
Pagi hari kali ini diawali dengan manjanya Abid. Ia memeluk Balqis dan tidak ingin melepaskan Balqis sebentar saja.
Balqis sedikit kesal dengan ulah suaminya itu, tapi mau bagaimana lagi? Abid sedikit kurang sehat. Hanya sedikitt, sisanya adalah modus Abid agar bisa berduaan.
Eh, fifty-fifty.
50% sakit dan 50% modus.
"Sayang, lepas dulu pelukannya... aku mau mandii," pinta Balqis baik-baik. "Nggak mauu," jawab Abid dengan suara serak khas orang sakit.
"Aku bau lah ini kalau nggak mandii."
"Siapa yang bilang kamu bau sii? Kamu wangi banget kok," kata Abid masih memeluk Balqis. Balqis tidak tau harus berkata apalagi.
'Uhuk-uhukk!'
"Ahh, sayang... tenggorokan aku sakit bangett," rengek Abid benar-benar manja. "Kalau gitu lepas dulu pelukannya biar aku ambil obat batuk di tas."
"Kamu bawa obat batuk? Tau aku bakal sakit? Kamu cenayang?"
"Ya nggakk. Aku jaga-jaga aja," jawab Balqis sabar. Abid hanya berohria tanpa melepas pelukan eratnya. "Oh doang gak geser-geser. Awas duluuu biar aku ambil obatnyaa."
"Nanti ajaaa."
"Kamu nanti makin parah lhoh sakitnyaa. Kita kesini kan mau jalan-jalan, liburann, bukan tiduuur. Awas dulu deh buruuu."
"Besok aja ya jalan-jalannya. Aku gak enak badan beneran inii," kata Abid mengeluh. "Abanggg, berapa kali Balqis bilang? Awas dulu biar Balqis ambil obatnyaaa."
Abid berdecak kesal sambil melepas pelukan, lalu berbalik dan menutupi seluruh tubuh dengan selimut.
"Abang marah?"
"Bang? Bang Abidd?"
"Astaghfirullahalazim. Yaudah terserahh deh. Balqis mau keluar cari bulee!" Abid tidak berbalik. Balqis pun tetap pergi meninggalkan Abid. Sebenernya Balqis mau beli sarapan pagi di depan, bukan cari bule.
Di dalam hotel, Abid ketiduran. Ia terbangun ketika ada telepon masuk dari Jefri. Bukannya mengangkat Abid malah membanting ponsel itu.
"Abaangg?!"
Abid terkejut!
"Bisa gak kalau masuk ketok pintu atau permisi dulu? Saya kagett!" ujar Abid ketus. Balqis menatapnya sinis, "salah siapa bikin orang panik?! Ngapain sih banting hp segalaa?"
"Suka-suka saya lah. Ponsel-ponsel sayaa. Sana lanjut cari bule aja, gak usah perduliin saya!" Balqis sedikit gugup mendengar perkataan Abid yang ini. Aura emosi mendominasi ruangan.
Balqis mendekati Abid, "siapa sih yang cari bule? Aku mau nyari sarapan tadi, tapi gak jadi gara-gara kamu banting hp," kata Balqis duduk di samping Abid, ia mengelus lembut rambutnya.
"Jangan marahh dongg," rengek Balqis gantian.
"Gak usah sok perduli sekarang. Katanya mau cari bule kan tadi? Silahkan carii."
"Yaudah yaudahhh! Aku pergi cari bule, byee."
Baru bergeser dari atas kasur, Abid sudah menarik tangannya. "Aku kurung seminggu mauu?"
"Y-yaa makanya jangan betingkah. Udah di bilang cari sarapan, masih aja ngeyell." Abid pun kembali menghadap Balqis dan memeluknya.
"Tunggu duluu. Minum obat batuknya dulu baru peluk lagii," Abid melepaskan pelukannya dan membiarkan Balqis mengambil obat.
"Hp nya kenapa di banting? Jangan mentang-mentang banyak duit buang hp sembarangan," dumel Balqis seperti iklan milkita.
"Berisik tadii."
