A B I D

A B I D
– Pesaing



"Ayok turun" ajak Balqis.


"Ntar lagi lah"


"Astaghfirullah, udah ditunggu kok jadi gak tau diri pak?" Abid menatap datar Balqis. "Bukan gak tau diri, suami mu ini masih kesal dan lelah"


"Halahhh lelah lelah prett"


"Kok ngebantah?"


"Kok galak?"


"Kamu aja yang pergi sana, saya gak pergi"


'Kok ngomong formal? Kak Abid ngambek? Eh serius?? Gara-gara tadi doang?? Ya Allah, baby gede kalau ngambek imut bangett la'


Ntah darimana keberaniannya muncul, ia mendekat untuk membujuk baby gede yang sedang merajuk. "Sayangg jangan ngambek dongg"


Abid diam.


Dia pergi menuju sofa, memainkan remot televisi untuk mencari channel yang enak di tonton. "Sayaangg, maaf deh maaf"


"Kakkk ish, kok ngambek sih??"


"Kak, bu Jihan udah nunggu tauu"


"Kakkkkk"


"Sayanggg" Abid masih diam, dia beranjak dari sofa berjalan menuju dapur. Abid mengambil minum dingin.


Di perbatasan antara dapur menuju ruang tamu, Balqis mencegatnya. Abid bergeser ke kiri, Balqis mengikutinya.


Abid menatap datar Balqis, Balqis cengengesan. "Minggir"


"Isshh jangan ngambek gitu dongg" Abid ingin berpindah, tapi tiba-tiba Balqis memeluknya.


"Jangan ngambek dong, mas"


"Mas?" Balqis mendongak lalu mengangguk. "Mas Abid mas MasyaAllah"


Abid diam menahan tawanya. Balqis terus menatap Abid, menatap dengan mata puppy nya. Balqis berjinjit lalu....


Cup~


Cup~


Cup~


"Udahh jangan ngambek okey?" Balqis langsung pergi menuju ruang tamu.


Sedangkan Abid, dia masih diam di tempat sambil senyum. Serangan dadakan membuatnya gugup bukan main. Tukang nyosor yang gugup ketika di sosor duluan, itulah Abid.


"Heh ngapain bengong" ledek Balqis sedikit terkekeh.


Abid tersadar, dia mendekat pada Balqis. "Istri nakalll"


"Hehe, ayoook" ajak Balqis.


"Kemana? Kamar?"


"Kebawahhh la, ngapa jadi ke kamar kak"


"Kali aja pengen"


"Kakak yang pengen? Pengen apa?"


"Nggak, gak ada"


"Yaudah ayok" Abid mengambil tas nya dan tas Balqis.


"Punya Balqis berat, biar Balqis aja"


"Karena berat itulah makanya gue ambil alih, apa gunanya cowok ganteng di sini kalau gak bisa ringan kan beban"


"Dih, cowok gantengg. Emang ganteng sihh, kelewatan gantengnya" Abid tertawa. Mereka pun pergi menghampiri bu Jihan.


Tok tok tok..


"Bu Jihan"


Bu Jihan membuka kaca mobilnya, "Ayo naik". Mereka berdua tersenyum lalu masuk ke mobil.


"Jalan pak" titah bu Jihan, supir bu Jihan mulai mengemudi kan mobilnya.


"Kok lama sekali, bid? Saya lelah nunggunya"


"Ahh itu tadi buk bangunin Balqis dulu, ketiduran di apartemen saya tadi. Susah di banguninnya Balqisnya, kebo banget" Balqis langsung menatap sinis Abid. Abid membalas dengan senyuman manisnya.


"Kalian bedua tadi di dalam satu apartemen??"


"Hah? Iya buk, tadi kan saya di obatin Balqis. Daripada bulak-balik ibu dari sini ke sekolah lagi. Jadi saya bawa Balqis"


"Bener sih, biar gak ngulur waktu lebih lama"


"Ibu sendiri kok ikut jemput saya? Kata ibu tadi cuma supir ibu" tanya Abid.


