A B I D

A B I D
– Chapter 108



Warning!


Baca pas buka ajaaa weii atau udah siap lebaran. xixi ╥﹏╥


Happy reading! ✿


ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ


"Morning."


"Morning too. Abang, Balqis gak bisa banguunnn."


"Kenapa, sayangg?"


"Abang peluk mulu ihh. Lepasiinn, ini di rumah bundaaa."


"Emang kenapa kalau di rumah bunda?"


"Abaangg. Buruan lepasss! Masa iya Balqis telat bantu bundaaaa."


"Bunda mah bakal ngertii. Toh juga hari ini yang masak pembantu karena bunda juga kecapekann."


Makin eratlah dekapannya si botak:v


"Oiyaaa pembantu! Mbak Ge–"


"Biarin ajaa. Gak udah dipeduliin!"


"Nanti dia–"


"Sayaang!"


"Iya iyaaa. Benci banget keknya ada cewek lain di rumah." Abid tidak menjawab, ia mulai memejamkan matanya lagi.


"Aku tidur kamu pergi, besok kuliah ki*sma*k ada dimana-mana." Balqis terdiam.


"Ish, gak enak lah sama bundaa. Masa iya Balqis gak keluar kamarrr. Ayok pulang dehh, kalau mau tidur mulu dirumah aja."


Abid membuka matanya perlahan, di depan matanya ada Balqis yang sedang menatapnya.


"Yaudah ayok, pulangg."


"Ya lepasssinnn."


"Nggak mauuu."


"Astaghfirullah!" Abid malah memejamkan matanya.


"Abaangg!!"


Dengan teramat sangat terpaksa, Abid melepaskan pelukannya lalu pergi menuju kamar mandi.


"Ayok, pulang!" Ajak Abid ketika keluar kamar mandi.


"Sekarang?"


"Besok! Ya sekarang, sayaang."


"Ish, masih pagii."


Abid berkacak pinggang, "ni anak maunya apa sii?" Balqis cengengesan.


"Bentar yaa, Balqis cuci muka duluu." Balqis pergi menuju kamar mandi.


Abid menunggunya di kasur sambil memainkan ponsel. Video botaknya udah masuk di instagram. Dahlah, gak bisa gaya lagi.


Gak bisa songong lagii karena kebotak licinan yang menyusahkan. Batin Abid.


"Liatin apaan?" Balqis sudah siap.


"Liat video ku ni."


"Komennya mantep-manteeppp. Abang botak sekalipun tetep di puji tuu," Abid menatap kesal Balqis.


"Encenglah enceng." Abid menuju pintu, Balqis mengejarnya lalu memeluk dari belakang.


"Kiyowoo mas botakkku!"


Abid berhenti, ia jongkok kemudian mengangkat Balqis. Balqis tergendong di belakang.


"Balqis kenapaa, bidd?! Kamu apain mantu bundaa?!"


"Gak di apa-apainn, bundaa. Mantu bunda baek-baekkk ajaaa." Abid menurunkan Balqis.


"Tapi... kok.."


"Apa?!" Tanya Abid sinis pada Abiyyu. Abiyyu menggelengkan kepala lalu kembali makan sarapannya.


"Balqis beneran gapapa?" Ayahnya Abid masih penasaran.


"Kak Balqis beneran gapapa? Kakak diapain sama si botak?? Bilang aja sama Avi nanti kepalaa botaknya Avi cat warna putihh."


"Jadi kea pion catur dong." Ledek Devi.


"Kan emang udah kek pion catur. Kalo readers tanya visual, liat aja pion catur. Itu dah macam bang Abid."


Abid geleng-geleng kepala, "SMEKDON BESERAK OTAKMU." Mereka terkekeh.


Abid berambut kalau marah serem. Abid botak kalau marah malah ucul. Suatu perbedaan.


"Dah buruan sarapann."


"Balqis beneran gapapa?"


"Gapapa kok, yahh. Hihii," jawab Balqis.


Abiyyu mendekat ke Abid, "tak, berapa ronde?"


"Anjjj! Gak ada begooo. Mau gue geplak pala luu?!" Abiyyu terkekeh.


"Emosian dihh." Abid mengelus dada, sesabar itu emang si botak:v


"Tak botak botakk, bang Abid palanya botakkk."


