A B I D

A B I D
— After



Haii! Sorry baru balik, hehe. Cerita Abid ini langsung aku skip setelah Balqis lahiran yaa. By the way, makasih banyak yang masih nunggu atau masih setia bacaa. Sebenernya, aku mau kasih reward buat yang masih stay, tapi apalah daya aku masih anak sekolah yang uang jajan aja masih minta :)


Sehat selalu yaa kaliann <3


*:..。o○ ○o。..:*


Beberapa bulan sudah berlalu. Balqis sudah melahirkan putri cantiknya dan sekarang berusia lima bulan. Dengan sedikit bantuan mertua dan kakaknya, Balqis mengurus anaknya sebaik mungkin.


Balqis selalu berusaha agar menjadi ibu yang baik untuk Chiara. Chiara Hafizhra Althaf. Itulah nama yang diberikan Abid untuk sang putri tercinta.


Selama beberapa bulan terlewati, tidak ada yang mengganggu mereka. Baik itu dari sisi pekerjaan ataupun perkuliahan. Semua berjalan lancar sesuai dengan yang diharapkan.


Walaupun ada pertikaian kecil-kecilan, Abid dan keluarga kecilnya mampu mengatasi semuanya. Mari beralih ke rumah besar Abid.


Pukul tujuh pagi, Abid masih terlelap di balik selimut dengan tangan yang memegang tubuh putrinya. Abid kesiangan karena tadi malam begadang mengurus Chia menggantikan Balqis.


Balqis yang sudah bangun menoel-noel tangan Abid. "Bangunn, udah siang nihh," bisik Balqis di dekat telinga Abid.


Abid masih tetap menutup matanya, menolak untuk bangun. "Papa, banguunn. Katanya kemarin ada rapat penting hari inii, gak jadi rapatt?" tanya Balqis masih berbisik.


"Masih ngantuk, sayang," jawab Abid pelan.


"Yaudah, kalau mau lanjut tidur juga gapapaa. Aku bangunin karena kamu tadi malam bilang pagi ini mau rapat penting."


Abid tidak menggubris Balqis lagi dan melanjutkan tidur. Masa bodo dengan meeting, Abid hanya ingin tidur saat ini.


Balqis pun membiarkan Abid terlelap, ia beranjak keluar kamar untuk membuat sarapan. Namun baru satu langkah keluar pintu, suara tangisan Chiara terdengar. Balqis kembali, ia menggendong Chiara dan memberikannya asi.


"Chiaa nangis karena nyuruh papa bangun yaa? Papa gak mo bangun tuh, masih ngantuk matanya. Paling ntar papa mu dimarahin kakek karena gak jadi meeting. Nanti kita ketawain papa aja ya, sayang."


Abid membuka mata perlahan, "Meetingnya itu udah dibatalin, sayangkuu. Makanya aku lanjut tidurr."


"Kata siapaa dibatalin?"


"Abang yang bilang barusan. Ndak dengar?"


"Yaa maksudnya abang tau darimanaa?"


"Tadi ayah bilang di mimpii."


"Wleee nipu!" Abid terpaksa bangun. Ia bangkit dan meregangkan tubuh kemudian melihat anaknya sedang asik minum susu.


"Kok kamu mulu yang embat, Chii. Papa kan juga mauu," kata Abid iri. "Apaan sii, astaghfirullah. Udah sana mandii!"


Abid mesem-mesem menatap Balqis, "giliran ku ntar malem ya, sayang?"


"Ku smekdon mau?" Abid tertawa lalu pergi ke kamar mandi. Balqis menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya itu.


Hampir setengah jam Abid di kamar mandi. Ia keluar menggunakan pakaian santai, wajahnya lebih fresh dari sebelumnya. "Nggak ke kantor??"


"Minggu."


"Loh? Oh iyaa yaa. Tapi kok tadi malam bilang mau meeting pagii?" Balqis keheran. "Meeting keluarga, sayang. Lupa ya?"


"Tinggak bilang pertemuan keluarga aje susah bangett kemarenn. Btw abang mandi kok lamaaa?" tanya Balqis sembari meletakkan Chiara kembali ke kasur.


"Menikmati air."


