
Abid terbangun dari tidurnya tepat pukul tujuh pagi. Untungnya ini hari minggu, jadi dia bebas ingin bangun jam berapa pun.
Abid langsung mendudukkan tubuhnya di kasur. Tercium, sangat tercium bau alkohol dari tubuhnya. "Gue gak nganeh-nganeh kan kemaren?!" Abid bermonolog.
Abid pun memilih mengambil baju dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai dia keluar.
Abid terkejut melihat teman-temannya semua tidur di ruang tamu. Abid pergi ke dapur mencari makanan karena dirinya lapar. Yang ditemukan di dapur hanyalah Balqis.
"Kak Abid dabangun?" tanya Balqis.
"Oh hmm"
"Gue kemaren pulang dianterin mereka?" Balqis mengangguk.
"Gue.. gak nganeh-nganeh kan?" Balqis menggeleng.
"Serius?" Balqis mengangguk.
Abid memasang wajah kesalnya yang cenderung lucu imut-imut. "Kayak puasa ngomong aja. Kalau nggak ngangguk geleng" Balqis tertawa.
"Nasi goreng udah siap. Bangunin yang lain gih, sarapan" suruh Balqis.
Balqis berjalan menuju ke kamarnya. Tepat bersampingan dengan Abid, tangannya di tahan. "Thank you"
"Gaperlu lah" Balqis tersenyum lalu pergi ke kamarnya.
Abid mengikuti Balqis ke kamarnya. "Kak Abid mau apa?" tanya Balqis heran.
"Protes"
"Gue mau protes. Kenapa lo gak bangunin gue subuh?!"
"Ah iya.. Balqis lupa kak, Balqis juga kesiangan" elak Balqis.
"Next time lupa, gue hukum" Abid langsung keluar. Balqis cengengesan melihat tingkah Abid.
'aku gak tau ini keberuntungan atau tidak. tapi aku beruntung bisa miliki kak Abid meskipun hanya satu tahun' batin Balqis.
Lain halnya Abid yang baru keluar dari kamar Balqis langsung berhadapan dengan keempat temannya.
"Lo pada ngagetin gua anjj"
"Gada ngeles lagi, lo harus jelasin ke kita ada apa kemaren" tuntut Jefri.
Abid berjalan santai menuju ruang keluarga, lalu menghidupkan televisi. "Gak ada apa apa, semua baik-baik aja"
"Bid, gak usah bohong deh. Lo semalam tu mabuk. Lo gak pernah mabuk kecuali ada hal berat dan itu sangat berat. Lo jujurrr" kata Rangga ngegas.
"Gue gak mabuk"
"Gak mabuk apaaa pula?! Lo habis tiga botol gila!!" protes Tio. Abid berpura-pura mengingat sesuatu, padahal dia mengingat semuanya barusan.
"Lo selalu paksa kita buat gak sembunyikan apapun dari lo. Tapi lo sendiri nyembunyiin sesuatu dari kita!" Eldi ikut memaksa Abid.
Abid diam lalu mencari remot tv. "Lo gak pernah anggap kita temen bid?"
Satu kalimat yang berhasil membuat Abid terpaku. Abid diam seribu bahasa. Terkejut dengan apa yang ditanyakan Rangga.
Abid menghela nafas. "Gue gak mau kalian kepikiran. Biar jadi pikiran gue"
"Lo mau gila? Lo pendem semuanya. Lo pikirin semuanya tanpa kita rundingan apapun. Lo kira bagus? Yang ada lo gila sendiri, Bid!!" kata Tio.
"Jujur sekarang ada apa" suruh Jefri.
"Gue laper. Kita makan dulu" ajak Abid.
"BID!!"
"Gue jelasin sambil makan"
Abid pergi duluan menuju ruang makan. "Kalau lo bohong gue gak segan-segan nabok lo!"
Abid berdehem. Mereka semua menyusul Abid ke ruang makan. "Kakak kakak mau kopi atau teh?" tanya Balqis yang baru selesai mandi.
"Mineral water" jawab mereka kompak kecuali Abid.
"Air putih aja bilang sok-sokan mineral water" cibir Abid. Mereka tak merespon.
"Makan bareng sekalian" ajak Jefri pada Balqis.
"Duluan aja kak, Balqis belom laper"
"Makan" suruh Abid tegas tak ingin dibantah. Balqis pun duduk di kursi sebelah Abid. Mereka mulai sarapan.
"Jadi bid?"
"Makan dulu" suruh Abid.
"Lo beneran mau gue tabok? Lo bilang jelasin sambil makann!!"
Abid meminum air putihnya. Di menghela nafas lalu mulai menceritakan semua kejadian demi kejadian yang dialaminya semalam, sampai mereka semua selesai makan.
