A B I D

A B I D
– Itu... Shelia?



πŸ“ž "Abid jangan terlambat!!"


Itu panggilan dari Bu Jihan. Sudah lima kali Bu Jihan memanggilnya hanya untuk mengatakan itu. Pak Dayat juga melakukan hal yang sama.


Abid bangun dari tidurnya. Dia menuju pintu sambil bertelanjang dada. Niatnya, ingin membangunkan kedua adik perempuannya. Tapi, sepertinya Abid lupa kalau ada Balqis dirumah.


"Aaaa" teriak Balqis. Abid langsung membuka paksa matanya.


"Eh lo kenapa?" tanya Abid ketika Balqis membelakanginya.


"Kak Abid kenapa gak pake baju sih?!!" tanya Balqis. Abid melihat kearah tubuhnya.


"Ah iya. Gue lupa. Tadi malam kepanasan" jawab Abid cengengesan.


"Lo udah bangun?" tanya Abid.


"Balqis buat sarapan tadi. Niatnya mau bangunin kakak baru bangunin yang lain. Eh kakak malah..."


"Ya maap. Gue mau mandi. Bangunin Avi Devi sama Ulfa ya" Balqis mengangguk. Abid kembali ke kamarnya.


\=\=


Lima belas menit kemudian. Abid keluar dengan jaket kebanggaannya.


"Morning" sapa Abid sambil senyum.


"Pagi abangg" ujar Devi. Abid mengecup kening kedua adeknya.


"Sarapan apa kita?" tanya Abid.


"Ini kak Balqis bikin nasi goreng" jawab Devi.


"Yaudah ayok makan" ajak Abid. Mereka memulai makan nasi goreng buatan Balqis.


"Abang kok cuma kecup kening kami berdua?" tanya Devi disela-sela makan.


"Jadi?" tanya Abid.


"Ulfa sama kak Balqis?"


Uhuk uhuk..


Abid tersedak. Balqis langsung menyodorkan air putih. 'adek gua ya Allah, laknatnya' batin Abid.


Ketika Abid ingin membalas perkataan Avi, "ASSALAMUALAIKUM MAMANG!!" teriak seseorang dari pintu.


"Emang makhluk gak ada akhlak" cela Abid. Suasana berubah, mereka yang di meja makan tertawa.


Abid membukakan pintu otomatis dari ponselnya. Mereka masuk.


"Cuma bawa tas ransel?" tanya Abid.


"Ini isinya banyak bid" jawab Eldi cengengesan.


"Pake baju itu itu aja lah kalian di Bali" ujar Abid lagi.


"Kan ada lo" jawab mereka serentak. Abid menatap sinis. Mereka balas dengan tertawa.


"Hai hai haiiii.. annyeong!!" Fany masuk. Mereka pakai kostum couple sesuai dengan permintaan Abid. Mereka memakai baju hoodie warna putih dan celana jeans.


"Perfect. Cakep banget sih sepupu gue" puji Abid. Fany nyengir kuda.


"Bentar lagi helikopternya datang"


"Bid ini siapa?" tanya Jefri menunjuk Ulfa.


"Adeknya Balqis" jawab Abid. Mereka serentak menutup mulutnya seolah terkejut.


"Kan bener kan, lo nikah muda. Ada Balqis disini, adeknya juga. Wah parah gak ngundang" cerocos Eldi.


"Bisa buang dia gak?" Tanya Abid datar. Teman temannya tertawa.


"Mer--"


"Gak perlu dijelasin kita dah tau" potong Heon.


"Okeokee.. gue sama Balqis pergi barengan sama pak Dayat dan Bu Jihan. Kalian, bawa adek gue sama adeknya Balqis. Jaga baek baek!" kata Abid.


"Santai sama kita mah" jawab Jefri. Jefri mendekat ke Devi.


"Hi abang jefrii. Ketemu lagi kita" ujar Devi bersemangat. Jefri senyum lalu mengangkat tangannya. Jefri dan Devi bertos.


Terdengar suara helikopter dari atap rumah. Mereka pun berjalan menuju atap. "Devi, Avi, Ulfa, jangan lasak ya" ujar Balqis. Mereka bertiga mengangguk.


"Pergi duluan kalian" suruh Abid.


"Okee" mereka masuk ke helikopter lalu pergi menuju Bali.


"Ayok" Abid menggandeng tangan Balqis menuju bawah. Abid mengambil motor maticnya lalu pergi menuju sekolah.


......................


"Jadi, nanti ada yang tertulis dan ada yang lisan. Kalau kalian lulus di tertulis, akan masuk tahap lisan. Lisan ini seperti cerdas cermat" jelas Pak Dayat. Abid dan Balqis hanya diam di perjalanan menuju tempat olimpiade mereka sudah tiba di Bali.


"Paham?" tanya Bu Jihan. Mereka berdua menjawab serentak, "paham".


"Oy" teman temannya melambaikan tangan.


"Cieillaa" kata Abid cengengesan.


"Semangat broo" ujar mereka bergantian.


"Thank you" balas Abid.


"Eh iya gue lupa earpiece-nya" Abid merogoh tasnya. Mengeluarkan earpiece. Ada nama tertera di masing-masing earpiece. Semuanya dapat kecuali Balqis, Ulfa, Avi dan Devi.


