A B I D

A B I D
– Rumah mertua



"Abaangg, ngapaainn?" tanya Balqis yang baru selesai mandi.


"Ngga ngapa-ngapainn" jawab Abid santai sambil menatap layar laptopnya.


"Ayo makaaan"


"Nanti sayang, bentar yaa"


"Dihh, ngapain sii??" tanya Balqis sambil memeluk Abid dari belakang.


Abid dalam keadaan tengkurap, matanya terfokus di laptop. "Ayaang, aku mau kerja duluu"


"Tadii udah kerjaa, sekarang kerja lagii" lirih Balqis kesal.


"Jadii maunya gimanaa?"


"Gak gimana-gimanaa"


"Laper kamu??"


"Nggaak"


"Yaudah geser dulu, aku selesaiin bentarr"


"Gamauuk" Balqis masih tetap memeluk Abid dengan erat.


"Sayaang" Balqis pun berpindah ke samping. Tangannya meraba perut Abid.


"Bandel banget heh, kamu kenapa jadi ginii coba?" Balqis tidak menjawab, ia memeluk Abid lagi dari samping.


"Sayaang"


Balqis diam, ia memejamkan matanya masih sambil memeluk Abid.


Abid menoleh melihat sang istri, terlihat sangat menggoda iman. Ia kembali melihat laptop dan mengetikkan sesuatu disana.


Balqis berpindah, ia kembali naik ke punggung Abid. Menyandarkan kepalanya di dekat leher Abid.


"Sayaangg, kamu pengen di unboxing?" Balqis tetap diam.


Abid menahan nafsunya ketika Balqis mengelus perutnya, "jangan kek gini byy!"


Mendengar deep voice Abid, Balqis berpindah ke samping. Kakinya melilit kaki Abid.


Abid terkekeh, "kamu tu kenapa coba? Gemesin bangett"


"Aaa sakit!!" keluh Balqis ketika pipinya di cubit pelan Abid.


"Salah siapa gemesinn?!"


"Kamu maunya apaaa?"


"Gamau di cuekin pokoknyaa!!" Abid menutup laptopnya.


"Mau tidur?"


"Nggaaa" Balqis bangun dari atas kasur, ia mengambil laptopnya sendiri.


"Mau ngapain?"


"Balqis mo liat drakorr" Abid menatap heran Balqis.


"Tadi gak mau di cuekin, ini malah nyuekin"


"Yaudah lanjut aja kerjanyaaa kalau mauu" Abid meletakkan laptopnya di atas meja.


Kemudian mendekat ke Balqis, kepalanya tepat berada di dekat kepala Balqis.


"Mau liat apa??"


"Drakor laa"


"Judulnyaa?"


"Em... panjang judulnya. Intinya drakor tentang gumiho" Abid mengecup pipi Balqis sekilas. "Aku ikut liat deh."


"Gajadi lah"


Balqis langsung menutup laptopnya, "maunya apasii nyonya muda Althaff?!" Balqis cengengesan.


"Gaabuttt"


"Tempat mama yukkk"


"Besiap sanaa" suruh Abid. Balqis mengecup bibir Abid kemudian turun dari kasur.


"Gak usah liatinn!!"


"Bodo, udah sahh mah bebass"


"Isss" Abid terkekeh.


"Mending kamu ganti baju daripada ngintip!!"


"Tinggal pake hoodie, gampang aku mah. Kamu tuh buat alis dulu"


"Sembarangan bangetttt!!"


✾✾


"Papa mama mau dibawainn apaa?"


"Em.. kira-kira mama papa udah makan belum yaa?" tanya Balqis balik.


"Biasanyaa?"


"Belumm"


"Yaudah mau di beliin apaa??"


"Nggak usah dehh, ntar disana aja tanyain maunya apa"


"Ya sekarang masa ga dibawain apa-apa, by. Kesannya pelit banget aku nanti," jawab Abid.


"Em.. kalau gitu beliin sate aja gimana?"


"Sate ayam, sapi atau kambing??"


