
09.45
Cup!!
Cup!!
Cup!!
"Abaangg masi pagiiii"
"Ya bangun makanyaaa"
"Bangunin apaaa kek gituuu?!"
"Aku bangunin dengan cara sexyy, sayangg" Balqis tidak merespon lagi, ia malah membelakangi Abid.
Mereka hari ini libur, setelah sholat subuh tadi mereka berdua sama-sama tidur lagi.
"Sayangg"
"Mm"
"Bangunn"
"Mm"
"Heyy"
"Mm"
"Astaghfirullah, sekebo-kebonya aku lebih kebo kamu ya ternyataa" cibir Abid.
Melihat Balqis tidak merespon, Abid bangun. Ia menarik dagu Balqis kemudian mencium bibir Balqis.
Balqis yang awalnya kesal, jadi mengikuti permainan lidah Abid. Balqis memukuli dada Abid ketika sudah kehabisan nafas, Abid melepasnya.
"Bangun sekarangg"
"Iyaa abangg iyaa" Abid tersenyum. Balqis pun beranjak dari tempat tidurnya.
Jahil Abid mode on, ia menarik tangan Balqis sehingga Balqis terjatuh diatas tubuhnya.
"Wah.. apa-apaann ini? Kamu ngajak main pagi?"
"Gak usah ngacooo heh, abang sendiri yang tarik Balqis tadiii"
"Kapann?"
"Barusannn"
"Aku gak ada narik kamu, sayang"
"Gada narik gimanaaa jelas jelas tadi narikkk" balas Balqis sambil menatap garang Abid. Abid yang ditatap malah senyum-senyum menggoda.
"Kok galak bangett sih? Masiii pagii tauu" ujar Abid sambil mengecup pipi Balqis.
"Gatau ahh, nyebelinn!!" Balqis malah tidur diatas tubuh Abid.
"Nyebelin ya?? Kok meluk?"
"Gabolehhh??"
"Yaaa bolehlaaa, yakali gak bolehh" Abid membalas pelukan sang istri sambil mengusap rambutnya.
"Abang sayang gak sama Balqis??"
"Nggak"
"Really?!"
"Nggak"
"Isss seriussss?!!"
"Nggak"
"Abang!!"
"Nggak"
"Sayaaangg"
"Apaa sayangg" Balqis mendongak, menatap kesal Abid.
"Dahla enceng"
"Enceng?"
"Iyaa! Takut Balqis khilap, terus di sosorrr sama singa"
"Sejak kapaan singa nyosorr?"
"Bentar lagi bakal nyosorr, jadi sebelum singa nyosor... Balqis mo kaburrr" Balqis langsung lari keluar kamar.
"Tiatii heeey" teriak Abid sambil tertawa kecil. Abid mengambil ponselnya yang terus berbunyi.
Ternyataa oh ternyataa, followers Instagram Abid mengetagnya di postingan Jefri.
"Anjiimmmm!! Ini?? Astaghfirullah"
"Balqiiiiissss!!" Balqis yang menyadari kesalahannya terkekeh di dapur.
Abid keluar kamar menghampiri Balqis di dapur, "nakal yaa nakaaal?"
"Apaa salah Balqiss?"
"Hilih hilihhhh" Abid menggelitik Balqis, Balqis kegelian sambil terkekeh karena ulah Abid.
"Siapa yang suruh viralin video aku lagi tidur?? Siapa yang corett-corett jugaa??" tanya Abid seusai menggelitik Balqis.
"Kak Jefrii"
"Bohong?" Balqis mengangguk sembari terkekeh lagi.
"Sebenernya kann Balqis masukin tuh cuma beberapa menit di sw, teruss bang Jefri replay. Dia minta videonyaa, Balqis videoin lagi dehh siap coret muka abang pake lipstik"
"Tapi ini muka aku.."
"Sebelum Balqis tidur, Balqis bersihin lagii"
"Jahill bangettt kamu tuuuu, masuk ig videonyaa"
"Manaa, Balqis mo liatt" Abid memberikan ponselnya pada Balqis.
"Isss, netizen begitu mengagumi abangg yaa"
"Cemburu gitu ceritanya?" Balqis tidak merespon, ia membaca komentar netizen.
"Belepotan ajaa cakepp.. kak Abid ganteng bangettt heran liatnya.. kak Abid gantengg tapi pacarnya jeleeek.." Abid langsung merampas ponselnya dari tangan Balqis.
Ia membalas komentar tadi..
abid.hfzh lu pikir lu cantik? kaga woi! mau lu secakep barbie juga kalau mulut jari sama otak lu ga berakhlak ya tetep jelekk!!
"Busettt pakk, pedes amatt. Karet lima yaa??" tanya Balqis yang mengintip, Abid malah menatap datar Balqis.
"Kurangi emosiannya ya mas suamii.. sebenarnya yang dia bilang itu benerr"
"Sayangg, aku gak suka kamu kek gini. Malah setuju hujatan netizen, makin dihujat kamu yang ada" jawab Abid kesal.
