
Sekitar dua puluh lima tenda sudah berdiri di area perhutanan. Dua puluh dua tenda siswa-siswi, satu tenda pmr dan duanya lagi tenda para guru.
Iyaa! Para guru termasuk bu Jihan juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Mungkin untuk refreshing, lumayan juga kan.
"Bid, lu bantu masak dong anjirrr" protes Rangga. Abid masih berbaring di tempatnya.
Bukan berbaring, lebih tepatnya tidur. Abid tidur setelah sholat maghrib, "Iya nanti" jawab Abid santai.
"Bangunn lu setannn, tidur mulu"
"Gue semalem gak tidur bangsattt, biarin gue tidur dulu oghey?"
"Gadak gadak, buruan bangunn" Rangga menarik kaki Abid.
"Si anjirr kek emak emak kompleks, galak amat" mereka terkekeh.
"Iya gue bangun, rang. Bangun ni gue, ntar gue bantu. Mau cuci mukaa dulu" Abid keluar dari tenda lewat pintu belakang, ia mencuci mukanya dengan air aqua gelas.
Setelah mencuci mukanya Abid menoleh ke tenda anak pmr, Abid melihat Balqis dan Chandra di depan tenda.
Panas?
Banget! Abid kepanasan, kedua tangannya mengepal tanda ia sedang marah.
"Coy? Lu kenapa?" tanya Tio heran. Tio mengikuti arah pandang Abid, Tio langsung menarik Abid ke tenda.
"Lu ngapa bawa masuk gue lagi sihh?!"
"Ntar lu ribut njirr! Mending lu tidur lagi ajaa, gue gantiin lu"
"Kenapaa gengs??" tanya Heon datang.
"Di depan tenda pmr, Balqis sama Chandra berduaan. Abid ngeliattt dari tenda belakang"
Heon keluar lagi melihat keadaan, dia melihat Rangga di depan juga memperhatikan Chandra dan Balqis. "Lu tau, rang??"
Rangga mengangguk, "Diem aja. Ntar Abid emosi kelar hidupnya si Chandra"
"Tapi Abid udah liat"
"Hah???"
"Abid udah liat dari tenda belakang"
"Wah kacau" Rangga buru-buru masuk.
"Bid lu gapapa??"
Abid hanya diam, dia tidur telungkup sembari menutupi mukanya dengan tas. "Gapapa" jawabnya tanpa semangat.
"Wait wait, ini kah Abid ketika cemburu?" tanya Tio sedikit meledek.
"Shut up, jones" Tio terdiam.
"Bangkee" Rangga dan Heon tertawa.
"Anak ganteng kambekk" teriak Eldi.
"Lah bang Abid kenapa??" tanya Denis, adek kelas mereka.
"Sakit hatiii" jawab Rangga sedikit terkekeh.
"Jefri, Dodi, Putra sama Andi mana?"
"Masih di belakang bang, ketinggalan"
"Nyari kayu kelamaan lu pada. Mana berjamaah lagi" Denis cengengesan.
"Nyari kayu?" Beo Abid.
"Bukannya tadi udah??"
"Gue gak jadi nyari tadi, males" jawab Jefri yang baru datang.
"Masih ada ketinggalan disana?"
"Putra sama Andi" Abid bangkit, dia mengambil hoodie lalu keluar tenda depan.
"Hehh lu mau kemaneee?"
"Bantu lah"
Abid pergi menyusul kedua adik kelasnya itu, Jefri menyusul karena yakin Abid gak tau jalan.
Sedang berjalan, Shelia datang mencegahnya. "Abid mau kemana?" Abid tidak menjawab, ia memilih bergeser.
"Abiddd" Shelia terlewati, Silvia muncul. Silvia datang memeluk Abid dari belakang.
"Lepas sebelum tulang lo patah" Silvia tidak melepasnya.
"PAK DAYATTT ADA CEWEK GATELLL!! TOLONG CARIIN OM OM DONGGG" teriak Abid keras.
Semua menatap mereka, menahan tawa melihat ekspresi Silvia. Perlahan Silvia melepas pelukannya.
"ABIID KAMU GILAA?" pak Dayat gantian berteriak.
"NGGAK PAKKK, ampunn dehhh khilapp" Semua tertawa ngakak, sedangkan Abid hanya cengengesan.
Abid mendekat ke Silvia, "Jangan macem-macem, mood gue lagi gak bagus" Lalu melanjutkan jalannya.
"Eh bang mau kemanaa?" Putra dan Andi muncul.
"Nah akhirnya lu muncul, gue mau check lu bedua. Mastiin gapapa" jawab Abid ngeles. Abid mengambil alih kayu dari tantan Putra dan Andi lalu memberinya ke Jefri.
"Lah lah apaaann?" tanya Jefri heran, ia masih memegang kayu itu.
"Gapapa bang, udah sana balik ke tenda" suruh Abid.
"Lu mau kemana njirrr?"
"Udah malem bang, jangan kemana mana ntar ada hewan buas"
"Santai aja. Udah sana lu pada balek ke tenda"
"Lu jangan nganeh nganeh ya bangsattt, lu juga balik ke tenda" ajak Jefri.
