
"Abangg, bangun yukk."
"Lima menit lagi yaa, sayang."
"Nggak nggak, buruan bangun.“
"Masih ngantuk akuu."
"Makanya tadi gak usah tidur siap sholatttt, bangun buruann! Kebo banget hehh!!"
"Morning kiss dulu"
"Kagakkk mauu, bangun buruan!"
"Iya iyaaa bawel banget sih"
"Buruannn"
"Kiss dulu makanya"
"Mencari kesempatan dalam kesempitan ya bund" Abid terkekeh pelan.
"Aku bolos lagi, kirim surat ya."
"Loh...?"
"Capek sayang, maunya tidur."
"Kebo mah emang gitu" Cibir Balqis.
"Dasar istrinya kebo!"
"Hiss... wake up, babyy!! Buruan mandiii, Balqis tunggu yaa. Lima belas menit kemudian harus disana"
"Liciknya.. aku di kasih waktu lima belas menit, sedangkan kamu kalau mau keluar butuh lima belas jam. Sok dandan ntah untuk apa"
Balqis mendekat ke Abid, ia menarik selimutnya lalu mengecup kening Abid.
"Ya enggak sampe lima belas jam banggg. Emang cowok harus pake blush on? Harus pake eyeshadow atau eyeliner kalau mau keluar, nggak kan?? Lagian, Balqis dandan biar abang gak malu bawa Balqis."
"Kalau mau dandan depan aku aja mendingan, dandan buat aku doang. Dirumah ajaa"
"Kenapa gitu?"
"Karena aku gak mau orang lain ikut ngeliat cantiknya kamu"
"Gombalannya receh tuan muda Althaffffff" Abid tertawa pelan.
"Udah buruan bangun yaaa" Balqis pun keluar dari kamarnya.
Bukannya bangun, Abid malah kembali memejamkan mata.
"ABANGG BANGUN!!!"
"Iyaa iyaaaa"
▫▫▫▫
"Bang, Kai ganteng kan?" tanya Balqis.
Abid yang tadinya fokus mengemudi menoleh menatap Balqis, "gak dengar abang bilang apa semalam?"
"Emm..."
"Sekarang, abang tanya. Jennie blackpink cantik kan?"
"Cantik, banget malah."
"Calon istri kedua."
"Macem-macem Balqis getok palanya!"
"Dosa loh"
"Ya siap getok langsung tobat" Abid menggelengkan kepalanya sambil cengengesan.
"Hari ini pulang cepat, siap kan mental nanti abang ajarin gelut."
"Abang tau darimana cepat pulang??"
"I have connection, you forget? I'm student favorite."
"Songong sekali manusia satu ini, suami siapa sih??"
"Suaminya bidadari surga"
"Mantepp, makin hari makin lancar gombalnya ya pak!" Abid cengengesan.
"Kiss dulu kek sayang, aku belom dapet kiss hari ini."
"Widiiii, makin mesum jugaa"
"Kiss gak melulu menuju kemesuman, kamu tu otaknya... kebanyakan baca cerita ples ples!"
"Sama ajaaa intinyaa!"
"Biar apa baca gituan?"
"Abang sendiri buat apa nonton begituan?"
"Education baby, biar mantepp!"
"Bang, alihkan pembicaraan. OTAK BALQIS MAKIN TERACUNIII" Abid terkekeh.
"Sayang, nanti kalau kamu di bully atau ditanyain temen tentang hubungan aku sama kamu, kamu jawab apa?"
"Mungkin Balqis bakal jawab kalau abang itu bodyguard Balqis."
Abid menatap sinis Balqis lalu menggelengkan kepalanya, "nggak lahh. Balqis bakal bilang kalau abang temennya Balqis."
"Temen??"
Balqis mengangguk santai, "temen hidup." Abid tertawa pelan, "abis kursus gombal dimana, buk?"
"Diii rumah lah, sama ahlinya" mereka tertawa bersama.
"Oh iya, abang. Abang mau Balqis kenalin sama mantan gak?"
"Hah? Mantan??" Lagi lagi Balqis mengangguk santai.
"Punya?"
"Punya dong"
"Siapaa?"