Balqis tertawa mendengar jawaban ngeles Abid. "Kasiann, mandi air dingin." Abid menghampiri Balqis dan mendekapnya erat. "Jahatt banget emang kamu. Ntar malem jangan harap ku kasih ampun!"


"Ntar malem disuruh nginep di rumah ayah. Aku kasih tau gantian, kali aja kamu lupa," kata Balqis santai dengan nada meledek. "Yaa terus kalau di rumah ayah kenapa?"


Balqis auto menatap sinis suaminya. "Ngeri kamuu yaaa, nanti aku minta tidur sama kembar aja."


"Licik bangett."


"Bodoamat wlee!"


"Terserah bunda deh, terserah. Mandi sanaa," perintah Abid yang kini beralih mendekati anaknya. "Balqis belum masak, ngapain mandii. Lagian masih wangi nihh."


"Masih wangi? Coba sini aku cium."


"Aku bau, bye!" Abid tertawa melihatnya. "Pagi ini gak usah masak, kita makan di luar ajaa. Mumpung wekeend sekalian jalan-jalann. Jadi tar jalan-jalan dulu baru ke rumah ayah."


"Tapi Balqis malass mau keluarr. Nggak pedee karena jelek, dah gendut," keluh Balqis cemberut. "Siapa yang bilang gitu? Suruh berhadapan sama aku."


"Kamu masih cantik ginii, lagian kamu gak gendut-gendut amat, sayang. Kalau kamu kurus malah kasian tar Chiara."


"Bener juga sii..."


"Menurut aku malah keliatan makin sexy kamu, sayang. Jadi susah kadang akunya," Balqis menatap Abid sinis lagi. "Emang dasar kamu yang mesum muluu otaknya!"


Abid cengengesan. "Yaudah sana mandiii, terus pake baju gamis kamu yang baruu ituu, pake hijab baru kita berangkat."


Satu hal yang berbeda sekarang adalah penampilan Balqis. Dahulu dirinya memang selalu mengenakan pakaian tertutup, tapi tidak mengenakan hijab.


Semenjak kandungannya berusia sembilan bulan kemarin, Balqis mengubah penampilannya dan mencoba untuk istiqomah berhijab.


Abid selalu mendukung apapun keputusan Balqis. Ya walau duitnya harus keluar banyak, tapi demi istri dan anak, apapun yang terjadi Abid ikhlas. Anjay hahahahaha!


"Emm.. Kalau aku gak pake hijab gimana, sayang?"


Abid langsung menatapnya, "Katanya kamu mau istiqomah. Mau masukin suaminya ke neraka?"


"Nggak, hehe. Yaudah kamu jagain Chia bener-bener yaaa. Jangan di gangguin!!" Abid berdehem lalu tidur di sebelah Chiara, ia mengambil foto bersama.


"Anak papaa jelek bangettt!" kata Abid gemas. Chiara jadi sedikit terganggu karena tangan Abid yang rusuh.


"Chiii, nanti malam bantu papa ya. Kamu pura-pura rewel karena gak betah gitu tempat kakek biar kita pulang. Tapi nanti pas sampe rumah kamunya anteng, biar papa sama bunda bisa main."


Sesat! Bapak Abid memang suka menyesatkan.


Karena Chiara sedang bobo, Abid kembali diam sambil menatap Chiara. Anaknya itu sangat mirip dengan Abid kecil.


Sampai detik ini kadang Abid masih suka terkejut. Ia tidak menyangka kalau perbuatannya akan membuahkan hasil yang memuaskan.


Abid tiba-tiba gemas lagi, ia langsung mengecupi pipi anaknya. "Jangan digangguu, astaghfirullah! Nanti Chiara ngamuk, abangg. Chia kalau ngamuk payah diemnya lhoh."


"Tenang. Sama papanya gak bakal ngamuk dia. Liat tuh, gak bangun kan?" Balqis yang masih handukan menghela nafas panjang lalu kembali berjalan ke walk in closet.


Abid melindungi Chiara dengan guling di kanan kiri dan bawahnya lalu pergi mengejar Balqis ke walk in closet. Balqis yang baru saja mengenakan gamisnya sedikit terkejut.