Balqis menggelengkan kepala lalu mengambil ponselnya. Tepat ketika Balqis mengambilnya, ponsel Abid berbunyi lagi.
"Biarin aja, gak usah diangkat. Paling minta jemput mereka tuu," kata Abid usai meminum obatnya.
"Kalau penting gimanaa?"
"Nggak, sayang. Itu seratus persen gak penting. Mereka cuma minta jemputtt," jawab Abid teguh pendirian.
"Nanti kalau ada masalah gedee jangan nyalahin diri sendirii yaa kamu??" Abid berdehem lalu meminta Balqis mendekat. Tidak ingin Abid merajuk lagi, Balqis mendekat.
"Aku udah minum obat, kamu jangan bawel lagi," kata Abid sambil memeluk Balqis.
"Balqis belum mandii."
"Gak usah mandi, masih cantik juga, masih wangii. Mending kamu diem aja sekarang, temenin aku bobo. Aku pelukan sama kamu aja bisa sembuh kokk."
Balqis menghela nafas.
"Karepmu wae, mass."
Balqis mengambil ponselnya, ia menonton drakor dan mengelus kepala Abid yang berada di dekat lehernya. Abid sendiri mencoba tidur sambil mengelus perut Balqis.
"Ehh?? Lhohhh?"
Abid yang hampir tertidur kembali membuka matanya, "kenapaa, sayaangg??"
"Kak Anita katanya lagi di Baliii."
"Hari ini?" Balqis mengangguk. "Katanya dia emang mau samperin Balqis sama abang makanya ke Bali. Mereka dikasih tau sama temen abang kalau kita lagi di Bali," jawab Balqis santai.
"Keknya aku gak dibiarkan istirahat tenang sambil meluk kamu gitu ya?"
"Ini daritadi pelukan kurang apalagi??"
"Kurang lamaa. Biarin aja dulu deh, yang, aku males keluar rumahh buat jemput. Suruh aja mereka nginep di hotel harini baru besoknya kita jemput."
Balqis menghela nafas panjang lalu menuruti perkataan Abid. Ia meminta Anita dan teman-teman Abid untuk bertemu mereka besok.
Seusai menghubungi mereka, Balqis menatap Abid yang sedang memejamkan mata. Abid terlihat sangat tampan. Tak heran jika dirinya jadi incaran banyak wanita.
Balqis mengelus lembut rambut Abid. "Jangan sakit mulu dong, aku susah gerak kalau kamu sakit."
"Aku malah pengen sakit biar bisa dekap kamu terus-terusan," jawab Abid santai. "Kesempatan emang yaa!" Abid tersenyum menggoda.
"Aku mandi dulu deh, ay? Nanti kamu dekap lagi sampe kapanpun terserah."
"Nggak. Ntar aja mandinya, kita mandi bareng."
"Ngawur banget!" Abid cengengesan sembari mengelus perut Balqis. "Kalau baby udah lahir, aku maunya dipanggil papa. Kamu maunya dipanggil apa, sayang?" tanya Abid.
"Aku maunya dipanggil kanjeng ratu sih..."
Abid mendongak, menatap kesal Balqis.
"Aku pengen ruqiyah kamu," Balqis terkekeh.
"Aku gak nyangka, bentar lagi bakal jadi papa muda. Ini keknya karena bibit aku yang pertama, bibit ku pasti bibit unggul semua sii."
"Aku gak ngerti kamu ngomong apa, terserah kamu aja deh yaa."
"Sok-sokan gak ngerti kamu mah, padahal ngerti bangettt," goda Abid mencubit pipi Balqis. "Aakkk! Sakitt tauu ihh, kamu nih demen banget liat aku kesakitan!"
"Ngadi-ngadi bener ngomongnya!"
"Iyaaa buktinya inii?"
Abid tertawa kecil, "yaudah maaf deh maaf. Mana yang sakit? Hm?" Abid mengelus dengan senyuman lalu mengecup sekilas.
"Emm.. keknya abang udah sembuh dehh, cari bule yuk?"
"Ku kurung beneran kamu nanti baru tau rasa."
