
"Kamu tu kenapa berantem sih, mas?" Tanya Meiga sinis di dalam mobil Tio. Mereka sedang berada di jalan menuju pulang.
"Lha yho piye meneh toh, dek. Hobi," jawab Tio cengengesan.
"Hobi apa kek gitu."
"Tapi beneran, itu tu hobi. Hobinya mas kan ada dua, nah gelut itu hobi yang kedua."
"Hobi yang pertama apa?"
"Mencintaimu lah."
Meiga salting, ia menatap keluar mobil dan memiringkan badan sembilan puluh derajat.
Tio tau Meiga salting, dan Tio merasa Meiga benar-benar terlihat sangat menggemaskan.
"Salting po piye toh?" Tanya Tio menggoda.
Meiga menoleh sekilas.
"Meneng o, tak jejelin sendal nanti."
Tio tertawa kemudian menarik tangan Meiga dan menggenggamnya erat.
"Mas tu udah gak sabar sebenernya pengen nikahin kamu."
"Why??"
"Yaa, biar apa-apa bisa bareng kea Abid sama Balqis. Bisa di kamar berduaan, nonton berduaan, di dapur berdua—"
"Eh iya. Di dapur berduaan tu mantep tau, mas!"
Tio menatap heran Meiga.
"Mantepnya?"
"Bisa lempar-lemparan minyak sama perabotan, kan lebih uwu gitu."
"Nggak gitu jugaa, cantikk. Ah kamu mah gak bisa di ajak romantis!"
Meiga tertawa kecil.
"Mau ke KUA nya kapan?" Tanya Meiga menggoda.
"Besok?"
"Ngawur! Sekalian aja ntar malem."
"Nah, bisa juga sih. Mau nanti malam apa sekarang aja?"
"Tak jejelin sendal beneran nih yaa, ngawur mulu!"
Tio tertawa, "kamu tu cantik kalau marah."
"Bacot!"
"Ehh, kok kasar? Cantiknya mas kok kasar gini, hm?"
"Mas nyebelin sih dari tadii!"
Tio cengengesan.
"Yaudah maaf deh maaf, mau mas beliin apa? Seblak?"
"Helikopter!"
"Oke, mas jual ginjal dulu."
"Hahaha! Ngawur banget."
◒◒◒
Seusai sholat maghrib.
Abid dan Balqis sedang bersiap-siap makan di luar. Itu sebagai sogokannya pada Balqis agar tidak marah.
"Udah siap, sayang?"
"Ih bentarr."
Abid menunggunya sambil tiduran. Dirinya sudah menunggu sekitar dua puluh lima menit.
"Sayang, nanti keburu malem loh."
"Sabar, abang! Gak bisa sabar yaa?! Ikhlas ngajak makan gak sih?"
Abid diam.
Salah lagi kan lu.
"Jadi cowok tuh sabar, kalau gak sabar mending gak jadi pigi deh kita!"
"Iya iya, udah sabar ini."
Abid mengambil ponselnya lagi dan mulai login game. Baru saja ingin bermain, tapi terpaksa gagal dan out dari tim.
Itu karena... Balqis.
"Ayok, Balqis udah siap. Ih malah main gamee, niat pergi gak sii?!"
Abid langsung memasukkan ponselnya ke saku kemudian menggandeng Balqis untuk keluar kamar.
"Mbak Balqis mau kemana?"
Gea tiba-tiba muncul.
"Mau makan di luar, mbak kalau mau makan di luar juga gapapa."
Abid menatap Balqis heran, 'kenapa sama orang lain baik banget kalem lembut giliran ama lakiknya marah mulu?' tanya Abid dalam hati.
"Oh iya, mbak. Saya tadi memang mau izin makan di luar."
"Mbak ada uang? Kalau gak ada biar di kasih sama Abid," kata Balqis.
"Ada kok, mbak hehe."
"Yaudah kalau gitu kami berdua pergi dulu ya."
Gea tersenyum mengangguk.
Balqis menggandeng tangan Abid lalu mengajaknya pergi. Abid hanya diam dan mengikuti.
"Ehh, tunggu."
Balqis berkaca di kaca rumahnya depan.
"Abang, Balqis cantik?"
"Cantik lah. Kan istrinya Abid," jawab Abid bangga.
"Heleh, modus."
"Udah ayok berangkatt."
"Tunggu, tungguuu."
"Iihh, Balqis gemukann."
"Siapa yang bilang gitu?" Tanya Abid heran.
"Ya Balqis yang bilang tadi! Gak mau ah gak mau pergii, ga pedeee." Balqis melepas sendalnya lalu otw masuk lagi.
Abid menahan tangannya.
"Sayang, kamu kan lagi hamil anak kita ya jelas gemuk lah, masa kurus? Kan gak mungkin."
