
"Sesuai pembagian kemaren. Jefri sama Tio ke markas Tama, Heon sama Eldi ke markas nya Johan."
"Lu jaga-jaga sendiri gapapa kann?" tanya Jefri.
"Gapapa, ntaar kalau ada apa apa gue kabarin kalian," mereka mengangguk paham.
"Ingett ya, keselamatan lebih penting. Kita gak boleh kenapa-kenapa, karena kalau kita kenapa-kenapa kita gak bisa cari Abid," kata Jefri.
"Okee, kalau gitu gue sama Heon cabut dulu"
"Gue sana Jefri juga mau langsung carii"
Rangga mengangguk, "semangat dan hati-hati!"
❃❃
Heon dan Eldi tiba di markas Johan.
"Bener ini kan markasnya?" tanya Heon.
"Iyaa, tapi kenapa kayak rumah tak berpenghuni? Sarang laba-laba banyakkk, debunya juga tebel"
"Gue rasa ini ciri khas mereka" Eldi tertawa.
"Malah ngelawak. Ayok masukk" Mereka berdua masuk bersamaan.
"Wahh.. kedatangan tamu nih. Tumben dateng lu bedua, ada apaa?" Johan tiba-tiba muncul.
"Sialann luu, ngagetin bangsattt" Johan tertawa.
"Dimana Abid?"
"Hah? Maksud lu??"
"Abid dimanaa?! Gak usah pura-pura gak tauu" protes Heon kesal.
"Lu pada nyari Abid kesini? Yang bener aja! Nyari Abid apa nyari Abiyyu?"
"Abid. Abid dimanaa? Lu jujur sekarang muka lu gak bakal berdarah-darah" ancam Eldi.
"Tunggu tunggu.. ada kesalahpahaman kayaknya. Abid gak ada kesini, gak pernah kesini, kenapa kalian cari kesinii??" tanya Johan.
"Jangan bohong Johan, lu tau kan gue gak pernah main-main sama ucapan gue?" tanya Eldi dengan nada sinis.
"Sumpahh, gue gak tau apa apa"
"Gue bakal cari di dalammm" Eldi dan Heon masuk ke markas Johan. Keliatan beberapa anak buahnya Johan langsung memasang sikap kuda-kuda.
Eldi dan Heon saling tatap, mereka pun sama-sama mengangguk pelan kemudian maju menghajar pasukan Johan.
Mereka berdua sedikit kewalahan karena anggota Johan sangat banyak.
"HEHH HEH!! BERHENTIII" Baku hantam pun terhenti.
Eldi dan Heon merapikan baju mereka lalu menoleh, "Abiyyu."
"Yess, is me, Abiyyu. Kenapa kalian bedua kesini? Kenapa datang-datang buat kerusuhan?" tanya Abiyyu sinis.
"Kerusuhan gak bakal terjadi kalau mereka gak ngehalangin jalan kami berdua!" Jawab Heon.
"Lu berdua ngapain disini? Kenapa maksa masuk?!" tanya Abiyyu lagi.
"Kami cari Abid, dimana Abid??" tanya Eldi gantian.
"Abid? Abid gak ada di sinii. Abid gak pernah kesini!"
"Gue udah bilang itu dari tadi, cuma mereka ngeyel di bilangin!" Sahut Johan kesal.
"Emang Abid kemanaa?"
"Abid hilang di bandara, sebelum itu ada adegan baku tembak."
"Abid hilangg?!" tanya Abiyyu kaget.
"Gak usah drama biyy, dimana Abid?"
"Sumpah demi apapun, gue baru tau kalau Abid hilang. Kalau lu masih gak percaya, masuk dan check di dalem!" Eldi dan Heon masuk.
Mereka menggeledah dan mengobrak-abrik markas Abiyyu. Namun, Abid tidak berada disana.
Karena tidak ada Abid, Eldi dan Heon pun langsung pergi tanpa sepatah kata.
"Abid.. boleh gue bantu cari Abid?"
❃❃
"Woiii! Keluar lu padaaa" teriak Jefri di depan markas Tama.