"Saya ada urusan tadi, daripada supir saya juga bulak-balik lebih bagus sekalian" Abid mengangguk paham.


"Udah mulai belum disanaa buk?" Buk Jihan menggeleng.


"Belum di mulai karena saya belum disana. Bersyukurlah kalian ikut di tunggu sekarang. Jadinya gak telat"


"Haha, makasih sudah di jemput dan sudah di tunggu buk" Bu Jihan tersenyum di depan.


"Saya bertanya-tanya nih..." Bu Jihan membalikkan badan.


"Kenapa buk?" tanya Abid lagi.


"Kalian punya hubungan?" Balqis terdiam, sedangkan Abid masih mencoba untuk stay cool.


"Nggak lah buk, hubungan apa"


"Pacaran gitu atau apa? Saya denger dari dewan guru kalian berdua punya hubungan. Karena beberapa hari terakhir kek sering banget barengan" jawab Bu Jihan, beliau kembali menghadap ke depan.


"Ya hubungan seperti abang adek biasa lah buk. Ibu tau sendiri saya orangnya ramah, baik hati, rajin menabung, dan tidak sombong. Jadi, bisa aja deket buk"


"Ramah apanya, kamu dulu bodo amat bid, bid" Abid cengengesan. "Setiap manusia pasti ada perubahan buk"


"Iya iya. Terus kalian gak berniat pacaran?"


'firasat aku aja kali ya? bu Jihan rada aneh' pikir Balqis.


"Saya lebih suka ta'aruf buk daripada pacaran. Kemungkinan Balqis calon istri saya bukan calon pacar saya" Bu Jihan tertawa pelan.


"Kamu tukang ngardus ya, bid"


"Saya tukang ojek buk bukan tukang ngardus"


"Iya juga ya" Mereka tertawa bersama.


'aku ga kebagian dialog' batin Balqis.


"Masih ngojek kamu?"


"Masih sebenarnya buk, cuma saya terlalu sibuk. Jadinya gak sempat"


"Sibuk? Kamu sibuk apa?"


"Sibuk rebahan, buk"


Hampir satu jam perjalanan, mereka pun tiba di tempat camping. "Akhirnya sampe" ujar Bu Jihan lega.


Bu Jihan melihat kebelakang, ternyata kedua siswa-siswi nya tertidur pulas. Bu Jihan terkekeh melihat Abid tidur.


"Abid, Balqis bangun! Hey bangun!!" Balqis mengerjapkan matanya.


"Eh udah sampe buk?" tanya Balqis, bu Jihan mengangguk sambil senyum.


"Bangunin Abid ya, saya turun dulu" Balqis tersenyum. Bu Jihan keluar dari mobilnya.


Balqis membangunkan Abid dengan menoel-noel pipinya, "Bangun pak udah sampe"


Bukannya bangun, Abid malah mencari posisi enak. "Gini ngomongin orang keboo, padahal sendirinya lebih kebo" Balqis menepuk-nepuk pipi Abid. "Bangunnnnn"


Ide jahil timbul di otak Balqis, Balqis mengangkat sedikit kepala Abid. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Abid, "Bangunnn kak" bisik Balqis.


Abid sedikit terganggu, namun matanya belum terbuka. Balqis menghembuskan nafasnya di area leher Abid.


"Kok makin nakal" suara serak khas bangun tidur terdengar.


"Eh udah bangun" Balqis tersenyum kecil.


"Jangan gemesin gitu mukanyaa" ujar Abid kesal.


"Balqis emang gemesin dari lahir" Abid tertawa lalu mengelus rambut Balqis.


"Udah sampe? Bu Jihan mana?"


"Udah keluar, ayok turunn pak kebo"


"Aku turun duluan, kamu tunggu disini" Abid memegang kacamata hitamnya. Perlahan-lahan dia keluar sambil memakai kacamatanya tadi.


Sontak semua siswi berteriak. Abid terlihat begitu tampan dengan kacamatanya.


"Kak Abid gantengnya gak ada akhlakk!!!"