"Berarti abang mengakui dong kalau Balqis gemuk!!"
'Mampuss, salah lagi,' batin Abid.
"Ya kalau hamil kan otomatis gemuk, ay. Udah atuh ya, ayok makan. Kamu udah dandan setengah jam masa gak jadi pergi?"
"Gak gak. Balqis gak mau!"
Kali ini Balqis beneran masuk.
Abid menghela nafas dan mengelus dadanya.
"Abid, tahan. Jangan sampe lu emosi, fatal akibatnya nanti." Abid mengelus dadanya lagi kemudian ikut masuk.
Balqis berada di dapur sedang mencari bahan makanan.
"Mo ngapain?"
"Masak mie," jawab Balqis.
"Hey! Hey! Apa-apaan kamu malah masak mie?"
"Aku mau miee, Abid."
"Gak gak, gak boleh. Mau makan apa biar aku masakin??"
"Mie."
"Ay, terakhir kamu makan mie kamu muntah loh," kata Abid mengingatkan.
"Itukan duluuu. Aku lagi pengen miee, Abid."
"Gak boleh, sayang. Aku gak mau kamu muntah lagi terus jadi pucet. Masak yang lain, aku yang masakin."
"Gak mau."
"Kalau gak mau makan apa yang lain hm? Biar aku beli atau nggak suruh anak-anak beliin," bujuk Abid lagi.
"Bener yaa?"
"Iyaa. Mau apa?"
"Sup ayam, roti gandum, oatmeal, daging wagyu sama alpukat!"
"Yakin abiss?" Balqis mengangguk antusias.
"Wagyu nya pas kita baby moon aja ya?"
Balqis mengangguk lagi.
"Apalagi?"
"Itu ajaa. Tapii, sup ayamnya abang yang buat boleh?"
Abid tersenyum, "boleh dong. Nanti aku yang buat. Ada lagi nggak?" Balqis menggelengkan kepala.
Abid jongkok tepat di depan perut Balqis.
"Baby minta apalagi? Biar ayah beliin?"
Tidak ada respon~
"Baby diem aja ih, kan ayah tawarin makanan."
Balqis tertawa melihat Abid.
"Mereka ajaa, Balqis gak mau sendirian."
"Yaudah bentar, aku telepon mereka dulu."
Abid menuju ruang tengah untuk menghubungi teman-temannya. Berawal dari Jefri, karena nantinya Jefri akan menyampaikan pada yang lain.
📞 "Halo, assalamu'alaikum. Ada apa, Bid?"
"Waalaikumsalam, lu sama anak-anak pada di mana?"
📞 "Di markas wifi-an, kenapa?"
"Beliin bahan makanan ke supermarket, roti gandum sama oatmeal juga. Oh iya, alpukat sekalian."
📞 "Bahan mentah semua? Gak langsung jadi? Lu mau bikin apaan?"
"Balqis minta sup ayam, roti gandum, oatmeal sama alpukat."
📞 "Okee, ntar gue anter."
"Sekarang!"
📞 "Iya sekarang iyaa!"
"Duitnya gue tf ke lu, sekalian aja beliin martabak atau jajan-jajanan kalau pada mau ikut. Oiya, bahan sup ntar gue kirim."
📞 "Okesipp!"
"Jangan lama-lamaa."
Abid langsung mematikan panggilannya. Abid mengirimkan formula rahasia sup ayam lalu kembali ke dapur melihat Balqis sedang apa.
Ternyata lagi buka kulkas nyari makanan.
"Udah laper banget?"
"Nggaa juga, tapi Balqis pengen ngunyah."
"Yaudah kalau mau gini aja."
Balqis menatapnya bingung, "gini gimana?"
Abid mendekat dan ingin menyium bibir Balqis, tapi sayang terhenti karena Gea tiba-tiba muncul.
Balqis yang melihat Gea datang langsung mendorong Abid, sampai Abid meringis kesakitan karena pinggangnya kejedut meja.
Balqis tertawa melihatnya.
"Kamu malah ketawa ih, puas banget liat suaminya kesakitan."
"Ya kamunya kenapa sampe kejedut meja kek gitu?"
"Kamu yang dorong aku jubaedah!"
Balqis cengengesan.
"Ehm, Mbak Balqis."
"Iya?"
Balqis menatap Gea.
"Anu.. saya pergi dulu."
"Mau kemana, mbak?"
"Keluar bentar. Oiya, mbak sama Pak Abid gak jadi keluar?"
Balqis menggelengkan kepala.
"Saya gak mood lagi, yaudah kalau Mbak Gea mau berangkat silahkan. Hati-hati ya," kata Balqis sedikit mengusir.
"Saya pergi dulu ya, mbak. Assalamu'alaikum," Gea pergi setelah mendengar jawaban salamnya.
Balqis kembali melihat ke arah Abid yang sedang ngenes duduk lesehan di bawah meja.
