A B I D

A B I D
– Trend



Pagi kali ini Abid tidak mual, suatu keajaiban mungkin.


Abid membuka mata dan menatap istrinya yang tertidur lelap.


Abid baru tersadar, ia melanggar janjinya sendiri karena Balqis berisi sekarang. Tapi tak bisa dipungkiri, Abid teramat sangat bahagia saat ini.


Tangan Abid bergerak untuk mengelus pipi Balqis. Lembut, pelan, dan berperasaan. Abid masih tidak ingin membangunkan Balqis.


"Abangg~"


Balqis malah terbangun.


"Aku ganggu mulu keknya. Maaf, yaa."


"Paan sii? Gak ganggu kok, ini juga waktunya Balqis bangun hehe." Balqis duduk lalu meminum air mineral.


Jangan lupa minum air mineral gaiss-!


"Mau ngapain bangun jam segini?"


"Siap siap lah. Buat sarapan, terus, siapin perlengkapan abang."


"No no. Biar aku aja sendiri, kamu istirahat."


"Dihh, apaan lebayy! Biar Balqis yang masak pokoknya! Gak mau ditolak." Balqis bangkit lalu masuk ke kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian ia keluar.


"Balqis yang masak!"


"Iya sayang, iyaa. Terserah kamuu. Jangan capek-capekk!" Balqis berdehem.


"Mandi sana!" Suruh Balqis.


"Mandiin mau?"


"Dih ngaco!" Balqis pergi dari kamar. Abid tertawa melihat ekspresinya tadi.


Di lantai dasar, Balqis yang baru saja menuruni tangga langsung menemukan Devi dan Avi.


Mereka berdua bersantai sambil menonton televisi.


"Kapan datang?" Tanya Balqis dengan senyuman.


"Ehh, kakak. Barusan ajaa datang." Jawab Devina.


"Naik apa?" Tanya Balqis lagi.


"Tadi dianterin Mas Abiyy. Bang Abid mana kak?" Tanya Davina.


"Lagi mandi tuh tadi. Kalian udah sarapan belum?"


"Belumm, kakak gak usah masakk. Biar Devi aja," kata Davina.


"Jangan gegara aku masak telor sambel kemaren langsung kek gituu kamu, Avii!" Davina tertawa.


"Tapi enak kalau kamu yang masak. Udah kamu aja! Masa iya Kak Balqis yang masak."


"Gimana kalau kamu aja?!" Tanya Devi kesal.


"Mana bisa aku masak."


"Iyalah gak bisaa. Bisamu kan cuma main game!" Davina cengengesan mendengarnya.


Balqis sendiri geleng-geleng kepala, "udah udahh. Biar kakak yang masak. Kalian mau sarapan apa?"


"Nasi goreng aja kakk, yayayaaaa?" Balqis mengangguk lalu pergi ke dapur.


"Avi bantuin deh, Avi anak baik." Davina menyusul, Devina pun ikutan.


Mereka bertiga masak bersama.


"Kak, pembantu kakak mana?"


"Mungkin masih istirahat karena semalam capek beberes rumah."


"Ha? Kan jadi pembantu emang siap capek. Masa kakak biarin si pembantunya males-malesan?!" Protes Davina.


"Pembantu juga manusia, dia juga bisa capek, Avi."


"Emang abis ngapain dah?"


"Tadi malem kan temennya Bang Abid datang, main lah mereka. Bikin rumah berantakan. Nahh, pembantu kakak yang beresin semuanya. Kakak mau bantu gak diizinin abang mu."


"Lagian ngapain si dibantu?? Kakak kerajinan banget mauu bantu." Kata Avi.


"Kak Balqis mah kebiasaan. Baiknya kebangetann." Omel Devi gantian, Balqis tertawa kecil.


"Kakak mu tu emang baiknya na'udzubillah, tapi kalau jahat dahlah tinggal bilang good bye world." Abid datang.


"Eiyyy, ada setann tiba-tiba nongol."


"Dihh, untung adek gue!" Devi tertawa.


Abid menghampiri Balqis.


Cup!


"Morning, sayang. Love you." Setelahnya Abid langsung pergi ke ruang keluarga.


