
"Ayaaaahhhhh"
"Ehh haii sayangnya ayaahh" Abid merentangkan tangannya sambil jongkok.
Anak perempuannya langsung menghambur ke pelukan Abid.
"Eehmm.. anakk cantikk ayaahh kok gak tidur siangg?" tanya Abid sembari menggendong dan mengelus punggungnya.
"Nggaa mau tidurr, gabisa tidurrr. Ayaah kenapa pulang lamaaa" tanya nya, ia memeluk erat Abid.
"Ayah cari duit untuk kamuu, biar kamu gak ke kurangan. Biarr kamuu bisa beli es krimmm, oh iyaa tadi beli es krim gakk?" Abid membawa anaknya menuju sofa.
"Nggak di bolehhinn, kata bunda nanti sakit gigiii."
"Yaa bunda bener dongg"
"Ishh tapikan Chiii pengen makan es krim banyaaaaaakk" Abid tertawa melihat ekspresi anaknya.
"Besok kita beli kalau bunda izininn, bunda manaa??"
"Bunda di kamaaar"
"Kenapa Chi gak sama bundaa? Chi sama bibi dari tadii??"
Anaknya mengangguk, "Chi ngambek sama bundaa, gara-gara gak di beliin es kriiim"
"Loh kok gituu, gak boleh gituu tau. Kalau bunda larang, artinya bunda gak mau kamu kenapa-kenapa. Ayo temui bunda, kamu minta maaf sama bundaa"
"Iyaaa, ayaahh" jawabnya sambil menunduk.
"Mau ayah gendong atau Chi jalan sendiri??"
"Gendong sama ayaahh"
"Yaudah ayokk" Abid menggendong nya sesuai permintaan.
Ia menyuruh sang anak membuka pintu ketika berada tepat di depan pintu.
"Hm?? Iya bebb, gapapa."
"Bang Abid mah belum pulang"
Abid menatap heran istrinya, "apa maksud nya manggil orang lain bebb?!" gumam Abid menahan kesal.
"Bunda ngomong sama siapa, ayahh??" Abid tidak menjawab ia menutup pintu kemudian menghampiri pembantunya yang ada di dapur.
"Bi, pegang Chi ya. Jangan biarin ke kamar saya" Bibi itu mengangguk.
Abid langsung pergi menuju kamar, "ohh jadi gini kelakuan selama suaminya kerja? Selingkuh? Teleponan sama cowok lain?" tanya Abid sinis masih di depan pintu.
"Ehh.. abang udah pulangg"
"Iya udah pulang, kenapa?? Telponan sama cowok lainnya terhentii?"
"Apaan sihh?! Nggak gituuuu, abang salah paham"
"Salah paham gimana? Aku denger sendiriii kamu ngomong di telepon sama cowok lain pake bab beb bab beb-an segalaa!!"
"Abang salah paham di bilanggg, itu tu tadi temen doang"
Abid memejamkan matanya sebentar lalu membuka lagi, "saya kecewa sama kamu" Ia langsung menuju kamar mandi.
Langkah nya terhenti ketika Balqis memeluknya, "dengerinn akuu duluuu! Kamu salah pahamm"
Balqis menarik tubuh Abid hingga berbalik, "hihi.. lucu banget kamu nya kalau cemburu, ngambeknya ganteng"
"Bukan waktunya bercanda, liat situasi"
Cup!!
Cup!!
Cup!!
"Itu bukan selingkuhan kuuu, sayangg"
"Jadi? Siapaa?" tanya Abid, ekspresi wajahnya berubah menjadi imut-imut lucu sekarang. Balqis tersenyum melihat perubahan ekspresi Abid.
"Itu Vane, inget kan? Vanelia Arandita"
"Dia? Yang benerr?" Balqis menunjukkan riwayat panggilannya.
"Kadang-kadang Vane suka manggil Balqis beb, yaa kalau Vane manggil kek gituu Balqis manggil gitu jugaa. Balqis seriuss gak boong, Balqis gak pernah selingkuhh" jawab Balqis sambil mengalungkan tangannya di leher Abid.
"Oh gituu" Abid menarik tubuh Balqis, hampir tidak ada jarak di antara mereka sekarang.
"Y-yaa teruss ini kenapaa?"
"Kenapa apanyaa, hmm?"
"Kenapaa deket-dekeett? Jangan macem macem, Chi masih kecill"
Abid tidak perduli, ia menarik Balqis ke atas tempat tidur. Saat ini Abid berada di atas tubuh Balqis.
"Kamu yang mancing tadii ya, kamu cium akuu berkali-kali kamu juga ngalungin tangann" jawab Abid sembari melepas dasinya.
"Iiii, di cium doanggg. Inii Balqis belum mandiiii"
Abid mendekatkan hidungnya ke leher Balqis, "aku bisa nyium wangi sabun mandi kamu sayangg."
Balqis cengengesan, "ketahuann yaa."