"Jadi.. selama ini gue benerr? Lo berdua pasutri?" tanya Eldi.
"Baru semalem! Nyimak kek" kata Abid kesal.
"Ketua mendahului"
"Fans patah hati"
"Eh diem anjyng! Jangan sampe kesebar"
"Santai aja kali bid. Kagak bakal kesebar, percaya deh"
"Bagus lah kalau gitu"
"Terus tadi malem.. oh iya Abid kan mabuk"
"Guee lagii" Abid tertawa.
"Ketawa fake!"
"Heon mana?" Abid mengalihkan topik.
"Itu dia, gue gak ada liat dia semalam. Gue telepon gak diangkat. Gue curiga dia khianat untuk yang kedua kalinya"
"Gue gak yakin. Lo pada ke ruang keluarga duluan" suruh Abid.
"Lo mau ngapain?" tanya Tio.
"Udah sana"
"Ayoklah yok, pasutri ada urusan"
"Gue tendang mau lo?!!" Jefri tertawa. Mereka berempat pergi ke ruang keluarga.
Di ruang makan, Abid membantu Balqis membersihkan meja. "Kakak sama mereka aja. Balqis bisa sendiri kok"
"Ntar lo kecapekan, sakit, yang ribet siapa? Gue" Alasan yang muncul dari otak cerdas Abid.
"Mana jam?" tanya Abid. Balqis menunjuk jam yang ada di dapur.
"Ck. Jam tangan yang gue kasih di Bali?"
"Oh, itu dikamar kak"
"Gue bilang pake tiap detik kecuali mandi. Kenapa dilepas?" tanya Abid sinis.
"I... ya tadi ketinggalan kak"
"Ambil"
"Nanti aja ya kak.. Balqis juga kan mau cuci piring"
"Ambil"
"Yaudah iyaaa" Balqis mengambil jamnya. Abid pun beralih dengan piring-piring dan mencucinya.
Abid benar-benar tidak ingin Balqis kecapekan. Makanya dia mencari alasan agar Balqis pergi sejenak. "Loh kak Abid.."
"Diem ditempat atau nggak gue cium" Abid merutuki mulutnya yang sangat sangat tidak terkondisi.
'asal ceploss bidd! bibir seksi yang berdosa' batin Abid.
Balqis diam di tempat. Belom siap untuk hal berikutnya yang terjadi.
Sampai akhirnya Abid selesai mencuci piring. "Istirahat" Abid mengacak rambut Balqis lalu melewatinya. Balqis masih diam di tempat.
'kak abid kenapa selalu bersikap manis sih?!'
☪
"Ngapain bid beduaan?" tanya Rangga dengan nada meledek. Abid menatap Rangga datar.
"Ketua bisa digoda sekarang" ledek Tio.
"Laknat" Mereka tertawa.
"Eh, Bid, Heon kayaknya beneran ngianatin kita lagi deh" ujar Jefri.
"Tau darimana?"
"Dia ngilang coy. Gue nelpon dia berkali-kali tetep gak diangkat" kata Tio.
"Ada 2 kemungkinan yang udah melintas di otak gue"
"Kemungkinan pertama, dia beneran ngianatin kita, dan sekarang dia ngilang karena malu ngelakuin hal itu" ujar Abid.
"Kemungkinan kedua, dia di paksa buat ngehianatin kita tapi dia milih ngilang dari mereka dan juga ngilang dari kita"
"Tapi semalam dia baik baik ke lo kan, ke kita juga gitu" kata Eldi.
"Dia sedikit berbeda semalam" sahut Rangga.
"Gue ngerasa kemungkinan pertama mendominasi. Penembak kemaren, keliatan amatiran, atau mungkin dia sengaja ngelakuin hal itu karena gak mau ngelukain siapapun. Dan disini, gue ngerasa Heon dalam bahaya. Kalau beneran itu Heon sengaja gak mau ngelukain siapapun, Tama pasti gak tinggal diam. Heon pasti sembunyi dari Tama sekarang"
"Kita harus gercep ngelindungin Heon lebih dulu"
"Kalau nyatanya Heon yang ngelakuin hal yang nyeleneh sampe lo di grebek, gimana?"
"Itu urusan belakangan" Abid mencari kunci motornya.
"Ah iya gue bawanya mobil" keluh Abid.
"Lo mau kemana?"
"Apartemen pertama"
"Gue sama Rangga aja yang kesana" kata Jefri.
"Gue sama Tio mau ngecek tempat yang pernah dilewati Heon" sahut Eldi.
"Gue??"
"Lo disini. Sama Balqis"
"Tap--"
"Kita pergi dulu" Mereka pergi meninggalkan Abid.
Abid mengejar mereka sampai pintu depan apartemen. "Hati-hati!!"