
Beberapa bulan kemudian..
Malam ini, malam terakhir Abid belajar untuk ujian terakhir di sekolahnya.
Bentar lagi ia akan lulus dan keluar dari SMA yang menyiksa batinnya.
"Rajin amat, boss" goda Balqis yang berada di belakang Abid.
"Biar bisa banggain kamu" jawab Abid sambil memutar kursinya.
"Abang mah tiap hari banggain Balqis"
"Masaa??"
"Iyaa, abang selalu banggain dan bahagiain Balqis dengan berbagai macam cara."
"Alhamdulillah kalau gitu"
"Hmm.. Bersyukur banget punya abangg. Jangan berubahh, yaa?"
Cup~
"Iya sayangg, gak bakal kok. Cinta aku mentok di kamu" Pipi Balqis merona mendengarnya.
"Udahan ah belajarnya, nonton yuk"
"Iss, aturannya gak usah Balqis ganggu tadi"
"Aku belajar udah tiga jam lebih, ntar depresi kalau kebanyakan belajar"
"Yaudah deh, terus mau ngapain??"
"Buatin aku es krim"
"Malem malem mau makan es krim?"
"Iya, aku tunggu di depan tv yaa" Abid mengecup kening Balqis lalu keluar ruangan.
Balqis dengan senyuman merekah di bibirnya langsung pergi menuju dapur untuk membuatkan Abid es krim.
Abid adalah pria dewasa yang suka kartun. Ia lebih suka menonton kartun dari pada menonton sinetron.
Ting tong...
Ting tong...
Balqis yang di dapur hendak menuju pintu, "aku ajaaa" sahut Abid. Ia membuka pintunya.
"Mama, papa? Ayah, bundaa?"
"Anak nakal!! Kenapa gak pernah main ke rumahh?!" tanya mamanya Balqis sinis, Abid cengengesan.
"Sibuk ma, serius deh. Abid kan juga lagi ujiann" Mama-nya Balqis langsung mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ma, salam duluuu" sahut papa Balqis.
"Oh iyaa, assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam" Abid menyalami tangan mereka kemudian mempersilahkan masuk.
"Ehhh, ayah bunda? Mama papa?? Kok dadakann??"
"Ohh jadi maksudnya kami gak boleh main??"
"Astaghfirullah mamaa, sensi bangett" keluh Balqis sambil menyalami tangan papa mama dan mertuanya. "Maksud Balqis tu, kenapa gak bilang kalau mamaa papa sama ayah bunda mau kesinii??"
"Lewat sekilas doang tadi, jadi mau sekalian mampir" jawab bunda Abid. Balqis dan Abid berohria.
"Mama papa, ayah bunda mau minum apa?"
"Nggak usah, nanti kita ambil sendiri" jawab papa Balqis.
"Iya gak usah, kamu duduk anteng aja" sahut mamanya.
"Balqis, ayah mau tanya. Abid beliin yang kamu mau nggakk?" tanya ayah Abid.
"Hah?? Di beliin kok, yah."
"Jujur aja sama ayah, gak usah takut. Dia pelit gak? Dia kdrt nggak?"
"Iya ayah, Balqis udah jujur kok. Bang Abid gak pelit dan gak pernah kdrt-in Balqis."
"Kdrt darimana, cowok seganteng gue mustahil nyakitin cewek." lirih Abid. Abay langsung menatap Abid sinis.
"Apa ayah? Abid gak pernah kdrt, sumpahh" Ayahnya tetap diam sambil menatap sinis.
"Abid ganteng ya, yah? Ayah rindu Abid pasti, makanya natap begini. Uwuww"
"Uwu uwu ndasmu!! Punya anak kok gini modelnya." Abid cengengesan.
"Jangan sampe mantu ayah kenapa-kenapa ya Abid! Sampe lecet dikit, masa depan kamu ayah potong"
Abid jadi susah bernafas mendengarnya, ia menoleh ke bawah lalu mendongak lagi. "Kalau di potong gimana cara buat cucunya ayah?"
"UANG GAJI MAKSUDNYA ABID, BUKAN ITU. OTAK KAMU TUH YAA!!" Abid cengengesan.
"Ya mana Abid tau kalau uang gaji. Lagian kenapa uang gaji Abid di potong, kan perusahaan udah di tangan Abid."
"Anggota kamu laporan uang tetep ke ayah, jadi, ayah bisa potong gaji kamu diem-diem"
"Jangan jangannnnn..."
"Gak usah su'udzon, ayah tabok nanti" Mereka terkekeh.
"Nak Abid, Balqis nya manja nggak selama hampir setahun sama kamu?"
