A B I D

A B I D
– Balqiss mainn



"Finallyy!" Abid menyandarkan tubuhnya dengan lega.


Tok tok..


"Yaa, masukk."


"Boss, mau makan siang dimana?" Tanya sekretarisnya.


"Nanti saya keluar, pergi sama Balqis. Kalau mau makan, silahkan."


"Baik, boss."


Melihat sekretaris nya sudah pergi, Abid mengunci pintu masuk ke ruangan lalu menuju ke private room. Abid menjatuhkan tubuhnya dikasur.


"Kenapa tadii waktu gue ciuman sama Balqis, Gea buang muka? Tu pembantu beres gak sih?"


"Tapi bisa aja dia emang gak mau liat lah yaa, yakali ada orang ciuman di plototin."


"But, mencurigakan."


Abid terus bermonolog.


Ddrrr... Drttt...


Ponselnya berbunyi, panggilan dari Balqis.


πŸ“ž "Assalamu'alaikum sayaang."


"Wa'alaikumsalam, udah dimana?"


πŸ“ž "Masih dirumahnya Indira."


"Jangan makan yang aneh-aneh!"


πŸ“ž "Iyaaa. Abang makan siang dimana?"


"Sama sekre nih."


πŸ“ž "HAH?! JANGAN MACEM MACEM DEHHH!"


Abid tertawa mendengarnya.


'Bini gua beneran isi agaknya. Alhamdulillah kaloo iyaaaa.' batin Abid.


πŸ“ž "ABANGG JAWABB!"


"Nanya apa sayangkuuu?"


πŸ“ž "Abang makan siang dimanaaa?! Sama siapaaaa?!"


"Kan dah dibilang sama sekree."


πŸ“ž "Jangan maen maennnn. Balqis suruh tidur di sofa mauu?!"


"Bolehh."


πŸ“ž "Abaaangg~"


Abid tertawa lagi.


"Nggak sayangg. Aku di private room, gak tau mau makan dimanaa."


"Niatnya sama kamu, tapikan kamu lagi sama temen temenn. Yaudah gak jadi."


πŸ“ž "Maksudnya gak jadi? Jangan sampe gak makannnn! Abang sakit Balqis gak mau urus lohh!"


"Minta urusin sekree."


πŸ“ž "Abangggg!!"


Abid terkekeh.


"Iya, sayang, iyaaa. Nanti makan kalau laperr."


πŸ“ž "Balqis anterin nasi, mauu?"


"Nggak usahh. Puasin main ajaa. Have fun, babyyy."


πŸ“ž "Xixii. Yaudahh, jangan macem-macem sama sekre yaa! Awas aja kamuuu!!"


"Heemmm." Abid cengengesan.


πŸ“ž "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Balqis mematikan panggilan.


Abid masih memandangi ponselnya yang menunjukkan fotonya dengan Balqis.


"MasyaAllah, cantik banget bini guee!"


Tok tok..


Abid beranjak keluar private room dan kembali merapikan bajunya.


"Masuk."


"Weehhh, Pak Abid kece baday."


"Ada apa, Ajo?"


"Anu, pakk. Saya mau tanyaaa."


"Tanya apa?" Abis keheranan.


Ajo celingak-celinguk lalu mendekati Abid.


"Bapak sama Bu Balqis udah nikah belum si?"


"Udahh, tinggal resepsi. Kenapaa?"


"Anu, pakk. Banyak yang gosipin Bu Balqisss, katanya agak gendutann. Teruss banyak yang ngira Bu Balqis tekdung dungtek duluwaann."


Tekdung dungtek.. tekdung dungtek...


"Ngacoo ituu. Siapa yang bilang? Suruh keruangan saya sekarang!"


β—’β—’β—’


Rumah Indira.


"Gimana sama Kak Abid? Enak?" Ayu kepo.


"Enak apa ni maksudnyaa?"


"Yaaaa enak apa ajaa. Enak ngga?"


"Iyaa, Ciss. Enak ngga nikah muda?" Sahut Vane.


"Enak ngga enak lahh."


"Udah nganu?"


Plak!!


Balqis memukul jidat Vane, Vane meringis sambil cengengesan.