"Aih.. siapa lagi ni ganggu tidur siang guee?"
"Jordan?"
"Uwahh.. ternyata lu beduaa yang kesini. Apa kabar??" tanya Jordan.
"Lu.. lu kapan keluarr?!" tanya Tio keheranan.
"Gampang bagi gue keluar..." Jordan sedikit mendekat, "bokap gue banyak duit" bisiknya.
"Dimana Tama?" tanya Jefri.
"Tama ke luar negeri, karena kalian masukin dia ke penjara. Bokap nya bebasin dengan syarat Tama gak lagi tinggal di Indonesia," jawab Jordan santai.
"Gak usah nanya lagi, ada apa kalian kesini? Mana bos kalian?" tanya Jordan.
"Itu yang mau kami tanyakan, dimana Abid?!"
"Gimana gimana?? Lu bedua kesini nanya dimana Abid?"
Tio dan Jefri mengangguk, "jujur sekarang. Lu pasti tau dimana Abid"
"Ayok selesaikan tanpa baku hantam, lu tinggal ngomong sejujur-jujurnya dimana Abid!!" Sahut Jefri.
"Abid gak ada disini. Ngapain gue sembunyiin Abid disini?"
Dor!!
Satu peluru tertancap di tanah, diantar kaki Jordan.
"Lu gilaa?!"
"Mungkin," jawab Jefri sambil tersenyum smirk.
"Lu bawa pistol darimana anjj?!" bisik Tio.
Jefri menoleh sekilas ke Tio lalu melihat Jordan lagi, tanpa menjawab pertanyaan Tio.
"Gue gak tau dimana Abid! Abid gak ada disini!! Lu fikirin baik-baik, musuh Abid bukan cuma gue sama Tama tapi banyak!!"
Jefri dan Tio berfikir, benar juga apa yang dikatakan Jordan.
"Gue mau check di dalam," Tio tidak ingin terkecoh.
"Sure. Tapi gue gak bisa jamin lu berdua keluar dengan aman," Jordan tersenyum miring.
"Bacot lo!" Jefri dan Tio pun masuk.
Mereka mencari ke seluruh sudut markas mereka. Sama seperti Eldi dan Heon, mereka berdua tidak menemukan Abid.
"Lu bedua udah berantakin ruangan terus mau pergi gitu aja?" tanya pasukan Jordan.
"Tutup mulut lu rapat-rapat, jangan sampe buat gue emosi. Gue emosi, kelar hidup lu" bisik Jefri sinis.
"Bacottt lu!!"
Apa yang terjadi? Jelas saja baku hantam.
Tio dan Jefri terus melawan pasukan Jordan. Jordan sendiri berada di luar markas sambil menikmati sepuntung rokok.
Jordan tidak berniat memberhentikan anak buahnya karena baku hantam itu juga pembalasan dendamnya dan Tama.
Tio dan Jefri benar-benar kewalahan, musuh mereka banyak bahkan sangat banyak.
"Jef, kita gak bisa lawan mereka terus. Cari cara buat kabur" bisik Tio.
"Gue lagi cari cara, mata gue dari tadi nyari celah tapi di serang teruss" bisik Jefri gantian.
"Liat arah jarum jam angka dua" Jefri langsung menoleh, disana ada jendela.
"Siap-siapp." Perlahan tangan Jefri mengeluarkan pistolnya.
Dor!!
Seketika mereka semua menunduk. Jefri dan Tio pun berlari menuju jendela, mereka berhasil keluar dari sana.
Ia mengintip, Jordan sudah masuk ke markas untuk mengecheck anggotanya. Jefri dan Tio langsung lari ke mobil dan meninggalkan markas mereka.
"Ahh sial.. perih banget bibir guee," keluh Tio.
Ia menoleh ke Jefri yang diam, ia fokus mengemudi.
"Lu bawa pistol darimana setan? Pistol sahaaa?" Jefri cengengesan.
"Pistol nya Abid. Gue ambil dari markas Black Blood," Ia menunjukkannya pada Tio.
