A B I D

A B I D
– Promise



"Lu pada diiamm atau gue banting satu-satu?!!"


Mereka semua diam, tanpa terkecuali teman-teman Abid. Balqis langsung memegang tangan Abid, Abid yang merasakan tangannya di sentuh langsung menoleh.


Balqis menggelengkan kepalanya lalu menyuruh Abid tenang. Melihat Abid tenang, Balqis kembali menarik tangannya.


"Abid sudah berpawang" ledek Eldi.


"Maneh cantik pisan pawangnya, untuk gue aja gimana? " sahut Tio menggoda Abid.


"Lu mau gue amuk??" Tio tertawa diikuti yang lain.


"Balqis duduk sinii" ajak Fany. Balqis pun duduk di sebelah Abid dan Fany.


Abid menatap Balqis, Balqis juga menatap Abid sambil tersenyum. "Gak usah senyum kek gitu sama orang lain, selain aku!!"


"Astaghfirullah!! Abid bucinnn"


"Semua akan bucin pada masanya, bentar lagi Tio sama Sisi" sahut Eldi.


"Anjirrr kenapa jadi gueee?!" Eldi mengangkat bahunya sedetik sambil cengengesan.


"Permisi, mauu tanya. Yang namanya Heon mana yaa??" Heon yang tadinya bermain game bersama Jefri langsung mendongak.


"Sesill??"


"Eh haii, Heon."


"Wahh, Sesill pindahh??" tanya Jefri. Sesill mengangguk.


"Kamu kapan ke Indonesia??" tanya Heon sembari mendekati Sesill.


"Dua hari yang lalu" Heon langsung memeluknya.


"Rinduu tauuu" Sesill membalas pelukan Heon.


"Sesill juga rindu laa"


Mereka semua menatap heran Heon dan Sesill.


"Ini Sesill, masih ingetkan??" tanya Heon.


"Haiii Sesill" sapa Fany.


"Hai kak Sesill" sahut Balqis.


"H-haii" Mereka saling tersenyum.


"Kudet banget apa gue?? Lu bedua ada hubungan apaaaan??" tanya Rangga.


"Secret" jawab Heon cengengesan.


"Jujur atau gue lempar lu pake sepatu" ancam Abid. Heon tertawa, ia menarik tangan Sesill untuk duduk di sebelahnya.


"Sesill pacar gue."


"Uwaaaahhhh, kalau gitu Eldi jadi sadboyy dongg" ledek Tio.


"Eldi mau sama siapa?? Sama Jefri??" tanya Tio.


"Gue normal bangshull, lagian gue bukan sadboyy"


"Jadi apaa??"


"Gue goodboyy"


"Taiiii" Eldi tertawa.


"Gue laperr, biar sekalian lu pada makan apa??"


"Guee sama Sesill nasii udukk" ujar Heon.


"Nahhh, gue samain sama Heon" sahut Jefri dan Eldi.


"Kamu mau apa sayang??" tanya Rangga pada Fany.


"Sianjir ini juga meresahkannn"


"Iri jomblo"


"Fakkk!!"


Rangga cengengesan, ia menatap Fany menunggu jawaban. "Mau bakso" jawab Fany.


"Gue sama Fany bakso"


"Balqis apa??"


"Balqis mau beli seblak aja kak. Nanti Balqis beli sendiri"


"Sekalian aja, pedess gak??" Balqis mengangguk.


"Jangan pedes kali, setengah ajaa" suruh Abid.


Balqis menatap Abid sinis, "nanti sakit perut lagii."


"Iyaudah dehh"


"Minumnya jus jeruk semua kann??" Mereka mengangguk, Tio pun pergi.


"Woiii, balik lu" Tio kembali.


"Lu juga pesenn??"


"Nggakk, gue minumnya aja." Abid memberikan uang pada Tio.


"Ahhh mantapp" Tio pergi membeli semua pesanan.


"Kamu udah siap hukumann??" tanya Fany.


"Masih kurang delapan ratus sembilan puluh sembilan putaran"


"Hahh??? Berapa kali anjirr??" tanya Rangga.


"Seribu, gue baru seratus satu"


"Gila gila, makin gila si Dayat. Penyiksaan betull" cibir Eldi.


"Lu tau gak ada guru baru namanya Novaa?"


"Ah iyaa, cantik kan? Guru baru" sahut Jefri.


"Itu investor bokap, dia yang waktu itu bikin kepala gue pusing pas balik ke camp"


"Hah?? Seriusss?"


Abid mengangguk, "berapa bulan lagi disini??"


"Berbulan-bulan lahh, ujian aja belomm ada" jawab efri.


"Dah setress gue, lama-lama jadi psychopath betulan"


"Lu nya juga udah berotak sikopat sejak dini."


"Balqis hati-hati yaa, gue mendadak takut lu kenapa-kenapa" ujar Eldi. Abid diam sambil menatap datar Eldi.


"Balqis kalau kenapa-kenapa kabur kerumah aa' Eldi aja ya"


Abid mengambil garpu yang ada di meja, "lu mau mati mudaa?"


