoritnya Abid.
"Nih, makan duluu."
Abid kembali ke meja.
"Heummm, enak bangett. Makasih, sayaangg." Abid makan dengan lahap.
"Jangan sakit sakit, yaa? Kalau abang sakit ntar yang Balqis gangguin siapaa? Masa iya Balqis ganggu Kak Biyuu."
"Hiiss, dassrr! Makan bareng ayok."
"Balqis kenyang, abang aja makan." Abid pun makan sendirian. Balqis memandangnya sambil tersenyum.
Drtt.. Drtt..
Balqis yang mengambil ponsel Abid.
"Ayahh."
"Angkat, kamu aja yang ngomong."
Balqis menuruti kemauan Abid.
"Halo, assalamu'alaikum. Ini Balqis, yahh."
📞 "Abid mana, nakk?"
"Lagi makan, yahh. Kenapaa?"
📞 "Ni haa, adek ipar kamu merengek pengen kalian kesinii."
"Twapi Abwid bwaru–"
"Telen duluu." Omel Balqis, Abid mengunyah dengan cepat lalu menelannya.
"Tapii, baru baru inii Abid kesana."
📞 "Adek mu ni sakit, Bid."
"Dua dua?"
📞 "Avi doang."
"Modusss ituu! Minta di beliin pss."
Plakk!
Balqis memukul lengannya.
"Ga boleh su'udzon gitu. Ya kali orang sakit di buat buattt."
Abid tidak merespon lagi, ia sibuk makan.
📞 "Jadiii, bisa kesini nggakk??"
"Nanti malam Abid kesana."
📞 "Kak Balqis ikut kaann?" Tanya Avi.
"Iyaa, kakak ikutt." Jawab Balqis.
📞 "Abangg, jan lupa bawain ps baru yaa."
Tut tuutt..
Panggilan dimatikan.
"Betul kan, modus minta ps baruu." Abid kesal.
"Yaa kan abang punya duit, apa salahnya beliin adek sendirii?"
"Kamu mah belain Avi terusss. Nanti dia ngelunjak tauu!"
"Nggaak, Avi tu tau batasannya kokk. Bukan Balqis bela Avi teruss, tapikan benerr. Apa salahnya beliin Avi ps?"
"Ya ya yaa, nanti di beliin."
Balqis tersenyum, ia mengelus pipi Abid lembut. "Good boyy."
"Ku suruh milih, pilih aku atau Avi?"
"Atau."
"Uwahh, gak ada yang dipilihh." Balqis tertawa.
"Pertanyaan macam apa ituu?? Abang, Avi, Devi tu penting buat Balqis."
"Masa siii?"
"Jangan nyebelin gitu, ya!!" Abid tersenyum meledek.
"Liat Avi Devi, Balqis keinget Ulfa."
Melihat Balqis sedih, Abid menggenggam erat tangan Balqis.
"Ahh udahh. Gak boleh cengenggg. Balqis ke kamar duluan, yaa!" Ia langsung pergi meninggalkan Abid.
Abid sudah selesai makan. Kenyang sih kenyang, tapi bagi Abid masih kurang.
Ia mengambil salad buah tadi dan memakannya.
"Ehh, Mas Abid."
"Jangan panggil saya mas!" Gea auto terdiam.
Abid sudah tidak mood dengan saladnya, ia meletakkan kembali salad itu lalu masuk ke kamar.
"Sayang, kamu gak ada niatan ganti pembantu?" Tanya Abid setibanya di kamar.
"Enggak. Mbak Gea tu bersih bangett tauu, nyuci piring ajaaa sampe kinclong. Emang kenapa nanya sii, kok nanya gitu?"
"Gak tau kenapaa, firasat ku gak enak aja tentang dia. Dari awal ketemu juga udah gak enakk. Kamu tau kann, firasatku selalu benerr."