A B I D

A B I D
– Sensi bangett!



"Bang Abid mana, ma??"


"Abid siapaa? Mana ada yang namanya Abid."


"T-tapii kan.."


"Abid udah lama pergi, Balqis. Abid mana yang kamu maksudd?"


"Bang Abid masih hidupp, maa!"


"Abid udah meninggal sebelum kelulusan di SMA, Balqis. Sadarrr!"


"Nggak, pa, enggakk. Bang Abid masih hidup!"


"Balqis, ayolah jangan begini sayaangg. Abid udah gak ada, kamu harus ikhlas."


"Bang Abid masih idup, paa. Bang Abid masih hidup."


"Ayok ke makamnya biar kamu percaya."


"Bang Abid masih hidupp!"


"Balqis, kamu harus bisa terima keadaan. Kalau kamu gini teruss, papa gak bisa biarin kamu sendiri lagii."


"Papa bakal jodohin kamu."


"Apaan sih, paa? Balqis gak mauu!"


"Jalan pintasnya sekarang, kita ke makamnya Abid."


Balqis terhenti di jalan, 'Abid selama ini... hayalan gue doang? Tapii kemaren kann.. aaaahh!'



"Balqiss? Balqiss??" Balqis membuka mata.


"Kak Fany?"


"Balqis? Kamu mimpi apaan? Kenapa sampe keringetan ginii?"


"Kak Fann, bang Abid mana???"


"Abid ke toilet, ken–" Balqis langsung pergi sebelum Fany menyelesaikan perkataannya.


Balqis mencari Abid ke seluruh toilet yang ada di kampus. Sampai akhirnya menemukan Abid baru keluar dari kamar mandi yang berada dekat kantin.


"Abangg!"


Bruk!


Balqis langsung memeluk Abid erat.


"Kenapa, sayangg?" Tanya Abid sambil mengelus rambut Balqis. Mereka berada tepat di depan toilet.


"Balqiss?"


"Hiks hikss.."


"Heyyy, kenapaa? Siapa yang ngapain kamuu?!" Balqis geleng-geleng.


Abid melepas pelukannya, ia memegang pipi Balqis dengan kedua tangan.


"Kenapa? Jujurr!"


"Balqis mimpii, kalau sebenernya abang tu gak adaa! Abang meninggal pas sma, dan abang bener-bener udah gak adaaa."


"Kenyataannya aku disini, sayang. Aku sama kamu nih disiniii. Dah ya, jangan nangiss." Abid mengelap air mata Balqis.


Balqis terus menatap Abid, tidak ingin menatap yang lain. Hanya Abid, tatapannya ke mata Abid.


"Gak percayaa, hm?" Balqis tidak menjawab, ia memeluk erat Abid.


Abid memutar Balqis agar mereka bisa masuk ke kamar mandi bersamaan.


"Ini aku." Abid langsung menggarap bibir Balqis hingga Balqis kehabisan nafas.


Abid melepasnya sejenak.


"Percayaa?" Balqis menatap mata Abid lagi. Ia jinjit, berusaha untuk mengalungkan tangannya di leher Abid.


Abid mengangkatnya kemudian mendudukkan Balqis di wastafel.


"Percaya atau nggakk?" Balqis malah menarik Abid, ia langsung bersembunyi di dada bidang Abid.


"Don't go."


"Aku gak akan pergi, sayangg. Dahh ya, itu cuma mimpi kok." Abid memeluk Balqis erat, setelah beberapa menit Balqis melepasnya.


Balqis menatap mata Abid lalu berpindah ke bibirnya. Ketika ingin..


Cekrek!


Gagall karena ini! Abid menoleh sumber suara.


"Wah, ada mangsa." Abid menurunkan Balqis lalu pergi mengejar orang tadi.


Karena semakin jauh mahasiswa itu berlari, Abid melepaskan tasnya dan melemparkan begitu saja.


Tepat sasaran, mengenai kakinya. Tas terbanting Abid baru tersadar.


"Astaghfirullahalazim.. astaghfirullah.. laptop ku yang malanggg." Ia memungut tasnya dan melihat sang laptop.


Agaknya gak bisa hidup:')


"Asal lempar sihh!"


"Dahlah, gapapa. Ntar ganti baru," Abid memakai tasnya.


Abid mendekati mahasiswa tadi kemudian menginjak kakinya. Mahasiswa itu langsung berbalik badan karena kesakitan.


"Lu yang biasa dipanggil Uttan, kann? Bukannya temen Rey?!"


"Gue kira lu gak kenal. Sorry. Balqis plisss, bilangin laki lu kaki gue sakittt!"


Abid geleng-geleng kepala, "gue disini kenapa harus perantara? Gatel banget jadi cowok."


Abid melepas pijakannya, ia mengambil ponsel temen Rey tadi.


