
19.32
"Kamu kiyutt pake baju ituu" bisik Abid. Mereka berdua berada di dalam mobil, menuju rumah Abid.
"Gerah banggg, dahla turtleneck nya tebel bangett" Abid tertawa.
"Ya kalau gerah gak usah di pake, sayangg"
"Keliatann dongg"
"Ya gapapaa, kan jadinya orang-orang tau kalau kamu punyaku"
Plakk!
Balqis memukul tangan Abid. Abid pun tertawa, "kenapaa sayangg kan aku benerrr. Kamu punyaku!"
"Iyaaa, tapi Balqis malu lahhh."
"Emang kamu punya malu?"
"Astaghfirullah abanggg, ngeselin benerr sumpahh!" Abid tertawa lagi.
"Ada berapa banyak baju kamu yang gitu? Mau beli nggak? Mumpung masih jam segini dan kita lagi di luar"
"Abang bawa duitt?"
"Tadikan abis di transfer sama ayahh" Balqis tertawa, "jadi sombong ya braderr"
"Mau beli gak??"
"Mauuu" Abid memutar balik mobilnya karena baru saja melewati mall.
"Tunggu di sini," Abid keluar. Ia berjalan ke sisi mobil membukakan pintu untuk Balqis.
"Terlihat moduzzz," Abid cengengesan.
"Ayo!" Abid menggandeng tangan Balqis.
"Tapi sayang.. aku maunya beli onlineee"
"Kenapa gak bilangg, munaroh?!"
Balqis cengengesan, "aku gak salah sih. Kamunya gak bilang mau muter balikk"
"Iya sayang iya, kamu gak salah aku yang salah." Balqis tertawa kecil mendengarnya.
"Yaudah kalau gitu kita kemana? Makan di kafe mall?" tanya Balqis.
"Sayang, aku kangen masakan kamu. Makan di rumah aja yaa, kamu yang masak"
Balqis tersenyum lebar, "apa bayarannya?"
"Mo dibayar apa dihukum?"
"Isss parahh, makin-makinn ternyataaa"
"Hehehe."
❃❃❃
Abid sangat-sangat kenyang malam ini. Ia makan sampe tambah dua kali karena terlalu suka makanan buatan Balqis. Balqis yang melihat itu hanya tersenyum senang.
"Laper apa doyan, bapak?" tanya Balqis sambil meletakkan piring ke wastafel.
"Dua-duanya. Itu mau kamu cuci sekarang?" Balqis mengangguk.
"Besok Balqis kuliah, nanti gak sempat"
"Kan ada aku sayangg"
"Kan kamu ke kantor sayangg," jawab Balqis.
"Yaudah sini aku aja" Abid bangkit dari tempat duduknya.
"Udah aku aja, kamu diem duduk anteng." Omel Balqis, Abid memasang muka pura-pura ngambek.
Balqis tertawa melihatnya, Abid terlihat sangat menggemaskan. Apalagi pipinya chubby. Berbeda dengan pria yang sering mengganggunya.
"Aku aja sinii, kamu capekkk kan udah masakk"
"Abang juga capekk, baru balik jadi aktor" Abid malah tertawa.
Ia memeluk Balqis dari belakang, "kamu punya simpenan gak? Jujur!"
"Ngacoo ih, Balqis tusuk ni yaaa pake sendok!"
"Kan tumpul sayang"
"Ya karna tumpul ituu, enak"
"Gilasi gilaa, istri ku psikopatt" Balqis tertawa, ia kembali mencuci piring.
"Duduk di ruang keluarga sana, nanti Balqis susul"
"Tapi aku maunya disiniii"
"Nggakk. Abang tu rusuhh!"
"Rusuh gimana?" tanya Abid sok polos.
"Abaaangg"
"Iya sayang iyaaa, galak amat" Abid pun pergi menuju ruang keluarga. Balqis tertawa melihat ekspresi nya.
Setelah selesai mencuci, Balqis menghampiri Abid. Ia tiduran, menjadikan paha Abid sebagai bantal.
