
"Bid" Abid di tarik Rangga menuju tempat sepi.
"Kita minta maaf"
"Apa, kenapa??!"
"Balqis hilang, sejak sejam yang lalu"
"HAHH?!" mereka menunduk.
"Kami minta maaf" Black blood kompak mengucapkan itu.
"Kronologi! Gue butuh penjelasan"
"Tadi Balqis di panggil paksa untuk ngobatin Chandra. Mereka bilang, Chandra jatuh dari air terjun dan luka parah" Rangga menjeda ucapannya.
"Kenapa harus Balqis yang ngobatinnnn?!"
"Gue gak tau. Dari awal juga gue udah curiga tadi, cuma mereka keukeuh minta Balqis yang obati"
Abid menghela nafas panjang, ia masih menahan sakit kepalanya. "Terus?"
"Kami mau nyusul Balqis tepat setelah tiga menit dia pergi, tapi berhenti karena insiden di tenda. Beberapa kain kebakar, gak tau kenapa. Kek ada yang sengaja ngebakar" Jefri gantian menjelaskan.
"Pas udah di padamkan, kami teringat Balqis. Kami nyusul ke air terjun liat kondisi. Dan ternyata gak ada ap-- Bid, are you okey??" Eldi menjeda penjelasannya melihat Abid yang memegangi kepala.
"Gue baik-baik aja. Lanjutin"
"Lo gak keliatan baik baik aja, lo kenapa??"
"Lanjutkan!!" mereka tersentak kaget, semua terdiam dan sedikit gugup.
"Disana gak ada apa-apa, Chandra pun muncul di belakang. Dia bilang dia di tendanya dari tadi"
"Yang nyuruh, yang keukeuh minta Balqis siapa?" tanya Abid.
"Silvia, dia paling--"
"Bid, lo gak baik-baik aja! Lo kenapaaa?!"
"A-ambilin gue obat. Obat penghilang rasa sakit kepala. Buruan, gue mau cari Balqis" Eldi langsung berlari menuju tenda pmr.
Ddrtttt... Drrrtt..
Abid merogoh ponselnya.
"Halo assalamu'alaikum bu Jihan, ada apa?"
π "Waalaikumsalam, kamu dimana??"
"Saya udah di camp buk, acara manggang dan api unggun nanti, saya gak ikut"
π "Loh kenapa? Sebenernya ini acara khusus buat kamu dan Chandra"
"Khusus kan buat Chandra aja buk, saya gak bisa. Saya... saya kurang sehat"
π "Ya sudah, istirahat saja kamu. Kalau laper datang ke lapangan saja ya"
"Baik buk, terimakasih"
π "Oh ya, temen temen kamu gimana?"
Abid menatap temannya.
"Mereka ikut, buk"
"Kami tidak ikut, buk" Abid mengerutkan keningnya, bertanya-tanya mengapa mereka tidak ingin ikut.
π "Tim kalian gak ada yang ikut??"
"Andi, Denis, Putra sama Dodi yang ikut buk" jawab Tio.
π "Okelah, gak masalah"
"Kalau begitu saya matikan buk, assalamu'alaikum"
Abid mengantongi ponselnya lalu berkacak pinggang, "Kalian harusnya ikut! Biar gue aja yang cari"
"Ya gak bisa lah! Lo juga lagi gak sehatt! Kita bantu carii!"
Abid menghela nafas, dia mengusap kasar wajahnya. "Lo kenapa tadii? Lo diapain?" tanya Jefri melembut.
"Investornya cewek, otaknya licik. Ntahlah, mungkin awalnya mau ngasih gue obat perangsang di minuman tapi yang di masukkan obat bikin orang sakit kepala"
"Kenapa lo gak beli obat dulu tadii sebelum kesinii?!"
"Udah, tapi gak mempannn"
"Bid, ini" Eldi datang. Abid duduk sebentar lalu meminum obatnya.
"Bid, kami minta maaf gak bisa jagain Balqis"
Abid terdiam, dia marah? Jelas marah!
Tapi Abid tidak bisa marah dengan temannya untuk hal ini.
"Ini salah gue, karena ngizinin Balqis tadi" Rangga menunduk.
"Astaghfirullah"
"Udah gue bilang virus ini salah gue nular" Abid tertawa kecil.
"Gue gak mau nyalahin siapapun, gue yakin kalian berusaha nyari sebelum gue datang"
"Lo ter-pengertian, bid. Gue jatuh cinta sama lo"
"Pistol gue gak bediri kalau sama laki anjirrr, pertanda gue normal kagak mau ngegay" Mereka terkekeh.
"Kalian udah berapa lama cari??"
"Sejam udah keliling, tapi belom ketemu. Kita udah telpon dia tapi hapenya di tenda"
"Guru-guru gak tau??"
"Ntahlah, mungkin tau"
"Silvia dimana??"
"Dia juga ilang" jawab Tio.
"Gue gak bisa biarin dia keliaran terus"
"Lu mau buat apa?" tanya Heon.