"Terngiang-ngiang lagu mu, Viii."


"Tak botak botakk, bang Abid palanya botakkk."


"Tak botak botakk, bang Abid palanya botakkk."


"Tak botak botakk, bang Abid palanya botakkk."


"Pengsiun dah guaa. Mo jadi tuyul aja, bye!" Abid pergi sambil membawa roti selainya. Mereka yang ada di meja makan terkekeh melihat Abid merajok.


"Balqis jujur sama bundaa, ada apa apa??"


"Nggak ada bundaa, bang Abid cuma gendong doang tadii." Jawab Balqis cengengesan.


"Oiya bunda, maaf ya gak bisa bantu buat sarapan."


"Sarapan di masak pembantuu, bunda kecapekan jadi magerr." Jawab Bundanya.


"Iyaa, sangking magernya di kamar terosss kelonan sama ayahh." Sahut Abiyyu.


"Yahaaa, joness!" Ledek Avi. Mereka tertawa lagi.


"Kalian berdua juga kesiangan. Ayah pikir abiss..."


"Hah? Nggak ayahhh. Itu tadii bang Abidd gak mau bangunn, susah di banguninn."


"Anak manja itu kecapekan juga keknyaa. Dia kalau kecapekan yaa gitu, sabar aja kamu." Balqis tersenyum.


"Btw, kak Balqis disini masih lama kann?" Tanya Devi.


"Bang Abid dah ngajak pulang tadii."


"Mo pulang sekarang?" Balqis mengangguk pelan.


"Yaudah, habisin dulu sarapannya baru balikk. Ngurusin anak manja itu butuh tenaga." Ujar bundanya Abid sambil menunjuk Abid.


"Hehee. Iya, bundaa."


❃❃❃


"Mau ke supermarket dulu nggakk?" Tanya Abid.


"Iyaa, kan kemaren belanjaan abiss." Abid membelokkan mobilnya kearah supermarket.


Ia sudah pakai mobil setelah meminta diantarkan mobilnya. Abid turun dari mobil bersamaan dengan Balqis.


"Sayang, jangan lama-lama yaa?" Balqis mengangguk.


Abid membantu Balqis mendorong troli. Sambil menguap-nguap, Abid tetap mengikuti Balqis.


"Abangg."


"Hng??"


"Mau beli ramyeon?" Abid menggeleng.


"Samyang?" Abid menggeleng juga.


"Tteokbokki?" Abid menggeleng lagi.


"Balqis beli ketiganya, ya?"


"No! Ntar sakit perutmu makan pedes pedes."


"Tapi.."


"Bandel?"


"Yaudah gak jadiii." Balqis kembali berkeliling.


Karena kesal tidak diizinkan membeli yang ia mau, Balqis memenuhi troli dengan jajanan jajanan supermarket.


Abid terheran-heran melihat Balqis mengambil jajan sebanyak ini. Ia jelas tau Balqis kesal tapi Abid lebih memilih ia membeli banyak jajan daripada makanan pedas.


"Udah nih?" Balqis mengangguk.


"Tambah lagi lah, kurang nantii." Balqis cemberut.


"Balqis tunggu di mobil!" Tanpa mendengar jawaban Abid ia langsung pergi.


"Gemesin banget emang bundanya Chi!" Abid menuju kasir lalu membayarnya dan membawa sendirian menghampiri Balqis di mobil.


Abid langsung menghidupkan mobilnya setelah masuk.


"Gak usah cemberut." Abid menghentikan mobilnya ketika baru ingin berjalan, ia masih di area parkiran.


"Boleh ambil ketiganya dengan syarat gak boleh keluar rumah tiga hari, deal??"


Balqis menatap sinis Abid. Abid menoleh, "apa?" Tatapan sinisnya berubah menjadi puppy eyes.


"Ishh, Balqis tu pengenn tiga-tiganya tadiii." Abid menatap lekat wajah Balqis.


Gak lama kemudian ia menutup jendela mobilnya kemudian mendekati wajah Balqis.


"Abang mauu... ngapain??" Abid menarik tengkuknya kemudian mencium Balqis.


Balqis membulatkan matanya karena terkejut. Namun, perlahan-lahan ia menikmati permainan Abid.


Balqis memukul pelan dada Abid ketika ia kehabisan nafas. Abid melepaskannya sejenak lalu kembali menciumnya.