Abid mengecup bibirnya sekilas lalu kembali menonton. "Besok cari art ya!"
"Lah buat apa? Kan ada Balqiss."
"Rumah gede sayangg, aku gak mau kamu kecapekan. Udah, nurut aja gak usah protess!" Balqis memanyunkan bibirnya.
"Yaudah dehh, terserah"
Abid mengelus pipi Balqis lembut, "kamu udah siap jadi ibu belum? Atau mau nunda lagii?"
"Em.. nggak tauu. Emang sekali bisa jadi?"
"Ya bisa ajaaa, kalau Allah berkehendak."
"Tapi kayaknya tunda aja yaa, aku yang belum siap liat kamu berjuang keluarin anak kitaa" Balqis tersenyum, ia mengambil tangan Abid lalu menciumnya.
Abid melakukan hal yang sama. "Gimana kuliah kamu??"
"Biasa aja."
"Kamu gak punya temen kann?" Balqis mengangguk.
"Tapi enak tau, sendirian. Apapun sendirian, teruss--"
"Nggak boleh lagi, sendirian itu bahaya" potong Abid.
"Ih tap--"
"Kenapa kamu berubah, hm?"
"Abang yang bilangg jangan jadi lemah kalau abang gak adaa."
"Bukan berarti jadi pendiem ataupun jadi penyendiri sayangg. Maksud aku waktu ituu, jadi kuat tapi gak kasar. Jadi baik tapi jangan lemahh"
"Tapii sendiri kan enakk, mandiri"
"Hobi barunya melawan ya sayangg?" Balqis langsung menatap Abid yang fokus ke televisi.
"Ngambekk?"
"Wiww, masa ngambekk?"
"Abaangg.." Balqis jahil, ia memasukkan tangan nya kedalam kaos Abid.
"Hehhh, bandell tangannyaa!"
"Yaa jangan ngambekk"
"Saaayaangg" Balqis jahil lagi.
"Ojo kongono toh. Nanti aku gendong ke kamar ga bisa jalan dua hari kamuu" ujar Abid.
Balqis tertawa, "yo ojo ngambekk toh mass."
"Seng ngambek ki sopo?"
"Jarwo." Balqis cengengesan, Abid pun tertawa.
"Teruss abang maunya Balqis gimana??"
"Kembali seperti semula, jadilah Balqis yang Abid kenall," jawab Abid sambil mengelus rambut Balqis.
"Iyaa diusahakaaan"
"Good girll! Jujur sekarang, ada yang ganggu atau nggak?"
"Nggak ada"
"Kalau bodyguard bilang ada, gimanaaa?"
"Ih nggak ada benerannn. Cuma adaa cowok seangkatan Balqis yang sering recokin Balqiss"
"Recokin gimanaa?" Balqis diam tidak menjawab.
"Sayang, gak bakal aku bunuh kok orangnyaa. Cerita aja."
"Em.. di recokin doang. Dia sering samperin Balqis terus ngoceh gak jelass gitu. Balqis udah sering marah tapi tetep ajaa gak berubah"
"Gak liat jari manis mu?"
"Dia nanya malahh."
"Terus kamu jawab?"
"Pikir sendirii! Gituu"
Abid menghela nafas, "besok ke kampus aku anterr!"
"Cemburuu yaaa?"
"Geer!!"
"Bongakk iiii.. ciee cemburuu" ledek Balqis, Abid menggelengkan kepalanya melihat sang istri.
"Abang gak kuliah?"
"Kuliahh, ditempat yang sama kayak kamu"
"Beda waktu wisuda nyaa dong?" tanya Balqis.
"Kata siapa? Bisa jadi aku duluan yang lulus."
"Wah... spectacular!"
❃❃❃
07.00
"Ada kelas jam berapa?" tanya Abid sambil memakai kemeja.
"Jam delapan, abang ke kantor jam berapaa?"
"Siap anterin kamu aku ke kantor" Balqis tersenyum melihatnya. Ia mendekat ke arah Abid, membantunya memakai dasi.
