
19.07
Auzy menangis di tempat tidur kamar Balqis, dia susah ditenangkan. Balqis yang sendirian di apartemen kebingungan harus berbuat apa.
Balqis dirumah sendiri karena Abid pergi sholat maghrib di masjid terdekat, ntah kemana Abid sampe sekarang belum kembali dari masjid.
"Zyzy sayangnya aunty tenang yaa. Nih nih boneka nih kamu pegang" Balqis memberikan boneka kecil pada Auzy.
Auzy diam sejenak lalu menangis lagi. "Aaaish, aunty gak ngerti kamu maunya apa sayang"
"Kamu laper ya?"
"Iya deh keknya"
Balqis menggendong Auzy lalu membawanya ke dapur. Balqis mengambil kan roti khusus untuk Auzy yang dibawakan Anita.
Auzy diam sambil memegang rotinya. Balqis membawanya kembali ke kamar.
Baru tiga menit di kamar, Auzy menangis lagi. "Auzy kenapa sayang??"
"Eh.. tunggu, apa.. Auzy nangis karena liat hantu di sini? Ih kok serem?!"
Brukk
"Auzy kenapaa?" Abid datang dengan wajah paniknya.
Balqis langsung terkejut melihat Abid muncul tiba-tiba. Karena tak mendengar jawaban Balqis, Abid menggendong Auzy.
"Cup.. cup sayang. Jangan nangis ya, uncle tampan disini"
Auzy berhenti menangis ketika di gendong Abid. "Auzy ternyata tau mana yang ganteng" cibir Balqis.
Abid melihat ke Balqis. "Auzy kenapa?"
"Balqis gak tau, tadi di bawa ke dapur anteng. Pas ke kamar nangis lagi, di kamar Balqis ada hantu yaa?"
Abid tertawa. "Nggak lah, mana ada yang gituan. Auzy cuma mau di gendong kayaknya"
"Udah minum susu belum dia?" tanya Abid. Balqis menggeleng.
"Kamu yang buat atau aku yang buat terus kamu pegang Auzy?"
"Balqis yang buat"
Balqis pergi menuju dapur di susul Abid yang menggendong Auzy.
"Nih ka-- eh bang"
"Bang?"
Balqis nyengir, "Berasa jadi abang buryam depan"
"Abisnya Balqis bingung manggil kakak apa"
"Yang romantis dikit gitu. Sayang atau apa"
"Ngarang" Abid tertawa kecil masih sambil menggendong Auzy yang minum susu.
"Kalau panggil oppa mau ngga?"
"Kagak"
"Kenapa?"
"Ketuaan"
"Isss maksudnya bukan opa nya Upin Ipin looo kakk"
Abid tertawa, "Iya tau tau, tapi jangan itu ah. Gak suka"
"Jadi apa?? Ahjussi?"
"Itu terlalu tua sayang"
"Isss jadi apa dong?"
"Terserah Dory aja"
"Kak Abid licik, besok tanya bunda ah nama kecil kak Abid"
Abid cengengesan lalu pergi menuju ruang tamu. Abid duduk santai di sofa dan memangku Auzy uang minum susu dengan tenang.
"Auzy kok tenang sih sama kamu, sayang?"
"Apa ulangi?"
"Ah kak tolongla, Balqis tu..." belum siap Balqis ngomong Abid mendekat mengecup pipinya.
"Panggil apa aja yang bikin nyaman, gak usah di paksain, aku juga gak maksa kamu"
Balqis langsung menatap Abid sambil senyum, "Makasii udah ngertiin Balqis"
Abid mengangguk dengan senyumannya yang mengembang.
"Kamu belum ganti baju, ganti dulu sana" suruh Balqis.
"Ambilin bajunya"
"Mau ganti disini?"
"Enggak lah, yakali ganti di sini. Ntar orang datang liat roti sobek pada pingsan. Lagian ya, roti sobeknya suami kamu ini only for you"
Balqis merona. "Balqis ambilin dulu"
Abid terkekeh melihat Balqis yang cabut karena rona merah pipinya, "Aunty kamu malu-malu kucing, zy"
Auzy diam menikmati susunya.