"Iya nanti"
"Lu jan macem-macem deh, bid, balik ayo!!"
"Gausa alay mas jep, lu duluan aja sana. Lu bedua juga, gue mau cari udara bentar" Abid menepuk pundak Andi lalu pergi.
"Kepala batu"
▪▪▪▪▪
"Bid bid, lu insecure sendiri ngeliat Balqis dekat Chandra" Abid bermonolog sambil melemparkan batu ke area air terjun.
"Harusnya Abid jadi pucek boy"
"Aaashsh!! Terngiang-ngiang mulu mereka berduaaann"
"Sans Abid, sans. Lu lebih ganteng"
"Tapi kata hati lu doang. Orang lain kaga ngakui"
"Udala jadi begoo ngomong sendirian"
Ddrrrttt... Dddrttt...
Abid merogoh ponselnya di saku celana.
Finding Doryy 🐟
Nama yang tertera di layar ponsel Abid, itu Balqis. Abid menggeser panel hijau.
Tidak ada yang bicara satupun, hanya diam. Abid mendengar Balqis menghela nafasnya.
📞 "Assalamu'alaikum, kak"
"Waalaikk--"
📞 "KAKKK DIMANAA SIIII?! INI TU UDAH MALEM TAU GAKKK"
"Ngapa teriak teriak ni anak, gak kedengaran yang lain apa??" gumam Abid heran.
"Ntar gue balik"
📞 "Se-ka-rang!!!"
"Ck, ngapain lu peduliin gue sih? Beduaan aja sama Chandra sana"
📞 "Hah?"
"Udah, gak penting gue matikan"
📞 "Eh eh tungguuu!! Salah paham lagi tau nggak?!"
"Salah paham apaaa?"
Brukkk
Tubuh Abid di tubruk dari belakang. Abid merasakan sesuatu, dia yakin ini seorang wanita.
"Sayangnyaa Balqissss jangan ngambekkk"
"Ngambek mulu ihh"
"Gantian kek Balqis yang ngambekk"
"Balqis kalau ngambek di bujukin gak yaa?"
"Ieehh, masih marah aja. Kakak tu salah paham, tadi cuma bahas tentang pmr"
"Tentang pmr lagi, itu aja terus. Tau gak sih kalau dia modus!" akhirnya Abid bersuara, meskipun dengan nada sinis penuh kekesalan.
"Cemburu?"
"YA!"
"Astaghfirullah Balqis kaget" Abid kembali diam.
"Kakak balik badan dulu gih, ada yang mau Balqis kasi tau"
"Kasi tau apa?? Kasi tau lu hamil? Kita belum buat ya, anaknya siapa itu?!"
"Astaghfirullah kakkkk, dikata Balqis PSK apa. Balik badan dulu atau Balqis pigi nihh"
"Ya lepas pelukannya" Balqis cengengesan lalu melepas pelukannya, Abid pun berbalik.
"Diantara semua pria di bumi, Balqis cuma suka sama tuan muda Abid Hafizh Althaf"
"Dia tukang nyosor, dia penyayang, dia baik, dia pengertian, dia cemburuan, terkadang dia juga kejam, dia menyeramkan ketika marah tapi menggemaskan ketika ngambek"
"Meskipun begitu, Balqis sangat sangat sangat mencintai tuan muda yang ngambekan ituu."
"Apa ada masalah??" Abid tersenyum sambil menggeleng.
"Halah lah modus" Abid memeluk Balqis.
"Modus modus aja, ngapain meluk kalau bilangnyaa modus" Abid mengangkat bahunya sedetik masih sambil memeluk Balqis.
"Jangan deket deket sama cowok lainla yaa. Melanggar UU percintaan tuan muda Abid"
"Hukumannyaa apa kalau ngelanggarr??"
"Hukumannyaa?? Hukuman ranjang, mau??"
"Kakakk!!" Abid tertawa.
"Ganti panggilan ahh, jangan kakak"
"Abang?"
"Jadi keinget ngojol"
"Mas?"
"Keinget Indosiar, ku menangis"
"Om pedo aja gimana?"
"Ngacoooo!!!" Balqis tertawa.
"Abisnya semua nggak mauuu"
"Panggil.... sayang aja" Abid berbisik di kalimat akhirnya.
Balqis kegelian lalu tertawa, "Kapan-kapan Balqis panggil gitu"
"Kamu ngapain kesini hm?? Ini ngelewatin hutan, kok berani??" tanya Abid sambil mengelus rambut Balqis.
"Liat kamu di apain sama kak Silvia, aku langsung ngejauh dari kak Chandra. Abistu ngikutin kamu deh"
"Teriak tadii??" Balqis tertawa.
"Ada cara rahasiaaa"
Balqis memeluk Abid lagi, pelukannya sangat erat. "Kenapa tiba-tiba meluk daritadi, hm??"
"Tadi peluk belakang biar ngilangin bekas pegangan kak Silvia. Kalo sekarang cuma mau hirup aroma kamu" Abid tersenyum, ia membalas pelukan Balqis.
"Kamu belum mandi kan??"