"Wahh, beneran merinding guee"


"Jangan lupaa ongkiirrr" Tio datang bersama makanannya.


"Ongkir ongkir kepala kau separo" cibir Rangga. Tio cengengesan.


"Selamat makan gaiseuu" Mereka menikmati makan siang kecuali Abid. Ia hanya minum sambil melihat Balqis makan.


"Kak Abid, di panggil suruh ke ruang dewan guru" Adek kelas Abid merusak suasana.


"Ngapain? Suruh aja kesini, gue makan" Adik kelas Abid hanya bisa menuruti perkataan Abid. Ia takut jika harus berurusan dengan bandit.


"Apalagi kira-kira??" tanya Jefri. Abid menggelengkan kepala tanda tidak tau.


"Kamu samperin gih, masa iya guru yang datengin" ujar Balqis.


"Yang butuh bukan aku" Balqis menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Abid.


"Mau seblak??" Abid menggeleng.


"Sejak kapan Abid suka seblak" sahut Eldi.


"Loh, Abid gak suka seblak??" tanya Fany.


Abid menggeleng santai sebagai jawaban.


"Terkadang gue heran, kenapa ada orang yang gak suka seblak" sahut Tio.


"Emang lu suka??"


"Ya jelass"


"Seblak enak kann, kak"


"Bangettt, cobain gih bid."


"Mauu???" tawar Balqis. Lagi lagi Abid menggeleng.


"Tak bisa diiii paksaa~~" mereka tertawa mendengar suara fals Rangga.


"Abiddd!!" Abid menoleh.


"Kenapa, bu?"


"Di panggil ke ruang guru kenapa gak datangg?!"


"Mager" jawab Abid santai. Teman-temannya tersedak mendengar jawaban Abid.


Balqis yang di sebelah Abid, memukul pahanya pelan sambil menatap sinis. Abid diam tak merespon.


"Huh.. banyak istighfar saya berurusan sama kamuu!"


"Banyak baca ayat kursi saya ketemu sama ibu!"


▪▪▪▪▪


14.06


"Bid, tar malem ngumpul yaaa"


Abid mengangkat jempol sebagai jawaban lalu masuk ke dalam mobil nya. "Gak ada yang gangguin tadii??" tanya Abid setelah lama keheningan.


Balqis menggeleng, "alhamdulillah nya gak ada"


Cup~


"Iyaa Balqis tauu kokk, kalau ada apa-apa bilang sama abangg" Abid tersenyum.


"Temen-temen kamu gimana? Bukannya mereka fans beratku?"


"Hmm.. mereka biasa ajaa, Balqis bilang jadian baru tadi malam. Lagian, mereka udah punya bucin masing-masing" Abid mengangguk paham.


"Hati-hati, kadang yang kita kira baik bisa aja nusuk dari belakang" Balqis tersenyum sambil mengelus rambut Abid.


"Iyaa, Balqis bakal hati-hati kokk." Abid mengambil tangan Balqis lalu mengecupnya.


"Kita mau kemanaa??" tanya Balqis mengalihkan pembicaraan.


"Mall, kamu butuh baju"


"Hm?? Baju? Untuk apaa??"


"Latihan, sebelum itu kita ke mall. Ganti baju, terus nyuci mobil. Baru latihan mengemudi"


"Tapi Balqis belom punya simm"


"Aman ituu, nantii" Abid melajukan mobilnya menuju mall.


Setengah jam kemudian..


Setelah dari mall dan berganti baju, sesuai perkataan Abid tadi mereka mencuci mobil di tempat langganan Abid.


"Widihh, sama cewek cakep yaaa sekarangg"


"Bini gue"


"Haluu" Abid tertawa pelan mendengarnya.


"Kenalin, gue Tomi"


Balqis menganggukkan kepalanya sambil menunduk, ia tidak membalas uluran tangan Tomi ataupun membalas dengan mengucapkan namanya.


"Tangan gue di anggurin" Abid terkekeh.


"Cuciin mobil gue yaa" Tomi mengangguk. Abid mengajak Balqis menunggu di salah satu supermarket dekat tempat pencucian mobil.


"Abangg, mau es krim coklatt" Abid mengajak Balqis masuk memilih es krim yang ia mau. Menunggu Balqis memilih, Abid keliling mencari jajanan.


Setelah membayar mereka kembali menunggu di depan supermarket. "Keknya tiada hari tanpa ke supermarket yaa??"


"Iyaa pulaaa"


"Abang mau eskrimm???" Abid menoleh.


"Mau, tapi dari bibir kamu langsung gimana??"


"Jangan aneh-anehh ihhhh! Ini di luar tauuu" Abid tertawa kecil.


"Jadi, kalau dirumah boleh??"


"Dasarr mesum!!"


Abid cengengesan, "kamu imut banget tau kalau sok ngambek gituuu"


"Digombalin buayaa lagii gaiseeuu"


▪▫▫▪


19.02


"Waahh, segerr" Balqis keluar kamarnya sambil memegangi handuk di kepalanya.


Leher Balqis yang terekspos membuat Abid susah payah berkedip.