"Sate jerapah"


"Sate zebra aja gimanaa?" tanya Abid mulai kesal. Balqis tertawa.


"Dealnya sate kuda nil!!"


"Ngacooo muluu dihh" ujar Abid kesal.


"Hehee, papa sukanya sate sapi. Tapi mama sukanya sate kambing, kalau Ulfa sukanya sate ayam. Terus kalau aku, aku gak suka sate. Aku sukanya kamuuu" Abid tertawa pelan.


"Sa aeeee modusnyaaa" ledek Abid sambil menggenggam tangan Balqis.


Abid melanjutkan perjalanan mereka, sampai akhirnya tiba di tempat tukang sate.


"Kamu sate apaa, by?"


"Balqis gak suka sate, kongsi aja gimanaa? Terserah abang mau sate apa"


"Ayam yaa?" Balqis mengangguk.


Abid pun keluar mobil memesan sate sesuai kesukaan mertua dan iparnya, lalu kembali ke mobil sambil menunggu pesanan.


"Kamu tadi di rumah kenapa ngegoda? Tau sendiri suami lemah imann, asik di jailin teruss"


"Salah siapaa fokusnya di laptop"


"Cemburu kok sama laptop"


"Yang bilang Balqis cemb---" Abid menghentikan ucapan Balqis menggunakan bibirnya.


Balqis memukul-mukul dada Abid, Abid melepasnya.


"Diliatinnn orangg!! Ini tu di tempat umum tauuk!"


"Gak bakal keliatan sayaaang"


"Gak maaauuuu, jangann!"


"Tadi yang minta siapaa?"


"Aku gak ada mintaa," jawab Balqis.


"Gerak geriknya aja kepengen gitu. Yaudah nanti buat yaaa"


"Nggaaak usah ngacooo hehh!" Abid tertawa.


Tok.. Tok..


Abid membuka kaca mobilnya.


"Satenya udah siap, mas" Balqis langsung menatap sinis Abid.


Abid keluar dari mobil, "berapa mbakk?"


"Empat puluh ribu, mas" Abid membuka dompetnya memberikan uang lima puluh ribu.


"Kembaliannya untuk sumbangan aja"


"Oh iya, makasih banyak ya mas. Udah ganteng baik pulaa" Abid tersenyum paksa.


Balqis memunculkan mukanya, "sayaaangg buruaan!"


Abid tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang pencemburu, "makasih ya mbak" Ia langsung masuk ke mobil.


"Godaaa cewek laenn terosss" sindir Balqis sinis.


"Cemburu sayang?"


"Ngga tau bodo amattt!!"


"Unyuu banget ih kalau ngambekk, coba panggil sayang lagi"


"Gakk" Abid terkekeh melihat Balqis pura-pura ngambek. Abid sudah menjalankan mobilnya sedari tadi.


"Sayang, kamu pengen liburan gak??"


"Pengennn, bangettt malahh" jawab Balqis langsung sumringah.


"Maunya kemana?"


"Em.. luar negeri atau dalam negeri nih?" tanya Balqis.


"Yaa terserahh"


"Balqis pengen ke Korea, tapiii sebelum ke Korea Balqis mau jelajahin Indonesia lebih dulu."


"Okee, kalau gitu maunya kemanaa?"


"Balqis pengeeenn ke Bali atau ke Raja Ampat"


"Bali dulu apa Raja Ampat dulu nihh?"


"Bali, mau ketemu cogan-cogan Bali"


"Hsss.. kalau gitu kamu gak bakal aku izinin keluar kamar"


"Ehh kenapa pulaa?! Kan liburan, ya keliling laahh"


"Ya kalau niatnya liat cogaan, bagus kita bikin cucu"


"Ngada-ngadaaaa" Abid tertawa.


"Maunya kapaan?"


"Em.. gak tau jugaa. Abang kalau liburan maunya kemana emang??"


"Asshhs.. nge-fly Balqis" Mereka berdua tertawa.


"Liburannya siap kamu ujian aja ngga?"


"Nah boleh tuh, Balqis bisa refresing jugaa"


"Kapann?"