"Mau ngapain?"


"Pengen makan kamu rencananya. Paling gak gigit dikit gantiin Chiara."


"Udah jangan ngada-ngada, Chiara masih kecil!"


...◕◕◕...


Abid, Balqis, dan Chiara kini berada di mall. Sedang berkeliling, mencari apa yang bisa di beli. Chiara yang sedang tidur berada di gendongan Abid, dan Balqis yang jalan di sebelah Abid juga terlihat sedang senyum sumringah. Keluarga bahagia.


"Mau beli apa jadinya?" tanya Abid setelah berkeliling. "Nggak adaa. Tapi tadi tuu aku liat ada sepatu putih cantik bangett, mau bilang ke kamu gak jadi tadi karena tadi lagi angkat telepon."


"Sepatu putih? Untuk apa?" Balqis terdiam sejenak. Memikirkan jawaban dari pertanyaan Abid. "Untuk di pakai?"


"Oke, ayo belii." Mereka pun pergi ke toko yang dimaksud Balqis. Balqis langsung menuju ke sepatunya dan melihat size. Karena terlalu besar, Balqis meminta size yang sesuai dengan ukuran kakinya.


Abid diam sambil melirik keluar toko. Melihat sesuatu yang menarik, Abid tersenyum tipis. "Sayang, kamu pilih aja dulu ya. Biar aku kesana." Balqis yang sibuk dengan sepatu hanya mengangguk.


Abid pergi menuju toko itu masih dengan menggendong Chiara. Tidak lama bagi Abid, sepuluh menit selesai. Setelahnya dia kembali dengan paper bag di tangan. "Udah belum kamunya?"


"Aku bingung, ternyata dia ada dua model. Menurut kamu yang mana, sayang?" Abid melihatnya dengan detail, "Aku suka yang ini. Lebih cocok di kamu. Tapi terserah kamu mau yang mana karena kamu yang bakal pakee."


"Em.... mba, saya mau yang inii." Balqis memilih yang sama dengan Abid. Pilihan pertamanya tadi memang itu. Selesai membayar, mereka keluar. "Abang beli apa tadi?" tanya Balqis di luar mall.


"Sesuatu. Ke supermarket dulu gak ya, beliin jajan dua adek kamu itu?"


"Iyaa, beli ajaaaa ayoo. Nanti mereka tagih-tagih kea minggu kemarenn. Tapi itu si Chia gakpapa disitu? Kamu mau nyetir mobilnya gak susah? Aku aja sini yang nyetir." Abid menggeleng.


"Chiara kalau dipindah bisa bangun, gakpapa gini aja. Aku aja bisa kok." Balqis membiarkan Abid menyetir mobil sambil membawa Chiara dipelukannya. "Sebenarnya, aku tu iri juga sama Chiara. Dia yang paling sering bobo di dada kamu daripada akuu."


"Pretttt. Di dempet aja kamunya gak mau."


"Mau yaaa."


"Ohh kalau gitu awas aja nanti di rumah ayah ya?" Balqis menyipitkan mata, "Di rumah ayah gak boleh macem-macem, sayang."


"Helehh. Banyak betul alasannya bunda mu, nak."


...◕◕◕...


"Abang, besok pas pulang Chiara pijet ya? Dari kemaren-kemaren badannya digendong sana-sini." Abid yang sedang memejamkan mata di atas kasur hanya berdehem. Mereka tiba di rumah ayah Abid siang hari, pukul setengah tiga sore.


"Kamu kenapaa?"


"Ngantukk. Mau nemenin?"


"Chiara di bawah nanti nyariin."


"Ada ayah sama bunda, nanti bisa itu dibuatin susunya. Temenin papanya gitu sesekali," pinta Abid tiba-tiba manja. "Selalu ditemenin ya kamu."


"Kadang-kadang kok jadi selalu." Balqis mengabaikan Abid, ia menuju lemari mencari baju tapi malah menemukan paper bag yang Abid bawa tadi di gantungan. Balqis membukanya pelan-pelan.


Matanya langsung menyipit menatap Abid, ia sudah curiga sebenernya tadi dengan apa yang dibeli Abid. Balqis mengambilnya dan membawa ke kamar mandi. "Aku mandi dulu ya, sayang." Abid berdehem lagi.


