A B I D

A B I D
– Potekk



Ciuman semalam menambah semangat Abid di pagi hari. Itu terbukti dengan bangunnya Abid di jam setengah lima pagi.


Abid bangun dari tidurnya menuju kamar mandi untuk mandi. Setelah itu Abid mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat fajar, sholat sunah dua rakaat sebelum subuh.


Masih dengan baju koko, sarung juga peci Abid keluar kamar membangunkan makmumnya.


"Balqis"


Tok tok tok


"Balqis, bangun subuh yok"


Abid cengengesan sendiri saat ini. "Telat bangun lagi ni anak, gegara gak bisa tidur dicium cogan"


(Plis, mas Abid kamu jangan narsis bangett ಥ‿ಥ, oke skip)


Abid pun membuka pintu kamar Balqis yang tidak dikunci. Abid melihat Balqis yang masih tertidur pulas. Abid menghampiri Balqis.


"Balqis.. bangun"


"Heyy.. bangun" Balqis membuka matanya.


Dia melihat Abid memakai peci, baju koko, lengkap dengan sarung. "Ganteng banget imam ku. Dahlah, mimpi sekali kamu Balqis" Balqis memejamkan matanya.


Abid tersenyum lebar, dia duduk di pinggiran tempat tidur Balqis. "Hey bangun. Udah jam lima ini, subuhan yok" Abid memencet hidung Balqis masih sambil senyum-senyum.


"Kak Abidd lepas ihh gak bisa nafas tauu" protes Balqis.


"Bangun makanya. Ayok bangun buruan"


"Ini mimpi kenapa nyata sih?"


"Ini nggak mimpi, sayang. Bangun buruan"


"Jelas mimpi, mana mungkin kak Abid panggil aku pake embel-embel sayang"


Abid tertawa lalu mencubit pipi Balqis. "Sakit?" Balqis mengangguk.


"Jadi mimpi apa bukan?"


"Balqis gak mimpi?" Abid menggeleng sambil tersenyum.


"Balqis mimpi" Balqis memejamkan matanya kembali.


"Mau dicium lagi?" Balqis langsung duduk di tempat tidur.


"Mimpi yang aneh" Abid cengengesan.


"Buruan bangun, kita sholat subuh"


"Balqis mimpi apaa nggakk Ya Allah??"


"Balqis mau dicium yaa?"


Balqis langsung pergi ke kamar mandinya. Abid tertawa puas melihat muka merah Balqis. "Kiyuttnyaa istriku"


✡✡✡


Abid dan Balqis tiba lebih pagi di sekolah. Mereka harus sarapan untuk energi hari ini.


"Kak, kita makan satu meja?" tanya Balqis. Mereka masih dijalan.


"Kenapa emangnya? Nggak suka satu meja?" tanya Abid balik.


"Ya bukan gitu, takutnya nanti mereka kan..."


"Yaudah kalau lo maunya pisah meja"


"Atau maunya makan diluar?" tanya Abid.


"Nggakk, pemborosan banget. Makanan kantin sedikit lebih murah rasanya juga enak, jadi di kantin aja"


Abid mengacak pelan rambut Balqis. 'emang bener yaa, istri adalah management uang terbaik' batin Abid.


"Acak aja teross" protes Balqis. Abid tertawa lalu menarik tangannya.


"Balqis turun di sini aja kak" ujar Balqis setelah merapikan rambutnya.


"Gak" tolak Abid mentah-mentah.


"Nanti orang orang liat gimanaa?"


"Gak gimana-gimana" Abid santai membelokkan kemudi nya.


"Pagi pak Gendon" sapa Abid sambil mengeluarkan kkepalanya lewat kaca, Abid juga tersenyum menampakkan gingsulnya. Pak Gendon –penjaga gerbang– terheran-heran melihat Abid yang berbeda hari ini. Abid hanya tersenyum pepsodent melihat ekspresi heran pak Gendon. Abid memarkirkan mobilnya.


"Apa perlu kita umbar hubungan? Hm??" tanya Abid.


"Yaaa jangan dong!!! Ngaco banget kakak. Kalau kakak mah enak, Balqis yang gak enak berasa jadi tawanan polisi yang lepas. Diliatin mulu apapun kegiatannya" Abid tertawa.


"Yaudah gini aja, backstreet" Abid mengambil dompetnya mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu.


"Sekalian sarapannya. Jangan lupa makan!" Balqis mengangguk.


"Makasih kakk" Abid tersenyum. Balqis mengulurkan tangannya. Abid memperhatikan tangan Balqis.


"Kenapa? Uangnya kurang atau tangannya mau digandeng?"


"Ngaco lagii! Balqis mau salam kayak mama yang sering salam sama papa" Abid berohria lalu membalas uluran tangan Balqis.


Balqis mencium punggung tangan Abid. "Semangat kakak, jangan bolos" Setelah itu Balqis keluar dari mobilnya.


Abid tersenyum. "Apa memang senikmat itu punya pendamping hidup?"


☢☢


Balqis berjalan menyusuri lorong menuju ke kelasnya.


"Balqiss" Balqis menoleh mendengar namanya di panggil. Ternyata Vane.


"Aku kira siapa. Selamat pagi Vane"


"Pagi jugaa. Tumben berangkat pagi?" tanya Vane.