"Sebenernya, saya capek melihat ini. Dirumah, Mas Abiyy sama Kak Putri juga kadang begini. Disini, lebih parahh!"


"Salah tempat kita, Vii. Baguss ke sekolah aja deh keknya."


"Nggak, Dev. Disekolah juga agak meresahkan si."


Balqis tertawa mendengarnya.


"Sama abang kalian aja sana, biar kakak sendiri yang ngerjain."


"Nanti kakak kecapekan, adek kami juga kecapekan. Jadi kami bantu."


"Loh, kalian tau?"


"Tauu dong. Pokoknya kami bantu."


Mereka bertiga pun sibuk membuat nasi goreng.


Diruang keluarga, Abid sedang menonton televisi dengan kesantuyannya.


Rdrtt.. Drtt..


Abid meraih ponsel.


πŸ“ž "Halo, assalamu'alaikum bapakkk, saya sekretaris bapak. Mau tanya, bapak gak ke kantorr hari ini?"


"Wa'alaikumussalam. Nggak, saya capek. Kalau ada sesuatu yang penting kirim ke email saya."


πŸ“ž "Kalau ada tanda tangan gimana, pak?"


"Mendesak?"


πŸ“ž "Nanya aja, pakk."


"Kasih ke Ajo aja. Suruh Ajo yang antar kerumah saya nantinya."


πŸ“ž "Oh iya, baik pak."


"Sayangg, kamu mau nasi gorengg?" Tanya Balqis sambil duduk dipangkuan Abid. "Mauu, pake telur sama sosis yaa." Jawab Abid.


"Tapi sosis abiss." Jawab Balqis santai sambil mengelus rambut Abid. "Mau dibelii?"


"Nggak usahhlah. Masak aja yang ada, nanti baru belanja." Balqis mengangguk.


Cup!


Balqis mengecup pipi Abid lalu kembali ke dapur.


"Ehmm. Maaf tadi istri saya datang."


πŸ“ž "Iya gapapa, pakk."


"Yaudah. Gak ada hal penting lagi, kan? Saya matiin, assalamu'alaikum."


Tanpa menunggu jawaban, Abid mematikan panggilan. Setelah itu, Abid menghampiri Balqis didapur.


"Aku aja yang masak, kamu istirahat gih." Bisik Abid sambil memeluk Balqis.


Agaknya, Abid lupa kalau kedua adiknya masih bernafas di ruangan yang sama.


"Istirahat mulu juga capekk. Ntar Balqis lemess banget kalau diem ajaa."


"Tapi daritadi kamu gerak sayangg."


"Gerak dikit doangg."


"Udah ah, bantah mulu. Biar aku aja yang masak. Istirahat sanaaa," omel Abid.


"Nggak mauuu."


Abid kesal. Ia menoleh ke sebelah Balqis.


"Woi tuyulll. Kalian bedua urus dulu bisakan?"


"Masih taunya kami disini?"


Abid mengerutkan dahi.


"KALAU MASI TAUU JANGAN MESRA-MESRAAN DISINIII!! INI DAPURRRRRR." Teriak Avi.


"Astaghfirullahalazim. Abang lempar juga nanti kamu. Gak usah teriak-teriak kek, gak ada yang mau sama kamu baru tau rasa."


"Bodoameettt. Masa muda saya butuh duidd, bukan laki-lakik!"


"Ohh butuh duit." Abid meraih dompetnya lalu mengeluarkan dua lembar uang tujuh puluh lima ribu.


"Cukup? Udah diem."


"Kurangg."


"Matre banget! Siapa ngajarinn?!"


Avi cengengesan, "kok ngamok si? Kan cuma bilang kurang."


Abid mengambil uang seratus ribu.


"Dah."


"Selembar lagi gituu, hehe.."


"Udah atau abang tarik semuanya?"


Secepat kilat Avi memasukkannya ke saku.


"Rezeki anak cangtip."


"Itu bagi dua sama Devi." Avi langsung senyum tertekan.


"Kirain for me tok."


"Gausah pelit."


"Iyee ah."


"Jaga dapur bentar!"


Avi berdehem.


Tiba-tiba saja Abid mengangkat Balqis. Balqis tau ini akan terjadi, ia pasrah. Balqis diam digendongan Abid sambil menatapnya kesal.


