A B I D

A B I D
– Gangguuu



"Kamu mengumpat barusan?!"


"Nggak lah, pak"


"Hukuman kamu mau ditambah, Abid?"


"Oh ya jangan dong pak. Tadi gak sengaja kok pak" Abid cengengesan.


"Dari pada bapak marah-marah terus sama saya, mending anak tercinta bapak yang berbakat itu suruh bersuara. Waktunya tinggal lima belas menit lagi"


"Gara-gara kamu ini!"


"Saya lagi?!"


"Sabar Abid, sabar"


Satu kelas tertawa melihat muka Abid yang menahan amarah.


"Ya sudah, Sisi. Ayo mulai"


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh"


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" Suara Abid paling keras diantara temannya yang lain.


"Mukadimah jangan kelamaan, sampe lebaran haji gak selse nanti" ceplos Abid.


"Abidd!"


"Peace pak peace" Pak Dayat menggelengkan kepalanya.


Sisi pun mulai menjelaskan maksud dan tujuannya mengunjungi setiap kelas.


Tujuannya adalah memberitahu semua siswa-siswi tentang anak osis yang akan mengadakan acara pengajian lalu disusul tim organisasi yang ingin mengadakan camping.


Acara osis diselenggarakan hari Kamis minggu ini dan acara tim organisasi mulai dari Jum'at pagi sampai Minggu sore.


Abid sudah tidak bersemangat mendengarnya. Itu terlalu lama bagi Abid.


"Ada pertanyaan?" tanya Sisi. Abid mengangkat tangan.


"Abid nanya yang genah, ya?!"


"Santai aja pak. Sensi banget sama saya"


"Mau tanya apa lu?!"


"Itu acaranya tim organisasi gak bisa di tawar? Kelamaan woi jum'at pagi sampe minggu sore!"


"Nah setuju, gue gak bisa jauh dari pasangan gue coy" sahut Tio. Semua menatap Tio termasuk Black blood.


"Lu kok gak kasih tau bangsul?!" tanya Rangga.


"Ngga usah gitu juga ekspresi nya bang" Tio cengengesan.


"Ahhh iyaa ingett"


"Apa Bid?" tanya Eldi.


"Pasangan dia kan kasur sama guling. Cinta segitiga yang gak terlepas"


"Oh iyaaaa kan Tio Jones"


"Hahahahahahahaha"


"Manusia laknat" Mereka terkekeh.


"Tadi pas lu bilang pasangan muka Sisi berubah tau. Kea kea ngerasa sakit ati" ledek Abid.


"Jangan mengadi-ngadi lu paijo"


Black blood tertawa kecil melihat muka Sisi.


"Back to topic, jawaban pertanyaan Abid adalah gak bisa. Karena acara ini sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Jadi mohon kerja samanya untuk tidak mengubah rute acara"


Abid mengangguk-angguk.


"Btw, kenapa dari tadi lu doang yang ngoceh?" tanya Abid.


"Maksudnya?"


"Lu yang salam, lu yang jelasin, lu juga yang jawab. Dua orang disamping kiri lu dan dua orang disamping kanan lu fungsinya apa? Nyemak doang?"


"Ngena bangett jayy"


"Tumbenan tu anak peduli" sahut Jefri.


"Bukan peduli, sumpek liatnya. Kek cuma beban osis doang. Kalau udah ditunjuk, diajak sosialisasi ikutan ngomong bukan cuma satu orang yang ngomong"


"Keliatan banget jadi beban. Udah la beban keluarga jadi beban osis pula"


"Sanjayyyyyyy, sadissnyaa mas Abid"


Abid diam memperhatikan mereka yang menunduk. "Angkat kepala kalian, mahkotanya jatuh"


Dibalik muka menunduk mereka ada senyum lebar yang terbentang dari Sabang sampe Merauke.


Abid bangkit dari duduknya sambil membawa tas.