Abid tersenyum melihatnya, ia menunggu Balqis selesai kemudian mengecup bibir Balqis.
Balqis tersenyum. Abid mendekat kan bibirnya lagi untuk mencium Balqis, Balqis membalasnya. Beberapa menit kemudian Balqis mendorong dada bidang Abid.
"Ayok sarapan," Mereka berdua keluar kamar bersama.
"Abangg, kalau ada art nanti yang masak Balqis aja yaaa"
"Kenapa gituu?"
"Nantii abang malahh ketagihan masakan art daripada masakan Balqis."
"Yaudahh, cuma masak doang yaa" Balqis mengangguk sambil tersenyum.
Mereka berdua pun sarapan dengan tenang.
Tok.. Tok..
"Permisi mas, mbakk. Di luar ada yang anterin mobil"
Abid dan Balqis saling tatap, "kamu beli mobil?" tanya Abid.
Balqis menggeleng, "abang gakk?"
"Kalau aku yang beli ngapain nanya kamuuu" Balqis cengengesan.
Abid menyelesaikan makannya kemudian keluar diikuti Balqis.
Mobil sport keluaran terbaru warna hitam berada di garasi rumah Abid.
"Ini darimanaa?" tanya Abid keheranan.
Drttt.. drttt..
Abid meraih ponselnya.
"Halo assalamu'alaikum, ayah?"
📞 "Waalaikumsalam, gimana suka??"
"Maksudnya?? Ohhh jadi mobilnya dari ayahh??"
📞 "Iya dari ayahh, kalian udah sarapan belum? Kalau belum sini kerumah. Devi Avi juga sibuk suruh kamu kerumah"
"Tapi semalam baru kesana, segitu rindunya sama anak ganteng?"
📞 "Gak usah narsis, buruan kesini kalau mau."
"Oke, otw boss."
📞 "Yaudah kalau gitu, assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam bosss."
Abay mematikan panggilannya.
"Dari siapa?" tanya Balqis.
"Ayah"
"Ayoo ke rumah ayah, di suruh kesanaa."
"Tunggu bentarr," Balqis masuk ke rumah mengambil tas nya lalu kembali keluar.
"Ayoo!"
"Pak, saya sama Balqis pergi dulu yaa" Pamit Abid.
"Iyaa mas, hati-hati yaaa" Abid mengangguk sambil tersenyum.
Ia masuk ke mobil di susul Balqis.
"Uwaahhh.. ayah emang paling ngertiii" Abid menambah kecepatan mobilnya.
"Pelannnn ngapesiii, pakk" Abid cengengesan.
"Oh iyaa abang.. bekas luka tembaknya udah sembuh??"
"Lah kamu gak liat kemarin?" Balqis menggeleng.
Abid mengangkat baju menunjukkan bekasnya, "berbekas."
"Gapapa, yang penting abang udah baik-baik ajaa!" Abid tersenyum.
Beberapa menit di perjalanan, mereka tiba di rumah Abay.
"Abaaangg!!!" Davina langsung menghampiri Abid.
"Widiii, kenape lu?"
"Nggapapaaa," Jawab Davina cengengesan.
"Ada udang di balik batuuu," Ledek Devina.
"Dasarrr! Mau morotin abang?" Davina cengengesan.
"Minta sama kak Balqis, kak Balqis banyak duitnya. Abang mau ketemu ayah dulu," Abid langsung pergi ke ruangan kerja ayahnya.
"Kak Balqis, minta duidd."
Tok.. Tok..
"Ayahh, Abid masuk yaa?"
"Iyaa"
"Assalamu'alaikum" Abid masuk ke ruangan, ia menyalami tangan ayahnya.
"Kenapa suruh Abid kesini??"
"Ayah cuma mastiin, kalau ayah gak mimpi." Abid tertawa.
"Ini nyata kok, yahh. Abid ada di depan ayah," Abay tersenyum.
"Jadi mau kuliah?"
"Iya, di Universitas yang sama kayak Balqis. Abid mau jagain Balqis"
"Jurusan?"