Balqis mengambil ponselnya, "Balqis punya tiga mantan. Mantan pertama itu Na Jaemin, yang kedua mas Hyunjin, terus mantan terakhir ituuu mas Taehyung."
Abid menggelengkan kepalanya, "terus sekarang siapa selingkuhan kamu hmm?"
"Ada tiga jugaa, yang pertama mas Kai terus yang kedua itu Cha Eunwoo yang ketiga nya mas Jackson"
"Hebat hebat!! Istri ku buaya betina, bagus ni kalau masuk indos*iar"
"Judulnya apa tu?"
"Istriku buaya betina, hobinya halu, kerjaannya rebahan" Balqis terkekeh.
"Abang salah ituuuu, Balqis gak rebahan doang yaaa"
"Gak rebahan tapi tiduran, sama aja sayang"
Balqis cengengesan, "tapi ya bang. Dari semua mantan dan selingkuhan nya Balqis tu, Balqis paling suka sama satu orang."
"Siapa?"
"Mas Jackson! Masa iya Balqis ajakin selingkuh gak mauuu, padahal mas Jackson ganteng banget terus dia idaman banget. Kemaren pas sama Jessie behhh nampak gentleman."
"Yang kamu turun deh, daripada aku seranggg"
"Dihh apaann, gitu aj---"
Abid nyosor, mobil yang ia bawa jalan secara otomatis. Balqis yang di sosor dadakan mencoba untuk memberontak, namun apalah daya ia tak terlalu kuat.
Sampai akhirnya Abid melepaskan ciumannya karena suara notifikasinya ponsel Abid, selalu saja ponsel menghalangi mereka.
Abid meraih ponsel nya mengabaikan dumelan Balqis.
Bundaa
Abid
i nya kepanjangan bund
InsyaAllah nanti pulsek Abid jenguk.
Abid kembali meletakkan ponsel di saku bajunya kemudian menoleh ke Balqis.
"Masih ngambek, cantik?"
"Bodoo"
"Harusnya aku yang ngambek karena kamu lebih muji muji mereka dari pada aku yang notabene-nya suami kamu"
Balqis menoleh ke Abid yang fokus ke jalan, ia mendekat lalu mengecup pipi Abid. "Aku minta maaff, tapi kan itu cuma angan-angan doang byy."
"Iya tau angan-angan, coba kamu kek gitu di depan papa. Pasti papa bakal insecure sama dirinya, termasuk aku sekarang"
"Masa iya? Kamu insecure??"
"Kamu fikir aku apa gak bisa insecure? Setiap manusia pasti pernah insecure"
Balqis mendekat lagi, mengecup pipi Abid berkali-kali. "Maaaaf oppa Abid"
"Belajar dari film Susah Sinyal, jangan minta maaf kalau kamu gak benar-benar tulus"
"Dihh, ngambek beneran masaaa"
"Balqis beneran tulisss minta maaaff"
"Hmm... Abang mau Balqis buatin apa biar gak ngambek?"
"Buat anak" jawab Abid asal.
"Ya nggak ngacoo jugaaaaaa, bangggg. Yang lainn" Abid diam fokus ke jalan.
Balqis menatapnya kesal, ia tak suka di kacangin. Gerakan tiba-tiba membuat Balqis terkejut, Abid sudah berada di dekatnya lagi.
"Aku maunya buat anak" bisik Abid.
"Astaghfirullahalazim, kamu ini berdosa banget ya samsull!"
▫▫▫▫
Abid berjalan santai menuju kantin, ini bukan jam istirahat. Abid di keluarkan dari kelas karena ketahuan tidur.
Dengan senang hati Abid keluar, ia mau keluar karena ingin melihat Balqis olahraga.
"Abiddd" Abid menoleh.
"Kenapa?"
"Bid, aku masih sayang tau sama kamu. Balikan yukkk"
"Maaf ya, seorang Abid gak mungkin ngambil sampah yang udah dia buang" Abid berjalan kembali.
Dengan cepat Shelia mengejarnya ia memeluk Abid dari belakang. Abid diam, membeku.
Balqis yang baru saja keluar dari toilet dekat kantin, jelas melihat mereka berdua. Sakit hati? Iya, Balqis sakit hati. Ia memilih pergi dari pada melihat adegan itu.