"Next time kalau diajak beginian ikut bantu ngomong, jangan diem aja"


Abid melewati mereka, "Saya duluan pak buk. Assalamu'alaikum"


"Woii tungguin guaa, bid!!!" Black blood tim ingin menyusul.


"Duduk" namun ditahan pak Dayat.


Eldi dan yang lain terpaksa duduk kembali.


Pak Dayat keluar mengejar dan menarik kerah baju Abid, ia menyuruhnya masuk kembali ke kelas. "Sudah saya bilang, hargai teman kamu! Bener bener mau tambah hukuman?!"


Abid berdecak kesal lalu kembali duduk di tempatnya. Siswi-siswi itu serentak mengakhiri sosialisasi mereka sembari mengucap salam.


Semua berhamburan keluar setelah pak Dayat keluar, sedangkan Abid dan temannya keluar paling akhir.


"Jangan lupa hukuman kamu" Pak Dayat muncul di depan pintu.


"Iya pak iyaaa" jawab Abid santai.


"Lo dikasih hukuman apa?" tanya Rangga.


Abid diam sambil meletakkan telunjuknya di bibir. Dia mengambil ponselnya menelepon Rian.


"Gue disini" Rian keluar dari tempatnya.


"Lu ngapain disini?" tanya Rangga.


"Gue mau minta kerja lagi sama bang Abid, ada gak bang?"


"Anter jemput adek gue" jawab Abid.


"Info gaji dan lainnya gue watsap nanti"


Rian mengangguk-angguk. "Oke gue setuju"


"Bid, lu dapet hukuman apaaan?!" tanya Rangga ngegas.


"Lari doang keliling sekolah" jawab Abid sambil membuka baju putihnya.


"Kita ikut" Jefri ikut melepas bajunya.


"Gak usahhh"


"Gak acikk la, kita juga pokoknya" jawab Heon.


"Eh lu gak usah betingkah ya sumsadin! Lu balik sama Rian, gada penolakan"


"Tap--" Abid dan yang lain langsung menatap Heon tajam.


"Oke oke ampun" Heon cengengesan.


"Lu bawa mobil yan?" Rian menggeleng.


"Bawa mobil gua. Ntar lu anter Heon terus jemput adek-adek gue!"


"Oke siap boss" Rian menerima kunci mobil Abid.


Abid mendekat untuk berbisik, "Jangan lupa bini gue"


Rian mengangguk, "Sana yon"


"Masa gue balik duluan?!"


"Rasah bawel, pulang duluan sono"


Dengan berat hati Heon pulang duluan bersama dengan Rian.


Setelah mereka pergi, Abid mengambil iPhone nya untuk menghubungi Balqis.


Abid


bunda pulang sama Rian


My bini ♡


Abid


lagi latian manggil bunda


My bini ♡


Kenapaa??


Abid


ya kan kamu calon bundanya anak-anakku, jadi nanti kalau anak kita lahir udah kebiasa manggil bunda.


My bini ♡


Ngardus


Abid cengengesan membaca balasan Balqis.


"Udah gak usah ngebucin lu"


"Syirik amat" Abid kembali melihat ponselnya.


Abid


dah ya, hati-hati. kalo ada apa apa kabari


Tanpa menunggu balasan, Abid meletakkan ponselnya ke dalam saku celana.


"Lu pada ikut beneran?" mereka mengangguk.


"Jefri, Rangga lu kaga mau pake baju???"


"Sayang baju gue" jawab Rangga cengengesan.


"Mau pamer roti sobek bilang" kata Eldi sinis.


"Iri ya lu.. huuuu"


"Minta ditabok" Rangga tertawa.


"Dah yok"


Abid mulai lari duluan dari kelasnya menuju lapangan. Mereka berbaris dengan Abid di depan sebagai pemimpin.


Para siswi yang tadinya ingin pulang kembali ke lapangan untuk melihat pemandangan yang indah.


Yaitu..


Roti sobek


▪▪▪▪


15.35


Abid tiba di apartemennya dalam keadaan basah kuyup. Ia kehujanan karena kembali mengendarai motor sport yang diantarkan Rian.