"Mama belum masak, jadi sarapan di sekolah" jawab! Balqis. Vane mengangguk-anggukan kepalanya.


"Oh iya, lo jarang banget dirumah. Kemana aja?"


"Jarang dirumah? Tau.. dari mana?"


"Beberapa kali kerumah lo tapi gak ada orang, gue tanya pembantu katanya lo gak ada di rumah"


"Oh gitu.. kirain lo beli apartemen atau apa gitu" jawab Vane. Balqis menggeleng pelan.


'selamat aku kali ini'


Balqis dan Vane masuk ke kelasnya.


Disisi lain, Abid baru keluar dari mobilnya. "Ngapain lo dimobil kelamaan?" tanya Jefri yang parkir di sebelah mobilnya.


"Membayangkan sesuatu yang bisa gue bayangkan"


"Bacot lo bacot! Yakin gue, lo udah jadi bucin akutt"


"Diem, berisik!"


"Kamu tau taii, Bid?"


"Tauuu lah, kan sarapan lo tadi pagi pake itu" jawab Abid santai.


"IIIIHHH CENAYANG"


~


Brukk..


Balqis di tarik saat berjalan sendirian, lalu di dorong hingga terjatuh. Balqis yang merasa dirinya bukan orang lemah, langsung berdiri.


"Ke-kenapa kak?"


"Balqis balqis, lo sok polos banget ya? Sok sok gak tau apa-apa"


"Balqis emang gak tau apa-apa"


Plakk!!


Balqis ditampar.


"Lo pelet Abid pake apa hah?!"


"Pe-pelet apa? Balqis gak pelet siapapun. Lagian, pelet kan makanan ikan. Kak Abid aja manusia, makannya nasi bukan pel--"


Plakk!!


Tamparan kedua. Pipi Balqis memerah.


"Gak usah sok polos! Gak usah sok suci!! Lo itu cuma cewek gatel yang bisanya nyusahin!"


"Maksud kakak apa sih?!" Tangan Silvia ingin menampar Balqis lagi, namun terhenti karena.


Fany muncul di sana. "Lo ngapain disini?!" tanya Silvia.


"Bukan urusan mu! Kau apakan Balqis, hah?! Apa perlu hal ini ku laporkan Abid? Kau tau sendiri gimana ganasnya Abid kalau marah kan?! Masih mau liat dia marah, hah?!!"


"Kak Fany" Balqis menahan tangan Fany yang ingin mendekat ke Silvia.


"Pergi dari sini, kalau masih mau hidup!" ancam Fany.


Silvia menatap mata Balqis dengan tatapan membenci, dia dan kedua dayangnya pun pergi meninggalkan Balqis dan Fany.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Fany.


"Balqis gapapa kak Fany. Makasih ya kak Fany"


"Jangan sungkan sungkan. Kita saudara sekarang"


"K-kak" Fany menoleh ke Balqis.


"Jangan.... bilang kak Abid ya"


"Kenapa? Mereka tadi harus dilaporkan biar gak kurang ajar!"


"Jangan ya kak, pliss. Balqis gak mau kak Abid marah-marah. Balqis juga takut yang buli tadi kenapa-kenapa"


"Dia udah buli kamu tapi kamu masih khawatirin mereka?" Balqis menunduk sambil mengangguk.


"Kamu itu baik banget Balqis. Karena kebaikan kamu, kamu sering di injak-injak orang. Jangan terlalu baik ya, sesekali jadi jahat gak berdosa kok"


"Papa Balqis bilang, orang boleh jahat tapi kita jangan. Itu sebabnya Balqis gak mau kakak laporin dia ke kak Abid"


"Kamu baik banget Balqis, baik banget."


"Yaudah kalau gitu, aku gak bakal laporin. Kita ke kantin sekarang" Fany menarik tangan Balqis menuju kantin.


Tujuh menit kemudian mereka tiba di kantin. "El, geser lo" suruh Rangga.


"Dih, ni anak kalau ada Fany cepet banget. Temen ndiri ampe digusur" protes Tio.


"Sst... syirik aja!"


"Syirik matamu" balas Eldi sambil berpindah. Rangga, Abid, Jefri, dan Tio tertawa.


Rangga merapikan rambutnya. "Ehem"


"Fany" Rangga melambaikan tangannya.


Fany yang melihat Rangga langsung menuju arah Rangga. "Sini" Rangga menepuk-nepuk kursi disebelahnya.


"Modus nyaa banggggg ampunn guaaa" ledek Tio.


"Di bilang jangan syirik! Mojok sana lo sama Sisi" kata Rangga.


"Manusia satu ini memang kurang akhlak!!" Abid dan yang lain tertawa.


Abid melihat Balqis yang berdiri menarik tangannya. Balqis berusaha untuk melepasnya dan berusaha tidak tertarik. "Anti gue banget, ya?"


Abid tersenyum paksa lalu berdiri. "Gue duluan"


"B- bukan gitu kak Abid"


"Gue ada urusan. Duduk situ, makan yang kenyang" Abid pergi.


"Yah.. potek dah tu Abid"


"Lagian lo kenapa sih?" tanya Rangga sinis.


"B- Balqis cumaa--"


Belum selesai Balqis bicara, Fany memotongnya. "Balqis jaga jarak biar gak dibuli sama fansnya Abid"