
"Lo deket ya sama Abid?" Chandra datang menghampiri Balqis yang melihat Abid pergi.
"Hmm? Nggak juga, kak"
"Abid juga noleh ke lu tadi, sensitif juga kalau gue bahas lu"
"Keliatannya kalian deket banget, pacaran kan?"
"Bukan, kakak adek biasa"
"Baguslah kalau gitu, gue bisa maju kan? Ngantri jadi calon pacar atau calon suami??" Balqis terdiam.
"Balqis mau ketemu kak Fany" Balqis pergi.
Ntah mengapa Chandra menahan tangannya, Balqis menghempas tangan Chandra. "Gue selalu dapetin apa yang gue mau loh"
"Maaff, Balqis gak tanya" Balqis langsung pergi.
"Wahh, kok susah?"
"Jual mahal emang, jallang kegatelan emang gitu" Seorang wanita di belakang Chandra menyahuti, Silvia.
"Kenapa? Lu gak suka sama dia?"
Silvia mengangguk, "Sok kecakepan"
"Nyatanya dia cakep. Cakepan dia dari lu"
"Cakep tapi fake buat apa"
"Fake maksud lo?"
"Ya fake, sok polos nyatanya nggak"
"Dendam ya dendam tapi ga gitu juga, Sil"
"Gue gak boong, gue pernah buntutin dia. Dia pulang ke apartemennya dan di sambut suara cowok"
"Lu selidiki gak siapa?"
"Gak yakin sih, suaranya deep voice. Bikin nagih sebenernya"
"Hahaha, ternyata lu lebih jallang" Chandra pergi meninggalkan Silvia.
"Aaaaghh!! Chandra, Abid dan gengnya selalu belain lo!! Gue eneg liat muka lo, tunggu pembalasan gua, Balqisss!!"
✡✡
"Abid pergi, mungkin balik ntar malem" Ujar Rangga pada Balqis, Balqis menghampiri tenda Fany. Dan ternyata, Black blood berkumpul disana.
Hanya ada mereka berenam --Rangga, Jefri, Tio, Heon, Eldi dan Fany-- tidak ada yang lain.
"Iya kak Balqis tau kok, udah bilang tadi" Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Lu jangan deket deket sama Chandra, doi cemburuan"
"Iya kak"
"Kamu di gangguin gak sama Silvia?" tanya Fany. Balqis menggelengkan kepalanya.
"Kalau di ganggu jangan lupa bilang, anggep kami abang lu"
"Hehe iya kak jep, udah di anggep abang kok"
"Btw, kak Rangga sama kak Fany kan abis jadian ni. Gak mau makan makann??"
"Nah iyaaa!! Rangrang makan makann ayokk" ajak Eldi antusias.
"Matamuii, makan makan apa?? Mau makan rumput rumput luu?!" Eldi menatap Rangga sinis.
"Ya nggak itu jugaa la boss!!"
"Ah udahlah, susah malakin si Rangga. Pelit bangettt"
"Au tuh, jadi khawatir sama Fany. Kalau nikah punya suami pelit kek gini pasti gak enak. Cerein aja ya, fan" ujar Tio.
"Emang iblis si Tio" Tio tertawa sambil mengangkat dua jarinya.
"Btw rang...." Rangga menoleh ke Eldi.
"Kan bukan mau nyebrang ya, KENAPA LU PEGANGAN TANGAN MULU?!" Mereka terkekeh melihat wajah kesal Eldi.
"Kamu jones jadi diem sajaaa, jangan mengganggu"
"Rangga nakjall" Rangga ikut terkekeh.
"Balqiiss"
"Kenapa??" tanya Balqis.
"Itu, kak Chandra luka. Katanya mau diobatin sama lu" Balqis diam.
"Ngajak ribut tu anak?" tanya Rangga sinis.
Sontak Vane terkejut mendengar suara Rangga, "Kak Rangga? Gue kira lu bedua doang sama kak Fany"
"Tadinya aku ngira juga gitu, pas deket ada nih kak Rangga sama yang lain"
Vane mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berohria.
"Sakit apa Chandra?" tanya Eldi sinis.