"Minggu depan, hari senin" Abid mengangguk paham.


"Nanti kita atur jadwal nya yaa" Balqis mengangguk antusias.


"Liburan ajaa langsung gembiraaa, udah gak marah kan berarti?"


"Hah? Apaa? Emang kita kenal?"


"Astaghfirullahalazim, sayaaangg" Balqis terkekeh melihat ekspresi Abid.


Beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah Erwin. Abid dan Balqis keluar dari mobil, Abid membawa sate dan ada berbie untuk Ulfa.


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam, ehh menantu mama dataangg. Masuk nak Abid" Abid tersenyum lalu masuk.


Balqis di depan pintu seperti orang cengo, "kamu kenapa?"


"Mama gak ada suruh Balqis masuk"


"Biasanya juga nyelonong sambil teriak ACIS PULAANG."


"Astaghfirullah ma, aib ituuu" Abid tertawa mendengar nya.


"Weshh, ada tamu toh?" tanya Papa Balqis. Abid meletakkan sate di meja dapur kemudian menyalami tangan kedua mertuanya.


"Itu Abid bawain sate, papa mama udah makann?"


"Belum sih, kebetulan jugaa laper nih. Tadinya mama mau masak mie"


"Kebanyakan mie gak baik ma, itu makan sate aja. Nanti kalau kurang Abid keluar lagi beliin"


"Halah bilang ajaa mo ketemu mbak yang jualan satee!" sahut Balqis kesal.


"Suudzon mulu kamu, Acisss"


"Emang gituu maa,"


"Tukang sate nya yang genit, bukan aku. Kamu tenang aja deh, mau segenit secantik seseksi apapun cewek lain kamu yang nomor satu di hati aku"


"Ciee.. piuiitt" ledek Erwin dan istrinya bersamaan. Balqis blushing karena perkataan Abid itu.


Sedangkan Abid, tertawa melihat Balqis yang jadi malu-malu. "Oh iya.. Ulfa mana, pa?"


"Di kamarnya, lagi belajar" Abid menuju kamar Ulfa.


Tok tok..


"Ulfaa, ini bang Abid" Ulfa membukakan pintunya.


"Abang Abiid kapan sampee??"


"Barusann, abang bawain berbie buat kamu nih."


"Waahh.. makasihh abaangg" Abid tersenyum sambil mengelus kepala Ulfa.


"Ulfa belajar apa??"


"Ituuu, matematika"


"Mau abang bantuin?"


"Udah siap hehee"


"Kalau makan, udah?" tanya Abid. Ulfa menggeleng sambil cengengesan.


"Abang bawain sate tuh, kak Balqis bilang Ulfa suka sate ayam. Ayo makan satee"


"Ayooo" Abid menggandeng tangan Ulfa menuju meja makan.


"Udah cocok banget jadi papa muda" ledek Erwin.


"Jadi hott daddy Abid, pa" Mereka tertawa.


"Ini cuma empat, kamu nggak bid?"


"Balqis yang nggak, pa. Balqis kan gak suka satee" jawab Balqis.


Erwin berohria, mereka pun bersamaan menyantap sate di meja makan. Abid dan Balqis makan sate nya bersama.


"Widihhh rame nihh" Mereka melihat ke sumber suara.


"Eh ayaah?"


"Ehh.. Abid! Anak durjanaa disini rupanya"


"Astaghfirullah ayaaahh" Abay tertawa.


"Mau sate gak, bay?" tanya Erwin.


"Ada lagi?"


"Tusuk nya ni, mau?"


"Gak usah nawarinnn kalau ngasih tusuknyaa!" Erwin tertawa kemudian menuju ke arah Abay.


"Kembar mana, bun? Kagak ikut??" tanya Abid ikut menghampiri ayah dan bunda nya.


"Ntar nyusul, mereka les dulu di rumah"


"Ulfa gak ikut les?"


"Beda jadwal, mereka kan udah beda kelas" Abid berohria.


"Ayah bunda ngapain kesini?? Sering kemari??" tanya Abid.