"Mungkin bakal gue masukin ke penjara"
"Sedikit mendingan, obat apotek tadi kawe keknya"
Mereka tertawa kecil, "Gue mau ngucapin makasih karena kalian udah berusaha sejam nyari"
"Gak perlu makasih, itu kewajiban kamii" Abid tersenyum, ia bersyukur punya teman bertanggung jawab.
"Kita lanjutin pencarian, mencar ya. Satu tim dua orang, tim satu gue sama Jefri. Tim dua Rangga sama Heon, tim tiga Tio dan Eldi"
"Kalau kalian capek, kalian bisa istirahat. Sejam dua jam juga gak masalah. Gue gak mau kalian ikutan kenapa-kenapa"
"Gue mohon, kalian jangan salahin diri dan jangan paksain diri buat nyari Balqis"
"Kami bakal berusaha, bid" sahut Tio.
"Jangan sampe hape kalian gak bisa di hubungi" Mereka mengangguk.
"Gue sama Jefri bakal ke arah barat. Tio Eldi, lo bedua ke timur. Tim tiga ke utara, ada yang keberatan?"
"Kagak!"
Abid tersenyum, "Syukurlah"
"Sebentarr" Mereka bertanya-tanya melihat abid kembali ke tenda.
Di tenda, Abis mengambil pistol yang ada di tas lalu menyelipkannya di celana. Ia kembali setelah selesai.
"Ayok kita mulai"
Mereka mulai bergerak sesuai arahan Abid. Kegelapan sedikit menghalangi pencarian mereka.
"Bid, lo beneran gak apa apa? Udah sehat?"
"Sedikit. Gue bakal baik-baik aja kalau ketemu Balqis"
"Bucin sudah" Abid tertawa pelan.
"Rangga juga udah bucin parah ke Fany, di tenda Fany tadi pegangan mulu kayak mau nyebrang. Si Eldi sampe protes" Abid terkekeh.
"Lu coba deh cari cewek yang mengerti gimana gimana nya lu, pasti lu bakal kayak gue atau Rangga"
"Gue udah nemu"
"Siapa?"
"Adek lu"
"Dasar lo pedo"
"Astaghfirullah Abid, istighfar nak!!" Abid tertawa.
"Semoga malam ini juga ketemu, ya" ujar Jefri. "Gue juga punya harapan yang sama"
βββ
"Kak, kakak tu mau ajak Balqis kemana?!!"
"Ke neraka!!!"
"Kak gak usah becanda deh!! Katanya mau ngobatin kak Chandra kann?!" Silvia diam.
"Gue mau tanya baik-baik sama lo, kenapa lo deket banget sama Abid?! Kenapa Abid dan teman-temannya selalu baik ke lo?!!"
"Balqis gak tau, tapi kan kak Abid emang baik"
"Enggak ke gue!!"
"Kakak sih, kegatelan"
Plakk!!
Plakk!!
"Lancang banget mulut lo!!"
"Kenyataannya begituu" Balqis beranjak pergi, Silvia menariknya dengan menjambak rambut Balqis.
Balqis menahan rasa sakitnya, dia mencoba untuk melawan Silvia.
"Lepas kakk!!"
"Makanya jangan asal bicara lo jalangg!!"
"Kakak yang jallang!!!" Silvia makin menjambak rambut Balqis.
Balqis memberanikan diri menjambak Silvia, mereka berdua jambak-jambakan dan saling meringis kesakitan.
"Aaaaahhhh, lepass!!"
"Kakak juga lepass!!"
"Lepas punya gue, gue bakal lepas punya lo" Balqis melepas jambakannya begitupun dengan Silvia.
Plakk!!
"Aaaaaahhhh" Balqis terpeleset, ia terjatuh ke jurang.
"Hahaha rasain lo mampusss!!"
Seketika Silvia terdiam melihat Balqis tak bergerak sedikit pun, dengan ketakukan yang melanda Silvia pergi meninggalkan Balqis.
Di bawah sana, Balqis pingsan karena kepalanya terbentur pohon. Kaki dan sikunya berdarah karena terkena bebatuan. Bajunya juga sedikit koyak.
Balqis terlihat sangat menyedihkan.
Tiga puluh menit kemudian Balqis sadar, ia terbangun dari pingsan nya lalu memegang jidatnya yang berdarah.
Balqis melihat ke tempat sebelumnya, Silvia tidak ada di sana.
"Kak Abid dimana? Kak Abid... hiks hiks... Balqis takutt"
Balqis mengusap air matanya, "Balqis kuat pasti bisa. Jangan lemah, Balqis bukan cewek lemah" Balqis bangun perlahan.
Kaki dan lututnya cukup sakit, namun dia paksa untuk bergerak. Balqis berusaha naik ke atas.
Beberapa kali Balqis gagal untuk naik, lukanya bertambah karena usaha yang gagal.
Balqis menyerah, dia diem di dekat tempat ia terjatuh pertama kali.
"Kak Abid dimana ya? Kak Abid udah balik belum?"
"Ahhh dingin banget, aku bakal mati apa hari ini??"
"Ya Allah lindungi Balqis"