"Lu disuruh Reyy?" Tanya Abid.


"Nggakk. Beneran nggakk. Gue tadi mau ke kamar mandi buat buang air kecill, terus ketemu lu beduaa."


"Tujuan ngefoto apaan?!" Tanya Abid lagi dengan nada sinis. Ia sudah menghapus foto secara permanen.


"Bukan untuk gue viralinn, tapi biar Rey sadar diri kalau lu bedua punya hubungan yang bukan main-mainn."


"Gue butuh kejujuran. Mending lu ngomong sekarang apa tujuan lu daripada ponsel lu gue banting, gue hancurin!"


"Gue serius, bang. Niat gue cuma buat bikin Rey sadarr." Abid menatap matanya, ia terlihat ketakutan.


"Jadi sampe sekarang Rey gak percaya tentang gue sama Balqis?" Uttan menggeleng.


"Dia bener benerr gak percayaaa."


"Perlu diapainn coba tu anakk?!" Balqis mengelus tangan Abid. Mengode untuk menyuruhnya bersabar.


"Btw, lu berdua tunangan atau..."


"Kalau tunangan gue, gue gak berani skinship." Jawab Abid ketus.


"Jadi...? Sahh pasutri??" Abid dan Balqis mengangguk.


"S-seriuss?"


"Kenapa sih? Lu juga suka sama bini gue?"


"Bukan gitu, gue kagettt." Uttan berusaha untuk berdiri. Abid mengulurkan tangan untuk membantunya.


"Gue gak ganggu kalau gak diusik. So, tolong bilangin sama temen lu buat gak usik gue." Uttan mengangguk.


"Kalau..."


"Kalau kalian masih ngusik gue sama Balqis terus, gue gak bakal tinggal diam. Paham?!" Uttan mengangguk lagi.


Abid memberikan ponselnya lalu pergi bersama Balqis.


"Ehh, tungguu!" Abid berbalik.


"Gue minta maaf tentang masalah inii. Dan... gue mau tanyaa, boleh gak kalau gue... gabung geng lu?"


Abid mengerutkan dahinya, "bukannya lu punya geng sendiri?" Tanya Balqis.


"Y-yaa punya, tapii–"


"Be a good person!" Abid langsung menarik Balqis untuk pergi. Uttan terdiam dan memandangi kepergian mereka.


"Mau di masukin geng?" Tanya Balqis di jalan. Abid menggeleng santai.


Balqis langsung menggeleyot manja di tangan Abid. "Abangg beneran kann?"


"Iyaa, sayangg. Masih gak percaya?"


"Percaya kok, tadi cuma mastiin." Abid mengangguk paham.


Mereka tiba di kantin.


"Lama banget lu beduaaa! Abis ngapain sih?!" Tanya Eldi.


"Nggakk.. bercocokk tanam, kann?" Tanya Rangga gantian.


"Astaghfirullahalazim, gue penggal mau lu?!" Rangga cengengesan.


"Emosi nampaknya, kenapa sih lu?" Cuma Jefri yang paling peka.


"Kena ciduk di toilet."


Mereka keselek mendengarnya.


"Jadi lu beneran....?"


"Nggaaa astaghfirullah! Dahlah, capek." Abid pergi duluan.


"Lahh lahh?? Kenapa si tu anakk?"


"Macem bayik ngambekkk." Balqis tertawa mendengarnya.


"Balqis nyusul kak Abid duluu yaa, kakak-kakak." Mereka mengangguk, Balqis pergi mengejar Abid.


"Oiii!" Abid menoleh sekilas.


"Mau balik?" Abid berdehem, Balqis masuk ke mobil kemudian disusul Abid.


"Kenapa ikut?"


"Gak boleh ikut?"


"Bukan gitu. Dahlah, yok berangkat." Abid mengendarai mobilnya.


"Kenapa sii? Kek gak jelas bangett, tiba-tiba ngambekkk."


Abid menoleh sekilas lalu fokus ke jalan, "gak mood bukan ngambekk."


"Gak mood kenapaa? Uttan?"


"Hm."


Balqis mendekat, mengelus pipi Abid.


"Udah yaa, gantengkuu. Jangan ngambek gituu, kamu mau apa ntar aku turutin."


"Benerr?" Balqis mengangguk sambil tersenyum.


"Mau apaa?"


Abid berfikir, "setelah kupikir pikir.. aku gak pengen apa-apa. Cuma pengen kamuu."


"Dasarrr kang moduss!" Abid cengengesan.


Tiba-tiba, Abid membelokkan mobilnya menuju mall.


"Mau ngapainnn?" Tanya Balqis heran.


"Udah ayok turunn. Katanya mau nurutin maunya akuu," Balqis pun turun dari mobil disusul Abid.