"Abang ngapain disituuu?"
"Main petai umpet."
Balqis tertawa lagi.
"Sakit ya, hm?"
"Ya sakitlah, kamu dorongnya gak manusiawi sampe aku kepentok ujung meja."
"Yaudah maaf deh maaf. Mana yang sakit? Sini Balqis sembuhin." Balqis mendekati Abid dan mengelus pinggangnya.
"Kamu udah uwak-uwak sih makanya kesakitan," ledek Balqis.
"Enak aja uwak-uwak, calon ayah aku ni."
"Iya, iyaa calon ayah. Masih sakit gak, yah?"
"LU BEDUA MO SAMPE KAPAN MESRA-MESRA DI BAWAH? DI DIEMIN NGELUNJAK YE, GAK SADAR APA ADA MANUSIA DISINI?"
Abid dan Balqis benar-benar terkejut mendengarnya.
"Sejak kapan lu pada masuk?" Tanya Abid bingung.
"Kira-kira sejak dua tahun yang lalu."
"Bi bacot."
"Ini tarok dimana bah?" Tanya Jefri yang agak keberatan.
"Meja. Tio mana?"
"Otw dia, tadi lagi sama Meiga sih. Katanya mereka mau cari cincin," jawab Eldi.
"Cincin? Kapan nikahnya?"
"Dua taun lagi."
"Gue lempar sampe Amsterdam lu, Jef."
Jefri terkekeh.
"Btw ini lu bakal buat sendiri?" Abid menganggukkan kepalanya, "kenapa??"
"Sanggup? Yakin lu buat sendiri?"
"Iya anj, gak usah selepe gitu."
"Sepelee!"
Abid cengengesan, "itu maksud aing."
"Jatah kami, Bid?"
"Kan udah gue suruh beli makanan sendiri, gak di beli?" Tanya Abid sinis.
"Udah wkwk. Kalau gitu lu lanjut masak aje sono, gue sama yang lain mau main ps lu."
"Sempat kalah banting stik, lu pada yang gue banting."
Mereka berempat nyengir, "santai. Gak di banting paling di campakkan."
Abid yang berancang-ancang ingin menendang mengurungkan niat karena mereka sudah lari duluan ke ruang keluarga.
"Minta di ruqyah emang."
◒◒◒
"Gue jadi bayangin, ntar kalau Abid makan mulu terus jadi bapak hamil gimana ya."
"Oasuu."
"Puft, hahahaa!"
Mereka tertawa puas melihat ekspresi Abid. Masakan Abid tadi sudah masak, dan sudah siap saji.
Rasanya enak, Balqis suka. Tapi hanya dua suapan dia berhenti kemudian menyuapi Abid sampai sup itu habis.
Begitu juga dengan makanan yang di pesan lainnya, terkecuali alpukat yang di jus.
"Abid kok mau mau aja gitu di jejeli makanan mulu," kata Heon meledek.
"Ntar lu juga bakal di posisi gue, jadi gak usah bacot." Heon cengengesan mendengarnya.
"Tapi ye, ngidamnya Balqis masih agak normal. Harusnya lu ngidam minta beliin mobil sama Abid." Kata Rangga menginstruksi.
"Mobil aja masih agak gampang di mata Abid, yang lebih baik tu Balqis ngidam minta cariin cacing di dalam sawah. Mantep sumpah!"
"Annjj, gak usah ngadi-ngadi lu pada!"
"Keren tau, Bid. Kan lebih behh gitu," jawab Tio cengengesan.
"Bah beh bah beh pala lu, gue yang menderita."
Mereka tertawa lagi.
"Btw, lu jadi baby moon?"
"Jadi. Maybe besok, why?"
"Jadinya kemana? Korea?" Tanya Eldi.
"Nggak, Balqis minta ke Bali."
"Mayan lah gak jauh-jauh amat. Sabi nih kita ikut yekan?" Ujar Jefri menggoda.
"Ikut aja kak, lebih rame kan seru!"
Abid menatap datar istrinya, "aku kan mau berduaan."
"Udah sering, bosen."
"Maksudnya gimana nih? Kamu bosen sama aku?" Tanya Abid menjebak.
"Hah? Apa sih, sayangg?"
"Tadi kamu bilang bosen, berarti kamu bosen dong sama aku??"
"Ya bosen dalam artian lain loh!! Kamu tuh ya, yang kecil di perbesar!"
"Ndak tebalik? Kan kamu yang sering gitu," jawab Abid.
"Kenapa jadi nyalahin aku sih?"
"Ck, ak—"
"Ntar aja dah lu bedua gelut anying. Gue tau ini ujungnya bakal perang di atas kasur," kata Rangga malas.
"Ah sstt, diam!"
Abid Balqis kompak.
"Salah lagi kan gue."