Saat mengantar Rian kerumahnya cuaca masih mendung, namun saat Abid kembali menjalankan motornya menuju rumah, hujan deras pun turun.


Ting tong..


"Balqis"


Abid sudah kedinginan namun pintu belum dibukakan.


Berulang kali Abid memencet bel sampai akhirnya pintu terbuka. Namun yang membukanya bukan Balqis, Abid sama sekali tidak mengenal wanita ini.


"Lu siapa? B-balqis mana?" tanya Abid gugup karena semakin kedinginan.


"Lo Abid?" Abid mengangguk.


"Cakepp amattt subhanallah!!"


"Balqis manaa? Siapa aja di dalem, buruan gue kedinginan"


"Oh ada Balqis di dalam. Masuklah"


Abid langsung masuk.


"Kak Abid!"


Abid menoleh sebentar lalu masuk ke kamarnya.


"Itu Abid?" Balqis mengangguk.


"Sana urusin dulu, kedinginan tuh dia" Balqis mengangguk lagi, ia pun masuk ke kamar Abid.


"K-keluar gue mau mandi"


Bukannya keluar Balqis malah masuk ke kamar mandi Abid menyiapkan air panas.


"Buruan mandii, udah Balqis siapin air panasnya" Abid tidak menjawab tapi langsung masuk ke kamar mandi.


Balqis menunggu di kamar Abid sambil menyiapkan bajunya.


"Balqisss"


"Iya kakkk?"


"Ambilkan bajuuu" teriak Abid dari kamar mandi.


Balqis membawakan baju Abid ke dekat kamar mandi.


"Nihh kak" Abid membuka pintu sedikit lalu mengambil bajunya.


Lima menit kemudian Abid keluar kamar mandi.


"Kenapa gak neduh sih kak?" tanya Balqis sambil mengeringkan rambut Abid.


"Kelamaan kalau neduh"


"Itu tadi siapa?"


"Siapa? Apa? Yang mana?"


"Yang bukain gue pintu?"


"Oh itu, kakak kenalan aja nanti. Dia udah nunggu dari tadi"


Balqis selesai mengeringkan rambut Abid. Saat ingin beranjak Abid menarik lengannya sehingga terjatuh lagi di kasur.


"Kakk is apaan sii?! Jangan maen-maen yaa"


Abid menatap Balqis dengan sedikit senyuman.


"Ya jangan marah marah dong. Ahh dingin... ahh, gue butuh kehangatan" dengan manjanya Abid memeluk Balqis.


"Ssttt, modus bangett sii kak Abid"


"Nggak modus, gue beneran kedinginan ini"


Balqis pun membalas pelukan Abid.


Tok tok tok


"Balqis.. jangan lupa ada orang diluar ya!"


"Ahh tiap mau beduaan ada aja yang ganggu, itu siapa sii?" tanya Abid kesal.


Balqis cengengesan, "Ayok kenalan"


Mereka berdua keluar dari kamar.


"Ngapain aje beduaan?"


"Kepo kali" jawab Balqis.


"Gak niat kenalin gue siapa, kalau dia salah paham terus gue udah keluar dari sini, gue gak tanggung jawab"


"Kak Abid bodoamat-an jadi dia gak peduli kakak siapa"


"Kurang ajar bangett lu jadi adekk!!"


"Tunggu ini..."


"Iya... Gue Anita Salia, kakak kandung Balqis" Anita mengulurkan tangannya.


Abid melihat sekilas lalu melambaikan tangannya sebentar, "Gue Abid. Suami sah Balqis"


"Kalau kejebak sama modelan begini ya... gak masalah dah ciss" Balqis menatap kesal kakaknya.


"ABANG IPARRR KAK NITA GENIT!!"


"Hehhh adek kamprett"


...✡✡✡✡✡✡✡✡✡✡✡✡...


...Bonus nya ntar malemm, kuy rameinn <3...