"Akuntansi"
"Bucinn bangettt sampe satu jurusan. Masuk manajemen bisnis ajaa," suruh ayahnya.
"Eh tapi terserah kamu aja lah, kuliah cuma formalitas" Abid cengengesan.
"Hp kamu udah hidup nihh" Abay menyodorkan ponsel lama Abid.
Abid membukanya, semua bukti kejahatan Shelia aman di dalam.
"Sebelum masuk penjara, ayah mau kamu ngasih hukuman dulu buat dia. Karena dia ayah kehilangan Erwin" Abid tersenyum.
"Ayah tenang aja, nanti Abid urus."
"Oh iyaa, ini buat kamu. Wasiat dari Erwin."
Abid meraih nya, ia ingin membaca sekarang tapi di tahan ayahnya.
"Anterin Balqis dulu, dia mau kuliah. Kamu baca aja di kantor."
"Ayah tau darimana Balqis ada jam kuliah??"
"Selama ini siapa yang ngurus mantu ayahh kalau bukan ayah?"
Abid tersenyum, "makasih banyak ya ayahhh. Makasihh juga mobil barunya."
"Gak gratis loh!" Abid tertawa.
"Pasti Abid bayar"
"Bahagiain Balqis, sukseskan perusahaan. Itu bayaran nya. Yaudah sanaaa!"
"Okee boss, Abid pergi dulu yaa." Abid menyalami ayahnya lagi.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
❃❃
Abid sudah menjauh dari rumah Abay, ia di jalan hendak mengantar Balqis ke kampus.
"Ngasih Avi Devi duit berapaa??"
"Rahasiaaa!"
"Dihh, rahasiaan" Balqis cengengesan.
"Abang ngomong apa aja sama ayah?"
"Rahasiaaa"
"Widiii dendammm!" Abid tertawa.
"Tadi bunda dirumah??"
"Kata Avi bunda pergi ke pasar. Kamuu tau nggak, tadi Avi curhat kalauuu ada tetangga baru pindahan. Avi bilang gantengg orangnya, teruss Avi mau tobat jadi tomboy."
Abid terkekeh, "udah gede mereka ya. Tau jenis-jenis cowok," Balqis ikut tertawa.
"Oiya sayangg, siapa nama cowok yang gangguin kamu?"
"Buat apa??"
Abid menghela nafas, "buat diajak main masak-masak."
Balqis tertawa lagi, "Balqis cuma tau kalau namanya Rey."
"Dari namanya aja keliatan fucekboy"
"Gabole gituu tauu, masa menilai orang dari namanya. Kalau dari covernya mending"
Abid geleng-geleng kepala mendengar perkataan Balqis. Balqis tertawa melihatnya.
Dua menit kemudian mereka tiba di kampus. Mereka menjadi pusat perhatian karena mobil sport yang dikenakan.
Abid keluar duluan, di luar ia melepaskan kaca mata hitamnya kemudian membukakan pintu untuk Balqis. Balqis keluar dengan senyuman, mereka berdua berdiri di samping kanan mobil.
Cup!
Abid mengecup kening Balqis.
"Kalau ada apa-apa telepon aku, okee?" Balqis mengangguk. Ia membenahi dasi Abid.
"Jangan genit di kantor!" Abid tertawa.
"Nggak bakal, udah sono masukk!"
"Hmm, byee!" Abid melambaikan tangannya. Balqis pun masuk.
"Lu... lu siapanya Balqis?" Abid menoleh.
'Ini Rey Rey itu? Tapi yang mana??' batinnya bertanya-tanya. Abid tidak menjawab, ia hanya tersenyum lalu masuk ke mobil.
Rey dan teman-temannya terus memperhatikan gerak-gerik Abid.
Abid memakai kacamatanya lagi di dalam mobil lalu membuka kaca untuk menatap mereka bertiga.
"Jangan ganggu, kalau gak mau kena akibatnya." Ujar Abid.
Ia mengeluarkan tangannya dan menunjukkan cincin itu.
"Lu...?"
Abid tersenyum smirk, tanpa menjawab ia pun pergi.