Abid bangun dan menyusul, Balqis hanya berniat untuk cuci muka di wastafel. Ya seperti biasa, Abid memeluk Balqis dari belakang lalu mengelus perutnya.
"Abang ngapain ngekor sih?!" tanya Balqis kesal.
"Yaa cuma pengen ikut ajaa," jawab Abid masih santai dengan posisinya. Balqis pun mengabaikan Abid yang rusuh.
Selesai cuci muka, Balqis menatap dirinya di kaca. "Bang, Balqis gendutan kan?"
Seketika itu juga Abid sedikit gugup. 'Ini pertanyaan yang gak ada jawabannya, kalau aku jawab iya ntar dia ngamuk, kalau jawab nggak dia pasti gak percaya. Terus aku kudu jawab apaa wehhh?!'
◒◒◒^♡^◒◒◒
Seharian full diisi dengan manjanya Abid, kini hari sudah berganti dan matahari pun mulai menyinari. Balqis bangun dari tidurnya lalu masuk ke kamar mandi.
Lain halnya dengan Abid yang masih saja bersembunyi di dalam selimut. Calon bapak anak satu itu masih enggan untuk membuka mata.
Balqis yang sudah selesai mandi keluar kamar dan mengabaikan Abid. Ia ingin mencari sarapan dulu diluar. Tapi belum sempat pergi, Balqis sudah terkejut melihat orang yang ada di depan pintu hotel.
"Abis keramas, dek?"
"Ah.. itu.."
"Gak perlu ditanya juga kan kelihatan, mas. Jadi kasian sama dedek yang di dalam, takutnya dia mabuk."
"Apaan sih, kak? Berisik banget!"
Iya, itu kakak Balqis bersama dengan anak dan suaminya. Tanpa basa-basi, Balqis menutup pintu hotel.
"WOI! ADEK KURANG AJARR LU YAA!"
Balqis tersenyum kesal, "ini masih pagi.. sabar, Balqis, sabar. Jangan emosian!" dumel Balqis sambil masuk kamar.
"Eungh.. kenapa kamu ngomel-ngomel?" tanya Abid heran.
"Di depan ada kak Nita, bang Rendy sama Auzy. Kak Nita bikin kesel tadi," jawab Balqis cemberut.
"Auzy? Hah? Pagi buta macam ni sudah datang?"
"Pagi buta apa? Udah jam sembilan gini. Abang aja yang ngebo!" Abid nyengir.
"Iyaudah, jangan marah-marah. Ini masih pagi, sayang. Kalau kamu males ketemu kak Nita, biar aku yang temuin. Oke?"
Balqis hanya berdehem. Abid pun mencuci wajahnya lalu kembali menghampiri Nita di depan.
"Jiakh! Yang abis jenguk anak, bangunnya jadi kesiangan. Anyway, selamat pagi!" Abid ikutan kesal, ia melakukan hal yang sama seperti Balqis lakukan.
"INI GAK ADEK KANDUNG, GAK ADEK IPAR SAMA AJA YA! SAMA-SAMA KURANG AJAR."
"Maaf, kak. Lom mandii, kakak ke resto depan hotel aja luan. Ntar Abid susul sama Balqis."
"Bayarin kagak nich?"
"Ya ntar gue bayarin," jawab Abid santai.
"Ogheyy let's go~"
Abid memejamkan mata sebentar lalu kembali menghampiri Balqis. "Cie yang abis keramas pagi-pagi," ledek Abid.
"Gak usah bikin aku badmood! Kak Nita tadi udah nurunin mood aku hari ini," dumel Balqis kesal. Abid cengengesan dan mendekat.
Abid mengecup pipi kanan-kiri, jidat dan bibir Balqis secara bergantian. Abid juga mengecup perutnya Balqis.
"Jangan marah-marah, nanti kamu darah tinggi. Mending sekarang kamu siap-siap biar kita sarapan, okee?" Balqis mengangguk.
"Senyum dulu dong."
Balqis tersenyum paksa menatap Abid, Abid tertawa sambil mengelus rambutnya. "Yaudah, aku mau mandi dulu."