"Pantau terus, siapa tau nanti ada bahaya"


"Aman" jawab mereka bersamaan.


"Abid" panggil pak Dayat.


"Jaga jaga ya!!" suruh Abid.


"Santai santai" Abid berlari sambil menggandeng tangan Balqis menuju pak Dayat.


\=\=


Abid dan Balqis lolos di tahap tertulis. Abid berada di posisi pertama dan berada jauh diatas pesaingnya. Sedangkan Balqis, dia berada di posisi kedua.


Mereka diruangan terbuka sekarang. Ditempat terpisah berjarak satu meter. "Itu Sheila" bisik Tio pada Eldi.


"Mana?" tanya Eldi berbisik.


"Yang ujung rambutnya warna hijau" jawab Tio.


Ting..


Ponsel Tio berbunyi.


βœ‰οΈ


Fany;


Fany denger woi!! Pasti Abid juga denger. Liat tuh dia celingak-celinguk!! Ceroboh bener_-


Tio melihat ke Fany sekilas lalu ke Abid. Benar saja, Abid sedang celingak-celinguk. Setelah menemukannya. Abid berbicara. "Itu ya? Itu.. Shelia?"


Mereka mengangguk kaku. "Tenang aja, gak ngaruh di gue" Abid melepaskan earpiece nya dari telinga lalu tersenyum pada teman-temannya.


~


Sesi lisan dimulai dari tadi. Disaat semua sedang menghitung, Abid yang sudah tau jawaban langsung menjawabnya.


Sesekali Abid memberi kesempatan pada peserta lainnya.


Saat ini, soal terakhir sedang dibacakan.


Nama Abid di posisi teratas dengan nilai tertinggi. Balqis dan Shelia menduduki nilai yang sama.


Abid menoleh kesamping, tatapannya bertemu dengan Shelia. "I miss you" kata kata itu seolah terucap dari tatapan Shelia. Abid membalasnya dengan senyuman. Karena Shelia gagal fokus, Balqis menjawab pertanyaan terakhir dari panitia.


Balqis pun resmi menduduki posisi kedua. Di posisi ketiga ada Sheila. Dan di posisi pertama Abid yang meraihnya.


"Good boy!!!" puji teman temannya. Abid tersenyum bangga.


"Cuci mata" Abid berbicara tanpa suara. Teman temannya mengerti, mereka tertawa.


--


"Yah. Saya akui kamu emang hebat Abid. Sesuai perjanjian kita, saya memberikan bonus liburan seminggu untuk kamu dan teman kamu" ujar Bu Jihan. Abid dan temannya bertos ria.


"Terimakasih Bu" Abid membungkuk 90Β°.


"Saya yang seharusnya bilang begitu" jawab Bu Jihan.


"Eh Balqis? Balqis ikut nggak?" tanya Fany. Balqis menggeleng.


"Ikut aja dong. Aku gak mau jadi cewek sendiri diantara mereka. Serem. Otak mereka pada kotor" bujuk Fany, black blood melihat sinis kearah Fany. Fany cengengesan.


Balqis melihat kearah Bu Jihan, meminta izin. "Kamu juga dapat tambahan kalau mau" ujar Bu Jihan. Balqis tersenyum.


"Terimakasih Bu"


"Ah iya ibu lupa. Ibu punya villa disini. Kalian pakai itu saja daripada harus membayar hotel" usul Bu Jihan.


"Aaa ibu baik banget. Makasih Bu" ujar Eldi. Bu Jihan senyum pepsodent.


"Ya sudah, nikmati liburan kalian. Saya dan pak Dayat akan kembali"


"Hati hati Bu" Bu Jihan senyum lalu pergi.


"Abid" panggil seorang wanita dari belakang. Abid berbalik. Wanita itu langsung memeluknya.


"Shelia!!!" bentak Rangga. Abid menghentikan Rangga dengan isyarat tangan. Abid membalas pelukan Shelia begitu erat. 'apa rasa ini masih ada?' tanya Abid dalam hatinya.


"I miss you. Do you miss me?" tanya Shelia. Abid diam. Shelia melepas pelukannya.


"Do you remember me?" tanya Shelia.


"I remember you" jawab Abid. Shelia kembali memeluknya, Abid juga membalasnya.


"You are getting more handsome" ujar Shelia setelah melepas pelukannya. Abid hanya tersenyum.


"Ah, hai ka- kalian" sapa Shelia pada teman Abid.


"Aku minta maaf atas kej---" Abid menutup mulut Shelia dengan telunjuknya. Shelia menatapnya. Abid menggeleng.


"SHELI" teriak seseorang dari kejauhan. Shelia berbalik, lalu mengangguk.


"Yah sepertinya, kita harus berpisah sekarang" Shelia menunduk. Kali ini Abid memeluknya. 'abid.. masih punya rasa?' tanya teman temannya dalam pikiran masing masing.


Berbeda dengan Balqis yang kebingungan sambil memikirkan siapa wanita ini.


"Sana balik. Mereka nungguin lo" Shelia tersenyum lalu pergi sambil berlari.


"Bid"


"Gue capek" Abid pergi menuju mobil yang sudah disediakan.