"Waaahh.. Abid dapet ni pistol dimana anjirr?"
"Mana gue tauu." Jawab Jefri sambil membersihkan darah di sudut bibirnya menggunakan tissue.
"Sialann banget Tama!" Umpat Jefri.
"Gue gak tau apa yang terjadi ntar kalau kita masih terus gelut."
"Pulang tinggal nama anjj" Tio tertawa mendengarnya.
"Liat aja ntarr, gue bakal bales kelakuannya Jordan!"
❃❃
"Gimanaa?? Lu pada dapat apaaan?" tanya Rangga tanpa menoleh.
"Astaghfirullah Jefri, Tioo. Kalian kenapa babak belurrr?" tanya Fany yang juga berada di basecamp.
Rangga langsung menoleh, seketika ia mendekati Jefri dan Tio.
"Siapa yang ngapain?? Lu bedua diserang??" tanya Rangga sinis.
"Wahh.. perlu di bales kayaknyaa" Eldi emosi. Eldi dan Heon memang mengalami baku hantam, namun tidak separah Jefri dan Tio.
"Sstt, udah ntaran aja. Kita cari Abid aja dulu, soal dendam belakangan" kata Jefri santai.
"Fany, obati mereka berdua" titah Rangga. Fany pun mengambil kotak P3K dan mengobati keduanya.
"Lu bedua dapet apaa, El, Yon? Di serang jugaa??" tanya Rangga.
"Hmm.. tapi gak--"
Drrrt.. Drrtt...
Ucapan Eldi terhenti karena panggilan telepon dari ayah Abid menuju ponsel Rangga.
"Om Abay"
"Angkat, siapa tau penting."
Rangga mengangkat teleponnya.
"Halo, assalamu'alaikum om."
📞 "Waalaikumsalam Ranggaa, kamu sama temen-temen dimana??"
"Ada di markas om, kenapaa??"
📞 "Sini ke rumah! Makan siang"
"Nggak usah om tadi ud--"
📞 "Om nyuruh, bukan nawarin. Om tunggu ya, assalamu'alaikum"
"Eh tapii om--"
Tut.. Tut..
"Wa'alaikumsalam"
Rangga meletakkan ponsel nya ke meja.
"Kenapa??" tanya Fany, ia selesai mengobati Jefri.
"Om Abay suruh kita ke rumah nya buat makan siang."
"Tapikan tadi udah makann" jawab Tio.
"Gue udah bilang gitu, om Abay tetep suruh ke rumahnya"
"Pantesann, Abid baik. Bokap nya sebaik ini!"
❃❃
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam, akhirnya kalian datangg," sambut Abay ramah.
"Repotin lah om, kami udah makan tadiii" ujar Tio tidak enak. Biasanya dia yang cepat soal makanan, tapi kali ini dia benar-benar segan untuk makan.
"Nggak repotin kok, kalian itu butuh makan biar bisa semangat cari Abid" jawab ayahnya Abid sambil tersenyum.
"Ehh, udah dateng toh? Kenapa gak di suruh masuk sih yah??"
"Oiya telupaa" Ayahnya Abid tertawa kecil.
Rangga dan yang lain jelas-jelas melihat itu hanya kepalsuan, tawa pura-pura.
"Ayo masukk" ajak ayahnya, mereka masuk bersamaan.
Balqis juga ada di meja makan, ia makan sendiri. Makan dengan tenang, sangat-sangat tenang.
"Haii, Balqis" sapa Eldi.
Balqis menoleh, ia membalas dengan senyuman.
"Assalamu'alaikum!!!" Kembar datang.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka bersamaan.
"Aaa ada bang Jepp" Devina sumringah.
"Haloo cantikk, abis darimana??" tanya Jefri dengan senyuman.
"Tempat tanteee, mainn. Oh iyaa bang Jepp, bang Abid manaa??"
Seketika semua terdiam mendengar pertanyaan Devina. Termasuk Balqis yang tidak jadi menyiapkan makanannya.
