A B I D

A B I D
– Congrats



Hanya butuh satu malam bagi Abid untuk pulih. Minum obat dan tidur disamping istrinya membuatnya cepat kembali seperti semula.


"Kak Abid mau makan apa?" tanya Balqis yang baru masuk ke kamarnya.


"Belum masak?" Balqis menggeleng sambil cengengesan.


"Makan di luar aja nanti"


"Di kantin?" Abid menggeleng.


"Kamu mau makan apa?"


"Apa aja"


"Yaudah ntar kita cari tempat yang udah buka" Balqis tersenyum lalu mendekat ke Abid. Balqis membenarkan kerah baju Abid.


"Kakak ganteng banget pake baju pramuka" Abid terkekeh.


"Aku emang ganteng pake apapun sayang"


"Dihh narsisss" Abid senyum pepsodent.


Abid menangkup wajah Balqis lalu mengecup bibirnya sekilas.


"Makasih udah jagain manusia bandel ini" Balqis terkekeh.


"Sama sama manusia bandell"


"Ayok pergi"


Abid menggandeng tangan Balqis, mereka pergi dari apartemen.


Saat di mobil, ponsel Abid berbunyi. Abid memakai handsfree nya.


πŸ“ž "Assalamu'alaikum mas ganteng"


"Najis woi NAJISS"


πŸ“ž "Hahaha, keknya lu udah sehat ya?? Masuk harini?"


"Ini di jalan, lu dimana?"


πŸ“ž "Gue baru siap mandi"


"Peak, yaudah buruan"


πŸ“ž "Bandarin sarapan dong beb"


"Bab beb bab beb matamuu"


Balqis langsung menatap tajam Abid. Abid yang tau ditatap sinis langsung timbul sifat kejahilannya.


"Yaudah ntar dikantin ya beb"


Abid langsung mematikan telepon.


"Siapa??" tanya Balqis sinis.


"Selingkuhan"


"Kak!!!"


"Hahaha, Jefri tadi"


"Bongakkk!" Abid menunjukkan riwayat panggilannya.


"Oh iya hehe"


"Takut ya suaminya selingkuh?"


"Nggak juga sih kak, kalau kakak selingkuh Balqis juga bisa"


"Heh heh!! Macem-macem aku kurung di kamar!"


"Tes"


Abid memutar balikkan mobilnya. "Ehhh beneran dong, nggak kak nggak bercanda kok. Sumpah bercandaa"


"Kakk.. kak, Balqis ecek-ecek doangg"


Abid memberhentikan mobilnya. "Itu jual lontong sayur untuk sarapan pagi, ayok"


"Lahh??"


"Jadi tadi..??" Abid cengengesan.


"Ayok keburu telat"


"Is kak Abid bener bener!!!"


"Bener-bener apaa? Bener bener ganteng kann??"


"Iyaaa"


"Hahaha"


Cup


"Love you sayang"


"Love you too"


β–ͺβ–ͺβ–ͺβ–ͺ


"Lu seriusan ini mau lari lagi?? Lu beneran udah pulih?? Bid, budek luu??" tanya Rangga.


"Gue udah baik-baik aja, santai dih"


"Semalam pak Dayat dari gue gak karena gak lari?" tanya Abid.


"Nggak ada, udahlah ya. Gak usah lagi, guru tu dah lupa pasti" pinta Tio.


"Au tuh, udah la ya. Ntar lu sakit lagii"


"Gue gak apa-apa sansss. Lu pada sini aja oke"


Abid keluar kelasnya dengan kaos polos berwarna hitam.


"Abidd!!"


"Eh pak Dayat. Iya Pak iya, saya double hari ini. Ganti yang semalam. Pas saya di gotong itu baru empat puluh dua berarti kurang delapan. Ditambah semalam jam pulang lima puluhnya belum, jadi semua seratus delapan sama yang pagi ini. Saya bayar pak"


Abid langsung pergi kelapangan memulai larinya. "Padahal saya disuruh bu Jihan bilang kalau hukumannya di berhenti kan" ujar Pak Dayat datar sambil menatap Abid.


"Abid pria sejati yang menepati janji, Pak"


"Hentikan dia, saya bisa di gibeng buk Jihan kalau sampe anak emasnya kenapa kenapa"


Mereka terkekeh, "Woii, biddd"


Abid menoleh sambil berlari di tempat. "Stop stop, saya bisa pulang tinggal nama kalau kamu gak stop" Abid berhenti.


"Kenapa pak?"


"Buk Jihan suruh saya berhentikan hukuman kamu, jadi gak usah lari lagi. Kalau kamu sakit lagii saya bisa di damprat buk Jihan" Abid terkekeh diikuti temannya.


"Sebagai gantinya...." pak Dayat memberikan paper bag pada Abid.


"Baju koko? Untuk apa, pak?"


"Saya pak?? Serius aja?"


"Kamu juara satu mtq kemaren, gak ada penolakan"


"Pembaca saritilawahnya siapa pak?"


"Mana saya tau saya kan tidak tau"


Abid menganga sambil mengelus dadanya. Pak Dayat cengengesan, "Jangan sampai telat" Pak Dayat pergi.