Mereka jalan sambil bergandengan tangan.


"Liatt, byy. Yang di belakang kita mandangin kamu terus." Abid tertawa meledek, ia tidak menoleh sama sekali.


Cup!


Abid mengecup pipi Balqis secara dadakan.


"Cemburu?"


"Ngadi-ngadiii! Ini tempat umumm asal nyosorrr ajaa!" Abid tertawa lagi.


"Apaan sih, orang depan?! Dosa aja bangga."


"Untung gue pacaran virtual."


Abid tersenyum smirk kemudian berbalik, "virtual pun dosa neng."


"Lebih dosa lu woii! Mirror!"


Abid tertawa remeh, Balqis tau apa selanjutnya.


"Iya sayang, bentarr."


"Kalau gak tau apapun, bagus diem deh yaa!! Fuckk u bitchhh!" Terpampanglah cincin di jari manis Abid yang membuat mereka auto terdiam.


Balqis pun menarik paksa Abid agar tidak menimbulkan keributan nantinya.


"Abang kenapa coba hari ini emosian bangett?" Tanya Balqis heran.


"Gak tauu. Semuanya buat emosii!!" Balqis mengajaknya ke kafe.


"Minum dulu, yaa. Biar ademm."


Beberapa menit setelah memesan, minuman Balqis tiba. Mereka minum dengan santai.


"Kamu tau nggak?" Abid menatap Balqis bingung.


"Tau apa?"


"Tau nggak kalau aku cinta banget sama kamuu!" Abid salting karena kalimat inii.


"Kamu tau juga nggak?"


"Apalagi? Tau apa?" Tanya Abid.


"Tau nggak kalau aku bangga banget punya kamuu!!"


Abid salting lagiii!


Ekspresinya seperti kucing malu malu sekarang. Aduhhh, antara menggemoykan dan menggelikan.


"Ehm. Kamu bisa mikir gak sih?!"


Balqis mengerutkan dahi, kenapa Abid tiba-tiba marah?


"Mikir apa? Kenapaaa?"


"Yaa, bisa mikir nggakk?!"


"B-bisaa."


"Apa yang ada dipikiran kamuu?!"


"Ya kamu lahh!" Jawab Balqis.


Kann. Salting lagi tuhh kang nyosorrr! Niat awalnya mau ngegombal, taunya si kang nyosor yang di gombalin.


"Kamu siapa sih yang ngajarinn ngegomball, hmm?"


"Otodidak, Pakk. Saya S4 pergombalann nichh!" Abid tertawa.


The real moodbooster!


"Wah wahh, apanii?! Bukannya kuliah malah boloss!" Abid menoleh, ternyata Abiyyu dan... seorang wanita?


"Agak familiar cewek lu, mass."


"Yang kemaren ke reuni ayahhh." Jawab Balqis, Abid berohria.


"Kok bisa klop amaaa lu, biyy?!"


"Dia kan temen kecil guee, dan sekarang calon mantu ayah."


"Demi apaaa?!" Abiyyu mengangguk.


"Yeshh! Abiyyu lariss!"


Tok!


Kepala Abid di tokok menggunakan pucuk ponsel Abiyyu.


"Sakit tolilll!"


"Lah lu begoo si. Laris lariss, lu kata gue jualan?!" Abid nyengir kuda lalu tiba-tiba membalas. Terjadilah perang pukul menokokk.


"Ampunn dahh," keluh Balqis. Calonnya Abiyyu tertawa.


"Mbak Putri beneran mau nikah sama kak Biyyu?"


"Iyaa, Balqiss. Dari dulu juga saya suka sama Abiyyu, cuma Abiyyu nya aja gak pekaa." Bisikk nya, Balqis tertawa kecil.


"Dasar gak peka!"


"Coottt!"


"Abanggg! Berantem muluu astaghfirullah!" Abid berhenti dan bernafas dengan tenang.


"Calon kak ipar, siapa namanyaa?"


"Putrii Syabilah."


"Oh iyaa, mbak Putri mending gak usah mau sama Abiyyu. Dia ganass, terus emosian!"


"Ini yang buat cewek jauh dari gueee. Karena lu begini setannn!!" Abid tertawa ngakakk.


"Jangan jangann lu suka sama guee?!"


"Dih dih.. stresss lu dongooo?!"


◓◓◓


14.57


"Assalamu'alaikum, Abiiiiiddd."


"Wa'alaikumsalam..."


Ceklek.


"Eh Balqis, Abid nya mana??"


"Lagii rebahan kak di ruang keluarga. Kakak kakak masuk ajaa," mereka masuk satu persatu.


"Woii!"


"Ailahh."


"Ngapa si lu? Sensi banget!"


Abid tidak merespon.


"Abid sensi kurang jatah ni!" Ledek Sesil.