Abid betulan mengantuk. Akhir-akhir ini memang sering jadi tukang tidur. Mungkin karena kurang tidur, jadi tukang tidur. Mungkinn.


Tok! Tok!


"Abiddd, ini susunya Chiara dimanaa?" Abid bangun dari tidurnua. Ia mengambil tas berisi susu formula lalu keluar kamar. "Abid yang buatin apa bunda?"


"Terserah. Bundanya Chia mana?"


"Mandii." Abid turun ke dapur membuatkan susu untuk anaknya. "Tapi dia lagi gak rewel, bun. Kenapa di kasih susu?"


"Keliatan pengen mimik."


"Ehh. Adek Chia mau bobo, bunda?? Ih cepet bangett, baru dateng. Belum mainnn sama kakakk," kata Devina sehabis ganti baju sekolah. "Kakak-kakak! Ibuk manggilnya, bukan kakak."


"Jelek kali. Aunty aja, onti kalau gak."


"Sok kerenn, gaya-gayaan kali dipanggil onti. Di suruh jaga Chiara mau nggak kalian berduaa?" Devina dan Davina saling bertatapan cukup lama, "Mauu!"


"Gak, nggak. Chiara sama mas Abiy aja. Mau mas bawa main." Si kembar langsung menatap sinis Abiyyu, "Enak ajaa! Ngantri kalau mau bawa Chia."


"Oper sana-sini. Anak gue artis atau apa yaa?" Bunda Abid tertawa.


"Lucu banget Chiara tu, gemesin. Mirip sama kak Balqiss." Abid menatap sinis Avi, "Harusnya mirip papanya, bukan bundanyaa."


"Papanya jelek, jadi mirip bundanyaa."


"Awas aja kamu ya, Vi. Gak boleh main sama Chiara!" Avi mendekati bundanya, berniat mengadu. "Bunda, liat abang jahat...."


"Alah alahhh. Masih abang pantau, Vi. Belum abang jitak kepalamu," spontan mereka tertawa bersama. Abid memberikan susu buatannya tadi pada sang bunda.


"Ini Abid di kamar ya, bun. Ngantuk, tadi malam begadang jagain Chia."


"Yaudah gapapa, ajak Balqis juga itu. Biarin istirahat biar sehat terus bundanyaa." Abid mengangguk dan mengangkat jempol, "Jaga Chia ya, bundaaa."


"Iyaa, aman sama bunda."


"Jangan kasih Davina main sama Chia, nanti abis di cubitinn," pesan Abid sebelum pergi dari dapur. Avi menatap kesal abangnya, "Pitnah lebih kejam daripada—"


"Difitnah." Abid langsung kabur setelah menyela perkataan Avi. Ia yakin akan panjang nanti dan gak akan selesai-selesai, makanya Abid memilih kabur.


Tiba di dalam kamar, Abid terpaku. Balqis sedang berdiri di depan cermin sambil mengenakan 'sesuatu' yang dibeli Abid tadi. Bisa tebak apa?


Benar. Lingerie.


Balqis terlihat sangat seksi saat mengenakannya. Abid reflek berdiri. "Kenapa dipake sekaraaangg??" tanya Abid mendekat.


"Jadi mau dipake kapann?"


"Nanti malem kek ata— ahh wangi banget lagi kamu ini. Sengaja goda aku apa gimanaaa??? Tadi katanya gak boleh macem-macem di rumah bunda, kok kamu yang macem-macem??" dumel Abid terus-menerus.


"Bawel ih kamuu. Apa gak usah pake baju aja akunya ini sekarang?" Abid menghela nafas. "Pancing teross pancing. Sekalinya ketangkep minta lepass."


Balqis cengengesan, "Kali ini nggak."


"Ya masa siang-siangg??" Balqis ingin menjawab perkataan Abid, tapi ia batalkan karena tiba-tiba Abid keluar kamar lalu masuk lagi sambil mengunci pintu. Balqis mengerjapkan matanya, keheranan.


"Gak tahan aku. Gak bisa kabur ya kali ini."


.....


"Aahh, emhhh... hngh..."