"Kita nanya padahall."


"Pertanyaan bersifat pribadi."


"Kemarenn Kak Abid ilang itu kemana?"


"Di culik, sama Shelia."


"Shelia mantannya?" Balqis mengangguk.


"Terus sekarang Shelia gimana?"


"Di penjara sampe busuk keknya."


"Wauhwww. Ngeri jugaa." Indira bergidik ngeri.


"But, gue jadi pengen nikahh." Ujar Vane.


"Jalaninnya nggak segampang yang lu bayangin, Van. Gak segampang di tipiii. Namanya mulai keluarga, masalah selalu ada aja. Nggak ada yang seindahh sinetron ataupun drama Korea."


"Cieaahh, ada yang berpengalamann." Balqis tertawa mendengarnya.


"Lu ngidam apa gimana sebenernya?"


"Whyy?"


"Mangganya kecut begeee, bisa bisanya lu makan muluu."


"Tapi enak tauu."


"Fiksss bakal jadi aunty." Ayu langsung menyombong.


"Gue jadi aunty richh. Mantep pasti."


"Mengkerennn!"


"Halu aja terosss."


"Anjirrrr lu!" Balqis tertawa.


"Mall yuuuu." Ajak Indira.


"Ngapain?"


"Dagang seblakk!" Indira emosi, Balqis tertawa mendengarnya.


"Njirr, jadi pengen seblakkk."


"Lu ngidamm? Siapa bapaknya, Yuu?"


"Dejancokk! Gue belum nikah peaaa!" Mereka tertawa melihat Ayu emosi.


"Kebanyakan bacott kadang. Jadi ke mall gak?" Tanya Vane kesal.


"Hayu gass ngennggg!"


Mereka bersiap-siap lalu pergi menggunakan satu mobil.


"Ehhh, Vane, Indira, lu bedua mau gak kalau gue comblangin sama bang Jefri atau bang Eldi?" Tanya Balqis serius.


"Emang mereka masih single?" Balqis mengangguk.


"Merekanya mau gak sama guee? Guee kentang anjirrr."


Vane auto nething.


"Gak usah merendah. Gue sepak pala lu ntar!" Omel Ayu sambil membawa mobil, Vane cengengesan.


"Yaaa.. kalau ada yang mau gue mah hayukk hayukk ajaa." Indira malu-malu.


"Lu gimana, Van?"


"Sama si kea jawaban Indira. Tapi jangan kasih gue harapan yaa, gak mau makan harapan."


"Anjasss."


"Padahal makan harapan enakk."


"Enak matamuiii. Bukan jadi gemuk malah makin tinggal tulang gueee." Mereka terkekeh.


Beberapa menit diperjalanan, mereka pun sampai di mall.


"Gue mau beli skincaree, biar glowap dan tidak malu maluinn." Vane bersemangat.


"Iya iyaa, yang banyak duittt."


"Lu duit darimana, Van?" Tanya Indira.


"Open BO malam malam."


"Oasuu!" Vane tertawa melihat temannya kesal.


"Lu pada duit darimana?" Tanya Vane gantian.


"Bongkar celengg." Jawab Ayu.


"Celengan, paokk. Kenapa jadi celengg?!"


"Nahh, itu sebenarnya maksud guee." Ayu cengengesan.


"Lu, Cis, darimana?"


"Yailahh, Vann. Kagak udah lu tanyaa, udah jelas dari Kak Abiddd. Yakann?" Balqis mengangguk.


"Dapet berapaa jete sebulann?"


"Gak ngitungg, Bang Abid cuma ngasih kartuu." Balqis menunjukkan kredit cardnya.


"Mengkecee. Enakk wehh, laki dia CEO."


"Udah berenti lah, bodoo. Masa iya CEO ngojekk, ada ada aja kau kutengok!" Vane mengegas.


"Hampir putus uratnya liatt. Ngegas aja kerjaan diaa!"


"Gak ngegas, gak puas bosss."


"Bacot pulakkk."


"Maksud gue tadi tu, kan bisa ajaa Bang Abid beli tu perusahaan ojek. Gak open otak kau."