Si botak kenapa sihh?! ╥﹏╥


Abid melepaskannya lagi setelah merasa Balqis membalas dan berakhir mengecupnya. "Abang kenapaa?"


"Nggak. Ambil sanaa yang kamu mauu, aku tunggu di mobil." Abid memberikan kredit cardnya.


Balqis menatapnya heran.


"Nanti lanjut dirumahh."


Balqis sedikit... wedii. Ia keluar mobil, kembali ke supermarket kemudian mengambil yang ia inginkan. Setelah selesai ia kembali.


"Apalagi?" Balqis menggeleng.


"Oke, jalannn." Abid mengendarai mobilnya.


"Abang jujur dehh. Kenapaa? Ada masalah?"


"Aaihhh."


"Terus tadii apa? Lanjut dirumahh?"


"Ya apaa?" Tanya Abid sambil tersenyum misterius.


"Ihh serem ihh. Senyumannya mesum bangett, botaaakk!" Abid cengengesan.


"Abang pucet tauu, sakitt??" Abid menggeleng.


"Emang ginii kalau pagii, masa gak ngeh."


"Ishh, mana pulaaa. Abang gak sepucet inii!" Abid tersenyum.


"Kalau kecapekan ya gini."


"Abang jangan bohong deh!"


"Sejak kapan aku bohong, sayangg?"


"Sering!" Abid terdiam.


"Nggak nggakk, abang jarang bohong kok xixii."


"Abang tuuu kalau sakit, kalau ada apa-apaa bilang aja atuh sama Balqiss. Setidaknya Balqis bisa bantuin dikit-dikit. Kalau sakit kan bisa Balqis rawat."


"Obat aku kan kamu, sayaang."


"Modus ih botak!" Abid tertawa kecil.


Beberapa menit di perjalanan, mereka pun tiba. Abid keluar lalu membawa belanjaan yang di beli Balqis.


"Assalamu'alaikum."


"Eh bener ternyata. Wa'alaikumsalam, mbakk." Jawab Gea.


"Sini saya bantu, mass."


"Gak usah, geser aja. Jangan halangi jalan saya." Gea berpindah, Abid nyelonong masuk ke dapur.


"Maaf ya, mbak, kemaren lupa ngabarin. Saya di tempat mertua."


"Ohiya gapapa, mbakk."


"Balqiss, aku tunggu di kamar." Balqis mengangguk, Abid naik duluan ke lantai atas.


"Mas Abid nampak pucet, mbakk."


"Emang gitu katanyaa. Lagi kecapekan. Mbak udah keliling rumah?" Gea mengangguk.


"Gede rumahnyaa, salut saya sama mas Abid."


"BALQISSS." Teriak Abid dari kamarnya.


"Teriak teriak macem di hutan ajaa!" Gea tertawa kecil mendengarnya.


"Kok bisa botak mas nya, mbak?"


"Abis di hukum ayahnya jadi begitu." Gea berohria.


"Woii!" Mereka berdua menoleh ke tangga, Abid sedang bersandar dengan muka lesunya.


"Buruann astaghfirullah!"


"Gak bisa sabarr ihh."


"Oiyaa, anda siapa namanya?"


"Gea, Mas."


"Jangan panggil saya mas, saya gak suka."


"Jadii saya harus panggil apa, mass?"


"Yang penting jangan mas! Ay buruaann!!" Abid kembali masuk kamarnya.


"Iya iyaa, sabarrr."


"Mbak tolong susunin belanjaan tadi ya. Saya tinggal dulu." Balqis lari ke kamarnya.


"Assalamu'alaikum."


"Eh? Gak ada orang?" Balqis celingak-celingukan mencari Abid.


Ia menuju kamar mandi, Abid tidak ada disana. Balqis pun memilih duduk dikursi dekat meja riasnya untuk membersihkan wajah.


Tiba-tiba Abid muncul dan langsung memeluk Balqis dari belakang.


"Abang darimanaa?"


"Kamar sebelahh," jawab Abid sambil mendusel-dusel di leher Balqis.


"Geliii abaangg." Balqis tertawa-tawa kecil, Abid menghentikannya sejenak.


"Kamar sebelah udah nyatu sama kamar ini? Kanan kiri?" Abid mengangguk.