"Keknya gue bagusan lari aja deh"


"Jangan begooo, udah di permudah malah mau yang sulit" protes Jefri.


"Gue punya firasat baik sih, bid" ujar Rangga.


"Siapa kira-kira?"


"Silviaa?"


"Jangan ngadi-ngadii"


"Lagian kenapa dadakan gini sih?!"


✴✴✴✴


Acara berlangsung tanpa suatu halangan apapun. Abid membacakan ayat suci Al-Quran dengan merdu seperti biasanya.


Dia mengenakan baju koko warna putih yang diberi pak Dayat tadi begitupun dengan partnernya yang membaca saritilawah. Partnernya adalah Balqis.


Mereka sangat serasi saat pengajian tadi, banyak yang takjub, banyak juga yang iri.


"Besok kemah nya lagi, sumpah gue maless bangett ikut gituan" keluh Rangga, mereka sedang berjalan menuju parkiran.


"Boleh gak ikut katanya, lu mau ikut gak?" tanya Eldi.


"Gue tanya ketua dah, gimana bid?"


"Gue nanya bini gue dulu lah"


"Lah? Kenapa gitu?" tanya Jefri.


"Kalau dia ikut gue gak ikut ntar dia kenapa napa gimana? Gue punya tanggung jawab jaga anak orang"


"Iya deh iyaa, oh iya bid. Semalam, Balqis di bully" Abid berhenti di tengah jalan.


"Kok lu kasih tauu bangsattt" bisik Eldi.


"Keceplosan, astaga" jawab Tio sambil menapok mulutnya sendiri.


"Siapa yang bully?" tanya Abid. Amarahnya sedikit membara sekarang, mereka bisa merasakan hal itu.


"S-Silvia"


"Di mana?"


"K-kamar mandi"


Abid menghela nafasnya lalu berbalik menghadap Tio. "Di apain aja? Gue liat semalam bibirnya luka"


"Di tampar, di tendang, di jam---"


"ANJINGG, berani-beraninya jallang recokin hidup guaa!!" Abid bergerak mencari Silvia.


"Bidd, bid tahan tahan tahan"


"TAHAN GIMANA HAH, GIMANAA?!! Wahh bisa-bisanya lu baru bilang sekarang"


"Lu sakit kemaren, jenguk lu juga kita mikir, bid. Kita gak mau ganggu lu"


"Apapun keadaan gue, harusnya lu bilang. Kenapa lu nggak bilang hah?!"


"Karena kita gak mau lu makin sakit"


Abid memejamkan matanya, mengusap kasar wajahnya. "Awas, gue mau bunuh BABII buntal"


"Bid tahan, lu emang harus bales tapi gak sekarang. Kalau lu gerak sekarang semua ketauan. Jangan gegabah"


Abid menghela nafas panjang. "Gue pinjam motor" Mereka langsung menatap Abid, "Buat apa?"


"Pinjemin atau nggak?!" suara Abid meninggi.


"Pake motor gue" Rangga memberikan kuncinya.


"Anterin Balqis" Abid mencampak kunci mobilnya lalu pergi menuju motor Rangga.


"Mulut gua salah bicara astaghfirullah, mampuss laaa mampuss ah" keluh Tio sambil berjongkok.


"Lu gak salah"


β–ͺβ–ͺβ–ͺβ–ͺ


Abid pergi ke rumah ayahnya mengendarai motor Rangga. "Abangggg"


"Awas" Devi langsung minggir dalam keadaan terkejut.


"Kamu kenapa bid? Adek kamu ketakutan itu"


Abid tidak menjawab, dia ke lantai atas mengambil kunci motornya lalu kembali turun. Tanpa bicara Abid langsung ke garasi.


Sebelum pergi, Abid menelepon Rian.


πŸ“ž "Kenapa bosss?"


"Ambil motor Rangga dirumah bokap, balikin"


Abid langsung mematikan telepon lalu pergi menuju tempat yang ingin di tuju.


Di sisi lain, semua anggota Black Blood sedang menunggu Balqis di depan mobil Abid.


"Kakak-kakak kenapa disini..?" tanya Balqis terkejut.


"Masuk" suruh Rangga.


Balqis masuk ke mobilnya, Rangga menyusul di bangku kemudi. Eldi pun ikut masuk karena tadi dia menumpang dengan Rangga.


Sisa dari mereka mengikuti dengan kendaraan masing-masing. "Ada.... apa ya kak?"


"Abid pergi, ntah kemana"


"Hahhh?" Balqis terkejut.


"Abid tau tentang lu di bully semalam"


"S-serius kak? Terus kak Abid dimanaa??"


"Abid pergi, ntah kemana"


Mata Balqis berkaca-kaca. "Dia tau kan semalam? Dia pasti udah nebak karena luka di bibir lu"


Balqis mengangguk lemah, "Lu jawab apa?" tanya Eldi.


"Balqis bilang bukan"


"Abid gak suka di bohongin, dia lebih suka kejujuran tapi menyakitkan dari pada kebohongan yang menyenangkan"


"Congrats, Abid marah besar"