"Manja banget ma, tapi Abid suka kok. Jadi makin cinta malah" Balqis langsung mencubit paha Abid. Abid menatapnya sambil senyum-senyum.
"Sabar ya Balqis, semoga gak tertekan menikah sama anak bunda yang gak ada akhlak ini" Balqis tertawa pelan.
"Iya bunda"
"Abid, Balqis masakin kamu nggak tiap hari?" tanya papa Balqis.
"Dimasakin kok pa, tiap hari"
"Sering keasinan? Atau kepedasan?"
"Pas, ma"
"Baguslah kalau gitu" Abid tersenyum.
"Kamu kapan mau beli rumah? Kan udah punya uang banyakk"
"Menurut Balqis di apartemen dulu juga gapapa, yah. Kan cuma berdua" jawab Balqis.
"Ya tapikan gak lama lagi bakal bertiga, berempat, atau mungkin bersepuluh" jawab Abay.
"Yang terakhir kebanyakan heh!!" protes bunda Abid.
"Bisa bikin timnas tau, bun. Mantep" balas Abay.
"Ntar aku jadi wasitnya" sahut papa Balqis.
"Busett dahhhh, ampunnnn" keluh mama Balqis. Abid tertawa melihatnya.
"Abid maunya enam yah"
"Enam? Kenapa?"
"Iya enam, tapi kembar. Kan jadinya dua belas"
Pletakk!!
"Bengek bini mu!" Abid cengengesan sambil mengelus kepalanya yang di sentil sang bunda.
"Nggak kok bun, semaunya Balqis aja. Kalau Balqis mau lebih dari segitu juga Abid ikut ikut aja" Balqis mencubit Abid lagi.
"Merahh inii bekasnyaa sayangg" keluh Abid. Balqis pura-pura tidak tau.
"Jadinya mau berapa bid??" tanya Edward.
"Tanya Balqis coba, pa"
"Berapa nak?"
"Berapa apanya?"
"Gak usah sok gak tau gitu kamuu" bisik Abid. Balqis menatap garang Abid.
"Balqis mah pasrah, sedikasihnya sama Allah"
"Terus kapan buatnya?" tanya Edward langsung.
"Papa ngebet pengen punya cucu??" tanya Abid.
"Iya"
"Tapikan Auzy adaa" sahut Balqis.
"Iya ada, tapi papa mau lagi"
"Gimana kalau papa buat aja lagi adek untuk Ulfa" usul Abid.
"Nahh ide bagussss" ujar Abay.
♤♤♤
09.27, kantin sekolah.
"AKHIRNYAAAA OTAK GUE REFRESH!!" sorak Rangga gembira.
"Ujian terakhir bikin otak gue kebelit-belitt" keluh Eldi.
"Otak lu udah kebelit-belitt sejak dulu" sahut Jefri.
"Ot--"
"Gelut teross, pusing guaaa. Mending lu pada pesen makanan, gua bayarin"
"Nahhh, baguss biddd!" Tio langsung memesan makanan dan minumannya, yang lain juga melakukan hal yang sama.
"Stress gue, tambah stresss lagi liat Fany sama Rangga" ujar Eldi sembari melirik Rangga yang bersandar di bahu Fany.
"Sabar el, jodoh lu pasti lagi rebahan dirumah"
"Yang baca ini kan yaa?"
"Iyaa, lagi rebahan dua puluh empat per tujuh" jawab Rangga sambil cengengesan. Mereka terkekeh pelan.
"Besok refresing yuuukkkk" Ajak Tio.
"Kemanaa?"
"Kemana aja terserahh, besok kan bisa boloss"
"Bolos matamu, abis ujian kok bolos" cibir Abid.
"Tobat ceritanya, pak?" Abid cengengesan.
"Udah, pokoknya kita bolos besok!"
"Gak lulus mampussss lu" ledek Rangga.
Abid menggelengkan kepala mendengar Rangga dan Tio yang mulai adu mulut.
Ia melihat sekelilingnya mencari keberadaan sang istri, oh ternyata baru tiba di kantin.
Abid tersenyum menatap istrinya, "makan yang banyak. Abang yang bayar" ujar Abid tanpa suara. Balqis yang juga menatap nya mengangguk sambil tersenyum.
"Bayarr sendirii maunya, biar uang abang gak abiiss" Abid tertawa pelan, padahal uang Balqis berasal dari Abid.
"Balqis antri duluu" Abid mengangguk sebagai jawaban. Ia terus menatap Balqis yang sedang antri makanan.
Di belakang Balqis, seorang siswa juga menunggu antrian. Siswa itu melirik kanan kiri kemudian mengambil ponselnya di saku lalu di jatuhkan.