◒◒◒^♡^◒◒◒
Beberapa menit setelah Abid dan Balqis bersiap-siap, kini mereka jalan bersama sambil bergandengan tangan menuju ke restoran yang berada di depan hotel.
"Assalamu'alaikum," sapa Abid dan Balqis bersamaan.
"Wa'alaikumsalam. Lama banget lu berdua, nambah seronde lagi tadi?" tanya kak Nita blak-blakan. "Kalau gak mikir malu udah gue geprek kepala lu, kak!" Nita tertawa mendengar perkataan Balqis.
"Udah, ditunda aja tengkarnya. Duduk dulu kalian," suruh Rendy yang sedang menggendong Auzy. Abid gemas melihat Auzy, ia langsung menghampiri Auzy.
"Allo, Auzyy. Kenal om ndak?"
"Ya jelas nggak lah, Abidd. Ketemu sama lu kan udah lama banget ituu, masih bayi banget Auzy-nya."
"Sekarang juga kan masih bayii," jawab Abid. "Iyain aja, iyain!" Abid cengengesan lalu kembali menatap Auzy.
"Auzy sama uncle mau ndak?" Auzy yang tadinya tidak mau lepas dari sang ayah, sekarang berpindah ke gendongan Abid.
"Adu duh.. ponakan uncle udah gedeee makin cantik ajaa yaa? Auzy cantik apa jelek?" Abid terus mengajak Auzy bicara sembari berjalan memesan makanan.
Anita, Balqis, dan Rendy tersenyum melihat keduanya. "Udah cocok banget ya dia jadi papa," puji Rendy.
"Keliatannya gitu."
"Lu pada gibahin gue pasti kan?" kata Abid sinis setelah kembali memesan. "Geer banget lu!" Abid nyengir, ia duduk di kursi dan memangku Auzy dengan tenang.
"Vibes bapak-bapak sudah terasa."
"Ya iyala, kan udah mau jadi bapak."
"Keliatan seneng banget luu, Bid. Lu gak iri sama temen-temen lu yang lain? Mereka masih free, lu malah udah mau jadi bapak."
"Mereka yang harusnya iri sama gue. Gue udah punya pendamping yang setia, dan udah mau punya anak juga sekarang. Sedangkan mereka belum apa-apa," jawab Abid santai.
"Bener jugaaa. Btw lu mau main gitu masih bisa?"
"Bisa donggg. Ntar tinggal izin ke Balqis, kalau Balqis izinin gue bakal pergi dan yang pasti harus inget waktu. Semisal Balqis gak izinin, gue gak bakal pergi."
"Bukan karena takut istri, tapi menurut gue kalau istri ngelarang kan artinya dia takut suaminya kenapa-kenapa. Benar begitu bukan, nona Althaf?" Balqis tersenyum sambil mengangguk.
"Acis, tukaran suami ayo. Laki mu pengertian banget, sedangkan abang ipar mu ini dikode setengah mampuss gak peka-peka."
"Itu mah derita lo, kak!!"
"Adek kurang ajarrr!" Balqis dan dua pria lainnya tertawa. "Bicara-bicara, kakak sama abang ngapain balik?"
"Mau pindah ke Indonesia."
"Seriously?!"
Anita dan Rendy mengangguk.
"Kenapaa pindah? Terus kerjaan disanaa?"
"Di London gak punya saudara. Saudaranya Rendy disini semua, saudara gue juga cuma disini dan itu cuma lu, jadi yaa ngapain disana kalau urusan udah selesai?"
"Terus ntar kalian tinggal dimana?" tanya Abid gantian. "Rumah almarhum papa? Boleh kan ya gue disitu?"
"Bole boleeee. Bole banget malah, daripada sepi rumahnya. Kemarin Balqis mau minta gitu juga ke kakak, tapi takutnya bang Rendy gak setuju."
"Abang mah ngikut aja gimana maunya kakakmu. Tinggal dimana aja oke asalkan bareng dia dan Auzy."
"Anjayyy! Bisa sweet juga ayangkuu."