"Abang mau makan malam pake apaa??"


"Hm??? Deliv aja gimana??"


"No no, Balqis gak mauuu. Apa gunanya Balqis kalau tiap hari deliv"


"Yaudah, mau masak apa aja kamu terserah yang penting kamu yang masaak"


"Okeeee, kita liat stok dulu ya boss" Balqis menuju dapurnya.


"Abangg, adanya telorr doangg"


"Lahh?? Kapan terakhir belanja bahan makan?" tanya Abid.


"Nggak ingettt, kan jarang dirumah. Udah gituu kalau ke supermarket yang dibeli jajan mulu bukan bahan makanann" Abid tertawa pelan.


"Yaudah masak aja tuh telorr"


"Eh gaisseuu, ternyata ada tahu sama tempe. Tiga-tiganya di campur aja gimanaa?"


"Terserah kamu sayangg"


Balqis mulai berkutik di dapur. Abid bosan bermain game pun menyusul Balqis.


"Kenapa sih suka banget ekspos leher. Pengennn nyium muluu jadinyaaa" ujar Abid sambil mempraktikkan ucapannya.


"Aabangg geliii tauuu" Abid tak berhenti.


"Abanggg stopp ihh"


"Cium dulu" Balqis berbalik langsung mencium Abid, setelah itu kembali berbalik memotong tempe.


Cupp


Abid gantian mengecup pipinya.


"Ohiyaaa, abang gak jadi ngumpul??"


"Nggak, Eldi ada kumpul keluarga katanya. Rangga juga mau date sama Fany, si Heon sama Sesill, tinggal Tio sama Jefri noh gabut hidupnya" Balqis tertawa.


"Ati-ati motong nya, jangan sampe luka tu tangann"


"Iyaaa"


Abid terus menganggu Balqis masak sampai ia selesai. Tidak terlalu mengganggu sih, sesekali Abid membantu Balqis.


"Nanti aku yang nyuci piringnya" ujar Abid setelah selesai makan.


"Kok gitu?? Balqis aja gapapaa"


"Capekan nanti kamuu, harusnya udah sewa pembantu ini"


"Nggak usaaah, Balqis bisa ngerjain sendirii"


"Bandel yaa?" Balqis meninggalkan Abid.


"Aku ajaaa"


Balqis mengalah, Abid mencuci semua piring kotor. Sesudah mencuci piring, mereka berdua menonton televisi bersama. Mereka juga di temani ichiii dan beberapa cemilan.


Drrtt... Drttt..


Abid meraih ponselnya.


"Assalamu'alaikum, ayah. Ada apaa??"


📞 "Nona Nova minta meeting dadakan, gimana? Mauu??"


"Janda baperan itu lagii.. yah, Abid gak maula berurusan sama lontttong sate"


📞 "Yaudah, to the point aja. Jadiin ini yang terakhir pertemuan"


"Oke deal, jam berapa??"


📞 "Jam delapann"


Telepon langsung mati tanpa aba-aba. Ayah Abid mematikan secara sepihak.


Abid menghela nafas panjang lalu melihat Balqis yang tidur di pangkuannya.


"Di tinggal gabisa, ga di tinggal ga banyak duit" gumam Abid sambil mengelus rambut Balqis.


Ia pun berusaha menggendong Balqis dan memindahkannya ke tempat tidur.


"Aku pergi sebentar ya, sayang" bisik Abid pelan kemudian mengecup kening Balqis.


Setelah itu, Abid keluar dari kamar Balqis langsung masuk ke kamarnya. Ia mengganti baju kaosnya dengan hoodie.


Kok bukan setelan jas? Abid males ribet.


Ia keluar setelah mengganti baju, ia mematikan televisi lalu berjalan menuju pintu keluar.


Tiba-tiba ia berhenti di jalan, "abangg mau kemanaa??" tanya Balqis yang memeluknya dari belakang.


"Keluar sebentar, ada panggilan dari ayaah"


Balqis mengeratkan pelukan, "kenapa hey??"


"Balqis sakit peruttt"


Abid langsung berbalik, "lagii??" Balqis mengangguk.


"Tapi kalau mo pergi yaudahhh, hati hatiii"


Abid menatap lekat Balqis. Ia langsung menggendong Balqis ke kamarnya. Abid menelepon ayahnya untuk mengundur pertemuan.


Ia kembali mengganti baju lalu tidur di sebelah Balqis.


"Kenapa gak jadii pergi??"


"Istri lebih penting daripada kerjaan" Balqis mengeratkan pelukannya.


"Perut kalau sakit obatnya pelukan?" tanya Abid.


"Ngga tau, Balqis maunya pelukan sama abang" Abid tersenyum sembari mengelus rambut Balqis.


"Abang janji yaa, jangan pernah tinggalin Balqis"


"Janjii"


"Janji ya kalau berantem jangan luka, kalau bisa jangan berantem"


"InsyaAllah"


"Abang janji ya, selalu ada untuk Balqis"


"Iyaa sayang, aku janji."


"Serius kaann? Promisee?"


Abid mengecup kening Balqis, "promise."