"Cemana mau open otakk. Open bo aja kerja dia." Sahut Indira.


"Astaghfirullahalazim!!" Mereka tertawa lagi.


"Ehh belok belokk, baju tidurnya kece kecee."


Keempat wanita itu memasuki toko baju.


"Imutt banget woii gambar Doraemon."


"Itu Stitch, peaa."


"Oyaa, maap salahh." Indira cengengesan.


"Balqis sini dahh."


Balqis menghampiri Ayu.


"Beli ini, pasti Kak Abid tersepona." Ayu menunjuk lingerie.


"Jangan gilaaa! Yakalii gue make gituann." Protes Balqis kesal.


"Weh, kenapa rupanya? Mantep loh inii."


"Mantep emang cokk, tapi efek sampingnya mandi wajib pagi pagi." Mereka terkekeh.


"Lu udah belah duren kan?"


"Belah semangka anjerrr!"


"Wih, kok ngamokk?!" Mereka tertawa lagi melihat Balqis terkesal-kesal.


"Yuu, lu mau beli apa jadinya? Mau beli lingerie? Ikutan open bo sama gue?"


"Mata kau duaa! Macem gila kali sampe open bo."


"Enakk lohh open bo." Vane bagaikan iblis yang menghasut temannya untuk nge-bo β•₯β€Ώβ•₯


"Kea berpengalaman kali anak inii. Betulan open bo lu?" Tanya Indira kepo.


"Nggak lah gilaa. Di kick dari kartu keluarga nanti guee," jawab Vane cengengesan.


"Kalau di kick buat baru. Jangan kek orang susahh!"


"Fucekk!" Mereka tertawa untuk kesekian kalinya.


Setelah memilih baju, mereka pergi dari sana. Balqis juga membeli baju tadi.


"Beli tass yokk!" Ajak Indira.


"Jangann. Jangan ke toko tass! Gue masih nabung mau beli tass remesss."


"Hermesss, tololl. Gue tampar juga nanti lu!" Vane nyengir tanpa rasa bersalah.


"Ya suda, skip tas remess."


"Tapi tas Hermes mahal, Van. Beneran mau beli lu?"


"Yaa, InsyaAllah kalau punya rezeki. Pengen bangett punyaaa."


"Biar apa?" Tanya Balqis.


"Biar punya lah, begoo."


"Dahlahh, suka ati kau aja Vann!" Vane nyengir lagi.


"Ehhh, itu yang di toko baju cowok Kak Abid gak sii?"


Mereka menajamkan pandangan.


"Lah iya wehh. Itu Kak Abiddd. Sebelahnya cewek pulaaa!"


"Keknya bukan dehh..." Gumam Balqis, ia mengambil ponselnya dan menelepon Abid.


πŸ“ž "Assalamu'alaikum, sayang."


"Wa'alaikumsalam, abang dimaana?"


πŸ“ž "Lagi mau makan siang, kenapaa?"


"Dimanaa?"


πŸ“ž "Di resto Jepang tapi ini masih di mall. Kenapa emang? Kamu dimana?"


Balqis terdiam, 'bukan selingkuh dahh. Kalau selingkuh juga gak bakal jujur ginii.' batin Balqis.


πŸ“ž "Sayang? Heyy!"


"Eum??"


πŸ“ž "Kamu dimanaa?"


"Di sini, di mall jugaa."


Balqis melihat Abid yang celingukan. Setelah berputar sembilan puluh derajat, Abid menemukan istrinya.


Abid melambaikan tangan sambi tersenyum.


πŸ“ž "Aku kesana, yaa."


Abid mematikan panggilan lalu berlari menuju Balqis. Abid langsung memeluknya erat.


"Aaa pengap!" Kelub Balqis. Abid melepasnya sambil tertawa.


"Demi apapun, laki bini ini meresahkan!" Abid cengengesan.


"Itu cewek di sebelah abang tadi siapaa?"


"Gak tanda? Kak Putri ituu."


"Beduaan di mall sama Kak Putri?"


"Ya nggaklahh, ada Abiyyu. Dia lagi ganti baju."


Balqis langsung memeluk Abid lagi setelah mendengar jawaban Abid.