"Yakan pahala mereka buat akuu"
"Dan ya kenyataannyaaa, Balqis tu jelekk. Gak ada cakepnya sama sek--"
Omongan Balqis terhenti karena Abid mencium bibirnya, Abid mencium lembut Balqis. Ia mendudukkan Balqis di atas meja makan. Balqis hanya diam, pasrah dengan yang terjadi.
Abid melepas ciumannya ketika sadar Balqis hampir kehabisan nafas.
"Aku udah bilang, aku gak suka kamu kayak gitu. Di mata mereka kamu jelek, tapi di mata aku kamu itu berlian. Dan gak ada yang bisa gantiin kamuu, sampe kapanpun. Paham??" Balqis mengangguk pelan.
"Kamu insecure lagi aku hukum"
"Hukumannya??"
"Gak bisa jalan"
"Istighfar hehh!!" Abid tersenyum smirk.
"InsyaAllah gak insecure lagi" Ujar Balqis sembari membenahi rambut Abid, Abid diam memandangi mata Balqis. Tangannya berada di samping tubuh Balqis.
"Ganteng banget si emang manusia satu ini"
Cup!
Cup!!
"Istri aku juga cantikkk" Balqis tersenyum.
Abid juga tersenyum melihat senyuman Balqis, perlahan, Abid mendekatkan bibirnya ke bibir Balqis.
Ting tong...
"AAAABIIIID, BEBAN TIM DATANGG"
"Astaghfirullah... mimpi apaaa si gue punya temen sejenis merekaaa?!" Balqis tertawa mendengarnya.
Abid mengecup bibir Balqis sekilas kemudian menuju pintu apartemen.
"Beban tim beban keluarga, silahkan masuk"
"Anjirrr, salutt sayaa" puji Tio. Mereka pun masuk satu persatu.
"Rame benerr astaghfirullah"
"Bid, lu harus beli rumah!! Apartemen kagaa cukup lagiii. Ntar kalau jodoh gue ikut kagak bakal muatt" ujar Eldi.
"Emang jodoh lu segede apa? Bobotnya berapa ratus kilo??" tanya Rangga sinis.
"Sianjyng, nggak gituu bambangg!!"
"Halu dulu ya el, haluin aja terosss"
"Wasssuw" Mereka tertawa.
"Bid, Balqis mana?" tanya Fany.
"Di dapur" Fany dan Sesill menuju dapur sambil membawa nasi ampera.
"Wahh, pagi-pagi udah di sini yaa Balqis"
"Oh iya, kamu belom tau ya sill?? Abid sama Balqis mah udah nikah"
"Hahhh? Seriusann?" Fany mengangguk.
"Selamatt yaa!! Kapan nikahnya?"
"Udah lama kak, hampir setahun" Sesill menganggukkan kepalanya.
"Untung kuat mental ya Balqis ngadapin anak bandelll ituu" cibir Fany.
"Lu gibahin gueee aja kerjaannya, fan. Ngefans bangett??" tanya Abid yang entah sejak kapan di perbatasan dapur.
Fany cengengesan, "sedikit kasian sama Balqis. Takut depresot punya suami kayak kamu"
"Behhh, di damprat enak nii" Fany Balqis dan Sesill tertawa.
"Cepet siapin makanannya, gue laperr"
Setelah Abid pergi, ketiga wanita itu menyiapkan sarapan enam bujang. Eh nggak, lima bujang satu suami orang.
"Beli nasi ampera pake duit siapa?" tanya Abid seusai makan.
"Duiddd Rangga, Rangga sudah berduidd. Daddy sugar double b ada duaa" jawab Tio antusias.
"Daddy sugar matamuu!!" cibir Rangga kesal.
"Tio kelamaan jomblo jadi gak waras, kasiaan liatnyaa" ujar Fany.
"Astaghfirullahalazim" Mereka tertawa.
"Eh, gue tiba-tiba teringat sama geng Johan. Udah gak pernah muncul tauu" kata Heon.
"Sedikit mencurigakan memang, gue juga udah lama gak liat Abiyyu sama Johan, anak buahnya juga ga pernah liatt" sahut Jefri.
"Positif thinking ajaa, kalau mereka bergerak berarti udah gak mau hidup. Berurusan sama gue sekarang gak gampang lagi" jawab Abid santai.
"Berurusan sama Abid sama dengan cari mati"
"Nah tu tauu."
"Sayang, aku mo nanya. Ini Balqis sama Abid beneran udah nikahh?" tanya Sesill berbisik pada Heon. Meskipun berbisik, yang lain tetap bisa mendengarnya karena dalam keadaan hening.
Abid melirik Sesill dan Heon sekilas, "mereka emang udah nikaah. Darii lamaaa banget pokoknyaa" Tio mewakilkan.
"Ohiyaaa, perjanjian setaun lu bid?"