"Udah tu di tempat tidur"
"Pegang Auzy" Abid memberikan Auzy perlahan-lahan pada Balqis.
"Ati ati kepalanya" Balqis mengangguk, Abid pun pergi ke kamarnya.
Hanya butuh waktu lima menit, Abid sudah keluar dengan baju lengan pendek berwarna abu-abu dan celana selutut warna hitam.
"Sayang laper gak?" tanya Balqis.
"Kamu nanya siapa?"
"Nanya Miho. Ya nanya kamu lahh"
Abid cengengesan, ia mendekat ke Balqis. Mengambil Auzy dari Balqis lalu tidur di paha Balqis. Sedangkan Auzy berada di atas perutnya dalam posisi tengkurep.
"Ademnya dipanggil sayang sama istri"
"Gak usah ngarduss" Abid hanya menanggapi dengan senyuman.
"Aunty mu ngeselin ya zy, orang serius dikata ngardus" Auzy diam, posisinya malah seperti memeluk Abid.
"Badan kakak kok panas?" tanya Balqis setelah memegangi jidat Abid.
"Ngga ah"
"Panas inii, kakak sakit?"
"Nggak"
"Tapi ini pan--"
Kriuk kriuk..
"Aku laperrr, kamu masak apa ay?"
"Yah.. belum masak, tadi jagain Auzy terus takut kenapa-kenapa"
Abid bangun dari rebahannya. "Besiap sana, kita cari makan diluar"
▪▪▪▪
Mereka bertiga sudah ada di restoran Jepang, tempat biasa Abid makan.
"Balqis bawa rotinya nih"
"Mana sini" Balqis merogoh tas nya, mengambil roti untuk Auzy.
"Abang makan dulu gih, kan tadi laper. Biar Balqis pegang Auzy"
"Kamu aja makan duluan, Auzy biar aku pegang"
"Tap--"
"Jangan bantah, buruan makan" Balqis mengangguk lalu memulai makan. Sedangkan Abid sibuk memegangi Auzy sambil menyuapkannya roti.
Balqis celingak-celinguk mencari sesuatu. Matanya melotot menemukan seseorang yang berbahaya untuk kelanjutan hidupnya, Balqis bersembunyi dibalik meja.
"Eh kenapa?" tanya Abid.
"Ada kak Silvia"
"Terus kenapa? Lu istri gue kan, ngapain ngumpet"
"Oh ayolah kak, kalau di viralin gimana? Bisa-bisa dikeluarin dong dari SMA"
Abid menghela nafas lalu melanjutkan makan sambil memangku Auzy.
"Abiddddd" Seketika Abid memegangi kepalanya.
'kenapa bisa liat guaaa?! kenapa juga harus ketemu setan disini, ya Allah?!' batin Abid.
"Abid lagi apa?"
"Dagang cilok! Lu gak liat gue lagi makan?!!" jawab Abid ngegas, pusat perhatian menuju mejanya.
"Itu anak siapa?? Kamu udah nikahh?"
"Anak sepupu gua"
"Syukurlah, itu... yang di jari kamu cincin nikah?"
Abid melihat tangannya, dia memang memakai cincin nikahnya ketika diluar sekolah. 'ya Allah, menguji kesabaran lahir batin'
"Cincin keluarga"
"Em.. aku disini beli pesanan papa"
'gak tanya'
Dibawah meja Balqis bingung mengatur posisi, kaki Silvia menjelajah tak bisa diam membuatnya tidak tenang. Balqis grusak-grusuk.
"Oh ya btw kamu sendirian? Ibunya ini mana?" tanya Silvia menunjuk Auzy.
Abid tidak menjawab.
Dia terbungkam setelah tangan Balqis yang tiba tiba nyasar dibawah sana. Abid menahan diri, mengontrol dirinya dengan cara diam sambil menutup mata.