Abid menatap tajam kelakuan siswa itu, ia berdiri dari kursinya langsung menendang siswa tadi.
Balqis menatap heran Abid lalu menariknya, teman-teman Abid juga ikut menenangkan Abid.
"Lo kenapaaa bangsulll?!" tanya Eldi heran. Abid tidak menjawab dia merampas ponsel siswa tadi.
"Kebanyakan nonton bokepp lu hah?! Nggak ada otak!!" Abid membanting ponselnya lalu diinjak.
"Abangg, kenapaa sihh?!" tanya Balqis heran.
"Dia ambil foto dari bawahhh! Kamu kan pake rokk"
"Oalaaaaa badjingannn" Rangga langsung memukul wajahnya.
"Eetss, udahh udahh tahann. Emosian banget jadi orangg" lerai Jefri.
Tio meleles ponsel siswa itu, masih bisa hidup meskipun retak.
"Weiii anjrotttt, banyak bangettt gilaaa. Bukan cuma Balqis doang ini mahh" ujar Tio. Mereka langsung melihat.
"Sampah lu yaaa!!" Abid berancang-ancang menendang pria itu.
Namun terhenti karena..
"ABIIDD!!" pak Dayat datang meneriaki namanya.
"Astaghfirullah, kamu bisa gak sih sehari gak buat keributan?!"
"Gak" jawab Abid langsung.
"Ada masalah apaaa ini?!" tanya pak Dayat. Tio menunjukkan fotonya.
"Mesum banget parahh" sahut Eldi.
"Semesum-mesumnya Rangga, lebih mesum dia ternyata" Rangga langsung menatap sinis Eldi.
"Kamu ikut saya ke ruangan!!" Pak Dayat menggeret siswa tadi.
"Abid juga! Kamu udah main hakim sendiri"
"Harusnya berdua pak?" respon Jefri. Pak Dayat tidak menjawab, ia langsung pergi ke ruangannya.
Abid menghela nafas lalu menatap Balqis yang keringet dingin. Abid mengelap keringat Balqis dengan bajunya.
"Besok-besok kalau lagi ngantri, liat kanan kiri depan belakang. Kalau ketemu kayak gitu lagi tendang aja pistolnya, paham?!" Balqis mengangguk. Abid langsung memeluknya erat.
"Ada foto nya Fany gak?" tanya Rangga.
"Kan di foto gak dikasih nama oon" sahut Eldi kesal.
"Iss, heran. Kok ada manusia kek gituu!"
"Sebelas duabelas nya itu sama Rangga"
"Gue lagi yang kena, mau gue tampar kanan kiri??" Eldi cengengesan sambil menggeleng.
"Jaga Balqis, gue mau ke ruangan pak Dayat dulu" titah Abid. Mereka mengangguk, Fany langsung menarik Balqis. Abid pun pergi menuju ruangan pak Dayat.
▪▪▪
16.35
"Abaaangg"
"Apa sayaaaang??" teriak Abid dari ruangan kerjanya.
"Gak mo makann?"
"Naaantii"
Tok tok tok..
"Lah ngapa ketok pintu ni anak?!" tanya Abid heran. Ia langsung membukakan pintu untuk Balqis.
"Kenapa sayang?"
"Em... itu.."
"Apaa?"
"Kamu rapi banget mau kemana?"
"Mau maiin hehe, boleh kan ya??"
"No"
"Ihhh kenapaaa?"
"Semalam kamu baru main ya sayang, kenapa main terus?!"
"Itu em.."
"Kenapaa?"
"Iss, Balqis butuh refreshing" Abid langsung masuk ke kamarnya. Mengganti baju kaosnya dengan hoodie kemudian keluar lagi.
"Abang mau kemanaa??"
"Mau refreshing kann?" Balqis mengangguk.
"Ya ayo sama aku"
"Tapi kerjaannyaa?"
"Besok, udah ayo" Abid menarik tangan Balqis. Balqis memeluk Abid lalu mengecupnya sekilas.
"Peka bangettt" Ia keluar duluan.
"Oh ternyata ngode yaa?!" Balqis tertawa kemudian berlari. Abid mengejarnya sampai masuk mobil.
"Semalem beneran sama temen-temen??" Balqis mengangguk.
"Yakali Balqis sendiri, ntar digodain om-om" Abid tertawa pelan.
"Kita mau kemana??" tanya Balqis.
"Emm.. kemana aja deh. Ntar nginep di hotel"
"Hahh?? Ngapain ke hotel??"
"Siapa tau mau bikin"
"NGACOOOOO!"