"Gue bakar" jawab Abid santaii.
"Wahh"
"Ehh.. Balqiss, lu udah di unboxing?" tanya Eldi. Balqis yang lagi minum pun menyemburkan airnya ke muka Eldi.
Abid dan yang lain tertawa ngakak.
"S-sorry kak gak s-sengajaaa" ujar Balqis sambil memberikan tissue.
"Gapapa gapapa, demi Suzy kaga ngapa-ngapaa" Mereka masih terkekeh.
"Kakak sihh, nanyaanya dadakaann"
"Terus jawabannya apa?" tanya Tio gantian.
"Mana ada unboxing, kagak tau caranya gue" jawab Abid.
"Bacoooot kau bacoott"
"Yang betol aja la, bid"
"Belomm"
"Reallyy?" Abid mengangguk. Merasa aneh dengan topik, Balqis memilih pergi membawa bekas makan.
"Kok gue gak yakin ya? Gue sering racunin dia bok** dulu" kata Rangga.
"Gini, gue yakin sampe sekarang lu masih sering liat begituan. Tapi, lu gak pernah lakuin ke Fany kan?"
"Ga pernah samsek"
"Nah, kenapa?"
"Ya karena gue murni cinta sama dia bukan untuk pemuas nafsu"
"Begitupun dengan guee, gue cinta Balqis bukan karena nafsu, gue tetep jaga kehormatan dia karena gue yakin dia punya cita-cita yang harus digapai."
❃❃❃
06.07
Drrtt... Drrtt..
Abid meraba letak ponselnya.
📞 "Halo, assalamu'alaikum, kamu dimana??"
"Waalaikumussalam, di rumah"
📞 "Gak sekolahh kann??"
"Sekolah mungkin, kenapa yah??"
📞 "Ke kantorr kalau free, kamu ngurus terus dari rumah. Karyawan mu gak di liatin, kalau di curangi gimana?"
"Gak bakal, ayaah"
📞 "Gak ada yang tau gimana otak manusia, cepat ke kantor!! Nanti rapat!!"
Abay mematikan panggilan. Abid pun mencampakkan ponselnya, "sayang?? Sayang??"
"Di dapuurr" Abid bangun. Ia menuju dapur langsung memeluk Balqis yang sedang masak.
"Kenapa gak bangunin?"
"Abang aja tidur jam tiga pagi"
"Mabar bentar kemaren waktu mereka balik"
"Bentar darimanaaa?! Itu lamaa!!"
"Iya iyaa lama"
Cupp!!
"Maaf ya sayangg"
"Mandi sana. Sekolah kann?"
"Ayah telpon, di suruh ke kantor. Aku anterin kamu aja nanti"
Balqis mengangguk, "yaudah mandi sonoo"
"Morning kiss babyy" Balqis berbalik sebentar, ia mengecup bibir Abid sekilas lalu kembali fokus masak. Abid mengecup pipinya kemudian pergi ke kamar.
Setelah sarapan, Abid yang sudah ready dengan setelan jas nya menyempatkan diri mengantar Balqis ke sekolah.
"Kalau ada apa-apa telpon" Balqis mengangguk, ia menyalami tangan Abid. Abid mengecup keningnya, Balqis pun keluar dari mobil.
Melihat Balqis sudah masuk, Abid pergi dari sana. Beberapa menit di perjalanan, Abid tiba di kantornya.
Abid masuk dengan wajah datar, senyuman? Sesuai perkataan Abid waktu itu, senyumnya hanya untuk Balqis.
Beberapa menit setelah Abid masuk ruangannya di lantai atas, sekretaris baru Abid masuk. Abid langsung istighfar melihat pakaian yang di kenakan sekretaris nya.
"Selamat pagi, tuan. Saya Julie, sekretaris baru pengganti mbak Dewi" Abid menganggukkan kepalanya tanpa menoleh sedikitpun, merasa di kacangi Julie pun keluar.
Sepuluh menit setelah Julie keluar, Abid ke luar ruangannya. Ia berdiri di atas sambil melihat karyawannya di bawah.
"Minta waktunya sebentar" Mereka mendongak menatap Abid.
"Tujuan kalian disini apa?"
"Kerja, pak"
"Kalian punya gaji cukup kan?"
"Cukup, pak"
"Lantas mengapa para karyawati pakai baju kurang bahan?? Gaji kalian lebih dari cukup, harusnya bisa beli baju tanpa kurang bahan. Karyawati disini mau ngelont atau kerjaa?" Seluruh karyawati terdiam.
"Kenapa gak ada satupun karyawan yang negur? Menikmati pemandangann? Gak sadar kalau itu dosa??" Para karyawan juga terdiam.
"Besok-besok saya gak mau kalian kerja pakai baju kurang bahan ataupun baju ketat. Kalian disini kerja, bukan pamer badan. Mau dosa jangan ngajak orang lain. Sekian, lanjutkan pekerjaan!"