"Ganteng bangett woii. Anaknya besok ganteng juga pasti"


"Kalo cowok"


"Yaiya kalo cowok, masa iya cewek ganteng"


"Kalo cewek cantik kayak gue"


"Lu?"


"Kan gue calon istrinya"


"Halu maymunahh!!"


Abid terkekeh mendengarnya, "Semoga kalian gak patah hati mendengar pujaan hati kalian ini sudah beristri" gumam Abid.


Setelah selesai bergaya, Abid berjalan ke sisi mobil, ia membukakan pintu untuk Balqis. Balqis keluar perlahan sambil menunduk.


"Balqis? Kok sama Balqis?"


"Jangan bilang mereka pacaran?!"


"Gue sakit hati sih!!"


"Ini lebih sakit dibanding denger bias dating"


"Lebayyy"


"Mereka keliatan gak cocok"


Abid menoleh ke Balqis. "Gak usah peduliin. Kita cocok kok, sama kayak sendok dan garpu yang saling melengkapi" Balqis tersenyum meski tetap menunduk.


"Jangan nunduk, gue gak suka liatnya" Balqis menatap Abid. "Lu gabung sana sama temen lu. Kalau Silvia berulah telepon gue!! Paham?" Balqis mengangguk.


"Yaudah sana" Abid mengambilkan barang Balqis lalu memperhatikan Balqis yang berjalan menuju teman-temannya.


Setelah di rasa aman, Abid menuju Rangga dan yang lain. "Untung lu dateng. Kalau kagak, apartemen lu gue bom" cibir Rangga.


"Gue tau lu pada ga bisa hidup gak ada gue"


"Najisss" Abid tertawa.


"Keliatannya rame banget lah"


"Johan sama Shelia aja datang" ujar Eldi. Mereka menatap Eldi, "Serius lu??" tanya Tio.


"Ho'oh, gue liat tadi"


"Beduaan gitu datangnya??"


"Nggak lah begoo. Gue rasa udah cere mereka"


Mereka terkekeh, "Si goblokkk asbunn"


"Oh iya si Chandra disini juga"


"Chandra??" Jefri mengangguk.


"Chandra Syahreza"


-▪-


"Chandra Syahreza siapa??"


"Lu gak tau cis?" tanya Ayu.


"Dia baru masuk markonah, mana la tau" jawab Indira.


"Oh iya lupa, hehe"


"Gue jelasin deh. Kak Chandra itu sebelas dua belas sama kak Abid. Sama gantengnya sama kerennya sama berbakatnya, terus juga sama sama kelas dua belas. Yang bedain mereka berdua, kak Chandra lebih ramah, lebih welcome gitu sih sama cewek" ujar Indira.


"Kak Chandra itu goodboy, kak Abid badboy" sahut Vane.


'Aku rasa lebih bagus kak Abid, aku suka pria cuek daripada pria welcome seperti keset' batin Balqis.


"Huftt.. Karena kak Chandra masuk sekarang, gue mau gandain tubuh" ujar Ayu.


"Gandain tubuh??"


"Satu buat kak Abid, satu buat kak Chandra"


"Ngaluuuuuu" Ayu tertawa.


"Eh, tapi kak Abid lebih di banggakan sama bu Jihan daripada kak Chandra"


"Kenapa?" tanya Balqis.


"Piala sekolah di dominasi usaha kak Abid, mulai dari akademik sampe non akademik. Kak Abid lebih banyak ngumpulin"


"Benerr lu,Van. Kalau kak Abid sepuluh, kak Chandra itu enam"


"Mereka pesaing kuat, dalam segala bidang. Tapi kak Abid cenderung bodo amat sih, soal bersaing"


"Terus kak Chandra itu kenapa baru masuk?" tanya Balqis.


"Dia koma karena kecelakaan pesawat, gue denger sih dia baru sadar dua bulan yang lalu"


"Kak Abid atau kak Chandra. Gantengan mana?" tanya Ayu.


"Gue sih... kak Abid"