"Baru gerak dikit doangg padahal..."


"Tidur lebih enak padahal." Abid meniru nada bicara Balqis.


"Au ah ngeselin. Jadi pengen seblak."


"Masih pagi!" Balqis diam.


Tiba di kamar, Abid meletakkan Balqis perlahan kemudian menindihnya.


"A-abang mau apa? Avi Devi dibawahh."


Abid tertawa kecil, "mau ngapain emang? Pede banget kamu."


Abid terpaling kemudian kembali menatap Balqis.


Cup!


Abid mengecup pipinya.


"Mau apaa siii? Kerja sonooo!!"


"Males sii. Aku bosnya kok."


"Dih, songong!" Abid cengengesan.


"Udahkan manja-manjanya? Awas dulu, ntar masakan Balqis gosonggg."


"Masih mikirin masakann?!"


"Males kalau mikirin abang." Balqis mendorong Abid lalu pergi keluar kamar.


"Emang kampret bini gue."


β—•β—•


14.34, kamar.


"Abangg."


"Abang bangunn..."


Abid mencoba membuka mata.


"Kenapa?"


"Nggapapaa." Balqis memeluk Abid dari samping.


For u information, kini hanya tinggal Balqis dan Abid yang berada dirumah, kembar sudah pulang tadi.


"Nggapapaa artinya ada apa-apaa. Jujurr aja kamu mau apa?" Ujar Abid sambil menahan mata, tangannya sedang mengelus lembut rambut Balqis.


"Ngga mau apa-apaa. Mau ditemenin nonton tipi ajaa."


"Yaudah hidupin, aku temeninn."


"Tapiii gak mau di kamarr." Rengek Balqis.


Abid membuka paksa matanya kemudian mengecup kening Balqis. "Mau dimana?"


"Di bawah, hehee."


"Yaudah iyaa. Lepas dulu pelukannya, aku mau cuci muka biar gak ngantuk."


Balqis melepas lalu menjauh, "Balqis tunggu dibawahh." Abid berdehem, ia masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka.


Setelah itu, Abid menyusul Balqis.


"Nonton apa sayang?"


"Balqis mo nonton drakor boleh?"


"Ya terserah kamu. Drakor apa?" Tanya Abid lagi.


"Orang-orang biasa nyebut pemainnya kupu-kupuu."


Abid terheran-heran, "kenapa kupu-kupuu?" Balqis mengedikkan bahu, "mari kita lihattt."


Balqis mengeplay dramanya. Mereka nonton bersama sambil menyemil makanan.


"Mimpinya si cewek bikin panas dingin." Gumam Abid, Balqis tertawa mendengarnya.


"Kamu ngajakin aku nonton begini mau tanggung jawab?" Tanya Abid sambil menatap Balqis.


"Tanggung jawab kenapa pulaa?!"


"Jadi pengeenn." Rengek Abid.


"Ihh, apaan coba?" Balqis tertawa melihatnya.


"Tanggung jawabbb."


"Kan Balqis gak tauu kalau ada ehemnyaa."


Abid tidak membalas perkataan Balqis, ia hanya menatap Balqis dengan tatapan yang tidak bisa diutarakan.


Perlahan tapi pasti, Abid mendekat.


Ting tong..


"Aaa, ada tamu." Balqis langsung pergi menuju pintu.


Abid sendiri menatapnya cengo, benar-benar menyebalkan dan menggemaskan secara bersamaan.


Di pintu.


"Iya?"


"Pak Abidnya ada, mbak?"


Balqis mengerutkan dahi, "ada perlu apa?"


"Emang pembantu wajib tau?"


"Pembantu? Saya istrinya!"


"Hahaha, jangan halusinasi deh. Yakali istri Pak Abid macem gembel gini?"


Balqis menahan amarahnya.


"Anda siapa sih?"


"Sekretaris barunya Pak Abid. Mana Pak Abid?"


"Ada di dalam, silahkan masuk." Sekretarisnya pun masuk menyusul Balqis yang sudah masuk duluan.


"Siapa?" Tanya Abid sambil menarik Balqis. Balqis terjatuh dipaha Abid dengan posisi berhadapan.


"Sekretaris tu."