"Mau berapa ronde, hm???"
"Diiihh apaaann? Ntar malem aja yaaa, masa siangg tauu"
Abid tidak menjawab, ia mendekatkan mukanya ke leher Balqis.
"Mmmhhhh.. aaahhhh.. abaangg"
—
Bruk!!
"Bangunnnnnn woiiii"
"Anjjj, asuuuu lu padaa. Gangguuuu ajaa!"
"Hahahaaa, lagian lu gak kek biasanyaaa. Sejak kapan lu bisa tidur di kantin?!" tanya Jefri.
"Au tuh, mana creepy bangettt. Lagi tidur juga senyum-senyum sendiriiiii" sahut Heon.
"Ck, ga ngerti sihh. Mimpii gue luar biasaa bangett tadi"
"Mimpii apaaann?" tanya Rangga sambil memberikan jus favoritnya Abid.
"Secrettt"
"Ha kan kan, kek taii" Abid tertawa.
"Bisa mati penasaran gue, mimpi apaaa lu anjirrr?!" tanya Eldi.
"Mimpi indah"
"Dahlah encengg" Abid cengengesan.
"Btw, kenapa gue tidur di sini??"
"Ya kagaa tauu, lu langsung numpuk tangan pas sampe kantin. Lu kurang tidur?? Ada masalahh?" tanya Rangga.
Abid menggeleng, "kurang tidur iya. Tapi gue gak ada masalahh"
"Ngapain lu? Ngegame lagi? Tobattt bidd, tobattt" ujar Tio.
"Udah tobat dari dulu gue! Gue kurang tidur karena abis nge-desain gambar rumah"
"Lu mau bikin rumahhh?" Abid mengangguk.
"Nanti tinggal nyari tanah yang pass, setelah desain gue selesai"
"Widihh.. manteppp ya pak. Terus, ponakan gue udah ada??" tanya Rangga.
"Gak usah ngaco deh lu ahh, kecepatan kalau di umur segini gendong anakk"
"Iyasiii"
"Lu pada kuliah??" tanya Abid gantian sambil mengunyah nasi goreng.
"Gue kuliah, calon dokter insyaallah" sahut Rangga.
"Anjiir dokter dongg. Besok kalau gue sakit, gratisin yaa" ujar Eldi. Mereka tertawa mendengarnya.
"Gue rencana mau kuliah, tapi gak di sinii" jawab Jefri.
"Jadi dimanaa?" tanya Tio.
"Belum tau jugaa, tapi yang jelas gak di sini. Kalau di sini kan kantin nya Sma"
"Taiiii taiiii" keluh Rangga kesal.
"Sini pala lu gue headshot" Jefri tertawa melihat ekspresi kesal temannya.
"Woiii bidd" Abid menoleh, ternyata Sisi.
"Ikut rapat, perwakilan kelas dua belas. Mau bicarain tentaaang malam prom"
"Lahh, kenapa harus gue perwakilan? Candra kan adaa"
"Dia nggak mau, you know lah dia sekarang lagi ngapain"
"Lah ngapain emang?" tanya Heon.
"Yailahhh pelupaa, bukannya kemaren kalian tanding futsal sama Candra? Mereka kalah harus lari keliling lapangan pake baju maid"
"Oiyaaa anjiirr, lupaa! Waaaww sekalii"
"Hahaha.. udah kapok berurusan sama Abid kayaknyaa makanya di laksanakan" Abid tersenyum smirk mendengarnya.
"Yang lain gak ada? Mereka aja nih kalau nggak, gue maless dengerinnya ntar ngantukk" jawab Abid.
"Anak anak kelas lain sepakat nya lu sebagai perwakilan, mereka kalau mau juga bisaa gantiin" ujar Sisi menunjuk teman-teman Abid.
"Gue ogahhh," tolak Eldi.
"Udah bid, lu ajaa!"
Abid menghela nafas, "yaudah ntar gue nyusul" Sisi mengangguk.
"Yaudah kalau gitu gue pergi dulu, mau siap-siap." Abid mengangguk, Sisi pun pergi.
"Siap prom kita liburan, deall?!"
"No no.. gue siap Balqis dapet raport baru bakal liburan"
"Masih lama tapiii"
"Nggakk, bentar lagii"
"Emang mau kemanaa?" tanya Jefri.
"Masih nyari tempatt sii, kalau nggak Bali ya Raja Ampat atau mungkin Sumba"
"Weiiii, gue juga pengen ikutttt" rengek Eldi.
"Barengan oke, deal!!" kata Rangga.
"Parahhh lu padaa, padahal gue yakin Abid mo buat Abid junior" ujar Heon.
"Gue ikut di kamar liatin, biar gak gugup kalau besok gue yang praktek"
"Anjjj, gilaaaa luu!!"
◖◗ ◖◗ ◖◗
"Sayaaanggg" teriak Abid melihat Balqis di depannya, Abid berlari menghampiri Balqis. Balqis malah terkekeh melihat tingkah konyol Abid.