"Astaghfirullahalazim. Sepertinya begitu," sahut Eldi.


"Karep lu pada baelah." Mereka tertawa.


"Kakak kakak mau minum apaa?"


"Kasih air basi aja, sayang. Kalau nggak, air paret." Jawab Abid.


"Harus di ruqiyah si Abid!" Abid nyengir.


"Btw, Balqis gak usah repot repot. Ntar kami ambil sendiri." Balqis berohria lalu kembali duduk di sebelah Abid.


"Dia kenapa?" Tanya Tio heran. Balqis menggelengkan kepala, tanda tidak tau.


"Mau pms gak tuh."


"Coba request, kuburan lu mau bentuk segitiga atau layang-layang." Mereka tertawa lagi.


Abid tidak memperdulikan mereka lalu tidur di paha nya Balqis.


"Nih nihh! Biar lu gak badmood muluu, kita bawain salad buahh." Abid menoleh sekilas.


"Cuma satu?"


"Tujuh, Bid. Ya satulahhh!"


"Taro dapur aje sono."


"Parah sih ni anak." Eldi berjalan menuju dapur.


"Eh gak jadi, sini biar gue makan!"


"Nak ngendors!" Abid cengengesan. Ia menerima salad buahnya lalu di makan sambil rebahan.


"Duduk, abaangg!"


"Maless. Capekk," jawab Abid.


"Jujur deh lu, lu kenapa sih? Dari tadi pagi loh sensian muluuu!" Omel Rangga kesal.


"Kagak kenapa-kenapaaa. Tapi liat muka lu pada jadi kesel guee!"


"Bangss--"


"Sat!"


Abid tertawa pelan.


Mereka terus berbincang sendirian tanpa memperdulikan Abid. Abid pun juga tidak memperdulikan mereka.


Sampai akhirnya, pukul setengah delapan malam tiba.


"Bid, laperr." Keluh Eldi.


"Hp ku yang satunya dimana, ayy?" Tanya Abid pada Balqis.


"Bentarr, aku ambilinn." Balqis pergi mengambilnya ke kamar.


"Untuk apa hp lu, njritt?"


"Kan laper katanya. Order ajaa, capek ntar bini gue masak buat lu lu pada."


Mereka berohria.


"Sensi sensi baek juga ya diaa. Bid, gue mauuu ayam panggang." Pinta Rangga.


Abid berdehem.


"Samain aja nggak?" Tanya Jefri.


"Manuttt."


"Abang, ini hpnya." Abid menerima ponselnya kemudian memesankan makan dan minuman untuk mereka.


"Ehh tunggu, Bid. Lu apa?"


"Mekdii, why?"


"Njirrr gue jadi pengen burger." Kata Rangga tiba-tiba.


"Mau yang mana lu nyett?! Jangan bangkrutin orangg!" Omel Eldi kesal.


"Burger aja burgerr."


"Yang lain?" Tanya Abid.


"Samainnn ajaa kea luu." Abid pun meralat pesanannya. Setelah selesai, ia kembali rebahan di paha Balqis.


"Login, kuyy?!"


"Kuy lahh!" Abid mengambil ponsel gamingnya lalu bermain bersama. Abid masih berada di paha Balqis.


Beberapa menit kemudian, makanan yang di pesan Abid datang. Eldi dan Tio yang ligat masalah makanan, langsung menghampiri pintu utama.


"Woii, duitnyaa!" Mereka mengabaikan Abid. Abid terpaksa bangkit lalu memberikan uangnya.


"Pew pew. Thank you makanannya, pak Abiddd!" Mereka makan dengan tenang.


"Tadi kalah, ya?" Eldi baru ngeh.


"Lah iya! Gara-gara lu pada anjirttt!"


◓◓◓


21.39, Black blood sudah pulang dan Abid sudah kembali ke kamar.


Balqis yang baru selesai cuci muka naik duluan ke kasur, ia meninggalkan Abid yang berada di kamar gamenya.


Ceklek..


Abid masuk kamar. Ia langsung memeluk Balqis dari samping.


"Baaaang!"


"Hmm?" Balqis berusaha menghindar, namun Abid menariknya terus menerus.


Balqis pasrah. Tangan nakal Abid malah mengelus lembut perut Balqis.


"Abbaaaangg."


"Apa, sayangg?" Abid menatap Balqis dengan mata sayu. Balqis malah diam melihat Abid seperti sekarang.


Abid mengalihkan tatapannya, ia mengendus-endus di leher balqis. Setelahnyaa, Abid berbisik.


"I want you, baby."


◓◓◓◓◓◓◓◓◓◓◓◓◓◓


Dah agak nyeleneh, ending? Happy or sad? Mau di eps berapaa? :'


Silahkan berkomentar >_<