"Kenapa meluk tiba-tiba?"


"Maafin, udah su'udzon tadii."


Abid tertawa kecil, "mikirnya siapa? Selingkuhan ku? Yakali aku selingkuh, kan ada kamuu." Balqis mengeratkan pelukan.


"Gak usah takut aku berpaling, aku gak bakal pindah hati. Gak ada yang bisa gantiin kamuu, sayaangg." Abid membalas pelukan sambil mengelus rambutnya.


"Wahh, benar benar membuat saya iri." Ujar Ayu.


"Lu mending punya pacar anjrittt. Gue kaga!"


"Kan derita lu!"


"As– astaghfirullah.."


"Ada Kak Abid sok nyebutt. Biasanya peliharaan kebun binatang keluar semua."


"Diam!" Abid dan Balqis tertawa melihatnya.


"Btw, gimanaa rasanya dispesialin?" Tanya Indira.


"Enakkk bangettt. Makanya jangan jombloo!" Cibir Ayu.


"Alahhh, pacaran haram dibanggain."


"Anjirrr lu!" Ayu menendang sambil cengengesan.


"Mental yupinya meletoy." Mereka terkekeh.


"Kalian beli apa aja?" Tanya Abid.


"Beli ini pokoknya, kak."


"Abang beli apaa?"


"Kagak adaa, belum beli apa apa dengg."


"Btw, kamu udah makan siang?" Balqis menggeleng.


"Kami juga belum, kak." Sahut Vane tiba-tiba.


"Yang ditanya gue bukan lu!!"


"Nyesekk to the bonee." Balqis cengengesan.


"Berarti belum pada makan, kan?" Mereka menggeleng bersamaan.


"Yaudah ayok makann, gue yang traktir."


β—’β—’β—’


19.59, rumah Abid.


"Sayaangg, periksanya besok yaa."


"Deal besok, yaa?" Tanya Balqis gantian, Abid mengangguk sambil mengeringkan rambut. Ia baru selesai mandi.


Setelah rambutnya lumayan kering, Abid melihat Balqis.


"Astaghfirullahalazim.. beli baju haram dimana kamuu?" Balqis malah tertawa.


"Baju haram apaaa, baju tidur inii."


"Ya tapi... pendek banget sayangg."


"Gapapa, kerenn."


"Kerenn gundulmu peangg."


"Kan abang yang gundull."


"Oiyaa." Mereka berdua tertawa.


"Kalau ada tamu cowok langsung ganti, pahamn?" Balqis mengangguk, sedari tadi ia sibuk menonton drakor di laptop.


Abid mendekatinya dan tiduran di samping Balqis.


"Wangii kalii, mau kemanasii?"


"Moduss kalii, mau ngapainsiii?" Abid tertawa mendengarnya. Ia beranjak pergi dan mengambil laptopnya, niat hati mau ngelanjutin pekerjaan.


Abid pun duduk di sebelah Balqis.


"Abangg, Balqis beli permen enaaakkk banget tau. Mau gak?"


Abid menatapnya heran.


"Permen apa?" Balqis menunjuk permen di meja.


"Seenak apa??"


"Yaaa pokoknya enakkk. Warna warni."


"Kamu makan gak?" Balqis mengangguk, ia mengatakan mulutnya.


Tanpa basa-basi Abid langsung menyosorr. Emang dasar kang nyosor sukanya nyosor tiap hari nyosor:v


Balqis menepuk pundak Abid menyuruhnya untuk lepas, Abid pun melepasnya.


"Beneran maniss, manis bangett ternyata."


"Moduss!!" Abid cengengesan.


Tok tok..


"Iya?" Balqis menyahuti.


"Itu mbak, di depan ada yang nyariin, nganterin mobil."


Balqis menatap sinis Abid, "abang beli mobil lagii?!"


"Itu mobil mobilan kecil. Buat anak anak tapi ya bisa dinaiki bisa jalan juga pake remote control."


"Hah?? Ngapainnn abang beli begituaannn??"


"Ngga tau jugaa. Tadi keliatann lucuu, jadi beli aja."


"Astaghfirullahalazim~"