Abid menoleh, "saya suruh Ajo yang datang kenapa malah kamu?"


"Ajo ada urusan sama istrinya, pak."


"Oo, mana yang perlu di tanda tangan?" Sekretaris Abid meletakkan dokumennya di meja.


Balqis hendak pergi tapi Abid menahan tangannya.


"Awas dulu, mau nyiapin minum. Kan aku PEMBANTU kamu." Kata Balqis sambil menekankan kata pembantu.


"Maksud kamu? Siapa yang bilang kamu pembantu?" Balqis mengedikkan bahu.


Sekretaris Abid yang baru mengetahuinya langsung keringat dingin.


"Kamu ngatain istri saya pembantu?" Tanya Abid sinis.


"M-maaf, pak. S-saya kira pembantu tadi."


Balqis melihat dirinya dipantulan kaca.


"Eumm. Pake daster, rambut berantakan, kucel, kumell. Pantesan dikata pembantuu, dimiripin juga sama gembel." Gumam Balqis lalu pergi ke dapur.


Abid tau Balqis tersinggung, ia langsung menatap sinis sekretarisnya.


"Kamu mau saya pecat?"


"Ng-nggak, pak. Maaf, pak, maaff."


Abid meraih ponselnya.


"Tolong carikan saya sekretaris baru yang lebih mengerti kesopanan dan tidak mandang fisik atau style orang lain. Cepat!"


πŸ“ž "Baik, pak."


Abid mematikan panggilannya.


"Dokumennya biar disini. Sekarang, pergi dari rumah saya dan jangan pernah kembali lagi!"


"Tapβ€”"


"Harus saya panggil security?"


Sembari menahan amarahnya, sekretaris Abid pergi.


"Sampah."


Abid pergi menghampiri Balqis.


"Sayangg."


"Eh? Kan ada tamuu. Kenapa disini?"


"Udah aku usirr. Dia ngomong apa aja tadi?"


"Ya ngomong ituu."


Abid menghela nafas, "gak usah dipikirin yaa? Anggep angin aja omongannya." Balqis tersenyum lalu mengangguk.


Balqis mendekati Abid, "tadikan Balqis liat sesuatu dihapee. Teruss, Balqis pengen sesuatuuuu. Mau di turutinn?"


"Anything for u, baby. Pengen apa?"


"Pengenn ikut trend mangga muda teruss dikasii boncabe ituuu."


"Yaudah bentar, aku beli mangganya."


"Ihh nggak nggaakkk. Maunya mangga colongan."


Abid tertawa, "mangga beli aja ya??"


"Nggak mauu. Mangga colongan ajaaa."


"Mangganya minta aja gimana? Di rumah Rangga ada tuh mangga."


"Maunya colongan yang ada di tempat tetangga." Jawab Balqis tetap pada pilihannya.


"Masa iya anak kita dikasih mangga colongan, sayang? Mangga beli atau mangga minta aja, ya??"


Balqis berfikir. "Yaudahh beli dehh, sekalian beli boncabenyaa yaaa."


"Okee. Aku pergi beli dulu." Setelah mengecup kening Balqis, Abid menuju gantungan kunci.


"Loh, siapa bilang pake mobil gede?"


Abid keheranan, "pake motor?"


"Nggakk."


"Jadi pake apaa?"


Balqis menunjuk mobil kecilnya Abid.


"Seriously, baby?" Balqis mengangguk sambil tersenyum lebar.


"Sayangg, nanti kalau client liat aku.. malunya setengah matiiii."


"Hm, yaudah. Gausah. Gajadi. Gamau. Males. Tidur diluar nanti malam!"


"Astaghfirullahalazim. Iya-iya sayangg, aku beliii sekarang pake mobil kecil."


Balqis tersenyum sumringah ketika melihat Abid memasuki mobil kecilnya itu.


"Kalau ada apa-apa telpon."


"Siappp. Jangan lama-lamaaa!" Abid mengangguk.


"Aku perβ€”"


"Tunggu tungguuu! Keknya ada yang kurang."


Abid melihat dirinya sendiri, "apa yang kurang?"


"Eumm.. keknya lebih bagus kalau abang sambil pake daster."


"Astaghfirullahalazim. Modar aku!"