"Devi sama Avi ganti baju dulu yaa, nanti ikut makan" suruh Abay. Kedua nya mengangguk lalu pergi ke kamar.
"Balqis duluan kak.." Balqis pergi menuju ruang keluarga.
"Balqis, udah makannya??" tanya Bunda Abid.
"Udah bunda, Balqis udah kenyang" jawab Balqis dengan senyuman yang di paksakan.
Mereka menghela nafas panjang, "Avi Devi belum tau tentang Abid om?" tanya Rangga.
"Belum.. om sama tante bingung harus ngomong gimana. Tau kan Devi Avi cerewet, itu sebabnya om sama tante suruh mereka berdua ke tempat mama nya Fany"
"Terus kenapa balik lagi papp??" tanya Fany.
"Katanya pengen makan di rumah," Mereka berohria.
Drrtt... Drrrt..
"Kalian makan dulu ya, om mau angkat telepon"
"Iya om"
Abay pun sedikit menjauh dari mereka.
📞 "Halo boss!"
"Halo? Kenapa??"
📞 "Kami berhasil menemukan pak Erwin beserta istri dan juga anaknya"
"Alhamdulillah akhirnyaa ketemu!!"
📞 "Tapi bos.."
"Tapi apaa?"
📞 "Mereka bertiga sudah tidak bernyawa"
Bruk..
Ponsel Abay terjatuh, ia terkejut mendengar berita ini.
Seketika itu juga Rangga dan yang lain menghampiri Abay.
"Kenapaaa om??" tanya Jefri.
"Pappoyy kenapaa?" tanya Fany panik.
"Mama papa dan adik nya Balqis udah ketemu.."
"Alhamdulillah, ayo kesana om!" ajak Rangga.
"Tapi dalam keadaan... tidak bernyawa"
"Innalillahi wainnailaihi raji'un"
Balqis yang mendengar berita itu langsung menundukkan kepalanya. Ia nangis, kembali menangis.
Fany mendekat, ia memeluk Balqis yang terisak. Balqis menghapus air matanya, ia keluar dari pelukan Fany.
Ia mengambil kunci mobil Abid lalu pergi menghiraukan semua panggilan mereka.
Balqis bisa naik mobil karena di ajari Abid, ia juga sudah punya SIM. Balqis pun mengendarai mobil Abid menuju tempat sepi.
Di belakang, Rangga dan Jefri mengikutinya.
Di tempat yang benar-benar sepi, Balqis menghentikan mobilnya.
"AAAAAAAAA!! BALQIS LELAHH YA ALLAH. KENAPA ENGKAU BERIKAN COBAAN YANG BEGITU BERAAATTT" teriak Balqis sangat kuat.
Ia menangis lagi.
Siapa yang kuat ketika kehilangan orang yang dicintai sekaligus?? Saya rasa tidak ada. Kalau ada, saya giveaway Rangga.
"Author nya malah ngelawak, tuman!" Maaf, saya cengengesan.
Skip!
Rangga dan Jefri keluar dari mobil, mereka menghampiri Balqis.
"Balqis..."
Balqis mendongak, "Balqis capek kak. Capekk bangett" Jefri membantu Balqis berdiri, ia memeluk Balqis.
"Jep, bini orang itu."
"Iya ngerti. Setau gue satu-satunya cara menenangkan seorang wanita dengan memeluk nya." Jefri masih memeluk Balqis yang menangis.
Ia melepasnya setelah beberapa menit berpelukan, "Balqis. Allah SWT gak pernah kasih ujian di luar batas kemampuan umatnya."
"Tapi berat kak.. berat bangett. Kakak gak ngerasain gimanaa jadi Balqis! Kehilangan mama papa, kehilangan Ulfa, kehilangan bang Abid juga. Sakit kakk!" Jawab Balqis sambil terisak.
"Iya gue tauu, pasti beratt. Tapi gue yakin, lu pasti bisa lewatin ini semua."
"Balqis, badai pasti berlalu, kebahagian akan muncul setelahnya."