Abid yang masih di peluk memberontak sampai pelukan terlepas. Ia berbalik menatap sinis Shelia kemudian menyudutkannya di dinding.
"Gue bukan Abid kalau marah, gue gak bakal tenang kalau marah, lo mau mancing amarah gue?"
"B-Bid, aku.. aku mau kita balikan, plis!"
"Ogah, mending ajak Johan sana. Nikah sekalian, gue tau lu udah berhubungan intim sama dia"
Shelia terpaku, Abid memilih pergi.
"Itu bohong!!! Abid itu bohong!" Abid menghela nafas lalu berbalik, "bohong atau nggak. Gue tetep gak peduli!!"
Abid pun benar-benar pergi dari hadapan Shelia. Ia duduk di salah satu kursi lalu memesan jus tomat kesukaannya.
Matanya terus mencari Balqis tapi tak kunjung menemukannya, "nyari apa mas?"
"Nyari calon mantu bunda saya bu" Ibu itu tertawa.
"Saya kira kamu tidak tertarik dengan hal seperti ini"
"Saya normal buu, yakali gak tertarik sama wanitaa"
"Hahaha"
Di lain tempat, Balqis sedang berada di uks. Ia menangis melihat interaksi Shelia dan Abid. Sesudah pergi tadi, baru dua langkah Balqis berjalan, ia berbalik. Bertepatan dengan posisi Abid yang memojok kan Shelia di dinding.
"Lu kenapaa?" tanya Vane.
"Hah? Aku gapapa kok" Balqis mengusap air matanya.
"Bukannya sahabat itu saling cerita satu sama lain??"
Balqis terdiam, gak lama kemudian bel sekolah berbunyi.
"It's okay, lu gapapa kok kalau gak mau cerita sekarang. Tapi inget, kalau lu ada masalah dan butuh temen curhat gue siap" Balqis tersenyum.
"Thank you, vane"
"Pulang yok, gue anterin"
"Kamu duluan ajaa, aku ada urusan bentarr ke mall"
"Serius?" Balqis mengangguk.
"Ya udah deh, aku duluan yaa.. byee"
Balqis ikut melambaikan tangannya lalu pergii menuju kelas. Kelasnya sepi karena seluruh siswa-siswi sudah pada pulang.
"Kamu kemana tadi, aku gak liat"
Balqis menoleh, ternyata Abid. Balqis memilih diam tak ingin bicara apapun.
"Kalau di tanya jawabb!"
"Kemana-mana yang penting gak liat abang sama kak Shelia pelukan!" Balqis menjauh dari Abid.
Abid berfikir, "berarti dia liat?" gumam Abid.
Ia mengejar Balqis lalu menarik tangannya, "kamu salah liat. Aku gak meluk diaa"
"Iyaaa nggak, selesai dia meluk abang kurung di dinding sama kayak yang sering abang lakuin ke Balqis"
"Sayang, kamu salah pahamm" Balqis diam.
"Kita selesaikan baik-baik." Abid menarik tangan Balqis menuju mobilnya.
Sembari mengemudi, Abid mulai cerita tentang kejadian tadi. "Kamu bener-bener salah paham sayang"
"Sama ajaaa Balqis gak sukaaa, Balqis gak mau abang di rebut orang!!" Abid tersenyum, tangannya terulur mengacak pucuk rambut Balqis.
"Dalam artian, kamu takut aku selingkuh. Ya kann?"
"Bodoamat!!"
Abid membelokkan mobilnya menuju supermarket, ia keluar sendirian lalu mengurung Balqis di dalam mobil.
Setelah lama di supermarket Abid keluar dengan dua plastik besar di tangannya. Ia memberikan satu plastik ke Balqis.
"Apa inii??"
"Buka aja" jawab Abid sambil kembali mengemudi.
"Coklatttt?? Es krim?? Banyak bangetttttt"
"Buat Balqis semuaa??" Abid mengangguk santai.
"Itu yang dibelakang?? Buat kak Shelia?"
"Asbun aja, kita mau jenguk kembar, mereka sakit"
"Oooo gituuu"
Abid tersenyum sekilas. 'coklat merubah segalanya..' batin Abid.
"Bang, ini sogokan yaaa?!"