"Dia jatuh dekat air terjun, kak"
"Parah?" tanya Heon gantian.
"Nggak juga, lututnya doang sama siku yang luka"
"Lu bisa obatin kan? Lu juga pmr pasti bisa, lu aja yang obatin" suruh Jefri.
"Tapi kak Chandra maunya Balqis"
"Kenapa harus Balqis?" tanya Tio.
"Nggak tau, kak"
"Bilang Balqis sibuk" sahut Rangga.
"Tapi nanti..."
"Vaneee manaaa Balqis nyaaa?! Buruan lohh itu darahnya Chandra gak berhenti ngalirrr!!"
"Manjaaa banget si anjinggg?!" Jefri keluar tenda.
"Kenapa harus Balqis hah?"
Seketika suasana menegang, Silvia bingung harus jawab apa. "Ya gak tau ituu, buruan lah. Bu Jihan juga disanaa"
Balqis diam, ia menatap para sahabat suaminya menunggu jawaban. "Yaudah sana. Jangan aneh-aneh lo" Balqis mengangguk setuju.
"Balqis pergi dulu, kak"
"Hati-hati Balqis, kalau ada apa-apa hubungin aku" Balqis mengangguk lagi, ia pun pergi bersama dengan Vane.
"Lima menit lagi kita samperin" ujar Jefri ketika Balqis sudah pergi.
"Tiga menit aja, kelamaan kalau lima menit" sahut Fany.
"Oke deall"
Tiga menit kemudian..
"Ayokk" mereka beranjak.
"Bangg Jefri, bang Ranggaa, tolongin ini kebakarannn"
Rangga dan temannya langsung menuju tenda, ternyata benar terjadi kebakaran. Beberapa kain penutup terbakar.
Dengan sigap mereka mematikan api. Hanya butuh waktu tujuh menit mereka berhasil mematikan api itu.
"Ini kebakaran kenapaa?" tanya Jefri sarkas.
"Nggak tau itu bangg, tadi gue masuk api masih kecil ehh lama lama gede"
"Ehh Balqis???"
Mereka semua berlari menuju air terjun. "Loh gak ada??"
"Chandra mana Chandra??!"
"Lu pada kenapa disini??" Chandra muncul tiba-tiba.
Mereka meneliti badan Chandra, Chandra tidak terluka.
"Vane!!"
Teriakan Eldi yang keras membuat Vane gelagapan, ia menghampiri Eldi. "Chandra gak kenapa-kenapa ini, lu kenapa bohong?!!!" tanya Eldi dengan emosi yang membara.
"Gue gak tau kak, tadi disuruh sama kak Silvia manggil Balqis. Gue emang pergi bareng Balqis tadi, tapi Balqis ngikut Silvia dan gue balik ke tenda. Gue gak tau apa apa setelahnyaa"
Rangga memegangi rambutnya, yang lain menghela nafas panjang-panjang.
"Kenapaa sii?" tanya Chandra heran.
"Mereka bilang lo jatoh dii air terjunn, Balqis di tarik suruh obatin lo"
"Lohh? Gue dari tadi di tenda main gitar"
"Ahhh udah gue dugaa! Pasti ada yang gak beresss!!"
"Mampusss lah"
"Udah gak usah ngeluh, ayok nyari sebelum tuan ganas pulang" mereka berlari mengitari hutan.
❀❀❀
Abid baru saja tiba di kafe tempat pertemuannya dengan klien.
"Maaf saya terlambat"
"Aah.. akhirnya kamu datang" ujar Abay lega.
"Abid, perkenalkan ini nona Nova calon investor kita"
Abid tersenyum, "Senang bertemu anda nona Nova. Saya Abid, penerus Eidi"
Nona Nova mengulurkan tangannya sambil berdiri, "Saya Nova, saya juga senang bertemu dengan anda tuan Abid"
Abid membalas uluran sambil tersenyum palsu. "Tuan Abid mau minum apa? Biar saya pesankan"
"Ahh gak perlu nona, jadwal saya padat jadi tidak bisa lama-lama"
"Saya juga padat, bisa dikatakan saya lebih sibuk dari kamu"
Abid diam, ayahnya menatap sinis.