'kok ngenes banget gua malem ini?!'
"Bid" Abid hanya menoleh.
"Kamu ikut besok kemahan?"
"Tendanya di sebelah aku yaa"
"Nanti pasti aku masakin makanan enak"
"Mau ya bid yaa"
"Bid?"
"Abid"
"Lu bisa diam gak si bangsatt?"
"LU BISA DIAM NGGAK?! GUE CAPEK DENGERNYA, GUE MAU MAKAN!!"
Silvia terdiam, lagi lagi mereka jadi pusat perhatian.
Balqis yang dibawah meja terkejut mendengar Abid meninggikan nada suaranya, "Kak Abid marah besar. Wahh, bisa mampuss aku"
Auzy menangis karena teriakan Abid tadi.
Abid menghela nafas, "Cup cup cup, maapin uncle ya sayangg.."
Semenit kemudian Auzy diam. Bukan hanya karena Abid, tapi juga karena Balqis dibawah yang berpartisipasi menenangkan Auzy. Balqis duduk di bawah tepat di sebelah Abid.
"Go"
"Bid buk--"
"Pergi, jangan ganggu gue"
"Tap--"
"Sumpit ini mau nusuk mata lu? Lima puluh persen jiwa psycho tertanam dalam diri gue, lu mau mati pelan pelan? Sekarang?"
"A-aku pergi" Silvia meninggalkan tempatnya.
Abid menutup mata sambil menghela nafas. "Kak, udah pergi?"
Abid hanya berdehem. Perlahan, Balqis keluar dari persembunyiannya. "Pegang Auzy"
"Kakak kenapa?" tanya Balqis heran melihat Abid menutup matanya, Auzy sudah berada di pangkuan Balqis.
"Ada yang tegak... tapi bukan keadilan"
✩✩
Abid Balqis dan Auzy tiba di apartemen.
"Kalau mau tidur duluan, gue masih ada urusan" Balqis mengangguk lalu masuk ke kamarnya.
'gara-gara kak Silvia tadi, kak Abid pake bahasa lo gue lagi, hissshh pelakor emang' batin Balqis kesal sambil menggendong Auzy yang tidur.
Abid masuk ke kamarnya, urusan nya kali ini cukup penting, menyangkut perusahaan yang sudah pindah nama atas namanya.
Cukup lama Abid di memainkan jari jari gemoynya di depan laptop.
Karena haus dan ngantuk, Abid ke dapur membuat kopi. Sebelum ke dapur, dia mengintip ke kamar Balqis. Ia memastikan apakah Balqis udah tidur atau belum?
Melihat Balqis tidur sambil memegang Auzy, Abid melanjutkan perjalanan ke dapur. Ditengah kegiatannya mengaduk kopi, Auzy menangis.
Dengan sigap Abid tinggalkan kopinya lalu pergi ke kamar Balqis.
Abid langsung menggendong Auzy. "Buatin susunya gih"
Balqis mengangguk lalu pergi. Abid membawa Auzy ke kamarnya, ia mematikan laptop lalu kembali ke kamar Balqis.
"Sstttt ssttt, tenang ya sayang yaa"
"Auzy mau denger uncle nyanyi nggak?"
"Nggak jadi deh, takutnya perut kamu sakit dengernya"
"Yaudah, uncle sholawatan aja yaa"
"Ekhm"
"Shalatullah Salamullah.. Alla Toha Rasullilah.. Shalattullah Sallamullah.. Alla Yasin Habibillah..."
"Tawassalna Bibismillah.. Wabil Hadi Rasulillah.. Wakulli Mujahidilillah.. Bi Ahlil Badri Ya Allah"
Auzy terdiam mendengarnya, suara merdu Abid ketika sholawatan mampu menenangkan Auzy.
Balqis yang di depan pintu pun menikmati merdunya suara Abid. Balqis mengingat, betapa sigapnya Abid setiap mendengar suara tangisan Auzy.
Balqis membayangkan, bagaimana jika Auzy anak mereka?
"Impossible"