"Jadi enak gak capek buka pintu."


"Hmm. Balqis mau masak ramyeon."


"Masih pagii, gak usah betingkah!"


"Ramyeon doaang."


"Yaudah iyaa terserah muu. Kalau sakit perut jangan salahin aku, aku dah larang!"


"Iya, sayanggg, iyaa. Gak mau nemeninn?"


"Mau ngegame aja. Males ada cewek asing di bawah." Abid pergi ke kamar gaming.


"Yaudah kalau gitu maunyaa." Balqis keluar kamar setelah selesai membersihkan wajahnya.


"Udah di beresin, mbak?" Gea mengangguk.


"Mbak mau ngapain?"


"Mau buat ramyeon. Mbak Gea mau? Itu tadi beli duaa."


"Nggak deh, mbakk, makasih tawarannya. Saya mau ke halaman belakang duluu." Gea pergi.


Balqis memulai kegiatannya didapur.


Eh tiba-tiba si botak datang.


Cup!


Datang-datang langsung kecup leher Balqis dan membuat tanda tanpa Balqis sadari. Berdosa banget emangg om botakkk! ಥ‿ಥ


"Ehh?!"


"Apa ah eh ah eh?"


"Katanya gak mauu kesiniii." Abid tidak merespon, ia duduk di kursi lalu memandangi Balqis.


"Nanti makan di kamar gaming aku ajaa."


"Kenapa gitu?"


"Ya gapapa." Abid memakan pisang yang ada di meja.


"Ramyeon pake pisang enak loh, sayang."


Balqis tertawa, "ngaco kamu mahh."


◓◓◓


20.32


Abid baru saja keluar kamar mandi. Atas usulan Balqis, Abid nge-gym di rumah agar tubuhnya sedikit fresh.


Setelah selesai mengenakan baju di walk in closet, Abid menuju meja rias Balqis.


"Gimana aku kuliah besokk? Botak ginii."


"Pake wig wigg gih." Abid terkekeh.


"Wig nya kenapa dua kalii?"


"Biar estetikk." Jawab Balqis.


Abid membalikan badannya, ternyata Balqis berada tepat di belakangnya.


"Kamu mau ngapain?" Tanya Abid.


"Mau pake maskerrr."


Abid menatap Balqis terus-menerus, tatapannya mengarah ke bibir Balqis.


"Sambung yang tadi? Mau?" Balqis keheranan.


Abid pun mendekatkan wajahnya.


Dannn terjadilah silaturahmi bibir ͡° ͜ʖ ͡°


Lama kelamaan semakin panasss!


Abid membawa Balqis ke atas tempat tidur dan menindihnya.


Mereka bertatapan.


"Lanjut, gak?" Balqis tidak menjawab, ia sibuk mengatur nafas dan menatap Abid. Abid tersenyum smirk, ia kembali mendek–


Tok tok!!


Balqis langsung menoleh kearah pintu.


"Mbakk Balqiss, ini donat pesanannya." Balqis tersenyum senang.


"Abanggg, geserrr."


Abid pun mengalah, ia berpindah. Balqis lari menuju pintu, mengambil donatnya lalu masuk lagi.


"Perkara donat gagall kann." Gumam Abid kesal.


"Emmm.. enakk! Abang mauu?"


Abid menggeleng, "makanlah. Kenyangin."


"Oiyaa! Balqis lupaaa."


Abid menatapnya heran.


"Balqis telatt–"


"Telat? Telat apaa?? Telat bulanan??"


"Berarti yang kemaren jadii? Wahhh, hebat banget lu bid. Sekali langsung jadiii." Abid excited.


"Makan donatnya yang banyak ya, sayangg. Nanti kurang beli lagii."


Balqis gantian menatap heran Abid.


"Abangg, bukan telat bulanan!!"


"Jadi?"


"Telat makann! Balqis tu telat makannn bukan telat bulanan!"


Abid mengedipkan mata dua kali, terlihat seperti orang dongoo ╥﹏╥


"Kamu gak bilang sih kalau telat makannn!"


"Abang ajaa yang motong pembicaraan. Dahlaa, Balqis mo ambil minum di dapurr!"


"Ambilin sekaliann."


"Ambil sendiriii."


"Astaghfirullahalazim, bersodaa banget kamuu."