'Salah bicara kan gue, asula baperan'
"Em.. kalau gitu saya pesan yang sama dengan nona Nova" Nova tersenyum genit, ia memanggil pelayan dan memesan minuman yang sama dengannya.
"Anda lebih tampan dari yang saya duga"
Abid tersenyum sekilas, "Terimakasih atas pujiannya"
"Udah punya pacar, tuan Abid?"
"Hal itu sedikit... privasi. Bisa kita langsung ke topik?"
Nova menganggukkan kepalanya, "Sebelum mulai saya ke kamar mandi sebentar ya" Abid dan Abay mengangguk. Nova pun pergi.
"Bid, kamu jangan asal bicara ya. Kan udah ayah bilang dia sedikit--"
"Iya ayah iyaaaa. Only one hour, right??" Abay mengangguk.
"Nanti kalau dia balik ayah mau pulang, biar kamu yang diskusi berdua"
"Ayah, beduaan itu gak baik. Apalagi sama yang bukan muhrim, Abid gak mau"
"Alah gayamu"
"Yahh, Abid udah punya istri kalau ayah lupa"
"Hanya sebentar Abid, pembahasan kalian juga tentang pekerjaan. Ayah yakin Balqis bakal maklum"
"Maaf lama, ya?" Nova datang bertepatan dengan minuman datang.
'Seperti ada yang tidak beres'
"Nona Nova, kalau berdua dengan Abid saja tidak masalah bukan?" Nova mengangguk.
"Tidak masalah. Anda ada urusan lain?" Abay mengangguk.
"Kalau gitu saya tinggal dulu"
Abay pergi meninggalkan kafe, Abid dan Nova mulai membicarakan pekerjaan mereka. Abid yang tadinya tidak ingin minum harus minum karena kehausan.
Tak terasa jam berlalu, hari sudah mau maghrib. "Saya kira cukup untuk pertemuan hari ini"
Nova mengangguk, "Semoga kita saling menguntungkan tuan Abid" Abid mengangguk. Ntah mengapa, tiba tiba kepala Abid sakit.
'Dugaan gue gak pernah salah, dasar rubah licik'
"Ada apa tuan Abid?" Abid menggeleng.
"Sepertinya---"
"Saya duluan" Abid berlari ke mobil, Firman masih menunggunya.
"Mas Firman, kembali ke camp" Firman mengangguk, ia mulai melajukan mobil.
"Oh ayolah" Abid menepuk kepalanya.
"Kenapa kamu??"
"Mas cari obat penghilang sakit kepala dong" Firman mengangguk, dia sedikit panik. Takut Abid kenapa-kenapa.
Firman membelokkan mobilnya tepat di sebuah apotek, ia kembali dengan obat dan sebotol air mineral. Abid meneguk nya dengan cepat.
"Firasat Abid gak baik dari tadi, mas Firman... tancap gas ke campp"
Firman mengikuti kemauan Abid, dengan kecepatan penuh diatas rata-rata dan secara kebetulan tidak ada kemacetan Abid tiba di camping tepat pukul setengah tujuh.
"Mas balik dulu ke kota, yaa? Kamu udah gapapakan?"
"Abid gapapa mas" Jujur kepalanya masih sakit sampai sekarang.
"Mas pergi dulu" Abid mengangguk. Dia memegangi kepalanya sekilas lalu pergi.
Abid tak peduli dengan rasa sakitnya, dia ingin bertemu Balqis.
"Rangga!!"
'Mati muda gue' batin Rangga.
"Eh lo udah balik, gue kir--"
"Balqis mana??"
"Em itu..."
"Muka lu pucet, lo sakit??" Jefri datang mengalihkan perhatian Abid.
"Balqis manaaa?"
Mereka tidak menjawab. Abid langsung pergi menuju tenda Balqis. "Bid" Abid di tarik Rangga menuju tempat sepi.
"Kita minta maaf"
"Apa, kenapa??!"
"Balqis hilang, sejak sejam yang lalu"
"HAHH?!"