"Miss you, babyy" bisik Abid.
Balqis mendorongnya, "apaan cobaa ngacoo beneeerrr" Abid nyengir dengan wajah tanpa dosa.
"Jujurrr ya raaa, gue irii. Gue iriii!!!" protes Vane kesal.
Balqis tertawa, "iri kenapaa? Bukan nya kamu juga punya doii?" tanya Balqis.
"Yeee.. dia hobinya ngegamee muluu anjirrr. Kesell gueee"
"Jangan-jangan doi lu selingkuh tuh di game" ujar Abid.
"Astaghfirullah bang.. kaga boleh begituu" bisik Balqis. Abid tersenyum, lagi lagi dengan wajah tanpa dosa.
"Gak ada bedanya sama guee, van. Kerjaan doi ngegame muluu" sahut Ayu.
"Lahhh doi gue hobi nya ngurus burung" di lanjutkan Indira.
"Ambigu yaa?" tanya Balqis. Indira tertawa, "burung peliharaan Balqisss."
"Mikirnya negatif terosss" ledek Abid.
"Karena abang" balas Balqis kesal, Abid cengengesan.
"Bidd!" Abid menoleh.
"Uyy, kenape?!"
"Lu di cariin ngilang" protes Jefri kesal.
"Maapp, gue rinduu nii sama bidadari" jawab Abid sambil mencubit pipi Balqis.
"Sakittt samsudinn"
"Ooo sakit ya maapp" Abid mengelusnya dengan penuh perasaan.
Cup!
Abid mengecupnya.
Reflek, Balqis memukul tangan Abid.
"Luar biasa sekali memang tuan muda Althaf. Gak tau tempattt" omel Eldi, Abid terkekeh sambil mengelus tangannya yang di pukul Balqis.
"Sayang temen-temen kamu siapa namanya?" tanya Abid.
"Ini Ayu, Vane, Indira"
"Ayu pacarnya Rian yaa?" Ayu mengangguk, Abid berohria.
"Lu pada tadi kan curcoll yaa, gue ada saran nih. Coba apus game nyaa, marah kagak?! Kalau marah berarti dia ada doi di game nya" ujar Abid.
"Teruss nanti kalau putus gimanaa, kakk?!"
"Ini ada Eldi sama Jefri masih membujang, tinggal milih" jawab Abid santai.
"Tapi kalau Rian sih gue yakin, dia gak bakal selingkuh. Paham gue sama pola pikir dia, kalau bisa jangan disia-siain. Langka tu anakk" cerocos Abid.
"Ayo pulang, byy" Abid menarik tangan Balqis menuju mobilnya.
"Bidd, woii, nyett, suuu"
"Satu kebun binatang aja sebuttt" cibir Abid lalu masuk ke mobilnya.
"Gue duluaann" Abid melambaikan tangannya kemudian pergi meninggalkan parkiran sekolah.
"Sayang.. ngambek??" tanya Abid pada istrinya yang sedari tadi diem.
"Apaann gitu doang ngambekkk"
"Yaaa abang gak liattt tempattt mau nyosorr! Itu di sekolah tauuu"
"Terus kalau di sekolah kenapa? Yaa kalau gak boleh aku cium cewek lain ajaa"
"Hehhh!!!"
"Apaa?? Hm?? Apaa??"
"Ngadi-ngadi bangettt mau cium cewek lainnn!! Jangan bilang lagi abang muasin hasrat sama cewek lainn"
"Istighfar dulu sayang ku, cintaaaa. Kapan coba aku muasin hasrat sama cewek lain sedangkan dua empat per tujuh ku sama kamuu" balas Abid.
"Yaa.. kali ajaa"
"Nggak lahh, gak bakalll"
"Yaudahh maapinnn, tadi suudzon sama suamii" Abid menepuk pipinya.
"Maap doang gak cukup, by!"
"Iss, dasarr" Balqis mendekat, ia mengecup pipi Abid juga mengecup bibir nya.
"Dah yaaa"
"Mancing-mancing emangg" Balqis cengengesan.
"Mampir ke toko bukuu dulu yaaa"
"Mau beli apaaa?"
"Bukuu lahh, yakalii cabe"
"Buku apa, sayaangg?" tanya Abid sambil mengecup punggung tangan Balqis.
"Bukuu novell"
"Nggak nggak, gak aku izinin"
"Lahh? Kenapaa? Buku doangg abangg, masa gak bolehh?"
"Kamu mau ujian kan? Besok lagi ujiannya. Yang ada kamu baca novel bukan baca buku pelajaran. Siap ujian, aku janji beliin semua buku novel yang kamu mau"
"Janjii yaa? Semua??"
"Iyaaa, dengan syarat fokus dulu sama ujiannya. Jangan mikirin novel itu aja"
"Okeee siappp bosss!"