"Iyaa seringlah! Kamu ajaa mantu durjana yang gak pernah main!" jawab Abay.


"Abid sib--"


"Jangan kan main, yah. Balqis aja kalau di rumah terkacangiii." Keluh Balqis.


"Kenapa gitu?" tanya Bunda Abid.


"Bang Abid asik main laptoppp teruss"


"Heeehh! Kapan punya cucunyaa kalau beginiii" protes Abay.


"Sayang, kamu kan juga laptop-an mulu. Liat siapa itu kyai orang Korea itu"


"Kaiii bang Kaii!"


"Ha ituu"


"Bangkai?" tanya Erwin.


"Bukan paa, penyanyi dari Korea" jawab Balqis.


"Heee, sama aja nya beduaa" Mereka cengengesan.


"Ngomong-ngomong kau jadi ke London, win?" tanya Abay.


"Iya jadi, besok. Ulfa ikut, mau liat London katanya" Abay berohria.


"Papa mau ke London? Lagii?" Tanya Balqis, Erwin mengangguk.


"Lah ngapaainn?"


"Liat cucu papa lah, di sini cucu papa belum ada. Buat pun belum kayaknyaa" Mereka berdua terdiam.


"Curiga ayah sama kamu, bid. Kamu..."


"Astaghfirullahalazim ayaaah. Abid normal kok, seriusss"


"Tapi keliatan gak normal kamu" jawab Bunda Abid, Erwin, Elsa dan Abay tertawa ngakak mendengar nya.


"Lagian ayah ngapaa coba ngebet banget punya cucu?" tanya Abid.


"Iri ayah sama Erwin, udah punya cucu satu. Sedangkan ayah belom"


"Yaudah kalau gitu besok Abid buatt" Balqis langsung menatap Abid.


"Tu kan kan.. Abid di tatap sinis, yah. Calon Bunda nya anak anak Abid belum siap, jadi tunggu dulu ya yah"


"Hlaah, selak mati bid"


"Ayahh mau Abid lempar pake bantal? Ngomong kok sembarangannn!"


"Maut kan gak ada yang tauu"


"Yaa jangan gitu jugaaa ayahh, merinding Abid jadinyaa" Abay tertawa.


"Sebelum punya anak beli rumah dulu, yakali tetep di apartemen"


"Tenang aja ayah.. tinggal bangun aja" jawab Abid santai.


"Butuh dana telpon papa, bid" Abid menganggukkan kepalanya.


"Oh iya Abid, selama papa di London. Perusahaan kamu yang handle bisa??"


"Insyaallah bisa, pa. Nanti Abid handle"


"Nah mantapp"


"Kamu kapan lulus, bid?" tanya mama Balqis.


"Nggak tau juga ma. Ujian udah semua kok, paling bentar lagi"


"Lanjut kuliah dimana?"


"Indonesia aja deh, pa. Nanti istri Abid kasian, tidur gak ada yang ngelonin"


"Heehh, ngomong asaaal muluu" Abid cengengesan.


"Terus besok kalau kamu lulus, Balqis gimana? Musuh kamu kan banyakk, ntar Balqis..."


"Abid suruh Ryan sekolah sekalian mantau Balqis, yah."


"Ooo gituu, baguslah. Jangan sampee mantu bunda kenapa kenapa yaa!"


"Iyaa bunda iyaa"


"Btw, besok ayah sama bunda ikut ke London?" Mereka berdua menggeleng.


"Main ajaa, ayah gabut dirumah."


"Papa berapa lama tempat kak Nita?" tanya Balqis gantian.


"Dua mingguan mungkin, adek kamu ntar kelamaan belajar daring" Balqis mengangguk paham.


"Kalian bedua gak mau ikut ke London? Sekalian honeymoon gituu?"


"Ngga pa, ntar Abid ajak Balqis honeymoon sendiri."


"Macam punya duit ajaaa kamu" balas Abay sinis.


"Behh.. selepe pula. Ayah lupa Abid siapa?"


"Lah emang siapa?"


Abid mengelus dadanya, "sabarkan lah Abid yang ganteng ini ya Allah.."